- Berapa ukuran ember bekas cat yang ideal untuk menanam pare?
- Bagaimana komposisi media tanam yang baik untuk kebun pare di ember?
- Kapan waktu yang tepat untuk memanen buah pare?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Berkebun di lahan terbatas kini bukan lagi halangan, terutama dengan hadirnya inovasi seperti memanfaatkan ember bekas cat. Konsep ini memungkinkan siapa saja untuk menanam sayuran favorit, termasuk pare, di pekarangan rumah atau area sempit lainnya. Dengan teknik yang tepat, tanaman pare dapat tumbuh subur, menghasilkan buah lebat, dan memberikan pasokan sayuran segar langsung dari kebun pribadi Anda. Metode ini sangat cocok bagi masyarakat urban yang ingin menerapkan gaya hidup hijau.
Memulai kebun pare dari ember bekas cat adalah solusi cerdas dan ramah lingkungan untuk mengatasi keterbatasan ruang. Selain memanfaatkan limbah, cara ini juga relatif mudah dilakukan oleh pemula sekalipun. Kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan wadah, media tanam, bibit unggul, serta perawatan rutin yang konsisten.
Dari persiapan ember hingga panen, setiap tahapan memiliki peranan penting dalam memastikan pertumbuhan optimal tanaman pare. Pemahaman yang baik mengenai kebutuhan dasar tanaman, seperti nutrisi dan perlindungan dari hama, akan sangat membantu mencapai hasil panen yang memuaskan. Lantas bagaimana saja cara membuat kebun pare dari ember bekas cat agar subur dan cepat berbuah? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (12/5/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Pemilihan dan Persiapan Ember Bekas Cat
Langkah awal yang krusial dalam membuat kebun pare adalah pemilihan dan persiapan wadah tanam. Ember bekas cat merupakan pilihan ekonomis dan fungsional, namun memerlukan perlakuan khusus sebelum digunakan. Ukuran ember harus memadai untuk menampung pertumbuhan akar pare yang membutuhkan ruang cukup.
Disarankan menggunakan ember dengan diameter minimal 40 cm dan kedalaman 40 cm agar akar tanaman pare dapat berkembang optimal. Setelah ukuran dipastikan, ember harus dibersihkan secara menyeluruh dari sisa cat atau bahan kimia yang berpotensi membahayakan tanaman. Gunakan sabun dan air untuk mencuci bagian dalam dan luar, lalu bilas hingga tidak ada residu yang tertinggal.
Aspek penting lainnya adalah memastikan ember memiliki lubang drainase yang cukup di bagian bawahnya. Lubang ini berfungsi mencegah genangan air yang dapat menyebabkan pembusukan akar tanaman pare. Jika belum ada, buatlah beberapa lubang menggunakan bor atau paku untuk memastikan air dapat mengalir dengan baik.
2. Pemilihan Media Tanam yang Tepat
Media tanam yang berkualitas adalah fondasi utama bagi kesuburan tanaman pare. Komposisi media tanam harus gembur, kaya unsur hara, dan memiliki drainase yang baik untuk mendukung pertumbuhan akar. Campuran ideal untuk penanaman di pot atau ember adalah tanah subur, kompos, dan sekam bakar dengan perbandingan 2:1:1.
Alternatif lain yang bisa digunakan adalah campuran tanah dan pupuk kompos dengan perbandingan 3:1. Beberapa sumber juga menyarankan campuran tanah, sekam bakar, pupuk kandang, dan sabut kelapa dengan perbandingan 1:1:1:1 untuk media semai. Pupuk kandang atau kompos yang sudah matang sangat dianjurkan sebagai pupuk dasar untuk meningkatkan kesuburan tanah secara signifikan.
Tanaman pare membutuhkan pH tanah sekitar 4-7, namun kondisi ideal untuk pertumbuhannya adalah antara pH 5-6. Tanah dengan pH 6,08 dianggap optimal karena mendukung penyerapan unsur hara mikro esensial seperti Besi (Fe), Mangan (Mn), dan Seng (Zn). Setelah media tanam dicampur, biarkan selama 3-7 hari sebelum penanaman agar pupuk organik tercampur sempurna dan gas-gas dari dekomposisi organik dapat dinetralkan. Siram media tanam secukupnya untuk menjaga kelembaban sebelum benih ditanam.
3. Pemilihan Bibit Pare Unggul
Kualitas bibit pare yang unggul sangat menentukan keberhasilan dan hasil panen. Benih atau biji pare yang baik umumnya berwarna putih, berbentuk agak bulat, sudah matang, berukuran besar, seragam, tidak rusak, cacat, atau berlubang. Benih berkualitas akan berpengaruh langsung terhadap hasil panen yang maksimal.
Disarankan untuk membeli benih bersertifikat dari varietas unggul yang terbukti produktif. Beberapa varietas pare unggul yang direkomendasikan antara lain Pare Lipa F1 Cap Panah Merah, Pare Raden F1 Cap Panah Merah, Pare Belut Bintang Asia, Pare Alaska F1 Benih Pertiwi, Pare Yunan F1 Bintang Asia, Pare Bajul F1 Bintang Asia, dan Pare Putih Jepang – High Moon F1. Varietas Raden F1, misalnya, dikenal memiliki ketahanan terhadap penyakit dan produktivitas tinggi.
Untuk mempercepat perkecambahan, benih dapat direndam dalam larutan fungisida selama 10 menit, kemudian disebar di atas handuk atau kertas merang dan ditutup hingga muncul radikula. Benih yang baik akan tenggelam saat direndam, sementara benih yang mengapung cenderung tidak tumbuh dengan baik. Perlakuan ini membantu memastikan bibit tumbuh lebih cepat dan seragam.
4. Penanaman dan Perawatan Awal
Proses penanaman dan perawatan awal yang cermat akan mendukung pertumbuhan bibit menjadi tanaman dewasa yang kuat dan produktif. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan membuat media semai dari campuran tanah, sekam bakar, pupuk kandang, dan sabut kelapa dengan perbandingan 1:1:1:1. Selama penyemaian, lakukan penyiraman rutin, terutama di musim kemarau, dua kali sehari, karena bibit pare biasanya mulai tumbuh dalam 7-10 hari setelah disemai.
Bibit yang telah siap tanam, yaitu setelah memiliki 3-4 helai daun atau berumur sekitar 3 minggu, dapat dipindahkan ke ember. Keluarkan bibit dari media semai dengan hati-hati agar akar tidak rusak, lalu pindahkan bibit beserta tanah yang menempel pada akarnya ke lubang tanam yang telah dibuat di ember. Posisikan bibit tegak lurus dan timbun dengan tanah hingga pangkal batang.
Sebelum penanaman, buat lubang tanam dengan diameter 10-15 cm dan kedalaman 5-7 cm. Berikan pupuk dasar berupa kompos atau pupuk kandang matang sebanyak satu genggam di dasar lubang, kemudian tutup dengan lapisan tanah tipis. Setelah menanam, sirami bibit dengan air secukupnya secara hati-hati menggunakan gembor bercurah halus untuk menjaga kelembaban tanah dan menghindari pergeseran benih.
5. Penyiraman dan Pemupukan Rutin
Penyiraman dan pemupukan yang teratur merupakan kunci utama untuk menjaga kesehatan dan produktivitas tanaman pare. Tanaman pare tidak tahan kekeringan, sehingga penyiraman harus dilakukan setiap hari, terutama pada pagi dan sore hari saat musim kemarau. Frekuensi penyiraman disesuaikan dengan kondisi cuaca dan kelembaban tanah, namun hindari penyiraman berlebihan yang dapat menyebabkan akar busuk. Jika media tanam terlalu kering, tanaman akan layu dan menguning; jika terlalu basah, tanaman akan busuk dan mati.
Pemupukan dasar menggunakan pupuk organik seperti kompos atau pupuk kandang yang sudah matang sangat dianjurkan untuk memperkaya nutrisi awal tanah. Pemupukan susulan diberikan mulai umur 2 minggu setelah tanam dengan interval 2 minggu sekali. Gunakan pupuk NPK dengan dosis 5-10 gram per tanaman atau pupuk organik cair yang diencerkan sesuai anjuran. Pemupukan dilakukan dengan cara ditabur di sekitar tanaman dengan jarak 10 cm dari pangkal batang, kemudian disiram agar pupuk meresap ke dalam tanah.
Mulai umur 3 minggu setelah tanam, tanaman pare perlu dipupuk lagi dengan NPK sebanyak 5 gram per tanaman. Pupuk organik cair (POC) GDM Spesialis Tanaman Pangan sangat baik untuk mendukung pertumbuhan pare karena mengandung unsur hara makro dan mikro serta bakteri premium yang membantu memperbaiki struktur tanah dan menyuplai hara secara bertahap. Penggunaan POC GDM juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit dan meningkatkan hasil panen.
6. Penyiangan, Pengendalian Hama dan Penyakit, serta Penopang Tanaman
Perawatan yang meliputi penyiangan, pengendalian hama, dan pemasangan penopang sangat penting untuk menjaga tanaman pare tetap sehat dan mendukung produksi buah yang optimal. Penyiangan gulma harus dilakukan secara rutin, setidaknya seminggu sekali, untuk menghilangkan tanaman pengganggu yang bersaing dalam penyerapan unsur hara, air, dan sinar matahari. Penyiangan juga membantu mencegah timbulnya hama dan penyakit yang dapat merugikan.
Hama umum yang sering menyerang pare meliputi ulat grayak yang memakan daun, kepik yang menyerang buah, lembing pemakan daun, dan lalat buah yang merusak buah. Penyakit pada pare dapat menyebabkan noda hitam, putih, atau daun layu, serta menyerang batang dan buah. Untuk pengendalian, jaga kebersihan tanaman dan lingkungan sekitar, lakukan pembungkusan buah untuk mencegah serangan hama seperti kepik dan lalat buah, serta lakukan pemupukan rutin untuk menjaga kesehatan tanaman.
Rajin melakukan pengecekan tanaman untuk deteksi dini serangan hama atau penyakit juga sangat diperlukan. Pengendalian mekanis seperti mengumpulkan serangga dan larvanya dapat dilakukan secara manual. Jika diperlukan, gunakan pestisida organik yang aman bagi kesehatan dan lingkungan. Selain itu, pare adalah tanaman merambat yang membutuhkan penopang atau lanjaran agar dapat tumbuh dengan baik. Penopang dapat dibuat dari belahan bambu yang disusun berbentuk kotak dengan tinggi sekitar 200 cm, membantu tanaman tumbuh rapi dan menjauhkan buah dari tanah agar tidak busuk.
7. Pemanenan dan Perawatan Pasca Panen
Pemanenan yang tepat waktu dan perawatan setelah panen akan memastikan produksi buah pare yang berkelanjutan dan berkualitas. Tanaman pare umumnya dapat dipanen pada umur sekitar 40-50 hari setelah tanam, meskipun beberapa sumber menyebutkan panen bisa dimulai setelah buah berumur 2,5 bulan atau sekitar 55 hari setelah tanam. Buah pare terbaik dipanen saat panjangnya mencapai sekitar 10-15 cm, berwarna hijau segar, dan tanpa bercak kuning.
Cara panen dilakukan dengan memotong pangkal buah menggunakan gunting atau pisau tajam yang bersih dan steril. Memotong tangkai buah dengan hati-hati akan mencegah kerusakan pada tanaman, sehingga memungkinkan tanaman untuk terus menghasilkan buah baru. Pemanenan berikutnya dapat dilakukan setiap dua sampai empat hari sekali, karena panen rutin dapat merangsang pertumbuhan buah baru dan menjaga produktivitas tanaman.
Setelah panen, buah pare perlu dibersihkan agar kualitasnya terjaga. Buah pare tidak tahan lama, sehingga sebaiknya segera dipasarkan atau dikonsumsi setelah panen. Penyimpanan pada suhu 12-13 derajat Celcius dan kelembaban 85-90% dapat menjaga kualitas buah pare hingga 2-3 minggu. Pemangkasan cabang pare dapat dilakukan setelah usia satu minggu untuk merangsang tunas tumbuh menyebar dan meningkatkan produksi buah. Pemangkasan juga dapat dilakukan pada cabang ke-5, saat umur 3, 5, dan 6 minggu, untuk mengontrol pertumbuhan batang utama dan meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Membuat Kebun Pare dari Ember Bekas Cat
1. Berapa ukuran ember bekas cat yang ideal untuk menanam pare?
Jawaban: Ember bekas cat yang ideal untuk menanam pare sebaiknya memiliki diameter minimal 40 cm dan kedalaman 40 cm untuk memberikan ruang yang cukup bagi perkembangan akar tanaman.
2. Bagaimana komposisi media tanam yang baik untuk kebun pare di ember?
Jawaban: Komposisi media tanam yang ideal adalah campuran tanah subur, kompos, dan sekam bakar dengan perbandingan 2:1:1. Alternatif lain bisa tanah dan pupuk kompos 3:1, atau campuran tanah, sekam bakar, pupuk kandang, dan sabut kelapa 1:1:1:1 untuk media semai.
3. Kapan waktu yang tepat untuk memanen buah pare?
Jawaban: Buah pare dapat dipanen pada umur sekitar 40-50 hari setelah tanam, atau sekitar 55 hari setelah tanam. Buah terbaik dipanen saat panjangnya 10-15 cm, berwarna hijau segar, dan tanpa bercak kuning.
4. Mengapa penting membuat lubang drainase pada ember bekas cat?
Jawaban: Lubang drainase sangat penting untuk mencegah genangan air di dalam ember, yang dapat menyebabkan pembusukan akar tanaman pare dan menghambat pertumbuhannya.

6 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5571197/original/066736900_1777609726-juaan_gorengan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5688254/original/018628100_1778562723-473e53a6-854c-42ff-aebe-4b122e82d459.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5683871/original/099568300_1778556456-HL_bawang_daun.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4826798/original/074007600_1715244959-20240509-Misa-HER_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5397281/original/048207900_1761805226-Konsep_Semi-Outdoor_dengan_Atap_Transparan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526613/original/029896100_1773127959-edible_garden_8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5684108/original/024211700_1778556866-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5690525/original/092751700_1778566158-background_kenaikan_Yesus_Kristus_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5683877/original/071095000_1778556498-unnamed__17_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5690518/original/089207300_1778566033-Gemini_Generated_Image_ekawogekawogekaw.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5683656/original/078355600_1778556166-a2b11bd5-3bc0-421a-8d15-63af9259e9b3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5235520/original/041747100_1748422470-9a8cd6d8-5fc4-4125-b496-6d5a2ded163d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5686293/original/068355500_1778560073-Gemini_Generated_Image_iwpkxriwpkxriwpk.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5688085/original/051337500_1778562632-kristen.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5685878/original/091960800_1778559546-Kebun_Depan_Rumah_dengan_Tanaman_Tumpang_Sari.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5685109/original/076428900_1778558382-6390bcfa-1dd3-4a6c-b689-7a71532a8a9d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5677463/original/049164800_1778547003-girengan_wedang.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559396/original/074195000_1776571534-unnamed__75_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5683114/original/070638000_1778555497-Contoh_Rumah_Sederhana_untuk_Hari_Tua_dengan_Taman_Samping_yang_Menenangkan.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4897279/original/047157000_1721544216-IMG_20240721_131658.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5482943/original/058250300_1769302357-54cb0e1a-9b5f-43ac-b9d3-4f7a7bd14f4c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500419/original/020749000_1770864866-Model_Ruang_Tamu_Open_Space.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486588/original/012358000_1769591525-Tips_Mengatasi_Kucing_Garuk_Sofa_Terus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482519/original/004242000_1769226806-pelaku_usaha_UMKM_Bantul_Rifqi_Rozanah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485935/original/098401900_1769570166-kambing.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467303/original/064555300_1767869802-fl.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490835/original/086889800_1770026577-1000761221.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482632/original/065966700_1769234277-buah_bisbul.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)