:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289612/original/061852900_1783410432-07866abe-3e97-416e-90f6-8ee5b2df829a.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Apakah Anda khawatir anak terlalu tertekan dengan ekspektasi akademik? Dalam dunia parenting modern, ada banyak gaya asuh yang dapat dipilih—mulai dari Tiger Parenting yang ketat hingga Free-Range Parenting yang sangat bebas. Namun ada satu pendekatan yang semakin banyak direkomendasikan ahli sebagai keseimbangan ideal: Elephant Parenting. Gaya asuh ini terinspirasi dari perilaku gajah, hewan yang terkenal dengan ikatan keluarga yang kuat, kecerdasan emosional, dan kepedulian terhadap sesama.
Elephant Parenting bukanlah sekadar tren parenting terbaru. Ini adalah filosofi mendalam yang memprioritaskan kesejahteraan emosional anak sambil tetap membangun struktur dan disiplin yang sehat. Dalam artikel ini, Anda akan mempelajari definisi lengkap, ciri-ciri orang tua dengan gaya ini, manfaat signifikan, tantangan praktis, dan cara menerapkannya dengan tepat di rumah Anda sendiri.
Definisi Elephant Parenting
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289641/original/047024800_1783411267-d92b46be-2732-4c67-ae9e-61765c3f566b.jpg)
Perbesar
Istilah "Elephant Parenting" pertama kali dipopulerkan oleh Priyanka Sharma-Sindhar melalui artikel Atlantic pada tahun 2014 yang berjudul "Being an 'Elephant Mom' in the Time of the Tiger Mother". Sharma-Sindhar menciptakan istilah ini sebagai respons terhadap konsep Tiger Parenting yang ketat dan berorientasi pada prestasi. Istilah ini mengambil inspirasi dari perilaku alam gajah, yang dikenal sebagai salah satu hewan paling cerdas, empatik, dan sosial di dunia dengan ikatan keluarga yang sangat kuat.
Elephant Parenting adalah gaya pengasuhan yang menekankan keseimbangan antara dukungan emosional dan struktur yang jelas. Berbeda dengan Tiger Parenting yang fokus pada pencapaian akademik dengan disiplin ketat, Elephant Parenting memprioritaskan kesehatan mental, emotional intelligence, dan ikatan keluarga. Pendekatan ini mengakui bahwa anak-anak membutuhkan lebih dari sekedar nilai sempurna—mereka memerlukan fondasi emosional yang kokoh untuk tumbuh menjadi individu yang sehat, tangguh, dan berempati.
Beberapa elemen fundamental yang membedakan Elephant Parenting dari gaya asuh lainnya meliputi: ketersediaan emosional orang tua yang tinggi, validasi perasaan anak tanpa penilaian, pemberian kebebasan eksplorasi dengan batasan yang jelas, dan pembangunan emotional intelligence sejak dini. Orang tua dengan gaya ini percaya bahwa seorang anak yang merasa dicintai, didengarkan, dan dimengerti akan secara natural mengembangkan motivasi intrinsik untuk belajar dan berkembang, tanpa perlu dorongan eksternal yang berlebihan.
7 Ciri-ciri Elephant Parenting
Sebelum menerapkan gaya asuh ini, penting untuk memahami ciri-ciri utama dari seorang Elephant Parent. Berikut adalah tanda-tanda yang menunjukkan Anda memiliki atau mengembangkan gaya pengasuhan ini:
1. Responsif Terhadap Kebutuhan Emosional Anak
Elephant Parent selalu berusaha memahami perasaan di balik perilaku anak. Ketika anak menangis, mereka tidak hanya mencari tahu apa yang salah secara fisik, tetapi juga menggali lebih dalam untuk memahami emosi yang mendasarinya. Mereka menyadari bahwa setiap perilaku anak—bahkan yang sulit seperti tantrum—adalah bentuk komunikasi yang perlu dipahami dengan penuh perhatian.
2. Membangun Komunikasi Terbuka dan Jujur
Orang tua dengan gaya Elephant menciptakan lingkungan di mana anak merasa aman untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka tanpa takut dihakimi. Mereka secara aktif mendengarkan, mengajukan pertanyaan yang menggali lebih dalam, dan memberikan respon yang penuh empati. Komunikasi dua arah ini membangun kepercayaan yang menjadi fondasi hubungan sehat jangka panjang.
3. Memberikan Validasi untuk Semua Perasaan
Berbeda dengan orang tua yang mengatakan "jangan menangis", Elephant Parent mengatakan "aku mengerti kamu sedih". Mereka memvalidasi emosi anak bahkan ketika mereka tidak setuju dengan perilakunya. Validasi ini penting untuk mengajarkan anak bahwa semua emosi adalah normal dan dapat dikelola dengan sehat.
4. Tidak Terlalu Fokus pada Pencapaian Akademik
Sementara Tiger Parent menuntut prestasi sempurna, Elephant Parent lebih tertarik pada proses belajar dan pertumbuhan pribadi anak. Nilai A penting, tetapi kesejahteraan emosional anak jauh lebih penting. Mereka percaya bahwa anak yang bahagia dan percaya diri akan secara natural berkinerja baik di sekolah.
5. Hadir Fisik dan Emosional Saat Anak Butuh
Elephant Parent bukanlah orang tua yang selalu sibuk atau emotionally unavailable. Mereka membuat waktu untuk anak-anak mereka, mendengarkan cerita mereka, dan hadir saat anak mengalami kesulitan. Kehadiran ini tidak berarti mereka meninggalkan segala sesuatu, tetapi mereka memprioritaskan koneksi emosional.
6. Mendorong Eksplorasi dengan Aman
Orang tua dengan gaya ini percaya pada pentingnya pembelajaran melalui pengalaman. Mereka membiarkan anak bermain, mencoba hal baru, dan bahkan membuat kesalahan—tetapi dalam lingkungan yang aman dan dengan pengawasan yang tepat. Mereka menawarkan bimbingan, bukan kontrol penuh.
7. Menjadi Teladan Emotional Intelligence
Elephant Parent menyadari bahwa anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Mereka secara aktif memodelkan manajemen emosi yang sehat, menunjukkan bagaimana mengatasi frustrasi dengan tenang, dan cara minta maaf dengan tulus ketika mereka melakukan kesalahan.
5 Manfaat Elephant Parenting untuk Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289648/original/031563900_1783411355-1771bc22-8b06-4c85-96bb-f6e52b3df0ba.jpg)
Perbesar
Ada berbagai alasan mengapa Elephant Parenting mendapat perhatian dari para ahli perkembangan anak. Berikut adalah manfaat signifikan yang dapat dialami anak Anda:
1. Emotional Intelligence dan Kecerdasan Emosional yang Tinggi
Anak yang dibesarkan dengan Elephant Parenting mengembangkan self-awareness yang baik, kemampuan untuk mengenali emosi mereka sendiri, empati terhadap orang lain, dan keterampilan regulasi emosi yang matang. Mereka tahu apa yang mereka rasakan dan mengapa, serta memiliki strategi sehat untuk mengelola emosi-emosi tersebut. Keterampilan ini adalah salah satu prediktor terkuat kesuksesan jangka panjang dalam hidup.
2. Anak Lebih Empati dan Prososial
Penelitian dari Cambridge University menunjukkan bahwa anak dengan elephant parenting lebih cenderung menunjukkan perilaku prososial—membantu, berbagi, dan peduli pada kesejahteraan orang lain. Ketika anak sendiri merasakan empati dan pemahaman, mereka secara natural mereplikasi perilaku ini kepada sesama. Mereka menjadi individu yang lebih baik hati dan memiliki kepedulian sosial yang kuat.
3. Kesehatan Mental Lebih Baik dan Lebih Resilient
Fondasi emotional security yang dibangun melalui Elephant Parenting membuat anak lebih tangguh menghadapi stres dan tantangan hidup. Mereka memiliki "bounce-back ability" yang lebih baik—kemampuan untuk pulih dari kegagalan atau kesedihan. Penelitian menunjukkan bahwa anak dengan attachment yang aman memiliki risiko lebih rendah mengalami anxiety, depression, dan masalah mental lainnya.
4. Kepercayaan Diri yang Sejati dan Berkelanjutan
Tidak seperti self-esteem yang rapuh dari pujian berlebihan, anak Elephant Parent mengembangkan kepercayaan diri yang dibangun atas dasar penerimaan unconditional dan dukungan nyata. Mereka merasa aman untuk menjadi diri sendiri, mengekspresikan opini, dan mengambil risiko yang sehat. Kepercayaan diri ini bukan tentang arogan, tetapi tentang mengenal diri sendiri dengan baik.
5. Hubungan Keluarga yang Lebih Kuat dan Bermakna
Ketika orang tua dan anak berkomunikasi dengan jujur, saling mendengarkan, dan merasa dipahami, ikatan yang terbangun jauh lebih dalam. Anak akan lebih terbuka kepada orang tua mereka, berbagi masalah pribadi, dan mencari nasihat ketika mereka dewasa. Hubungan ini adalah aset paling berharga dalam keluarga.
Tantangan & Risiko Elephant Parenting
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289659/original/024364000_1783411562-3e882f33-f99a-4cc6-b571-57dff2a30edd.jpg)
Perbesar
Meskipun memiliki banyak manfaat, Elephant Parenting juga membawa tantangan. Berikut adalah risiko yang harus diwaspadai:
1. Jatuh ke dalam Overprotective/Helicopter Parenting
Overprotective parenting terjadi ketika orang tua terlalu melindungi anak dari segala bentuk ketidaknyamanan, kegagalan, atau risiko kecil. Anak tidak mendapat kesempatan untuk menghadapi tantangan, memecahkan masalah sendiri, atau belajar dari konsekuensi alami. Akibatnya, anak menjadi kurang mandiri dan tidak memiliki coping mechanism yang kuat ketika menghadapi situasi sulit di masa depan. Perbedaan subtle antara Elephant Parenting dan overprotective parenting adalah bahwa Elephant Parent tetap membiarkan anak menghadapi tantangan age-appropriate, sementara overprotective parent mencegah semua potensi rasa sakit.
Cara menghindari ini adalah dengan secara sadar membiarkan anak mengalami "good failure"—kegagalan yang aman dan memberikan pembelajaran. Misalnya, biarkan anak menuangkan air sendiri meski akan tumpah, atau biarkan mereka menyelesaikan PR tanpa Anda selesaikan untuk mereka. Dukungan Anda tetap ada, tetapi ruang untuk belajar mandiri juga tetap terbuka.
2. Anak Menjadi Validation-Hungry dan Bergantung pada Pujian Eksternal
Terlalu banyak pujian tanpa standar yang jelas dapat membuat anak menjadi haus akan validasi dari orang lain. Mereka tidak belajar untuk mengevaluasi diri sendiri atau merasakan kepuasan intrinsik dari pencapaian mereka. Penelitian menunjukkan bahwa excessive praise, terutama pujian yang tidak spesifik atau tidak berdasarkan usaha nyata, dapat meningkatkan narcissism dan mengurangi motivasi intrinsik. Anak perlu belajar bahwa nilai mereka tidak bergantung pada pujian orang lain.
Solusinya adalah memberikan appreciative feedback yang spesifik dan terfokus pada usaha, bukan pada hasil atau sifat bawaan. Misalnya, daripada mengatakan "Kamu hebat!", katakan "Saya melihat Anda bekerja keras untuk menyelesaikan soal yang sulit itu. Usaha Anda membuat perbedaan." Ini mengajarkan bahwa usaha dan proses lebih penting daripada hasil akhir.
3. Kurangnya Struktur, Batasan, dan Disiplin yang Jelas
Beberapa orang tua keliru mengira bahwa Elephant Parenting berarti membiarkan anak melakukan apapun yang mereka mau. Mereka takut "merusak" anak dengan menerapkan konsekuensi atau boundaries. Namun, penelitian jelas menunjukkan bahwa anak membutuhkan struktur dan aturan yang konsisten untuk merasa aman. Tanpa batasan yang jelas, anak menjadi anxious, tidak mengetahui ekspektasi, dan kesulitan mengembangkan self-discipline. Ini berbeda dengan permissive parenting, yang benar-benar tanpa aturan, dan berbeda dengan authoritative parenting, yang memiliki aturan dengan penjelasan yang empatis.
Elephant Parent perlu konsisten dalam menerapkan batasan sambil tetap empati. Misalnya, jika anak melanggar aturan, orang tua tetap baik hati dan mendengarkan perspektif anak, tetapi konsekuensi tetap berlaku. Pesan yang disampaikan adalah: "Saya sayang Anda, tetapi ada aturan yang harus diikuti, dan setiap pilihan memiliki konsekuensi."
4. Melindungi Anak dari Semua Emosi Sulit atau Negatif
Ada perbedaan penting antara validasi emosi dan melindungi anak dari semua perasaan negatif. Beberapa Elephant Parent keliru berpikir bahwa tugas mereka adalah memastikan anak selalu bahagia, sehingga mereka menghindari topik yang membuat anak sedih atau frustasi. Padahal, anak perlu belajar bahwa emosi negatif seperti kecewa, marah, atau takut adalah bagian normal dari kehidupan dan dapat ditangani dengan sehat.
Strategi yang benar adalah membantu anak mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi sulit dengan cara yang sehat, sambil tetap memberikan dukungan. Model emotional expression yang sehat sendiri, bicarakan perasaan Anda, dan ajarkan anak berbagai cara untuk mengatasi emosi tanpa melarikan diri atau menekannya. Ini memberdayakan anak dengan keterampilan yang akan mereka gunakan seumur hidup.
Cara Menerapkan Elephant Parenting
Elephant Parenting bukan hanya filosofi, tetapi praktik nyata yang dapat diterapkan setiap hari. Kuncinya adalah membangun nurture dengan structure—memberikan dukungan emosional penuh sambil tetap mengajarkan anak untuk mandiri, tangguh, dan bertanggung jawab. Penerapan yang tepat memerlukan kesadaran diri, konsistensi, dan kesediaan untuk berkomunikasi dengan jujur dan penuh empati.
Perjalanan menerapkan Elephant Parenting adalah proses yang berkelanjutan, bukan destinasi akhir. Anda mungkin akan membuat kesalahan, dan itu normal. Yang penting adalah terus belajar, menyesuaikan pendekatan Anda sesuai kebutuhan anak, dan selalu kembali ke fondasi: anak Anda membutuhkan Anda untuk hadir, mendengarkan, dan mencintai mereka tanpa syarat, sambil tetap membimbing mereka dengan jelas.
Strategi untuk Berbagai Usia
Bayi & Toddler (0-2 Tahun)
Pada tahap ini, fokus pada safe exploration dan gentle discipline. Toddler perlu ruang untuk bereksperimen sambil dijaga keamanannnya. Mulai label emosi sejak dini: "Saya lihat kamu sedih karena mainannya tidak bisa berfungsi." Gunakan gentle redirection daripada hukuman keras. Konsistensi adalah kunci—anak butuh rutinitas yang dapat diprediksi untuk merasa aman.
Preschool (3-5 Tahun)
Tahap ini ideal untuk mulai mengajarkan self-care independence—anak belajar memakai baju, cuci tangan, dan tanggung jawab sederhana. Lanjutkan emotional labeling dengan lebih detail dan mulai collaborative problem-solving: "Apa yang bisa kita lakukan agar sulit ini hilang?" Tetapkan aturan yang konsisten tetapi jelaskan alasan di balik aturan tersebut dengan cara yang dapat dipahami mereka.
Elementary Age (6-12 Tahun)
Pada usia ini, anak mulai mengerti konsekuensi dan bisa diberi tanggung jawab yang lebih besar. Gunakan guided decision-making—ajaklah anak berpikir tentang pilihan mereka dengan bertanya daripada memberitahu jawaban. Validasi identitas mereka yang berkembang dan dorong ekspresi diri yang sehat. Mulai diskusikan tentang perasaan yang lebih kompleks dan cara mengatasi konflik sosial di sekolah.
Teenagers (13+ Tahun)
Remaja membutuhkan orang tua yang dapat mengelola emosi mereka sendiri—jangan reaktif terhadap perilaku remaja yang sulit. Jaga komunikasi tetap terbuka tanpa interrogation yang membuat mereka tertutup. Bantu mereka dalam goal-setting yang realistis dan dorong independence sambil tetap memberi guidance. Biarkan mereka menghadapi konsekuensi alami dari pilihan mereka dalam konteks yang aman.
5 Kesalahan yang Harus Dihindari
1. Tidak Jelas Motivasi Diri Sendiri
Tanyakan: Apakah saya menerapkan ini karena baik untuk anak, atau karena saya overcompensating dari masa kecil saya sendiri? Pastikan suami-istri sejalan dalam pendekatan parenting. Parenting yang tidak konsisten antara kedua orang tua menciptakan kebingungan bagi anak.
2. Terlalu Melindungi (Overprotective)
Biarkan anak mengambil risiko age-appropriate. Risky play malah membuat anak lebih resilient. Jangan over-monitor atau over-control setiap aspek kehidupan mereka.
3. Tidak Mengembangkan Independensi
Gunakan guided decision-making, bukan controlling. Ajukan pertanyaan untuk membantu mereka problem-solve daripada memberi solusi langsung. Berikan chores dan tanggung jawab nyata.
4. Melindungi dari Emosi Sulit
Validasi emosi anak, tetapi jangan hindari topik yang sulit. Model emotional expression yang sehat. Bantu label emosi dan beri ruang untuk anak mengekspresikan diri dengan sehat.
5. Tidak Konsisten atau Pasangan Tidak Sejalan
Konsistensi adalah jaminan keamanan anak. Jika pasangan memiliki gaya berbeda, diskusikan dan temukan middle ground. Anak membutuhkan unified approach dari kedua orang tua.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Apa Itu Elephant Parenting
Apakah Elephant Parenting sama dengan Permissive Parenting
Tidak. Meskipun keduanya terlihat lembut, ada perbedaan fundamental. Permissive parenting membiarkan anak melakukan apapun tanpa aturan atau batasan yang jelas, sementara Elephant Parenting tetap memiliki struktur, aturan, dan konsekuensi yang jelas. Perbedaannya: orang tua Elephant menerapkan aturan dengan empati dan penjelasan, bukan dengan kejam atau tanpa dialog.
Apakah Elephant Parenting Cocok untuk Semua Budaya
Ya, konsep universal ini dapat diterapkan di berbagai budaya. Namun, implementasinya perlu disesuaikan dengan nilai-nilai lokal dan ekspektasi budaya setempat. Misalnya, cara menunjukkan empati atau bagaimana mendiskusikan emosi bisa berbeda antar budaya. Intinya—membangun emotional security dan attachment yang aman—bersifat universal.
Kapan Mulai Menerapkan Elephant Parenting
Sebaiknya dimulai sejak bayi. Bahkan bayi perlu direspon dengan empati, dibiarkan aman bereksperimen, dan diajari emosi. Namun, jika anak Anda sudah lebih besar, tidak pernah terlambat untuk mulai. Transisi mungkin memerlukan waktu karena anak perlu menyesuaikan diri dengan perubahan cara orang tua berinteraksi.
Bagaimana Jika Pasangan Tidak Setuju dengan Gaya Ini
Diskusikan dengan pasangan tentang filosofi parenting dan tujuan bersama untuk anak. Tunjukkan penelitian dan bukti manfaatnya. Cari kompromi yang dapat diterima kedua belah pihak. Penting bahwa kedua orang tua sejalan karena inkonsistensi menciptakan kebingungan pada anak.
Berapa Lama Efek Elephant Parenting Terlihat pada Anak
Perubahan positif dapat terlihat dalam jangka pendek (beberapa minggu hingga bulan) dalam bentuk komunikasi yang lebih baik dan anak yang lebih terbuka. Namun, pembentukan emotional intelligence dan karakter yang matang adalah proses jangka panjang yang memerlukan konsistensi berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Penelitian menunjukkan dampak signifikan terlihat dalam 6-12 bulan penerapan konsisten.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

9 hours ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289922/original/045964600_1783418606-Cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289853/original/003046800_1783416014-Gemini_Generated_Image_q7a4fkq7a4fkq7a4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289717/original/030885300_1783413680-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289818/original/096125000_1783415483-Cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289157/original/080576600_1783393424-b7a78b91-465e-4ed2-8f41-cc2167088b2c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8943691/original/098394200_1782967060-Fungsional_untuk_Keseimbangan_Hidup.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289756/original/010427900_1783414752-rak_botol_6a.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289599/original/029602100_1783409805-9596b8aa-e63c-4e3e-8f41-62f323bbe4fc.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289937/original/092073000_1783418716-Gemini_Generated_Image_ff6eg9ff6eg9ff6e.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289736/original/056646100_1783414299-farhan-abas-cm6shnIfdp4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3516815/original/040125200_1626862298-pexels-photo-1302305.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289488/original/062309000_1783406531-49bb9bd2-8d36-4e0e-80be-d8c2bde68834.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4347155/original/023229200_1678067467-334313962_1388210305332578_5553245146315989331_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289726/original/034070600_1783413711-Menyusun_Roster_Beton_agar_Teras_Mungil_Terlihat_Lebih_Luas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289573/original/030006500_1783408260-9553f9c7-c42d-4dbd-8e2b-d5e42765f21e.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5559988/original/022076400_1776655094-cuci_darah__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289454/original/045027800_1783405246-3a4c9648-8b60-4fca-bed6-8b36e4874852.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289847/original/046256000_1783415662-3ac21e01-b0c2-4f87-be63-0b2d0e93c546.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289529/original/000693400_1783407612-HL_ide_bisnis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516749/original/064060200_1772345295-Rumah_Biophilic_7.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4174719/original/068939000_1664411162-42.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527338/original/066171500_1773200879-__________________________________1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525042/original/051351000_1773029160-cropped-2a244f90-7934-47c9-a587-b33c1a79edbd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5146073/original/099969400_1740749107-20250228-Mantau_Hilal-MER_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496194/original/006665600_1770489949-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5529412/original/016644800_1773333017-20260312BL_Launching_Jersey_Baru_Timnas_Indonesia_Kelme_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527393/original/036751200_1773201916-Model_Dapur_Minimalis_Bar_Sebagai_Solusi_Cerdas_untuk_Ruang_Terbatas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527360/original/037343400_1773200966-Ilustrasi_Cokelat_Valentine__Photo_by_valeria_aksakova_on_Freepik___3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527439/original/044504100_1773203233-dinding_batu_berlumut.jpg)