Cara Membuat Blangkon Khas Perajin Jogja, Tonjolkan Ciri Khas Budaya Jawa

3 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Blangkon merupakan salah satu simbol penting dalam busana tradisional Jawa yang tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala, tetapi juga mencerminkan identitas budaya yang kaya akan nilai sejarah. Di tengah modernisasi, keberadaan blangkon tetap bertahan berkat para perajin yang setia melestarikan tradisi ini secara turun-temurun. Salah satunya adalah Sunarso (46), seorang perajin blangkon asal Dusun Beji, Kalurahan Sidoarum, Kapanewon Godean, yang telah melanjutkan usaha keluarganya sejak 2008.

Di tangan perajin seperti Sunarso, blangkon tidak sekadar produk kerajinan, melainkan wujud nyata dari upaya menjaga warisan budaya Jawa agar tidak punah. Proses pembuatannya pun tidak instan, membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta keterampilan khusus yang diperoleh dari pengalaman bertahun-tahun. Meski menghadapi tantangan pemasaran di era modern, semangat untuk terus berkarya tetap menjadi kekuatan utama dalam mempertahankan eksistensi blangkon di masyarakat.

“Kalau saya mulai itu dari 2008, saya sendiri. Saya ini cuma penerus orang tua. Kalau ayah saya jual dari sekitar tahun 1985. Di sini memang sentra pembuatan blangkon, jadi dari dulu sudah banyak yang membuat. Saya ikut membantu sejak kecil, sampai akhirnya sekarang meneruskan usaha ini sendiri. Buat saya, blangkon ini bukan sekadar barang dagangan, tapi bagian dari budaya yang harus tetap dijaga supaya tidak hilang,” ujar Sunarso saat ditemui Liputan6.com pada 14 Maret 2026 lalu. 

Berikut selengkapnya:

Tahapan Awal Pembuatan Blangkon

Proses pembuatan blangkon dimulai dari tahap paling dasar, yaitu membuat pola sesuai bentuk kepala yang diinginkan. Pola ini menjadi fondasi utama karena menentukan hasil akhir dari blangkon itu sendiri. Setelah pola dibuat, bahan kain dipotong mengikuti bentuk tersebut dengan ukuran yang sudah diperhitungkan secara presisi. Tahap ini membutuhkan ketelitian tinggi agar tidak terjadi kesalahan yang dapat memengaruhi kualitas produk.

Setelah pemotongan selesai, kain kemudian dilapisi dengan kain hitam dan dijahit menggunakan mesin. Proses ini bertujuan untuk memperkuat struktur blangkon sebelum masuk ke tahap pembentukan. Hasil jahitan yang rapi sangat penting karena akan menentukan kerapian tampilan luar. Pada tahap ini, perajin mulai membentuk dasar blangkon yang nantinya akan dikembangkan lebih lanjut.

“Tahapan pertama itu kita membuat pola dulu, seperti ini bentuknya. Setelah itu dipotong sesuai ukuran, lalu dilapisi kain hitam dan dijahit pakai mesin. Kalau sudah jadi seperti ini, baru kita lanjut ke tahap berikutnya. Proses awal ini penting sekali, karena kalau dari awal sudah tidak rapi, hasil akhirnya juga pasti kurang bagus,” kata Sunarso.

Proses Pembentukan dan Pelapisan Blangkon

Setelah tahap dasar selesai, blangkon mulai dibentuk dengan cara diikat pada bagian kanan dan kiri untuk menciptakan struktur melingkar. Proses ini cukup memakan waktu karena harus dilakukan secara hati-hati agar bentuknya simetris dan nyaman saat digunakan. Setelah itu, perajin menambahkan kain keras sebagai lapisan dalam untuk meratakan bentuk dan memberikan kekuatan tambahan.

Lapisan luar atau yang disebut “sidangan” kemudian dipasang sebagai penentu tampilan akhir blangkon. Sidangan ini biasanya memiliki variasi warna dan motif yang dapat disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Beberapa pelanggan memilih warna tertentu untuk menunjukkan karakter atau selera pribadi mereka. Dengan adanya variasi ini, blangkon tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap busana, tetapi juga sebagai ekspresi gaya.

“Kalau sudah dibentuk, kita ikat di kanan kiri lalu dilingkarkan. Setelah itu ada pemasangan kain keras supaya rata dan kuat. Terus kita pasang sidangan, itu lapisan luar yang biasanya beda warna, ada biru, hijau, putih, tergantung permintaan. Jadi blangkon itu bisa disesuaikan sama keinginan orang yang pakai,” terang Sunarso

Jenis Blangkon dan Perbedaannya

Dalam dunia kerajinan blangkon, terdapat beberapa jenis yang dikenal masyarakat, khususnya di wilayah Yogyakarta. Dua jenis yang paling umum adalah blangkon Jogja Mataraman dan Jogja Senopati. Perbedaan keduanya terletak pada bentuk bagian belakang serta ukuran yang memberikan kesan berbeda saat dikenakan.

Blangkon Mataraman cenderung lebih sederhana dan banyak digunakan oleh kalangan muda karena memberikan kesan santai dan luwes. Sementara itu, blangkon Senopati memiliki bentuk yang lebih tegas dan besar, sehingga sering dipilih untuk tampilan yang lebih gagah. Meski tidak memiliki makna filosofis yang spesifik menurut perajin, perbedaan ini lebih kepada selera dan kebutuhan pengguna.

“Jenis blangkon itu ada dua, Jogja Mataraman sama Jogja Senopati. Bedanya bisa dilihat dari bentuknya, ada yang kecil dan ada yang lebih besar. Kalau Mataraman itu biasanya dipakai anak muda, lebih santai. Kalau Senopati itu lebih gagah. Kalau soal filosofi, saya sendiri kurang tahu ya, lebih ke selera saja orang mau pakai yang mana,” jelasnya

Tantangan dan Strategi Pemasaran

Dalam beberapa tahun terakhir, perajin blangkon menghadapi tantangan besar terutama dalam hal pemasaran. Menurut Sunarso, daya beli masyarakat menurun sejak pandemi, sehingga penjualan tidak semudah sebelumnya. Kondisi ini memaksa perajin untuk lebih kreatif dalam mempertahankan usaha agar tetap berjalan.

Untuk mengatasi hal tersebut, strategi utama yang dilakukan adalah menjaga kualitas produk agar pelanggan tidak kecewa. Selain itu, pemasaran dilakukan melalui berbagai saluran, baik offline seperti pasar tradisional dan toko batik, maupun online melalui media sosial seperti Facebook. Meski belum maksimal di platform lain seperti TikTok atau Instagram, upaya digitalisasi tetap dilakukan secara bertahap.

“Kalau tantangan sekarang itu di pemasaran. Sehabis Covid, daya beli masyarakat turun. Jadi jualannya agak susah. Strategi saya ya tetap menjaga kualitas, supaya yang beli tidak kapok. Kalau pemasaran, saya masih banyak di Facebook, karena pelanggan saya rata-rata di situ. TikTok ada, tapi belum maksimal,” ungkap Sunarso. 

Nilai Budaya dan Keahlian yang Harus Dijaga

Membuat blangkon bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga membutuhkan keahlian khusus dan kesabaran tinggi. Proses yang memakan waktu hingga beberapa jam untuk satu blangkon menunjukkan bahwa kerajinan ini tidak bisa dilakukan secara instan. Selain keterampilan teknis, dibutuhkan juga ketekunan karena pekerjaan ini banyak dilakukan di rumah dengan rutinitas yang sama setiap hari.

Lebih dari itu, blangkon memiliki peran penting dalam menjaga budaya Jawa tetap hidup di tengah masyarakat. Jika tidak ada generasi penerus yang mau belajar, maka keberadaan blangkon bisa terancam hilang. Oleh karena itu, meski tidak selalu dijadikan cita-cita utama, kemampuan membuat blangkon tetap dianggap penting sebagai bentuk pelestarian budaya.

“Membuat blangkon itu butuh keahlian khusus dan kesabaran. Satu blangkon bisa dua sampai tiga jam. Anak muda sekarang banyak yang tidak tertarik karena bosan di rumah. Tapi sebenarnya ini penting untuk nguri-nguri budaya Jawa. Kalau tidak ada yang membuat, nanti blangkon bisa hilang. Jadi walaupun bukan cita-cita utama, setidaknya harus bisa,” pungkasnnya. 

5 Pertanyaan dan Jawaban (People Also Ask)

1. Apa saja tahapan utama dalam membuat blangkon?

Tahapan utama pembuatan blangkon meliputi pembuatan pola, pemotongan kain, pelapisan dengan kain hitam, proses penjahitan, pembentukan struktur dengan pengikatan, pemasangan kain keras sebagai penguat, hingga penambahan lapisan luar atau sidangan sebagai finishing.

2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu blangkon?

Satu blangkon biasanya membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 jam, tergantung tingkat kesulitan dan detail pengerjaannya. Dalam sehari, perajin rata-rata mampu menyelesaikan hingga tiga blangkon.

3. Apa perbedaan blangkon Jogja Mataraman dan Senopati?

Blangkon Mataraman memiliki bentuk lebih sederhana dan kecil, cocok untuk tampilan santai. Sedangkan blangkon Senopati lebih besar dan tegas, memberikan kesan gagah bagi pemakainya.

4. Apa tantangan terbesar perajin blangkon saat ini?

Tantangan terbesar adalah menurunnya daya beli masyarakat pasca pandemi, sehingga pemasaran menjadi lebih sulit. Perajin harus menjaga kualitas dan memanfaatkan media sosial untuk bertahan.

5. Mengapa blangkon penting dalam budaya Jawa?

Blangkon merupakan bagian dari busana tradisional Jawa yang melambangkan identitas budaya. Keberadaannya penting untuk dilestarikan sebagai bentuk “nguri-nguri” atau menjaga warisan leluhur.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|