Cara Membuat Fermentasi Pakan Ternak dari Jerami Kering agar Empuk

18 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Cara membuat fermentasi pakan ternak dari jerami kering agar empuk menjadi solusi tepat bagi peternak yang memanfaatkan jerami sebagai pakan alternatif karena mudah didapat dan murah. Pasalnya, jerami kering cenderung bertekstur keras, berbau kurang sedap, serta sulit dicerna, sehingga kurang diminati ternak jika diberikan tanpa pengolahan.

Melalui proses fermentasi, jerami dapat berubah menjadi lebih empuk, harum, dan bernilai gizi lebih tinggi berkat bantuan mikroba baik. Dengan teknik yang tepat, pakan ini mampu meningkatkan nafsu makan serta mendukung performa ternak, baik untuk penggemukan maupun perawatan harian. Berikut cara membuat fermentasi pakan ternak dari jerami kering agar empuk, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber pada Sabtu (7/2/2026). 

Manfaat Fermentasi Jerami untuk Pakan Ternak

Sebelum mempraktikkan cara pembuatannya, penting memahami alasan mengapa jerami sebaiknya difermentasi. Berikut beberapa manfaat utama fermentasi jerami yang bisa langsung dirasakan oleh peternak.

1. Membuat Jerami Lebih Empuk

Fermentasi membantu menguraikan serat kasar pada jerami sehingga teksturnya menjadi lebih lunak. Jerami yang empuk tidak melukai mulut ternak dan lebih mudah dikunyah, sehingga proses pencernaan di dalam rumen berjalan lebih efisien dan penyerapan nutrisi menjadi lebih baik.

2. Meningkatkan Nafsu Makan Ternak

Jerami fermentasi memiliki aroma asam segar mirip tape yang lebih disukai ternak dibanding bau jerami kering biasa. Bau yang lebih harum ini merangsang nafsu makan, sehingga ternak mau mengonsumsi pakan lebih banyak dan tidak mudah memilih-milih.

3. Memperbaiki Daya Cerna

Selama fermentasi, mikroba akan memecah sebagian lignin dan selulosa yang sulit dicerna. Hasilnya, jerami menjadi lebih ramah bagi sistem pencernaan ternak dan membantu meningkatkan konversi pakan menjadi energi maupun bobot badan.

4. Menambah Nilai Gizi Pakan

Proses fermentasi tidak hanya melunakkan jerami, tetapi juga meningkatkan kandungan protein mikroba. Dengan tambahan bahan seperti molase atau dedak, jerami fermentasi bisa menjadi pakan yang lebih seimbang dibanding jerami mentah.

5. Bisa Disimpan Lebih Lama

Jerami yang sudah difermentasi dan disimpan secara anaerob dapat bertahan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Hal ini sangat membantu peternak sebagai stok pakan saat musim kemarau atau ketika rumput segar sulit didapat.

Bahan dan Alat yang Dibutuhkan

Agar proses fermentasi berjalan optimal, ada beberapa bahan dan alat yang perlu disiapkan. Berikut daftar sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan peternak.

Bahan:

  • Jerami kering, bisa jerami padi, jagung, atau rumput kering sebagai bahan utama pakan.
  • EM4 peternakan atau probiotik, berfungsi sebagai starter mikroba fermentasi.
  • Molase, tetes tebu, atau gula merah cair, sebagai sumber energi bagi mikroba agar bekerja maksimal.
  • Air bersih, untuk melarutkan bahan fermentasi dan melembapkan jerami.
  • Dedak halus (opsional), untuk menambah kandungan nutrisi jerami fermentasi.

Alat:

  • Ember atau tangki, untuk mencampur larutan fermentasi.
  • Sprayer atau gayung, memudahkan penyiraman larutan ke jerami.
  • Pisau atau mesin cacah, membantu memperkecil ukuran jerami agar mikroba mudah bekerja.
  • Terpal, plastik, drum, atau silo, sebagai wadah penyimpanan selama fermentasi.
  • Alat penekan atau injakan kaki, untuk memadatkan jerami agar minim udara.

Cara Membuat Fermentasi Jerami agar Empuk

Setelah bahan dan alat siap, langkah berikutnya adalah proses fermentasi. Tahapan berikut perlu dilakukan dengan rapi supaya jerami tidak busuk dan hasilnya maksimal.

1. Mencacah dan Menyiapkan Jerami

Jerami kering sebaiknya dipotong sepanjang 3–5 cm agar lebih mudah difermentasi dan dimakan ternak. Ukuran yang lebih kecil membuat permukaan jerami lebih luas sehingga mikroba bisa bekerja merata pada seluruh bagian.

Jika tidak memiliki mesin pencacah, jerami bisa diremas atau dipotong manual menggunakan pisau. Walau sederhana, tahap ini sangat penting karena jerami utuh yang terlalu panjang biasanya sulit empuk dan proses fermentasinya kurang sempurna.

2. Membuat Larutan Fermentasi

Campurkan air bersih dengan EM4 dan molase atau gula merah cair, lalu aduk hingga rata. Perbandingan umumnya adalah 1 tutup EM4 dan 3–5 sendok molase untuk setiap 1 liter air, lalu disesuaikan dengan jumlah jerami yang akan difermentasi.

Larutan ini berfungsi sebagai sumber mikroba dan energi bagi proses fermentasi. Tanpa larutan yang seimbang, jerami bisa gagal fermentasi atau justru membusuk karena mikroorganisme tidak berkembang dengan baik.

3. Membasahi Jerami Secara Merata

Siram atau semprotkan larutan fermentasi ke jerami sampai lembap, bukan sampai becek. Tes sederhana bisa dilakukan dengan menggenggam jerami, jika tidak keluar air tetapi terasa basah, berarti kondisinya sudah pas.

Kelembapan sangat menentukan keberhasilan fermentasi. Jerami yang terlalu kering membuat mikroba sulit bekerja, sedangkan jerami yang terlalu basah justru mudah menimbulkan bau busuk dan jamur.

4. Menyusun dan Memadatkan Jerami

Masukkan jerami ke dalam plastik, drum, atau tumpukan di atas terpal secara berlapis. Setiap lapisan dipadatkan dengan diinjak atau ditekan agar udara keluar semaksimal mungkin.

Kondisi minim udara atau anaerob sangat penting dalam fermentasi. Semakin padat susunannya, semakin baik hasil jerami fermentasi karena mikroba dapat bekerja tanpa gangguan oksigen berlebih.

Setelah jerami tersusun rapi, tutup rapat wadah fermentasi agar tidak ada udara yang masuk. Simpan di tempat teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung.

Proses fermentasi biasanya berlangsung minimal 7 hari, ideal 14 hari, dan bisa sampai 21 hari. Selama waktu tersebut, jerami akan berubah warna, aroma, dan tekstur menjadi lebih empuk serta siap diberikan ke ternak.

Cara Pemberian Jerami Fermentasi ke Ternak

Setelah jerami siap, ada beberapa cara pemberian yang perlu diperhatikan agar ternak bisa beradaptasi dengan baik.

1. Diangin-anginkan Sebelum Diberikan

Jerami fermentasi sebaiknya dikeluarkan dari wadah dan diangin-anginkan sekitar 10–15 menit. Tujuannya agar gas hasil fermentasi berkurang dan aromanya lebih segar saat dimakan ternak.

Dengan cara ini, ternak tidak kaget dengan bau terlalu asam dan lebih cepat mau mengonsumsi pakan tersebut secara lahap.

2. Diberikan Bertahap

Pada awal penggunaan, campurkan jerami fermentasi dengan pakan biasa terlebih dahulu. Pemberian bertahap membantu ternak menyesuaikan sistem pencernaannya terhadap pakan baru.

Jika ternak sudah terbiasa, porsi jerami fermentasi bisa ditingkatkan sesuai kebutuhan, baik untuk pakan pokok maupun tambahan.

3. Dikombinasikan dengan Pakan Lain

Jerami fermentasi tetap perlu dikombinasikan dengan konsentrat, hijauan segar, atau mineral. Kombinasi ini membuat kebutuhan nutrisi ternak lebih seimbang.

Dengan pakan yang lengkap, ternak tidak hanya kenyang, tetapi juga mampu tumbuh, berproduksi, dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik.

Pertanyaan dan Jawaban seputar Topik

Q: Berapa lama fermentasi jerami agar siap pakai?

A: Minimal 7 hari, ideal 14 hari agar jerami benar-benar empuk dan wangi.

Q: Apakah jerami fermentasi bisa disimpan lama?

A: Bisa, selama wadah tetap rapat dan tidak kemasukan udara.

Q: Apa ciri jerami fermentasi berhasil?

A: Baunya asam segar, teksturnya empuk, dan tidak berjamur hitam.

Q: Apakah jerami fermentasi aman untuk kambing?

A: Aman, asalkan tidak busuk dan diberikan bertahap saat awal.

Q: Bisa fermentasi jerami tanpa EM4?

A: Bisa, menggunakan ragi tape dan gula sebagai starter alami.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|