Liputan6.com, Jakarta - Mengembangkan ide urban farming sederhana untuk komunitas ibu-ibu kini menjadi langkah nyata yang semakin diminati untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, kreativitas dalam memanfaatkan ruang kecil seperti halaman, teras, hingga balkon rumah mampu menghasilkan sumber pangan segar yang sehat dan hemat biaya.
Urban farming tidak harus rumit atau membutuhkan modal besar. Dengan teknik sederhana seperti menanam sayuran di pot, polybag, atau memanfaatkan barang bekas, setiap rumah bisa menjadi “kebun mini” yang bermanfaat.
Melalui berbagai ide kreatif yang mudah diterapkan, urban farming dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk menghadapi tantangan pangan di masa depan. Dengan semangat gotong royong, komunitas ibu-ibu bisa menjadi motor penggerak perubahan menuju gaya hidup yang lebih mandiri dan ramah lingkungan. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Rabu (29/04/2026).
1. Vertikultur dengan Botol Plastik Bekas
Vertikultur adalah teknik budidaya tanaman secara vertikal atau bertingkat yang sangat cocok untuk lahan terbatas. Metode ini memaksimalkan penggunaan ruang vertikal dengan menata wadah tanaman secara bertingkat atau berjejer ke atas, memungkinkan penanaman lebih banyak tanaman dalam area kecil.
Botol plastik bekas ukuran besar (1,5 atau 2 liter) adalah bahan utama yang sangat cocok untuk diubah menjadi pot-pot vertikultur, sekaligus mengurangi sampah plastik. Untuk membuat vertikultur dari botol bekas, langkah pertama adalah melubangi botol di beberapa titik, terutama di bagian bawah, untuk memastikan drainase yang baik dan mencegah air menggenang. Lubang-lubang ini juga memberi ruang bagi akar tanaman untuk berkembang.
Setelah botol bersih dari sisa bahan kimia, siapkan media tanam yang tepat, seperti campuran tanah gembur dengan pupuk organik, lalu masukkan ke dalam botol. Perawatan tanaman vertikultur harus dilakukan secara berkala, termasuk penyiraman yang hati-hati agar tanah tetap lembab tanpa terlalu basah. Pemupukan dapat dilakukan setiap beberapa minggu sekali untuk memastikan nutrisi tanaman tercukupi. Selain itu, penting untuk rutin memeriksa keberadaan hama atau serangga dan melakukan pengendalian secara alami.
2. Hidroponik Sistem Sumbu (Wick System)
Hidroponik sistem sumbu atau wick system adalah metode hidroponik paling sederhana yang tidak memerlukan pompa listrik, menjadikannya pilihan ideal bagi pemula. Sistem ini bekerja dengan sumbu, biasanya kain flanel, yang mengalirkan larutan nutrisi dari wadah penampung ke media tanam secara kapiler. Akar tanaman kemudian menyerap air dan nutrisi dari media tanam yang selalu lembap.
Untuk membuat sistem wick, komponen utamanya meliputi wadah nutrisi (bisa botol bekas atau ember kecil), sumbu (kain flanel atau tali kompor), media tanam (rockwool, arang sekam, atau cocopeat), dan tanaman berakar kecil. Wadah nutrisi diletakkan di bagian bawah, dan sumbu menghubungkan larutan nutrisi dengan media tanam di wadah atas.
Tanaman yang cocok untuk sistem wick umumnya adalah sayuran daun seperti selada, bayam, kangkung, dan pakcoy karena memiliki kebutuhan air dan nutrisi yang tidak terlalu tinggi. Kelebihan sistem ini adalah biaya pembuatan yang murah, perawatan minim, dan tidak tergantung listrik, sehingga sangat ideal untuk edukasi dan percobaan awal bagi komunitas ibu-ibu.
3. Kebun Sayur di Pot atau Polybag
Menanam sayuran di pot atau polybag adalah salah satu metode urban farming yang paling mudah dan hemat biaya, sangat cocok untuk komunitas ibu-ibu dengan lahan terbatas. Metode ini memungkinkan penanaman berbagai jenis sayuran seperti cabai, tomat, bayam, kangkung, sawi, dan terong di pekarangan rumah, balkon, atau teras. Penggunaan pot atau polybag juga memudahkan pengaturan tata letak dan pemindahan tanaman.
Media tanam yang digunakan biasanya campuran tanah, kompos, dan arang sekam dengan perbandingan 2:1:1, yang relatif hemat biaya. Penting untuk memastikan pot atau polybag memiliki lubang drainase cukup agar air tidak menggenang dan menyebabkan akar busuk. Pemilihan tanaman yang cepat panen seperti bayam (25-30 hari) dan kangkung (20-30 hari) akan memberikan kepuasan tersendiri bagi para ibu.
Perawatan kebun sayur di pot meliputi penyiraman rutin, pemupukan organik, dan pengendalian hama secara manual. Kegiatan ini tidak hanya menyediakan sayuran segar dan sehat untuk keluarga, tetapi juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan jika hasil panen dijual kepada tetangga atau komunitas. Selain itu, bercocok tanam juga terbukti dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental.
4. Budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA)
Tanaman Obat Keluarga (TOGA) adalah tanaman berkhasiat yang ditanam di pekarangan rumah dan dimanfaatkan sebagai obat tradisional yang aman, murah, serta mudah diakses. Konsep TOGA sudah lama dikenal sebagai solusi sederhana untuk memenuhi kebutuhan kesehatan secara mandiri di rumah. Selain bermanfaat secara medis, keberadaan TOGA juga dapat mempercantik lingkungan rumah jika ditata dengan baik.
Beberapa jenis TOGA yang mudah ditanam dan dirawat di lahan sempit atau di pot antara lain jahe, kunyit, lidah buaya, daun sirih, dan kumis kucing. Tanaman-tanaman ini memiliki beragam manfaat kesehatan, seperti jahe dan kunyit yang dikenal sebagai bumbu masakan sekaligus obat herbal. Lidah buaya untuk luka bakar ringan dan kesehatan pencernaan, serta daun sirih untuk menjaga kebersihan tubuh.
Penanaman TOGA tidak memerlukan lahan yang luas, cukup dengan sedikit ruang dan perawatan sederhana seperti penyiraman rutin dan paparan sinar matahari yang cukup. Dengan menanam TOGA, komunitas ibu-ibu dapat memiliki persediaan obat herbal alami di rumah, mengurangi ketergantungan pada obat-obatan kimia, dan mendukung gaya hidup sehat secara berkelanjutan.
5. Komposting Skala Rumah Tangga
Komposting skala rumah tangga adalah proses pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah. Sampah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan dedaunan dapat dimanfaatkan, sehingga mengurangi volume limbah rumah tangga dan mendukung gerakan 3R (reuse, reduce, recycle). Pembuatan kompos ini tidak membutuhkan biaya yang banyak dan dapat dilakukan di pekarangan rumah atau menggunakan wadah khusus.
Cara membuat kompos sederhana melibatkan pencacahan sampah organik hingga berukuran kecil, penambahan inokulan seperti kompos jadi atau tanah, serta larutan aktivator (misalnya EM4) untuk mempercepat proses pembusukan. Sampah organik dimasukkan ke dalam drum atau wadah yang sudah dilubangi bagian dasarnya untuk drainase.
Proses pengomposan membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga kompos matang ditandai dengan warna cokelat kehitaman, berbau tanah, dan berbutir halus. Kompos yang dihasilkan sangat berguna untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan menahan air, dan menambah aktivitas mikroba di dalam tanah, sehingga tanaman dapat menyerap unsur hara dengan lebih mudah.
6. Aquaponik Mini
Aquaponik mini adalah sistem budidaya yang menggabungkan akuakultur (budidaya ikan) dengan hidroponik (budidaya tanaman tanpa tanah) dalam satu sistem sirkulasi. Sistem ini memanfaatkan limbah kotoran ikan sebagai nutrisi bagi tanaman, sementara tanaman menyaring air untuk ikan, menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.
Aquaponik mini dapat diterapkan di lahan terbatas dengan menggunakan wadah seperti ember atau kolam kecil. Jenis ikan yang cocok untuk aquaponik mini antara lain lele, nila, atau ikan mas, sedangkan tanaman yang sering dibudidayakan adalah selada, kangkung, dan pakcoy. Keuntungan dari aquaponik adalah efisiensi penggunaan air, produksi ganda (ikan dan sayuran), serta sistem yang lebih alami karena tidak memerlukan pupuk kimia tambahan.
Meskipun terlihat kompleks, aquaponik mini dapat dirancang dengan sederhana menggunakan bahan-bahan bekas seperti ember atau bak plastik. Perawatan meliputi pemberian pakan ikan secara teratur dan pemantauan kualitas air. Sistem ini tidak hanya menyediakan sumber protein dan sayuran segar, tetapi juga menjadi kegiatan edukatif yang menarik bagi komunitas ibu-ibu.
7. Menanam Jamur Tiram
Budidaya jamur tiram adalah ide urban farming yang menarik karena tidak membutuhkan lahan luas dan dapat dilakukan di dalam ruangan dengan kondisi yang terkontrol. Jamur tiram memiliki nilai gizi tinggi dan permintaan pasar yang cukup stabil, menjadikannya potensi sumber pendapatan tambahan bagi komunitas ibu-ibu. Media tanam utama untuk jamur tiram adalah baglog yang terbuat dari serbuk gergaji.
Proses budidaya jamur tiram dimulai dengan menyiapkan baglog yang sudah diinokulasi dengan bibit jamur. Baglog kemudian disusun di rak-rak dalam ruangan yang lembap dan tidak terkena sinar matahari langsung. Suhu dan kelembapan ruangan perlu dijaga agar optimal untuk pertumbuhan jamur.
Panen jamur tiram dapat dilakukan dalam beberapa minggu setelah bibit tumbuh, dan baglog dapat menghasilkan beberapa kali panen. Kegiatan ini relatif mudah dipelajari dan tidak memerlukan modal awal yang besar, sehingga sangat cocok untuk komunitas ibu-ibu yang ingin mencoba usaha sampingan dari rumah.
8. Budidaya Lele dalam Ember (DULEM)
Budidaya Lele dalam Ember (DULEM) adalah metode akuakultur sederhana yang memungkinkan budidaya ikan lele di lahan terbatas, bahkan di pekarangan rumah. Metode ini memanfaatkan ember besar sebagai wadah budidaya, sehingga sangat cocok untuk komunitas ibu-ibu yang ingin memiliki sumber protein hewani sendiri. DULEM juga dapat dikombinasikan dengan budidaya sayuran di atasnya, menciptakan sistem aquaponik mini yang lebih terintegrasi.
Proses DULEM dimulai dengan menyiapkan ember berukuran minimal 80 liter, mengisi dengan air yang sudah diendapkan, dan memasukkan bibit lele. Pemberian pakan dilakukan secara teratur dan kualitas air perlu dijaga dengan membersihkan ember secara berkala. Untuk sistem terintegrasi, sayuran dapat ditanam di pot-pot kecil yang diletakkan di atas ember dengan akar yang menyentuh air lele untuk mendapatkan nutrisi.
Panen lele dapat dilakukan dalam waktu sekitar 2-3 bulan, tergantung ukuran bibit dan pakan yang diberikan. DULEM menawarkan kemudahan dalam perawatan, efisiensi lahan, dan potensi hasil panen yang dapat dikonsumsi sendiri atau dijual, memberikan manfaat ekonomi dan ketahanan pangan bagi keluarga.
9. Taman Gantung dari Botol Bekas
Taman gantung dari botol bekas adalah solusi kreatif dan ramah lingkungan untuk memanfaatkan ruang vertikal dan mengurangi sampah plastik. Ide ini sangat cocok untuk komunitas ibu-ibu yang ingin mempercantik rumah dengan tanaman hias atau sayuran, namun memiliki lahan terbatas. Botol plastik bekas dapat diubah menjadi pot-pot gantung yang menarik dan fungsional.
Pembuatan taman gantung ini cukup sederhana. Botol plastik bekas dipotong dan dilubangi untuk drainase, kemudian diisi dengan media tanam dan bibit tanaman. Botol-botol tersebut kemudian dirangkai menggunakan tali atau kawat dan digantung secara vertikal di dinding, pagar, atau teras rumah.
Tanaman yang cocok untuk taman gantung antara lain sayuran daun kecil seperti selada, bayam, atau kangkung, serta tanaman herbal dan bunga-bunga kecil. Selain memperindah lingkungan, taman gantung ini juga membantu menciptakan udara yang lebih segar dan menjadi kegiatan daur ulang yang edukatif.
10. Menanam Buah dalam Pot (Tabulampot)
Tabulampot singkatan dari "Tanaman Buah dalam Pot", adalah metode menanam pohon buah di dalam pot, sangat ideal untuk urban farming di lahan terbatas. Ide ini memungkinkan komunitas ibu-ibu untuk menikmati buah-buahan segar hasil panen sendiri, meskipun tidak memiliki kebun yang luas. Tabulampot juga memiliki nilai estetika yang tinggi sebagai penghias pekarangan atau teras rumah.
Pemilihan jenis buah untuk tabulampot perlu mempertimbangkan ukuran pohon dan kemudahan perawatan. Beberapa buah yang populer untuk tabulampot antara lain jeruk, mangga, jambu air, belimbing, dan stroberi. Pot yang digunakan harus berukuran cukup besar untuk menampung pertumbuhan akar dan memiliki lubang drainase yang baik.
Perawatan tabulampot meliputi penyiraman teratur, pemupukan sesuai dosis, pemangkasan untuk menjaga bentuk dan merangsang pembuahan, serta pengendalian hama. Dengan perawatan yang tepat, tabulampot dapat berbuah secara produktif dan menjadi sumber vitamin alami bagi keluarga.
11. Budidaya Mikrogreen
Mikrogreen adalah tunas muda dari berbagai jenis sayuran atau herba yang dipanen pada usia sangat muda, biasanya 7-14 hari setelah semai. Meskipun ukurannya kecil, mikrogreen kaya akan nutrisi, vitamin, dan antioksidan, bahkan beberapa studi menunjukkan gizinya 30 persen lebih tinggi ketimbang sayuran dewasa.
Budidaya mikrogreen sangat mudah dilakukan di rumah, bahkan tanpa lahan luas, menjadikannya ide urban farming yang praktis untuk komunitas ibu-ibu. Untuk menanam mikrogreen, hanya dibutuhkan benih sayuran (seperti bayam, seledri, brokoli, atau lobak), media tanam (tanah, cocopeat, atau kapas), dan wadah kecil (gelas plastik atau nampan). Benih disemai di atas media tanam, disemprot air untuk menjaga kelembaban, dan diletakkan di tempat yang cukup cahaya.
Panen mikrogreen dilakukan dengan menggunting batangnya saat mencapai tinggi 5-10 cm. Setelah dipanen, mikrogreen dapat langsung dikonsumsi sebagai tambahan salad, sandwich, atau hiasan makanan. Budidaya ini tidak hanya menyediakan nutrisi harian yang murah dan efisien, tetapi juga menjadi kegiatan yang menyenangkan dan cepat memberikan hasil.
12. Pembuatan Pupuk Cair Organik
Pembuatan pupuk cair organik (PCO) adalah cara efektif untuk memanfaatkan limbah dapur dan sisa tanaman menjadi nutrisi berharga bagi tanaman. Ide urban farming ini sangat relevan bagi komunitas ibu-ibu karena dapat mengurangi sampah organik rumah tangga dan menyediakan pupuk alami yang ramah lingkungan. PCO dapat dibuat dengan bahan-bahan sederhana dan proses yang tidak rumit.
Bahan-bahan untuk PCO meliputi sisa buah dan sayuran, air cucian beras, air kelapa, atau bahkan kotoran hewan. Bahan-bahan ini dicampur dalam wadah tertutup dan difermentasi selama beberapa minggu, dengan sesekali diaduk. Proses fermentasi akan menghasilkan cairan kaya nutrisi yang siap digunakan sebagai pupuk.
PCO dapat diaplikasikan langsung ke tanaman setelah diencerkan dengan air, atau digunakan untuk menyiram media tanam. Penggunaan PCO tidak hanya menyuburkan tanaman, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme. Ini adalah cara yang berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan tanaman di kebun urban.
FAQ
- Apa itu urban farming? Urban farming adalah kegiatan bercocok tanam di area perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas.
- Apa manfaat urban farming bagi komunitas ibu-ibu? Urban farming membantu memenuhi kebutuhan pangan sehat sekaligus mempererat kebersamaan komunitas.
- Apakah urban farming membutuhkan lahan luas? Tidak, urban farming bisa dilakukan di lahan sempit seperti teras, balkon, atau halaman kecil.
- Tanaman apa yang cocok untuk urban farming pemula? Sayuran seperti kangkung, bayam, cabai, dan tomat sangat cocok untuk pemula.
- Apakah urban farming membutuhkan biaya besar? Tidak, karena bisa memanfaatkan barang bekas seperti botol plastik atau ember sebagai media tanam.
- Bagaimana cara memulai urban farming bersama komunitas? Mulailah dengan menentukan lokasi, memilih tanaman, dan membagi tugas antar anggota.
- Apakah urban farming bisa menjadi sumber penghasilan? Ya, hasil panen bisa dijual untuk menambah pemasukan komunitas.

5 hours ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569792/original/082266500_1777455113-Rumah_Minimalis_Teras_Depan_Atap_Dak.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569781/original/072774500_1777454725-unnamed__28_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5567338/original/086026600_1777276009-_saythename_17_right_here_jakarta_day-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569715/original/031505100_1777451630-9f4713ec-1f27-42ce-9e3e-e30fefe8465a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557228/original/061627400_1776322455-panen_pakcoy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569602/original/027223600_1777448295-Mengemas_Baglog.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569595/original/076287000_1777448178-HL_rumah_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569547/original/042006600_1777445741-c719d037-7561-449e-bc6b-f7e1344231d2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569529/original/035993100_1777445506-HL_pkk.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569769/original/066717500_1777453658-Model_Rumah_Quiet_Luxury_yang_Cocok_untuk_Anak_Muda.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5568132/original/028986600_1777349972-Pepaya_T.R._Hovey_Dwarf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5350258/original/025909400_1757994599-ChatGPT_Image_Sep_16__2025__10_36_31_AM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569423/original/090136500_1777442007-Berikan_ke_Ayam_Secara_Rutin.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5568988/original/038256600_1777425589-jambur_air.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569728/original/073764200_1777451969-unnamed-83.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569356/original/003574200_1777440040-Miyako.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569371/original/053554200_1777440199-unnamed__74_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487398/original/092087200_1769663472-pattynama.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5569379/original/089272200_1777440386-Rumah_Atap_Panel_Surya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515384/original/019886000_1772173219-2149394486.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4897279/original/047157000_1721544216-IMG_20240721_131658.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5482943/original/058250300_1769302357-54cb0e1a-9b5f-43ac-b9d3-4f7a7bd14f4c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500419/original/020749000_1770864866-Model_Ruang_Tamu_Open_Space.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469055/original/011269000_1768048972-cesar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486588/original/012358000_1769591525-Tips_Mengatasi_Kucing_Garuk_Sofa_Terus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482519/original/004242000_1769226806-pelaku_usaha_UMKM_Bantul_Rifqi_Rozanah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454293/original/050430700_1766556442-1000101929.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383986/original/067984300_1760708009-Saddil-Ramdani.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461719/original/099491300_1767433319-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_15.59.48__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5462350/original/069630300_1767550955-20260104_222549.jpg)