Liputan6.com, Jakarta - Memiliki hewan peliharaan di rumah tentu membawa kebahagiaan tersendiri, namun tanggung jawab di baliknya tidaklah sedikit, terutama mengenai sanitasi. Masalah cara membuang kotoran kucing sering kali dianggap remeh oleh sebagian orang, padahal jika dilakukan dengan sembarangan, risikonya bisa berdampak fatal pada kesehatan lingkungan.
Langkah awal dalam memahami cara membuang kotoran kucing yang tepat dimulai dari kesadaran untuk memilah sampah sejak dari sumbernya di dalam rumah. Limbah biologis dari hewan memiliki karakteristik berbeda dengan sampah anorganik karena mengandung patogen hidup yang bisa berkembang biak dengan cepat jika terkena suhu lembap.
Seiring dengan tren memelihara kucing yang terus meningkat, edukasi mengenai cara membuang kotoran kucing yang higienis menjadi krusial agar tidak terjadi akumulasi bakteri di tempat pembuangan akhir yang membahayakan petugas. Kesalahan dalam cara membuang kotoran kucing bisa menyebabkan polusi bau yang mengganggu kenyamanan tetangga serta merusak ekosistem tanah secara permanen.
Waluyo (56), selaku PLT Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Klaten, menjelaskan bahwa limbah biologis harus diperlakukan secara khusus agar tidak membahayakan orang lain.
"Termasuk kotoran kucing, atau yang mungkin ada piring gelas yang mungkin jatuh pecah itu harusnya disendirikan dengan plastik lah. Jangan dicampur. Makanya lakukan dulu pemilahan di rumah sebelum dikirim ke TPA," jelas Waluyo kepada Liputan6.com.
1. Memilah Kotoran Kucing dalam Plastik Terpisah
Langkah pertama dan yang paling mendasar dalam cara membuang kotoran kucing adalah dengan menyediakan kantong plastik khusus yang tidak dicampur dengan sampah organik dapur. Hal ini bertujuan agar limbah biologis tidak menyebar dan mengontaminasi barang-barang lain yang mungkin masih bisa didaur ulang oleh pemulung atau petugas kebersihan.
Sesuai dengan saran dari pihak DLH, pemilahan ini sangat krusial karena setiap jenis sampah memiliki perlakuan yang berbeda di tempat pembuangan akhir. Waluyo menuturkan bahwa jika kita sudah memilahnya, petugas akan lebih mudah mengenali jenis limbah tersebut
"Kita yakin petugas pengambil itu pasti akan ‘Oh, ini barang yang tidak berharga dan ini nanti memang penanganan tersendiri’," kata Waluyo di kantor DLH Klaten.
2. Metode Double Bagging untuk Mengunci Bau
Aroma menyengat seringkali menjadi masalah utama dalam cara membuang kotoran kucing di area perumahan padat penduduk. Untuk mengatasi hal ini, gunakan metode dua lapis kantong plastik guna memastikan tidak ada kebocoran udara maupun cairan dari gumpalan pasir kucing yang telah dibersihkan.
Langkah ini penting karena bau yang keluar ke lahan terbuka bisa mengundang lalat dan predator lainnya. Dengan membungkus rapat, Anda menjaga kenyamanan hidung para tetangga.
Caranya mudah, ambil gumpalan kotoran menggunakan serok, masukkan ke dalam plastik kecil, ikat kuat, lalu masukkan kembali ke dalam plastik sampah besar. Ini adalah cara membuang kotoran kucing paling efektif untuk mengunci aroma dan bakteri.
3. Membuat Septic Tank Khusus
Bagi Anda yang memelihara banyak kucing di rumah, cara membuang kotoran kucing ke tempat sampah biasa mungkin tidak lagi efektif karena volumenya yang besar. Membuat instalasi pembuangan khusus yang terpisah dari saluran limbah rumah tangga manusia adalah langkah yang sangat profesional dan bijak.
Pembuatan wadah penampung ini berfungsi agar proses dekomposisi terjadi di bawah tanah secara terisolasi. Hal ini pun disetujui oleh pakar limbah, Waluyo selaku Sekretaris DLH Klaten memberikan rekomendasi.
"Kayak septic tank WC cuman khusus kucing khusus kalau memang yang dipelihara banyak loh ya." Cara ini efektif memutus rantai bakteri di permukaan tanah.
4. Joganan untuk Penguraian Bakteri Alami
Istilah "joganan" atau lubang pembuangan di tanah adalah salah satu kearifan lokal yang bisa diterapkan dalam cara membuang kotoran kucing bagi warga yang memiliki lahan sisa. Tanah memiliki mikroba alami yang mampu mengurai feses dalam waktu tertentu, asalkan jumlahnya tidak berlebihan dan lokasinya tepat.
Waluyo melihat bahwa bagi rumah tangga kecil, metode ini masih sangat relevan dilakukan. "Itu tapi kalau hanya rumah tetangga mungkin hanya punya satu dua, saya kira kebanyakan ga ke joganan ya, kebanyakan gitu. Kan ada kalau di situ kan kategorinya kan kecil ya. Sehingga nanti masih bisa dilakukan pembusukan oleh bakteri," jelasnya.
Pastikan juga lubang tersebut cukup dalam agar tidak diacak-acak oleh hewan lain.
5. Jarak Pembuangan dari Sumur
Dalam menerapkan cara membuang kotoran kucing, faktor lokasi adalah segalanya. Kita harus ekstra waspada jangan sampai sisa pembuangan tersebut berada terlalu dekat dengan sumur bor atau sumur gali yang digunakan untuk kebutuhan konsumsi harian keluarga dan warga sekitar.
Kontaminasi silang merupakan ancaman nyata yang harus dihindari sejak dini. Terkait hal tersebut, Waluyo memberikan peringatan serius agar masyarakat memperhatikan risiko kebocoran atau pencemaran bakteri seperti E. coli
Bakteri ini berpotensi memengaruhi kualitas air minum yang dikonsumsi. Oleh karena itu, penerapan jarak aman minimal sekitar 10 meter dari sumber air menjadi sangat penting untuk diperhatikan.
6. Menggunakan Pasir Organik
Teknologi pasir kucing kini semakin maju dengan adanya jenis tofu atau kayu. Menggunakan media ini sebagai bagian dari cara membuang kotoran kucing akan mempermudah proses pembusukan alami jika Anda memilih metode penguburan. Pasir jenis ini lebih ramah lingkungan dibandingkan bentonit yang sulit hancur.
Pasir kucing organik terbuat dari berbagai bahan alami yang dapat diperbarui seperti ampas tahu (tofu), serbuk kayu pinus, kertas daur ulang, jagung, hingga gandum. Karena bahan dasarnya yang berasal dari tanaman, pasir jenis ini jauh lebih ramah lingkungan karena mudah terurai secara alami (biodegradable), lebih aman bagi pernapasan kucing karena minim debu kimia, serta beberapa jenisnya memiliki keunggulan praktis karena dapat langsung dibuang ke dalam toilet.
Meskipun pasirnya mudah terurai, tetap ikuti prinsip pemisahan sampah yang disarankan oleh DLH. Dengan memilih bahan yang biodegradable, Anda telah berkontribusi mengurangi beban limbah abadi di TPA yang sulit diolah oleh alam.
7. Membersihkan Wadah Pasir Berkala
Langkah terakhir dari rangkaian cara membuang kotoran kucing adalah pembersihan total wadah (litter box). Jangan hanya membuang gumpalan kotorannya, tapi pastikan wadah plastiknya dicuci bersih seminggu sekali untuk membunuh sisa-sisa bakteri yang menempel pada dinding wadah.
Gunakan sabun atau disinfektan yang aman bagi hewan peliharaan. Ingatlah bahwa lingkungan yang bersih tidak hanya membuat pemilik nyaman, tetapi juga mencegah kucing Anda terserang penyakit akibat bakteri yang menumpuk.
FAQ Cara Membuang Kotoran Kucing
Bolehkah membuang kotoran kucing ke lubang WC?
Tidak boleh, karena dapat menyumbat pipa dan sistem pengolahan limbah kota tidak dirancang untuk mematikan parasit kotoran kucing.
Kenapa kotoran kucing tidak boleh dicampur sampah dapur?
Agar patogen dari kotoran kucing tidak mengontaminasi sampah organik yang mungkin akan diolah kembali menjadi kompos atau pakan maggot.
Berapa lama kotoran kucing hancur di dalam tanah?
Tergantung kelembapan, biasanya membutuhkan waktu 2 hingga 6 bulan untuk hancur sepenuhnya melalui pembusukan bakteri.
Apa bahaya bakteri E. coli dari kotoran kucing?
Bisa menyebabkan diare parah dan infeksi saluran pencernaan jika mencemari sumber air minum manusia.
Apakah semua jenis pasir kucing boleh dikubur?
Hanya pasir organik (kayu/tofu) yang aman dikubur; pasir jenis bentonit (semen) sebaiknya dibungkus plastik dan dibuang ke tempat sampah.

10 hours ago
6
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495699/original/087407300_1770395606-IMG-20260206-WA0103.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4779617/original/036087100_1710997991-20240321BL_Pengambilan_Sumpah_WNI_Cyrus_Margono_10.JPG)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495694/original/058179800_1770395231-IMG-20260206-WA0061.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495664/original/012532800_1770390287-PSJ02234.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495424/original/073309000_1770369689-1001912126.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5487859/original/027277700_1769680869-Lakukan_Pengendalian_Hama___Penyakit_dengan_Tepat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495441/original/065691700_1770370772-Cara_membersihkan_filter_air.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5315768/original/045151800_1755170609-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__26_of_75_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495423/original/096616400_1770369490-Cara_Menanam_Lidah_Buaya_di_Pot_Kecil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495505/original/005602900_1770373062-PSIM_V_PERSIS.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5447115/original/003159000_1765948624-Gemini_Generated_Image_z1kf6mz1kf6mz1kf.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5458414/original/095279200_1767078866-milomir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495369/original/008785000_1770367341-unnamed__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495296/original/090491300_1770364232-Tanaman_Genjer.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468953/original/075305800_1768037861-borneo_fc.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495331/original/089320000_1770365129-ular.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5489836/original/012696000_1769936072-20260131BL_Timnas_Futsal_Indonesia_Vs_Irak_AFC_Futsal_Asian_Cup_2026-19.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495033/original/063751100_1770352230-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4850575/original/083890800_1717327227-WhatsApp_Image_2024-06-02_at_16.39.51.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443441/original/030682100_1765689642-unnamed_-_2025-12-14T120743.838.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407835/original/000490000_1762756179-rumah_mungil_ala_villa_dengan_mezzanine_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407806/original/029507600_1762755207-model_gamis_abaya_warna_pastel_anti_gerah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407928/original/066044200_1762757831-Gemini_Generated_Image_6aq8ve6aq8ve6aq8.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5399792/original/021697400_1762005267-InShot_20251101_204835762.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407831/original/043493200_1762756167-atasan_brokat_bawah_batik_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407853/original/063538400_1762756283-desain_rumah__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5319153/original/007607300_1755506626-bansos.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407860/original/065539800_1762756285-unnamed_-_2025-11-10T121554.931.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382923/original/000118700_1760607895-warung_jajan_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453294/original/050897400_1766474273-3b763600-b9ea-4b9e-bedd-17ed90a573e4.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453102/original/079572900_1766468512-dapur_cantik_minimalis_terbaru_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407718/original/020057100_1762751958-Zamenis_longissimus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453091/original/043931500_1766468139-Model_Dress_A_Line_untuk_Perayaan_Libur_Akhir_Tahun_yang_Elegan_dan_Stylish_Detail_Wrap.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453266/original/028409900_1766473688-Gemini_Generated_Image_3hozdt3hozdt3hoz_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453276/original/089690800_1766473880-desain_teras_samping_memanjang__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5419331/original/064204700_1763689880-unnamed__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453126/original/093428100_1766470604-unnamed_-_2025-12-23T131456.592.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418282/original/089534600_1763613709-unnamed_-_2025-11-20T113804.508.jpg)