Dua Hari Tak Bisa Tidur, Uston Nawawi Ungkap Luka Lama Final SEA Games 1997 yang Tak Pernah Sembuh

7 hours ago 8

Bola.com, Jakarta - Ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh, meski sudah hampir tiga dekade berlalu. Uston Nawawi menyimpan kenangan kelam itu dengan sangat baik, sebuah momen di final sepak bola SEA Games 1997 yang mengubah segalanya dalam satu tendangan yang melambung jauh melewati mistar.

Indonesia berhadapan dengan Thailand di Stadion Utama Senayan, yang kini dikenal sebagai Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Ribuan penonton memadati tribun dengan satu harapan: menyaksikan tim asuhan Henk Wullems mengakhiri penantian panjang meraih emas sepak bola SEA Games sejak 1991.

Laga berakhir 1-1 setelah waktu normal dan perpanjangan waktu, memaksa kedua tim menuntaskan duel panas itu lewat adu penalti. Indonesia akhirnya tumbang 2-4, dengan dua algojo yang gagal menjalankan tugas: Ronny Wabia dan Uston Nawawi, keduanya mengirim bola ke atas mistar.

Jika saja salah satu dari keduanya berhasil, sejarah mungkin bercerita berbeda. Tapi nasib tak berpihak pada tuan rumah, dan penantian gelar emas itu pun terus berlanjut.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Masuk sebagai Pemain Pengganti, Dipercaya Tendang Penalti Keempat

Saat final itu berlangsung, Uston Nawawi masih belia, seorang pemain muda berbakat yang dipanggil ke timnas berkat penampilannya yang memukau bersama Persebaya Surabaya. Bersama Bajul Ijo, ia turut mengantarkan klub kebanggaan kota Pahlawan itu menjadi juara Liga Indonesia 1996/1997.

Ia masuk lapangan sebagai pemain pengganti saat laga memasuki babak perpanjangan waktu. Ketika adu penalti dimulai, tiga nama algojo pertama sudah ditetapkan oleh tim pelatih. Aji Santoso dan Fakhri Husaini berhasil menjalankan tugasnya. Namun Ronny Wabia gagal.

"Ya, tentunya kalau adu penalti pasti disiapkan di dalam latihan ya. Sama pelatih dan waktu itu, sebelum adu penalti kan perpanjangan waktu dulu," kata Uston Nawawi via kanal YouTube Antara TV Indonesia.

Lalu bagaimana ia bisa menjadi eksekutor keempat? Rupanya tidak ada penunjukan formal dari pelatih. Nama Uston muncul begitu saja di antara para pemain yang berkumpul, dan ia pun menyanggupi tanpa pikir panjang.

"Kayaknya ya. Kan misalkan gini nih, semua pemain ngumpul. Terus ada yang bilang, 'Uston'. Ya sudah, saya bilang siap saja," ujar legenda yang kini berusia 47 tahun itu sambil tertawa.

Badan Melayang, Bola Melambung: Momen yang Tak Bisa Dilupakan

Yang terjadi setelahnya, Uston Nawawi menggambarkannya dengan cara yang membuatnya tertawa getir bahkan hingga hari ini. Begitu namanya dipanggil dan ia melangkah menuju titik penalti, ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan di tubuhnya.

Kakinya melangkah, tapi pikirannya seolah melayang. Dan ketika bola ditendang, bola itu naik, melampaui mistar, padahal sang kiper Thailand sudah tertipu arah tendangannya.

"Jadi ceritanya lucu. Begitu saya siap, oke, enggak ada masalah. Tapi waktu masuk atau jalan ke tengah lapangan menuju kotak penalti, badan saya kayak melayang gitu. Enggak tahunya tanda bolanya naik. Padahal kipernya udah ketipu," tuturnya.

Dua malam setelah final itu, mata Uston tidak mau terpejam. Bukan karena marah atau menyesal semata, melainkan karena ia tidak bisa berhenti memikirkan betapa besarnya kepercayaan yang diberikan kepadanya, dan betapa menyakitkannya tidak mampu memenuhinya.

"Itu enggak bisa lupa sampai sekarang. Karena itu momen yang luar biasa menurut saya. Karena partai final membela timnas untuk pertama kalinya. Saya dikasih mandat untuk menendang penalti, tapi enggak masuk. Dua hari saya enggak bisa tidur," kata Uston Nawawi.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|