8 Hal yang Tak Boleh Dilakukan Guru PAUD saat Mengajar, agar Anak Nyaman Belajar

5 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Proses belajar di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga menyangkut cara guru membangun suasana kelas yang melatih tumbuh kembang anak. Pada tahap ini, siswa berusia dini membutuhkan lingkungan yang mendukung agar mau terlibat dalam kegiatan belajar. Ketika pendekatan ajar yang digunakan tidak tepat, anak dapat menunjukkan penolakan, diam, atau enggan mengikuti aktivitas di kelas.

Sejumlah praktik yang sering terjadi di kelas justru dapat menghambat interaksi antara guru dan anak. Hal tersebut kerap tidak disadari karena dianggap sebagai bagian dari kebiasaan mengajar. Padahal, dampaknya dapat memengaruhi cara anak memandang sekolah dan proses belajar secara umum.

Untuk itu, perlu kiranya guru PAUD untuk memperhatikan cara mengajar, menyampaikan materi hingga melatih proses kreatif dan kepercayaan diri anak didiknya. Simak informasi selengkapnya, dihadirkan Liputan6, Senin (27/4).

Memberikan Materi yang Monoton

Disampaikan mantan guru PAUD dari Sekolah Miftahul Ulum di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Tiara (24), bahwa penyampaian materi yang berulang tanpa variasi dapat membuat anak kehilangan minat untuk mengikuti kegiatan di kelas. Anak usia dini cenderung merespons rangsangan yang beragam, sehingga pola pengajaran yang sama setiap hari akan sulit mempertahankan perhatian mereka. Kondisi ini membuat anak mudah terdistraksi dan tidak fokus pada kegiatan yang sedang berlangsung.

Ketika guru hanya menggunakan satu metode tanpa mengubah cara penyampaian, anak tidak mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi pengalaman belajar yang berbeda. Akibatnya, proses belajar menjadi satu arah dan anak hanya berperan sebagai penerima tanpa keterlibatan aktif. Hal ini dapat menurunkan partisipasi anak dalam jangka waktu tertentu.

"Setelah saya belajar saat mengajar dulu, ternyata guru PAUD itu harus bisa memberi variasi saat mengajar. Jadi, jangan hanya dengan satu metode saja, misalnya, terus-menerus duduk dan mendengarkan. Ajak juga pelibatan langsung untuk menjawab materi, misalnya," kata perempuan yang mengajar di periode Juni 2023 sampai Juli 2024 itu, saat dihubungi Liputan6 beberapa waktu lalu.

Mengajar dengan Sifat yang Keras

Diungkapkan Tiara, pendekatan yang menekan atau menggunakan suara tinggi dapat membuat anak merasa tidak aman di dalam kelas. Anak usia dini belum mampu memahami tekanan sebagai bentuk disiplin, sehingga respons yang muncul cenderung berupa rasa takut atau menarik diri dari interaksi.

Ketika guru menggunakan cara yang keras, komunikasi antara guru dan anak menjadi terhambat. Anak mungkin mengikuti instruksi, tetapi bukan karena memahami, melainkan karena menghindari reaksi yang tidak diinginkan. Hal ini dapat memengaruhi hubungan jangka panjang antara guru dan anak.

"Nantinya anak jadi tidak bisa belajar dengan maksimal karena adanya rasa takut dan rasa tidak aman dengan guru. Dampaknya, anak jadi sulit memahami materi yang disampaikan oleh guru dan bisa menimbulkan rasa trauma anak terhadap belajar di sekolah," katanya lagi.

Jangan Membandingkan Antara Anak Satu dengan Anak Lainnya

Membandingkan kemampuan anak dapat menimbulkan dampak pada cara anak melihat dirinya sendiri. Setiap anak memiliki proses belajar yang berbeda, sehingga perbandingan tidak memberikan manfaat dalam perkembangan mereka. Anak yang dibandingkan dapat merasa tidak mampu mengikuti kegiatan di kelas.

Selain itu, perbandingan juga dapat memicu hubungan yang kurang baik antar anak. Anak dapat merasa tersaingi atau enggan berinteraksi karena merasa posisinya tidak setara. Situasi ini dapat mengganggu suasana kelas yang seharusnya mendukung kerja sama.

Guru perlu fokus pada perkembangan masing-masing anak tanpa mengaitkan dengan anak lain. Dengan pendekatan ini, anak dapat belajar sesuai dengan tahapnya tanpa tekanan dari perbandingan yang tidak relevan.

Jangan Memberi Hukuman Fisik saat Anak Melakukan Kesalahan

Pemberian hukuman fisik tidak membantu anak memahami kesalahan yang dilakukan. Anak cenderung hanya mengingat rasa yang muncul, bukan alasan di balik tindakan yang dianggap salah. Hal ini dapat menimbulkan ketakutan terhadap guru dan lingkungan kelas.

Ketika hukuman fisik digunakan, hubungan antara guru dan anak dapat berubah menjadi hubungan yang penuh jarak. Anak mungkin menjadi diam atau enggan berinteraksi karena khawatir melakukan kesalahan. Kondisi ini tidak mendukung proses belajar yang melibatkan komunikasi dua arah.

"Penggunaan hukuman fisik sangat tidak dianjurkan karena dampaknya bisa merusak perkembangan emosional, mental, dan fisik si anak. Nanti akan muncul trauma, serta muncul perilaku agresif," tambah lulusan IAIN Syekh Nurjati Lulusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) itu. 

Kurang Memberikan Perhatian Emosional

Anak usia dini membutuhkan perhatian tidak hanya dalam kegiatan belajar, tetapi juga dalam aspek emosi. Ketika guru tidak memberikan respons terhadap kondisi anak, anak dapat merasa tidak diperhatikan. Hal ini dapat memengaruhi keterlibatan mereka dalam kegiatan kelas.

Perhatian emosional mencakup mendengarkan, merespons, dan memahami kondisi anak. Tanpa hal tersebut, anak mungkin kesulitan mengekspresikan perasaan atau kebutuhan yang dimiliki. Akibatnya, anak dapat menunjukkan perilaku yang tidak sesuai sebagai bentuk respons.

Guru perlu meluangkan waktu untuk berinteraksi secara langsung dengan anak. Dengan memberikan perhatian yang cukup, anak akan merasa dihargai dan lebih terbuka dalam mengikuti kegiatan belajar.

Mengabaikan Karakter Masing-masing Anak

Setiap anak memiliki karakter dan cara belajar yang berbeda. Ketika guru tidak memperhatikan hal ini, metode yang digunakan mungkin tidak sesuai dengan kebutuhan anak. Hal tersebut dapat membuat anak kesulitan mengikuti kegiatan di kelas.

Mengabaikan karakter anak juga dapat menyebabkan kesalahpahaman dalam komunikasi. Anak yang membutuhkan pendekatan tertentu mungkin tidak mendapatkan dukungan yang sesuai. Akibatnya, proses belajar tidak berjalan dengan baik.

Guru perlu mengenali karakter anak melalui interaksi sehari-hari. Dengan memahami perbedaan tersebut, guru dapat menyesuaikan cara mengajar agar setiap anak dapat terlibat secara optimal.

Membawa Masalah di Rumah ke Sekolah

Kondisi pribadi guru dapat memengaruhi cara berinteraksi di kelas. Ketika masalah di luar sekolah dibawa ke dalam kelas, respons guru terhadap anak dapat berubah. Hal ini dapat memengaruhi suasana belajar secara keseluruhan.

Anak dapat merasakan perubahan sikap guru meskipun tidak memahami penyebabnya. Kondisi ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan membuat anak ragu untuk berinteraksi. Dampaknya, kegiatan belajar tidak berjalan dengan lancar.

Guru perlu menjaga batas antara urusan pribadi dan pekerjaan. Dengan menjaga fokus di kelas, interaksi dengan anak dapat berlangsung secara konsisten dan mendukung proses belajar.

Kurang Interaktif saat Mengajar

Kegiatan belajar yang tidak melibatkan interaksi membuat anak hanya menjadi pendengar. Anak usia dini membutuhkan keterlibatan aktif agar dapat memahami materi melalui pengalaman langsung. Tanpa interaksi, proses belajar menjadi satu arah.

Kurangnya interaksi juga membuat anak sulit mengekspresikan pendapat atau pertanyaan. Hal ini dapat menghambat perkembangan komunikasi dan kepercayaan diri. Anak mungkin memilih untuk diam karena tidak terbiasa dilibatkan. Guru dapat meningkatkan interaksi dengan mengajak anak berdialog, bermain peran, atau melakukan kegiatan kelompok. 

"Sebagai guru juga harusnya tetap banyak belajar untuk mencari metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif biar anak-anaknya tidak menjadi bosan. Terus, pembelajaran di kelas juga bisa dibangun kerjasama dengan para orang tua agar metode belajar yang disampaikan di PAUD bisa kembali dikembangkan di rumah," tambah Tiara yang saat ini bekerja di bidang konseling di salah satu institusi swasta di Cirebon.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

1. Apa dampak cara mengajar yang tidak tepat pada anak PAUD?

Cara mengajar yang tidak tepat dapat membuat anak merasa tidak aman, kurang terlibat, dan enggan mengikuti kegiatan belajar.

2. Mengapa guru PAUD tidak boleh membandingkan anak?

Perbandingan dapat memengaruhi kepercayaan diri anak dan mengganggu hubungan antar anak di kelas.

3. Apakah hukuman fisik efektif untuk anak usia dini?

Tidak, karena anak tidak memahami alasan kesalahan dan justru merasa takut.

4. Bagaimana cara membuat anak nyaman saat belajar?

Dengan menciptakan suasana yang melibatkan interaksi, komunikasi yang jelas, dan perhatian terhadap kebutuhan anak.

5. Apa peran perhatian emosional dalam pembelajaran PAUD?

Perhatian emosional membantu anak merasa dihargai dan lebih terbuka dalam mengikuti kegiatan belajar.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|