4 Cara Menyulap Pekarangan Rumah Jadi "Supermarket Hidup", Kiat Sukses Ibu-ibu KWT

12 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah harga pangan yang kerap naik turun, sekelompok ibu di Karangklesem, Purwokerto Selatan, yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning, memilih tidak terlalu bergantung pada pasar. Mereka mempraktikkan cara menyulap pekarangan rumah.

Bukan karena mereka tak terdampak kenaikan harga, melainkan karena sebagian besar kebutuhan dapur sudah tersedia di pekarangan rumah sendiri. Dari sayur, buah, tanaman obat, hingga ikan, semuanya tumbuh berdampingan.

Hasilnya, dapur tetap berasap meski harga di pasar fluktuatif. Pekarangan pun berubah fungsi menjadi "supermarket hidup" yang bisa dipanen kapan saja.

Salah satu anggota/pengurus yang berhasil ditemui adalah Wulan, yang juga merupakan pemilik rumah. Ibu rumah tangga berusia 48 tahun itu mengungkapkan bahwa dirinya sampai bingung memilih sayuran karena yang dipanen banyak.

"Kadang malah bingung mau masak apa, soalnya yang dipanen banyak," ujar Wulan, pengurus Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning, Karangklesem, Purwokerto Selatan, Jawa Tengah, kepada Liputan6.com Jumat (30/1/2026). 

Menurutnya, ada empat cara yang dilakukan agar pekarangan bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Berikut ini empat cara menyulap pekarangan rumah jadi "supermarket hidup", oleh Liputan6.com pada Selasa (10/2/2026).

1. Manfaatkan Setiap Sudut Pekarangan

Pekarangan rumah tidak harus luas. Di halaman rumah ibu Wulan ini, banyak tanaman yang ditanam di galon bekas dan polybag. Tanah kosong dimanfaatkan maksimal, tidak ada area yang dibiarkan kosong terlalu lama.

Sayuran cepat panen seperti kangkung, bayam, pakcoy, dan sawi ditanam di galon dan wadah sederhana. Sementara tomat, terong, dan cabai ditanam di polybag. Untuk tanaman berumur panjang, seperti jeruk, alpukat, jambu, dan buah naga, ditanam langsung di tanah.

"Yang penting itu jangan kosong. Mau galon, polybag, atau tanah, semuanya bisa dipakai," kata Wulan.

Dengan cara ini, pekarangan tak hanya hijau, tapi juga produktif sepanjang tahun.

2. Menanam Beragam Jenis Tanaman Sekaligus

Agar benar-benar seperti supermarket, jenis tanaman yang ditanam tidak hanya satu atau dua. Pekarangan diisi berbagai kelompok pangan.

Untuk sayuran, ada kangkung, bayam, pakcoy, kol, tomat, dan cabai. Untuk buah, terdapat jeruk, alpukat, jambu biji, hingga buah naga. Sementara tanaman obat keluarga (TOGA) juga tumbuh subur, seperti jahe, kunyit, kencur, serai, kumis kucing, bawang dayak, bengle, dan dringo.

"Tanaman obat itu gampang. Tinggal ditancapkan saja, nanti tumbuh," ujar pengurus KWT tersebut.

Keberagaman ini membuat keluarga tidak bergantung pada satu sumber pangan. Saat sayur sedang habis, buah atau tanaman lain masih bisa dipanen.

3. Menyemai Bibit Tanpa Henti agar Panen Terus Jalan

Kunci utama agar panen tidak pernah berhenti adalah menyemai bibit secara rutin. Proses tanam dilakukan bertahap dan berkelanjutan. Bibit disemai di dalam ruangan menggunakan wadah kecil. Setelah tumbuh, bibit dipindahkan ke polybag kecil. Jika sudah cukup kuat, tanaman dipindah ke wadah lebih besar atau ke luar ruangan.

"Sebulan sekali kita tetap menyemai. Jadi yang di luar dipanen, yang di dalam sudah siap gantian," jelasnya.

Dengan sistem ini, panen sayur bisa dilakukan terus-menerus. Saat satu tanaman dipetik, tanaman lain sedang tumbuh, dan bibit baru sudah disiapkan.

"Kalau sayur itu memang harus ada terus. Enggak bisa nunggu habis dulu," tambahnya.

4. Mengandalkan Perawatan Alami dan Siklus Rumah Tangga

Sebagian besar tanaman dirawat tanpa bahan kimia. Pupuk yang digunakan berasal dari bahan organik, seperti kotoran ayam yang sudah diolah dan dicampur sebelum digunakan.

"Saya pakai pupuk organik. Kalau tanaman kelihatan menguning, ya ditambah pupuk," lanjutnya.

Sisa sayuran dari dapur juga dimanfaatkan. Sayur yang sudah tua atau tidak terpakai dipotong untuk pakan ayam dan lele. Daun pepaya bahkan diberikan untuk lele agar tercukupi kebutuhan nutrisi dan tidak saling memakan.

"Biar lele enggak makan temannya, dikasih daun pepaya sama sisa sayur," ujarnya.

Siklus ini membuat dapur, kebun, dan ternak saling terhubung. Sampah berkurang, kebutuhan pangan tetap terpenuhi.

Tantangan Terbesar adalah Cabai

Di antara semua tanaman, cabai menjadi yang paling sulit dirawat. Padahal cabai adalah komoditas yang paling sering dibutuhkan dan berpengaruh pada inflasi.

"Cabai itu yang paling susah. Hamanya banyak. Kalau enggak pakai kimia, susah tumbuh maksimal," ucap Wulan.

Upaya alami seperti penggunaan jamur trichoderma sudah pernah dicoba untuk mengatasi penyakit tanaman. Namun hasilnya belum konsisten.

"Pernah panen, tapi sering mati pas lagi berbuah. Keriting, layu," katanya.

Meski begitu, cabai tetap ditanam. Selain untuk kebutuhan sendiri, bibit cabai juga dibagikan ke warga sekitar agar semakin banyak rumah yang menanam.

Jarang ke Pasar, Lebih Hemat

Dengan pekarangan yang produktif, banyak anggota mengaku jarang membeli sayur di pasar.

"Kalau sayur sih hampir enggak pernah beli. Paling beli kalau mau masak yang enggak ada,” ungkap ibu tiga anak ini.

Jika panen berlebih, hasil kebun dijual ke tetangga atau pembeli yang datang langsung karena melihat tanaman di pekarangan.

"Kadang ada orang lewat, lihat-lihat, terus mau beli," katanya.

Apa yang dilakukan para ibu ini menunjukkan bahwa solusi pangan tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Dari galon bekas, polybag, dan kebiasaan menyemai rutin, pekarangan rumah bisa menjadi sumber pangan yang stabil.

Saat harga di pasar naik turun, pekarangan justru memberi kepastian. Bukan hanya menghemat pengeluaran, tapi juga menghadirkan rasa aman bagi keluarga. Di tengah ketidakpastian harga pangan, "supermarket hidup" itu ternyata ada di halaman rumah sendiri.

FAQ

Apa yang dimaksud "supermarket hidup" di pekarangan rumah?

Supermarket hidup adalah pekarangan yang ditanami sayur, buah, obat, dan ikan untuk kebutuhan harian.

Apakah perlu lahan luas untuk menyulap pekarangan jadi supermarket hidup?

Tidak. Galon bekas, polybag, dan sudut kecil pekarangan sudah cukup jika ditanami rutin.

Tanaman apa saja yang cocok untuk pekarangan rumah?

Sayur cepat panen, buah tahunan, tanaman obat, serta lele untuk sumber protein keluarga.

Bagaimana agar panen sayur bisa terus menerus?

Dengan menyemai bibit secara rutin dan memindahkan tanaman bertahap sesuai pertumbuhan.

Apakah pekarangan "supermarket hidup" bisa menghemat pengeluaran rumah tangga?

Ya. Banyak kebutuhan dapur terpenuhi dari rumah sehingga jarang membeli sayur ke pasar.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|