Cara Pandang Gen Z Berubah, 8 Tradisi Ini Mulai Ditinggalkan

7 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Setiap generasi tumbuh dengan nilai dan cara pandang yang berbeda. Orang-orang yang dibesarkan pada era 1960-an, 1970-an, dan 1980-an umumnya memiliki sejumlah tradisi yang dianggap sebagai pedoman hidup. Namun, Gen Z melihat banyak di antaranya sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi saat ini.

Tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat, perubahan dunia kerja, dan berbagai tantangan ekonomi membuat Gen Z lebih terbuka untuk mempertanyakan kebiasaan lama. Mereka tidak segan meninggalkan tradisi yang menurut mereka sudah tidak lagi relevan.

Berikut delapan tradisi yang mulai banyak ditinggalkan oleh Gen Z.

1. Menolak Hustle Culture

Banyak orang tua rela bekerja sangat keras demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga. Bahkan, tidak sedikit yang tetap bekerja meski sudah merasa sangat lelah.

Gen Z memilih pendekatan yang berbeda. Mereka lebih menghargai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance). Fleksibilitas, kesehatan mental, dan waktu bersama keluarga menjadi hal yang dianggap sama pentingnya dengan karier. Karena itu, mereka tidak ingin mengorbankan seluruh hidup hanya untuk pekerjaan.

2. Membangun Karier Tidak Lagi Hanya Mengandalkan CV

Dulu, riwayat hidup atau CV menjadi alat utama untuk memperkenalkan kemampuan kepada perusahaan.

Saat ini, banyak Gen Z memanfaatkan media sosial, portofolio digital, hingga akun profesional untuk menunjukkan keahlian mereka.

Personal branding menjadi bagian penting dalam membangun karier. Melalui berbagai platform digital, seseorang dapat memperlihatkan pengalaman, karya, dan kemampuan kepada calon klien maupun perusahaan tanpa hanya bergantung pada selembar CV.

3. Pernikahan dan Memiliki Anak Bukan Lagi Target Utama

Bagi generasi sebelumnya, menikah dan membangun keluarga sering dianggap sebagai tahapan yang harus dilalui saat memasuki usia dewasa.

Namun, banyak Gen Z memiliki pandangan yang berbeda.

Sebagian memilih menunda pernikahan hingga kondisi finansial lebih stabil. Ada pula yang lebih fokus mengembangkan karier, mengejar pendidikan, atau mencapai tujuan pribadi sebelum memikirkan kehidupan berkeluarga.

Selain itu, meningkatnya biaya hidup membuat banyak anak muda mempertimbangkan keputusan menikah dan memiliki anak dengan lebih matang dibanding generasi sebelumnya.

4. Belajar Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas

Dahulu, mengikuti kelas di sekolah atau perguruan tinggi menjadi jalur utama untuk memperoleh ilmu baru.

Kini, siapa pun bisa belajar melalui kursus daring, video edukasi, webinar, podcast, maupun berbagai platform pembelajaran digital.

Perkembangan teknologi membuat akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi jauh lebih mudah. Meski pendidikan formal tetap penting untuk bidang tertentu, banyak keterampilan baru kini dapat dipelajari secara mandiri.

5. Hubungan Sosial Tidak Harus Selalu Bertemu Langsung

Sebelum internet berkembang, bertemu secara langsung menjadi cara utama untuk menjaga hubungan dengan keluarga maupun teman.

Kini, media sosial, aplikasi pesan instan, hingga panggilan video membuat komunikasi tetap bisa terjalin tanpa harus berada di tempat yang sama.

Meski demikian, banyak ahli tetap mengingatkan bahwa interaksi tatap muka memiliki manfaat yang sulit sepenuhnya digantikan oleh komunikasi digital.

Karena itu, keseimbangan antara hubungan daring dan pertemuan langsung tetap penting untuk menjaga kualitas hubungan sosial.

6. Menganggap Kesehatan Mental Bukan Lagi Topik yang Tabu

Pada masa lalu, pembicaraan tentang kesehatan mental sering dihindari karena dianggap memalukan atau tidak sepenting kesehatan fisik.

Kini, Gen Z justru lebih terbuka membahas kecemasan, stres, depresi, maupun kelelahan emosional.

Mereka percaya bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, berbicara mengenai kondisi mental dianggap sebagai langkah awal untuk mendapatkan dukungan dan pemulihan.

7. Kesuksesan Tidak Lagi Diukur dari Banyaknya Uang

Bagi generasi terdahulu, memiliki pekerjaan tetap, gaji yang stabil, dan kondisi finansial yang mapan sering dianggap sebagai tanda utama kesuksesan.

Sementara itu, banyak Gen Z memiliki definisi yang lebih luas. Mereka tetap menganggap uang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Banyak anak muda lebih memilih pekerjaan yang sesuai dengan nilai hidup, memberi ruang untuk berkembang, serta memiliki dampak positif dibanding hanya mengejar jabatan atau penghasilan yang lebih besar.

Bagi mereka, hidup yang seimbang dan bermakna sama pentingnya dengan kondisi keuangan.

8. Tidak Merasa Harus Memiliki Banyak Barang

Generasi sebelumnya cenderung menganggap memiliki rumah, kendaraan, atau berbagai barang berharga sebagai bentuk investasi yang penting.

Sebaliknya, banyak Gen Z lebih memilih menghabiskan uang untuk pengalaman yang berkesan, seperti bepergian, menonton konser, mengikuti festival, atau mencoba aktivitas baru.

Bagi mereka, kenangan dan pengalaman sering kali terasa lebih berharga dibanding menambah koleksi barang yang jarang digunakan.

Perbedaan Generasi Mencerminkan Perubahan Zaman

Perubahan cara pandang Gen Z bukan berarti mereka menolak semua nilai yang diajarkan generasi sebelumnya. Sebaliknya, mereka berusaha menyesuaikan pilihan hidup dengan tantangan dan kondisi dunia yang terus berubah.

Apa yang dulu dianggap sebagai tradisi atau tolok ukur kesuksesan belum tentu memiliki makna yang sama saat ini. Pada akhirnya, setiap generasi memiliki cara masing-masing untuk menjalani hidup sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan realitas yang mereka hadapi.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|