Liputan6.com, Jakarta - Berbicara Yogyakarta, tentu kita tidak asing dengan kudapan berbentuk bundar berisi kacang hijau bernama bakpia. Penganan ini memang telah lama menjadi ikon di kota pelajar, hingga diburu wisatawan. Namun siapa sangka bahwa selain bakpia, terdapat kuliner legendaris lain yang terlupakan yakni jadah tempe.
Iya, sajian ini merupakan kuliner yang juga asli Jogja. Tepatnya berasal dari wilayah Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Tampilannya unik, sekaligus sarat akan kisah masa lalu yang belum banyak orang tahu. Bahkan kabarnya Sultan Hamengkubuono IX di masa silam sempat menggemarinya.
Sampai sekarang, jadah tempe masih dilestarikan lewat brand Mbah Carik. Melalui keturunannya, jadah tempe terus dikembangkan hingga menjadi oleh-oleh otentik yang naik kelas dan mulai disukai anak muda. Berikut kisahnya.
Kudapan dari Lereng Merapi yang Bikin Sultan Hamengkubuwono IX Remen
Generasi keempat Jadah Tempe Mbah Carik, Angga Kusuma, sempat menceritakan awal mula kemunculan jadah tempe. Disampaikan pria 38 tahun itu bahwa kudapan ini mulanya merupakan makanan asli warga Desa Kaliurang, di lereng Gunung Merapi.
Kehadirannya hampir dipastikan ada saat acara-acara lokal setempat, mulai dari labuhan, kendurian sampai pesta rakyat. Saat itu, makanan ini disajikan terpisah dan tidak menyatu dengan tempe maupun tahu bacem seperti yang dikenal sekarang.
Jadah tempe sendiri mulanya terangkat ketika berlangsung kunjungan Sultan Hamengkubuono IX (Sultan HB ke-9) sekitar medio 1940-an. Saat itu, Sultan bernama Gusti Raden Mas Dorodjatun datang bersama rombongan dari keraton sebagai agenda rutin.
Mbah Carik sendiri sebenarnya bernama Sastrodinomo. Istilah Carik adalah sematan jabatan untuk seseorang yang dikenal sebagai tokoh masyarakat. Di momen tersebut, Satrodinomolah yang bertugas mempersiapkan suguhan kepada rombongan pihak keraton.
“Kalau berdasarkan sejarahnya, ketika itu Sri Sultan ini remen atau suka. Akhirnya setelah kunjungan itu beliau selalu mengutus seseorang untuk ke Kaliurang untuk membeli jadah tempe lagi,” ucap Angga saat ditemui Liputan6.com pada Selasa (14/4).
Nama Jadah Tempe Mbah Carik Diberikan Langsung oleh Sultan
Terkait penamaan Jadah Tempe Mbah Carik, Sultan Hamengkubuono yang memberikannya. Ada pesan menarik di balik itu. ”Ini biar jadi rezeki anak cucu, nah ini Alhamdulillah bisa terus bertahan sampai sekarang di generasi keempat,” tambahnya.
Sejak pemberian, nama Jadah Tempe Mbah Carik langsung melekat di camilan ini. Ketika ingat jadah tempe, maka ingat Mbah Carik. Sampai sekarang, cara membuat dan memasak jadah tempe tidak berubah sejak dulu. Cita rasa ini yang terus dipertahankan agar menjadi cerita di masa mendatang.
“Jadi kalau original itu susunannya, jadah sama tempe bacem. Jadah sendiri merupakan ketan yang diolah dengan cara dikukus lalu ditumbuk halus. Nah kalau di Jogja ini, khasnya pakai tempe bacem,” lanjutnya.
Sudah Saatnya Jadah Tempe Naik Kelas
Sebagai pengelola di generasi keempat, Angga ingin mengembangkan jadah tempe sehingga bisa dikenal di kalangan anak muda. Kuncinya ada di rebranding, sehingga saat ini menjadi “Suguhan By Mbah Carik”.
Secara produk, utamanya masih sama yakni jadah tempe. Namun, terdapat pengembangan varian baru yakni wajik dengan cita rasa manis legit dari gula Jawa. Gembus yang memiliki rasa manis gurih serta lembut, hingga kinako yang merupakan jadah dengan taburan bubuk kedelai.
Di varian kinako, Angga ingin memadukan kelokalan Kaliurang (Jogja) dengan Jepang. Menurutnya, penambahan varian modern ini bisa menarik perhatian anak muda untuk kembali menilik kuliner lokal seperti jadah tempe.
“Kinako sekilas itu seperti di moci gitu kan, pakai bubuk putih. Nah tapi di sini pakainya kedelai, dan rasanya tetap menyatu sama jadi lebih modern,” ucap Angga.
Upaya naik kelas dari jadah tempe ini juga dilakukan pengelola di generasi keempat dengan membuat kemasan boks kekinian. Hasilnya, jadah tempe tampil elegan sebagai oleh-oleh. Kemudian, pihaknya juga membuat varian frozen agar bisa tahan lebih lama.
“Nah kenapa kami mengemas ulang namanya, kadang bagi anak muda nama “Mbah-Mbah” itu wes tuo banget. Makanya dibrandinglah dengan nama yang keren yakni, “Suguhan by Mbah Carik”. Ini juga masih relevan sama asal usulnya ini di mana dulu kan jadi suguhan Sultan Jogja saat ke Kaliurang,” ucap Angga.
Dulu Jajanan Kuno Kini Disukai Konsumen Muda
Jika sebelumnya jadah tempe ini identik sebagai jajanan kuno, lain halnya dengan sekarang. Jadah tempe bertransformasi menjadi camilan yang siap menyaingi roti-roti sampai cake-cake kekinian.
Agar langkahnya semakin mantap, Angga kemudian memilih bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui program pemodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dari sini, proses produksi bisa ditingkatkan hingga mampu menjawab kebutuhan pasar anak muda.
“Untuk pengembangan, kami kemudian memilih untuk mengajukan KUR di BRI di angka Rp100 Juta untuk termin 4 tahun. Jadi, ini untuk modernisasi pabrik, sekaligus berinovasi lewat produk jadah tempe frozen yang sesuai standar BPOM,” kata Angga.
Alasan dirinya memilih BRI karena proses pengajuannya mudah, dan tidak memberatkan. Itulah mengapa pihaknya tidak memilih bank lain di luar BRI. Bahkan, ini juga turut memudahkan konsumen melalui layanan QRIS atau pembayaran digital. Dari sini, ikhtiarnya agar jadah tempe “naik kelas” mulai menampakkan hasil melalui konsumen muda, salah satunya Nisa, asal Papua.
“Jadi kemarin itu suami beli jadah tempe, terus saya coba ternyata enak dan akhirnya sekarang ketagihan dan beli lagi. Ini tuh rasanya gurih, sama tempenya juga tidak terlalu manis, jadi menyatu rasanya,” kata Nisa, saat ditemui Liputan6.com pada Sabtu (25/4).
Jadi Oleh-Oleh Jogja yang Cocok Dibawa ke Luar Kota
Nisa menambahkan bahwa dirinya ingin membawa jadah tempe dari Suguhan by Mbah Carik ini sebagai oleh-oleh saat pulang ke Papua nanti. Apalagi saat ini terdapat produk frozen yang awet jika dibawa keluar kota.
“Sebenarnya kalau rencana untuk oleh-oleh ada, tapi sebenarnya apa tahan lama? Nah, ternyata, kalau ada frozennya bisa dites nanti (sebagai oleh-oleh) untuk dibawa ke Papua,” tambah perempuan 36 tahun itu.
Selain Nisa, terdapat juga konsumen muda lainnya yakni Veronica Ester (23) yang menjadikan jadah tempe sebagai oleh-oleh ke kampung halamannya di Sumatra Utara.
Saat dihubungi Liputan6.com via telepon, Ester (sapaannya) mengaku bahwa rasa jadah tempe cocok di lidahnya. Dari sana, dirinya lantas menjadikan jadah tempe sebagai buah tangan untuk keluarga.
“Jadi ternyata setelah dicoba, lidah Sumatera saya ini bisa menerima perpaduan rasanya karena unik. Jadi teksturnya lembut, tempenya manis gurih lalu ada sedikit pedas jika makan dengan cabainya,” kata Ester.
Jadah Tempe Frozen Membantunya Mengenalkan Rasa Lokal Jogja ke Toba Samosir
Selain rasanya unik, Ester juga mengaku tertarik jajan jadah tempe di Suguhan by Mbah Carik ini karena kemasannya kekinian. Ini mudahkannya untuk dibawa ke mana-mana, dan tidak merepotkan.
Apalagi, hadirnya kemasan frozen membuatnya bisa mengenalkan jadah tempe ke keluarganya yang tinggal di Toba Samosir. Inovasi ini terbukti membuat kudapan jadul jadah tempe dari Suguhan by Mbah Carik naik kelas dan diterima kalangan muda.
“Saya juga pernah membawa jadah tempe yang kemasan frozen ini sebagai oleh-oleh untuk keluarga saya di Sumatera Utara. Pas mereka coba cukup terkesan dan suka dengan rasanya,” tambah perantau yang berkuliah di salah satu kampus di Yogyakarta itu.

2 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588786/original/095635900_1778143632-sampah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5587712/original/033046700_1778141950-Rumah_Tipe_45_Semi_Outdoor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531811/original/089530200_1773633826-Cat_Rumah_Warna__Putih_Gading__Ivory___Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588815/original/034708700_1778143833-q.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482090/original/075265200_1769159203-kebun_sayur.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5584567/original/060647300_1778136822-3f82fd71-1d0c-46f3-8d2d-721deda3944d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5589082/original/073286200_1778144185-Tanaman_Daun_Mini_yang_Bisa_Bikin_Suasana_Rumah_Lebih_Adem_dan_Menenangkan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5413913/original/041000900_1763211079-lari_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5584211/original/081674900_1778136145-HL_bebek.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5583515/original/096985100_1778135035-ide_peternakan_untuk_yang_mau_slow_living.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4462258/original/003676600_1686543604-pexels-george-milton-6954220.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5587530/original/093908300_1778141680-unnamed__40_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5588273/original/019094800_1778142893-20260507IQ_Latihan_Persija-22.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5583343/original/046775300_1778134665-cat-han-VgyN_CWXQVM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559170/original/057781900_1776523941-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2874911/original/063589700_1565143361-20190806-Berburu-Oleh-oleh-Haji-di-Tanah-Suci-AFP-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5575239/original/089516600_1778041681-Ide_Kebun_Sayur_Tumpangsari_Tradisional_untuk_Organisasi_Ibu-ibu_di_Desa_Model_Sawi__Kemangi_dan_Bawang_Merah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5581855/original/085847700_1778128801-Persela_vs_Deltras.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5585214/original/019655900_1778137868-Usaha_Rumahan_Sederhana_yang_Bikin_Ibu_Desa_Makin_Produktif_dan_Bisa_Sambil_Santai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5582940/original/006763500_1778132971-15bad458-b0b9-4af6-a5e2-1a10aea3d422.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4897279/original/047157000_1721544216-IMG_20240721_131658.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5482943/original/058250300_1769302357-54cb0e1a-9b5f-43ac-b9d3-4f7a7bd14f4c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500419/original/020749000_1770864866-Model_Ruang_Tamu_Open_Space.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454293/original/050430700_1766556442-1000101929.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469055/original/011269000_1768048972-cesar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486588/original/012358000_1769591525-Tips_Mengatasi_Kucing_Garuk_Sofa_Terus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482519/original/004242000_1769226806-pelaku_usaha_UMKM_Bantul_Rifqi_Rozanah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469343/original/033984700_1768110777-pexels-roman-odintsov-5847238.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5468787/original/073253700_1768015863-Guseynov_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485935/original/098401900_1769570166-kambing.png)