Cara Membuat Pupuk Kompos dengan Metode Ember Tumpuk di Rumah, Praktis dan Murah

11 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu hal penting yang harus dipikirkan sebelum bercocok tanam adalah soal pupuk. Pemberian pupuk yang tepat membuat tanaman bisa tumbuh secara optimal. Sebaliknya, apabila pemupukan tidak dilakukan secara tepat, maka tanaman tidak tumbuh sesuai dengan yang diinginkan dan hasil panen tak sesuai pula dengan yang diharapkan.

Tak perlu biaya mahal untuk menghasilkan pupuk yang berkualitas. bahan-bahan untuk membuat pupuk bisa ditemukan di lingkungan sekitar yang kemudian diolah menjadi pupuk kompos. Hal itulah yang dilakukan Suprihatin (59), perempuan asal Dusun Jowah, Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Sleman.

Bersama ibu-ibu di lingkungan sekitarnya, ia bercocok tanam tanaman sayur menggunakan pupuk kompos dengan bahan yang muda didapat. Lalu bagaimana cara pengolahan pupuk tersebut? Berikut selengkapnya:

Media Tanam Organik dari Ranting Pohon dan Kotoran Hewan

Tanaman dapat tumbuh subur jika lahan didukung oleh media tanam yang baik. Media tanam tersebut tidak harus berasal dari pupuk mahal atau produk khusus. Ranting-ranting pohon dan kotoran hewan yang dikumpulkan serta diolah dengan tepat dapat dimanfaatkan sebagai media tanam alami yang subur dan ramah lingkungan.

“Daun-daun atau ranting-ranting kalau kita proses menjadi pupuk itu akan menjadi luar biasa. Kita nggak perlu beli pupuk. Itu contohnya saja. Jadi kalau ada ranting dan daun itu kita kumpulkan, kita timbun sampai mereka membusuk. Nanti buat menanam sudah subur banget. Itu termasuk hayati,” jelas Suprihatin saat ditemui Liputan6.com pada Senin (9/2).  

Berdasarkan wawancara tersebut, berikut adalah cara teknis untuk membuat pupuk organik untuk media tanam:

1. Kumpulkan bahan organik seperti ranting, daun, dan kotoran hewan dari lingkungan sekitar.

2. Timbun bahan tersebut sampai membusuk, sehingga nantinya menjadi media tanam yang subur.

  • Untuk lahan luas dengan bedengan: Campurkan pupuk organik (dari kotoran hewan) dengan tanah dan abu.
  • Untuk persemaian dengan tray: Gunakan campuran tanah, arang sekam, dan pupuk kandang.

3. Siapkan media tanam minimal satu minggu sebelum persemaian agar nutrisi merata dan siap digunakan.

Ember Tumpuk untuk Pupuk Kompos & POC

Suprihatin mengatakan, salah satu metode bercocok tanam dengan pupuk kompos adalah menggunakan metode ember tumpuk. Bahan-bahan pupuk semuanya dimasukkan ke dalam sebuah ember yang diletakkan di atas ember lain sebagai penampungan. Ember di atas yang menjadi tempat penampungan pupuk diberi lubang untuk mengalirkan cairan menuju ember di bawah.

“Ember di bawah menjadi pupuk organik cair atau POC, dan di atasnya itu berupa kompos. Itu dari tanaman, dari sisa-sisa dapur, semuanya masukkan situ. Dan di sana diberi pupuk sedikit, lalu dilapisi material lain seperti sekam bakar, terus sisa-sisa makanan, lalu dikasih cairan fermentasi pupuk organik, kemudian dicampur air. Lalu didiamkan selama dua minggu di tempat teduh nggak boleh terkena air hujan,” terangnya.

Berdasarkan wawancara tersebut, berikut adalah cara teknis membuat pupuk organik dengan metode ember tumpuk:

1. Siapkan wadah:

  • Dua buah ember, satu untuk kompos (ember atas) dan satu untuk menampung cairan (ember bawah).
  • Lubangi bagian bawah ember atas dengan lubang kecil agar cairan lindi menetes ke ember bawah.
  • Ember bawah dipasangi kran sekitar 5 cm dari dasar untuk mengambil pupuk cair.

2. Susun ember: Letakkan ember atas di atas ember bawah.Tutup rapat ember atas untuk menjaga suhu dan kelembaban selama proses fermentasi.

3. Masukkan bahan organik: sisa dapur dan tanaman, sekam bakar, cairan fermentasi pupuk organik, lalu tambahkan sedikit air agar bahan mudah difermentasi.

4. Fermentasi:Diamkan selama 2 minggu di tempat teduh.Pastikan tidak terkena hujan agar proses fermentasi optimal.

5. Hasil:

  • Ember atas: pupuk kompos siap digunakan untuk media tanam.
  • Ember bawah: cairan lindi menjadi pupuk organik cair (POC) yang bisa digunakan untuk menambah nutrisi tanaman.

Belajar Bercocok Tanam Autodidak dari YouTube

Dalam bercocok tanam, Suprihatin juga belajar secara autodidak. Ia sering menonton video YouTube bagaimana cara bercocok tanam. Namun ia mengakui tidak semua ilmu bercocok tanam di YouTube bisa diterapkan.

“Sekarang itu di YouTube banyak video cara membuat pupuk pakai telur dan micin. Terus untuk hama dari pohon pepaya atau kulit bawang. Pokoknya banyak dan bukan rahasia lagi. Tinggal kita yang memilih saja,” ujar Suprihatin.

Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan tetap menjadi guru terbaik. Ia kerap menyesuaikan berbagai informasi yang didapat dengan kondisi tanah, cuaca, dan jenis tanaman yang ditanam, sehingga metode bercocok tanam yang diterapkan benar-benar sesuai dan efektif.

Berkebun Mandiri dari Terong hingga Singkong

Di lahan depan rumahnya, Suprihatin menanam tanaman yang bisa dipanen seperti terong, cabai, timun, dan kacang panjang. Selain itu untuk tanaman yang mengandung karbohidrat, Suprihatin biasa menanam singkong. Tak hanya untuk dirinya, Suprihatin juga mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk membuat kebun sayur kecil-kecilan di halaman rumah mereka.

“Tanaman-tanaman itu bisa tumbuh dengan pupuk kompos. Tapi tetap ada pupuk yang harus dibeli seperti gandasil. Itu untuk pertumbuhan biar buahnya lebat,” ungkapnya.

Dalam bercocok tanam, terkadang Suprihatin menemui hal yang tidak diinginkan, terutama kegagalan panen. Pernah suatu hari ia menanam cabai di lahan pertanian dan sudah bisa panen, namun karena hujan terus-menerus ada penyakit di buah cabai yang kemudian menjalar ke hasil panen cabai yang lain.

“Sembilan puluh persen gagal total. Tapi karena itu untuk belajar, tantangan apapun tidak usah dipikirkan,” pungkas Suprihatin.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Apa saja bahan sederhana untuk membuat pupuk kompos di rumah?

Bahan sederhana untuk membuat pupuk kompos antara lain daun kering, ranting pohon, sisa sayuran dapur, kulit buah, sekam bakar, dan kotoran hewan. Semua bahan ini mudah ditemukan di lingkungan sekitar dan dapat diolah tanpa biaya besar untuk menghasilkan pupuk organik berkualitas.

2. Berapa lama proses pembuatan pupuk kompos hingga siap digunakan?

Proses pembuatan pupuk kompos umumnya membutuhkan waktu sekitar dua minggu hingga satu bulan, tergantung metode dan bahan yang digunakan. Pada metode ember tumpuk, kompos padat dan pupuk organik cair (POC) sudah bisa dimanfaatkan setelah difermentasi selama kurang lebih dua minggu di tempat teduh.

3. Apa kelebihan pupuk kompos dibanding pupuk kimia?

Pupuk kompos lebih ramah lingkungan, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan kesuburan tanah secara alami. Selain itu, pupuk kompos dapat dibuat sendiri dari limbah organik rumah tangga sehingga lebih hemat biaya dibandingkan pupuk kimia.

4. Apakah pupuk kompos bisa digunakan untuk tanaman di lahan sempit?

Ya, pupuk kompos sangat cocok digunakan untuk tanaman di lahan sempit atau pekarangan rumah. Tanaman seperti cabai, terong, timun, kacang panjang, hingga singkong dapat tumbuh subur menggunakan pupuk kompos yang diaplikasikan secara rutin.

5. Bagaimana cara membuat pupuk organik cair dari limbah dapur?

Pupuk organik cair dapat dibuat dengan memasukkan sisa makanan dapur ke dalam ember berlubang yang ditumpuk di atas ember lain. Bahan tersebut kemudian dicampur dengan cairan fermentasi dan air, lalu didiamkan selama dua minggu. Cairan yang terkumpul di ember bawah dapat digunakan sebagai pupuk organik cair.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|