Peduli Kesehatan Warga, STIKES Wira Husada dan HPUI Gelar Edukasi Gagal Ginjal di Padukuhan Tegalan

5 hours ago 2
  • Mengapa edukasi gagal ginjal dan diabetes penting di Padukuhan Tegalan?
  • Bagaimana strategi edukasi yang efektif di tingkat komunitas seperti Padukuhan Tegalan?
  • Apa manfaat jangka panjang dari edukasi kesehatan mengenai gagal ginjal dan diabetes?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Kegiatan pengabdian masyarakat dalam bidang kesehatan kembali menjadi sorotan, melalui kolaborasi antara STIKES Wira Husada dan Himpunan Perawat Urologi Indonesia (HPUI). Program ini hadir sebagai bentuk implementasi kerja sama jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga menyentuh langsung kebutuhan kesehatan masyarakat

Fransiska Tatto Dua Lembang, S.Kep.Ns., M.Kes selaku Dosen STIKES Wira Husada menjelaskan, bahwa kegiatan ini merupakan awal dari kerja sama yang telah dirancang hingga lima tahun ke depan. Ia menegaskan bahwa program tersebut mencakup pelaksanaan tridharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.

“Sebenarnya kegiatan ini adalah implementasi dari kerjasama kami antara STIKES Wira Husada dengan Himpunan Perawat Urologi, di mana kerjasama ini kita mulai dari hari ini sampai dengan 5 tahun ke depan” tutur Fransiska.

Fokus utama kegiatan ini adalah edukasi mengenai gagal ginjal yang dikaitkan erat dengan penyakit diabetes melitus, mengingat tingginya kasus diabetes di wilayah Padukuhan Tegalan, Kecamatan Godean, Sleman, DI Yogyakarta. Edukasi ini dianggap penting karena diabetes yang tidak terkontrol dapat berkembang menjadi komplikasi serius berupa gangguan fungsi ginjal. Fransiska menambahkan, “Di padukuhan ini yang paling banyak adalah penyakit diabetes melitus, di mana kalau tidak rutin pengobatannya bisa berdampak kepada gagal ginjal, sehingga masyarakat sangat membutuhkan edukasi tentang pemeriksaan kesehatan dan gula darah.”

Ketua Pengurus Wilayah DIY Himpunan Perawat Urologi Indonesia, Eko Heru Susilo, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki peran penting dalam deteksi dini penyakit gagal ginjal. Ia menjelaskan bahwa penyakit tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang dari berbagai gejala awal seperti tekanan darah dan kadar gula yang tidak terkontrol.

“Untuk gagal ginjal itu memang harus dideteksi lebih dini, karena dia tidak akan muncul langsung tiba-tiba, tetapi dari beberapa gejala sudah bisa terlihat seperti tekanan darah dan kadar gula darah yang tinggi,” ungkap Eko pada tim Liputan6.com, Senin (27/4/2025).

Fokus Edukasi Gagal Ginjal dan Diabetes Melitus

Edukasi gagal ginjal merupakan suatu proses penyampaian informasi dan pemahaman secara terstruktur kepada masyarakat mengenai penyakit gagal ginjal, mulai dari definisi dasar, mekanisme terjadinya penyakit, berbagai faktor risiko yang memicu kemunculannya, hingga langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan melalui penerapan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan edukasi ini, masyarakat diberikan penjelasan secara komprehensif, bahwa gagal ginjal bukanlah kondisi yang muncul secara mendadak, melainkan merupakan hasil perkembangan penyakit secara bertahap dalam jangka waktu panjang yang sering kali tidak disadari oleh penderitanya.

Dalam pemaparan materi, dijelaskan pula bahwa kondisi tersebut umumnya dipicu oleh sejumlah faktor kesehatan yang tidak terkontrol, seperti diabetes melitus yang tidak ditangani secara optimal, hipertensi yang berlangsung kronis, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dan garam secara berlebihan, serta minimnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan berkala. Seluruh faktor ini saling berkaitan dan dapat mempercepat kerusakan fungsi ginjal, apabila tidak segera dicegah sejak dini melalui perubahan perilaku hidup sehat.

Fokus utama dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini diarahkan pada edukasi kesehatan mengenai gagal ginjal, yang memiliki hubungan erat dengan penyakit diabetes melitus sebagai salah satu faktor risiko paling dominan. Fransiska menjelaskan bahwa di wilayah Padukuhan Tegalan, angka kejadian diabetes melitus di kalangan masyarakat tergolong cukup tinggi, sehingga kondisi ini menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program edukasi kesehatan berbasis komunitas yang dilakukan secara langsung di lapangan.

“Di wilayah Padukuhan Tegalan, kasus diabetes melitus cukup banyak ditemukan sehingga edukasi ini penting untuk mencegah komplikasi gagal ginjal yang sering berkembang tanpa disadari masyarakat.” jelas Fransiska dalam wawancara dengan tim Liputan6.

Oleh karena itu, edukasi kesehatan dipandang sebagai langkah yang sangat fundamental dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, terutama dalam memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat, mengontrol kadar gula darah secara rutin, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala di fasilitas pelayanan kesehatan. Upaya ini diharapkan mampu menekan angka kejadian penyakit tidak menular sejak tahap awal dan mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat di kemudian hari.

Screening Kesehatan sebagai Langkah Deteksi Dini

Setelah rangkaian edukasi kesehatan selesai dilaksanakan, kegiatan kemudian dilanjutkan ke tahap pemeriksaan kesehatan atau screening yang menjadi bagian penting dalam upaya deteksi dini berbagai penyakit tidak menular di masyarakat. Pada tahap ini, masyarakat mendapatkan layanan pemeriksaan sederhana namun sangat vital, meliputi pengecekan kadar gula darah, pengukuran tekanan darah, serta pemeriksaan kadar asam urat. Seluruh pemeriksaan tersebut dirancang untuk memberikan gambaran awal mengenai kondisi kesehatan individu secara lebih objektif, sekaligus mengidentifikasi potensi risiko penyakit sejak tahap paling awal sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Program screening ini tidak hanya berfungsi sebagai pemeriksaan rutin, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam pemetaan kesehatan masyarakat di tingkat komunitas. Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk memberikan rekomendasi lanjutan, baik berupa perubahan pola hidup, pengawasan kesehatan berkala, maupun rujukan medis apabila ditemukan indikasi risiko penyakit tertentu. Dengan demikian, screening menjadi jembatan penting antara edukasi kesehatan dan tindakan pencegahan nyata di lapangan.

Fransiska menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini disusun secara sistematis, dimulai dari pemberian edukasi kesehatan terlebih dahulu sebelum memasuki tahap screening. Metode ini dipilih karena dinilai lebih efektif dalam membangun pemahaman masyarakat terhadap kondisi kesehatan mereka sendiri. Dengan adanya bekal pengetahuan awal, masyarakat tidak hanya menerima hasil pemeriksaan secara pasif, tetapi juga mampu memahami makna dari setiap hasil yang diperoleh serta kaitannya dengan risiko penyakit yang mungkin terjadi di masa mendatang.

“Kami memilih memulai kegiatan dengan edukasi terlebih dahulu sebelum screening agar masyarakat memahami konteks kesehatan mereka, lalu dilanjutkan pemeriksaan gula darah, tekanan darah dan asam urat serta konsultasi bersama tim medis lintas institusi.” ujarnya.

Setelah proses screening selesai, kegiatan tidak berhenti begitu saja, melainkan dilanjutkan dengan sesi konsultasi kesehatan yang melibatkan berbagai tenaga profesional dari sejumlah institusi kesehatan dan pendidikan. Di antaranya berasal dari STIKES Wira Husada, RS Sardjito, Universitas Gadjah Mada, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, serta mahasiswa keperawatan yang turut berperan aktif dalam membantu pelaksanaan kegiatan di lapangan. Kehadiran tim lintas institusi ini memperkuat kualitas layanan kesehatan yang diberikan, sekaligus mencerminkan kolaborasi nyata dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Peran HPUI dalam Edukasi dan Deteksi Dini

Ketua Pengurus Wilayah DIY Himpunan Perawat Urologi Indonesia (HPUI), Eko Heru Susilo, menegaskan bahwa keterlibatan organisasi profesi dalam kegiatan edukasi kesehatan masyarakat ini memiliki peran yang sangat strategis dalam memperkuat sistem deteksi dini penyakit gagal ginjal di tingkat komunitas. Menurutnya, kehadiran HPUI tidak hanya sebatas mendukung kegiatan seremonial, tetapi benar-benar berfokus pada upaya peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat melalui pendekatan edukatif dan preventif yang berkesinambungan.

Ia menjelaskan bahwa gagal ginjal bukanlah jenis penyakit yang muncul secara mendadak dalam waktu singkat, melainkan merupakan hasil dari proses panjang yang terjadi secara bertahap akibat gangguan kesehatan yang tidak terkontrol dalam jangka waktu lama. Proses ini sering kali berlangsung tanpa gejala yang jelas pada tahap awal, sehingga banyak masyarakat tidak menyadari bahwa fungsi ginjal mereka sedang mengalami penurunan secara perlahan hingga akhirnya memasuki kondisi yang lebih serius.

Menurut Eko, terdapat beberapa indikator awal yang dapat menjadi tanda peringatan bagi masyarakat, seperti tekanan darah yang terus meningkat serta kadar gula darah yang tidak stabil atau berada di luar batas normal. Kondisi tersebut dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan metabolik yang berpotensi berkembang menjadi komplikasi pada ginjal apabila tidak segera ditangani dengan tepat melalui perubahan gaya hidup dan pengawasan kesehatan yang teratur.

“Gagal ginjal tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang dapat dideteksi sejak dini melalui pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah secara rutin.” jelas Eko Heru Susilo.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan oleh masyarakat. Deteksi dini melalui pemeriksaan sederhana seperti tekanan darah dan gula darah dapat membantu mengidentifikasi risiko sejak awal, sehingga tindakan pencegahan dapat segera dilakukan sebelum penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih berat dan sulit ditangani.

Edukasi Pola Hidup Sehat untuk Cegah Diabetes

Eko Heru Susilo juga menyoroti bahwa perubahan pola hidup merupakan langkah paling mendasar dan paling efektif dalam upaya menurunkan risiko diabetes melitus di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa banyak kasus diabetes berawal dari kebiasaan harian yang terlihat sederhana, tetapi dilakukan secara terus-menerus tanpa kontrol, seperti konsumsi gula berlebihan dalam makanan dan minuman, serta kebiasaan mengonsumsi produk kemasan yang mengandung pemanis dan pewarna buatan dalam jumlah tinggi. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat mempercepat gangguan metabolisme tubuh yang berujung pada peningkatan kadar gula darah secara tidak terkendali.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perubahan gaya hidup tidak hanya menjadi tanggung jawab individu dewasa, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Peran orang tua menjadi faktor yang sangat penting dalam mengawasi dan mengarahkan pola konsumsi anak-anak, terutama di tengah maraknya makanan dan minuman instan yang mudah dijangkau pada era modern saat ini. Tanpa pengawasan yang tepat, anak-anak berisiko terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula sejak dini, yang kemudian dapat meningkatkan potensi munculnya penyakit tidak menular di usia muda.

“Kesadaran sejak dini sangat penting, terutama dalam mengontrol konsumsi gula dan minuman kemasan agar risiko diabetes dan komplikasi ginjal dapat ditekan sejak awal.” tambahnya.

Selain edukasi pola hidup sehat, Eko juga menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai program kesehatan yang telah disediakan di tingkat lingkungan, seperti pos pembinaan terpadu (posbindu) yang berada di tingkat RT, RW, maupun kelurahan. Program-program ini memiliki peran strategis dalam melakukan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat secara rutin, terstruktur, dan berkelanjutan, sehingga potensi penyakit dapat terdeteksi lebih awal sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Menurutnya, keberhasilan upaya pencegahan penyakit tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga sangat ditentukan oleh kesadaran dan keterlibatan aktif masyarakat itu sendiri dalam menjaga kesehatan secara mandiri maupun kolektif. Tanpa partisipasi masyarakat, upaya deteksi dini dan pencegahan akan sulit berjalan secara optimal.

“Lebih baik mencegah daripada mengobati, sehingga masyarakat perlu aktif mengikuti program kesehatan seperti posbindu untuk deteksi dini penyakit.” ujarnya.

Apresiasi Warga dan Pemerintah Dukuh Tegalan

Kepala Dukuh Tegalan, Rahmat Saputra, S.E menyampaikan rasa syukur serta apresiasi atas terselenggaranya kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi gagal ginjal dan skrining diabetes melitus di wilayahnya. Menurutnya, program ini memberikan dampak nyata dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pentingnya menjaga kesehatan sejak dini, terutama dalam menghadapi risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan gangguan ginjal.

“Alhamdulillah, kami warga Padukuhan Tegalan menyambut dengan penuh rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi gagal ginjal dan skrining diabetes mellitus. Kegiatan ini bukan hanya menambah wawasan, tetapi juga membuka kesadaran kami akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa kegiatan screening kesehatan yang dilakukan secara langsung memberikan manfaat besar bagi masyarakat, terutama dalam mendeteksi kondisi kesehatan sejak tahap awal. Menurutnya, banyak warga yang sebelumnya tidak mengetahui kondisi gula darah maupun tekanan darah, sehingga kehadiran program ini menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan penyakit.

“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya pemeriksaan langsung, sehingga bisa mengetahui kondisi kesehatan secara lebih awal. Semoga ilmu yang diberikan menjadi manfaat dan kebaikan bagi seluruh warga,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak masyarakat di berbagai wilayah. “Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyaraka kedepannya,” tutupnya.

FAQ Seputar Topik

Mengapa edukasi gagal ginjal dan diabetes penting di Padukuhan Tegalan?

  • Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang faktor resiko
  • Mendorong prilaku masyarakat untuk melakukan skrining rutin di posyandu mawar
  • Meningkatkan kepatuhan pengelolaan penyakit
  • Mencegah komplikasi spesifik
  • Meningkatkan peran kader dan keluarga
  • Mengurangi angka kejadian cuci darah

Bagaimana strategi edukasi yang efektif di tingkat komunitas seperti Padukuhan Tegalan?

Strategi efektif meliputi penyuluhan interaktif, diskusi, sesi tanya jawab, serta pemeriksaan kesehatan gratis seperti cek gula darah dan tekanan darah. 

Apa manfaat jangka panjang dari edukasi kesehatan mengenai gagal ginjal dan diabetes?

Manfaat jangka panjangnya adalah peningkatan pengetahuan masyarakat, motivasi untuk deteksi dini, pengelolaan yang tepat, pencegahan komplikasi serius, dan peningkatan kualitas hidup, serta kesadaran akan pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|