Hari Bahasa Isyarat Internasional: Mengenal BISINDO & Inklusi Teman Tuli

10 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Setiap 23 September diperingati sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional: mengenal BISINDO & inklusi teman Tuli, sebuah momentum untuk memahami bahwa bahasa isyarat bukan sekadar kumpulan gerakan tangan. Bahasa isyarat merupakan bahasa yang memungkinkan komunitas Tuli berkomunikasi, membangun relasi, memperoleh pendidikan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial secara lebih setara.

Peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa inklusi tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas fisik. Akses terhadap informasi dan komunikasi merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat mulai mengenal bahasa isyarat, ruang interaksi dapat menjadi lebih terbuka bagi orang Tuli.

Pada 2026, perhatian terhadap bahasa isyarat semakin kuat karena Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengangkat tema “Declaring Deaf People’s Human Rights” atau “Mendeklarasikan Hak Asasi Manusia untuk Tuli”. Tema tersebut menempatkan bahasa isyarat dalam konteks yang lebih luas, yakni pemenuhan hak asasi manusia di berbagai bidang kehidupan. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (22/9/2026).

Mengapa 23 September Diperingati sebagai Hari Bahasa Isyarat Internasional?

Hari Bahasa Isyarat Internasional ditetapkan oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi A/RES/72/161 pada 19 Desember 2017. Tanggal 23 September dipilih untuk memperingati berdirinya World Federation of the Deaf (WFD) pada 23 September 1951.

Menurut PBB, peringatan ini pertama kali dirayakan pada 2018 sebagai bagian dari International Week of the Deaf. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya bahasa isyarat dalam pemenuhan hak asasi manusia bagi orang Tuli sekaligus mendukung keberagaman bahasa dan budaya.

Bahasa isyarat sendiri bukanlah bentuk sederhana dari bahasa lisan. PBB menjelaskan bahwa bahasa isyarat merupakan bahasa alami yang memiliki struktur tersendiri dan berbeda dari bahasa lisan. Di seluruh dunia terdapat lebih dari 300 bahasa isyarat yang digunakan oleh komunitas Tuli. Karena itu, bahasa isyarat tidak bisa dianggap sebagai bahasa universal yang memiliki satu sistem untuk semua negara.

Pada 2026, peringatan tersebut memiliki makna khusus. Tahun ini menandai 75 tahun berdirinya WFD sekaligus 20 tahun sejak diadopsinya Convention on the Rights of Persons with Disabilities atau CRPD. PBB menekankan bahwa akses terhadap bahasa isyarat, termasuk pendidikan berkualitas dalam bahasa isyarat, merupakan bagian penting dari perkembangan dan pemenuhan hak orang Tuli.

Di Indonesia, Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) juga menyampaikan bahwa Pekan Tuli Internasional 2026 berlangsung pada 21–27 September. Puncak Hari Bahasa Isyarat Internasional berlangsung pada 23 September 2026 dengan tema yang menekankan hak asasi manusia bagi Tuli.

Mengenal BISINDO, Bahasa Isyarat yang Berkembang di Komunitas Tuli

Salah satu hal penting dalam Hari Bahasa Isyarat Internasional: mengenal BISINDO & inklusi teman Tuli adalah memahami bahwa Indonesia memiliki bahasa isyarat yang berkembang dalam komunitasnya sendiri.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menjelaskan bahwa Indonesia mengenal dua bentuk utama yang sering dibicarakan dalam komunikasi Tuli, yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Keduanya memiliki karakteristik dan sejarah perkembangan yang berbeda.

BISINDO berkembang secara alamiah di kalangan komunitas Tuli. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjelaskan bahwa BISINDO merupakan bahasa isyarat yang digunakan oleh teman Tuli dan memiliki variasi gerakan sesuai daerah serta budaya Tuli setempat.

Karakter tersebut membuat BISINDO dekat dengan kehidupan sehari-hari komunitas Tuli. Penggunaannya melibatkan gerakan tangan, ekspresi wajah, arah pandangan, serta bahasa tubuh untuk menyampaikan pesan. Artinya, komunikasi tidak hanya bergantung pada bentuk tangan, tetapi juga konteks visual dan ekspresi yang menyertainya.

Keberagaman BISINDO juga menjadi bagian menarik dari perkembangan bahasa isyarat di Indonesia. Penelitian mengenai variasi bahasa isyarat yang tersimpan dalam repositori Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa bahasa isyarat di Indonesia memiliki variasi daerah. Perbedaan tersebut dapat muncul karena pengalaman komunitas, lingkungan sosial, serta budaya Tuli di masing-masing wilayah.

Karena itu, orang yang baru belajar BISINDO mungkin menemukan perbedaan isyarat untuk kata tertentu ketika berpindah daerah. Perbedaan tersebut tidak serta-merta berarti salah, melainkan dapat menunjukkan kekayaan variasi bahasa yang berkembang di tengah komunitas.

BISINDO dan SIBI, Apa Bedanya?

BISINDO dan SIBI kerap dianggap sama karena sama-sama digunakan untuk komunikasi melalui isyarat. Padahal, keduanya memiliki latar perkembangan dan karakteristik yang berbeda.

SIBI merupakan sistem yang dibakukan pemerintah dan disusun dengan menyesuaikan struktur bahasa Indonesia. Kamus SIBI yang dikelola Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjelaskan bahwa SIBI merupakan sistematisasi seperangkat isyarat jari, tangan, serta gerak yang melambangkan kosakata bahasa Indonesia. SIBI juga memiliki unsur isyarat untuk awalan, akhiran, partikel, kata ulang, dan kata gabung.

Sementara itu, BISINDO tumbuh secara alamiah di komunitas Tuli. Badan Bahasa pernah menjelaskan bahwa BISINDO merupakan bahasa isyarat alamiah yang diciptakan oleh orang Tuli dan berkembang berdasarkan pengalaman visual serta kebutuhan komunikasi komunitasnya.

Perbedaan ini penting dipahami agar masyarakat tidak terburu-buru menganggap salah satu sistem sebagai pengganti mutlak bagi yang lain. Pilihan bahasa atau sistem isyarat dapat berkaitan dengan komunitas, lingkungan pendidikan, wilayah, kebutuhan komunikasi, serta konteks penggunaannya.

Bagi masyarakat yang ingin mulai belajar, langkah yang lebih baik adalah mengenali terlebih dahulu komunitas yang menjadi mitra komunikasi. Dengan demikian, proses belajar tidak hanya berorientasi pada hafalan gerakan, tetapi juga memahami cara berkomunikasi yang nyaman dan menghargai identitas komunitas Tuli.

Mengapa Bahasa Isyarat Penting untuk Mewujudkan Inklusi?

Bahasa menjadi bagian penting dari kemampuan seseorang untuk mengakses pendidikan, pekerjaan, layanan publik, kesehatan, informasi, dan kehidupan sosial. Ketika akses komunikasi terhambat, seseorang dapat mengalami kesulitan untuk memperoleh informasi yang sebenarnya dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, inklusi bagi teman Tuli perlu dilihat lebih luas daripada sekadar menyediakan penerjemah pada acara tertentu. Informasi publik, layanan pendidikan, fasilitas kesehatan, pelayanan pemerintahan, hingga lingkungan kerja juga perlu mempertimbangkan akses komunikasi yang sesuai.

PBB menegaskan bahwa pengakuan dan penggunaan bahasa isyarat berkaitan dengan pemenuhan hak orang Tuli. CRPD juga mengakui pentingnya bahasa isyarat serta mendorong negara untuk memfasilitasi pembelajaran bahasa isyarat dan mendukung identitas linguistik komunitas Tuli.

Gagasan inklusi juga berarti memberikan ruang kepada orang Tuli untuk terlibat dalam keputusan yang menyangkut kehidupan mereka. Dalam tema Pekan Tuli Internasional 2026, prinsip “nothing about us without us” menjadi pesan penting. Artinya, kebijakan tentang Tuli sebaiknya tidak hanya dibuat untuk komunitas Tuli, tetapi juga melibatkan mereka dalam proses pembentukan kebijakan.

Di lingkungan sehari-hari, penerapannya dapat dimulai dari hal sederhana. Teman dengar dapat mempelajari sejumlah isyarat dasar, memastikan lawan bicara dapat melihat wajah ketika berkomunikasi, menggunakan tulisan ketika diperlukan, serta tidak memaksakan cara komunikasi tertentu.

Sekolah dan tempat kerja juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih ramah dengan menyediakan informasi visual, memastikan akses penerjemah ketika dibutuhkan, dan memberikan kesempatan yang sama bagi orang Tuli untuk berpartisipasi.

Belajar Bahasa Isyarat sebagai Bentuk Kepedulian

Belajar bahasa isyarat tidak harus langsung dimulai dari kemampuan yang kompleks. Kosakata sederhana untuk menyapa, memperkenalkan diri, mengucapkan terima kasih, meminta bantuan, atau menanyakan kabar dapat menjadi langkah awal.

Namun, belajar BISINDO sebaiknya dilakukan dari sumber yang tepat dan, jika memungkinkan, melibatkan pengajar atau komunitas Tuli. Jakarta Smart City menyebut sejumlah sumber pembelajaran yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk materi digital, aplikasi pembelajaran, kelas BISINDO, serta lembaga seperti Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo).

Proses belajar juga membutuhkan kesediaan untuk memahami bahwa komunikasi Tuli tidak selalu harus dipaksakan mengikuti pola bahasa orang dengar. Ekspresi wajah, gerakan tubuh, kontak mata, serta konteks visual dapat memiliki peranan penting.

Dengan cara pandang tersebut, belajar bahasa isyarat bukan sekadar menambah keterampilan pribadi. Kemampuan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang komunikasi yang lebih setara, baik di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat.

Hari Bahasa Isyarat Internasional akhirnya bukan hanya peringatan tahunan pada 23 September. Momentum ini dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali apakah lingkungan di sekitar kita sudah memberikan akses komunikasi yang layak bagi teman Tuli. Mengenal BISINDO, memahami keberagaman bahasa isyarat, dan melibatkan komunitas Tuli dalam pembicaraan tentang kebutuhan mereka merupakan bagian dari langkah menuju masyarakat yang lebih inklusif.

Tanya Jawab Seputar Bahasa Isyarat

1. Apa itu Hari Bahasa Isyarat Internasional?

Hari Bahasa Isyarat Internasional diperingati setiap 23 September. PBB menetapkan tanggal tersebut melalui Resolusi A/RES/72/161 untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya bahasa isyarat dalam pemenuhan hak asasi manusia orang Tuli. Tanggal 23 September juga bertepatan dengan berdirinya World Federation of the Deaf pada 1951.

2. Apa kepanjangan BISINDO?

BISINDO adalah singkatan dari Bahasa Isyarat Indonesia. Bahasa ini berkembang secara alamiah di komunitas Tuli dan digunakan dalam berbagai interaksi sehari-hari. BISINDO juga memiliki variasi di sejumlah daerah di Indonesia.

3. Apakah BISINDO dan SIBI sama?

Tidak. BISINDO merupakan bahasa isyarat alamiah yang berkembang di komunitas Tuli, sedangkan SIBI merupakan sistem isyarat yang dibakukan dengan menyesuaikan struktur bahasa Indonesia. Keduanya memiliki karakteristik dan konteks penggunaan yang berbeda.

4. Apakah bahasa isyarat sama di seluruh dunia?

Tidak. Bahasa isyarat berbeda-beda menurut negara dan komunitas. PBB menyebut terdapat lebih dari 300 bahasa isyarat yang digunakan secara kolektif oleh komunitas Tuli di berbagai negara. Bahkan dalam satu negara dapat terdapat variasi regional.

5. Bagaimana cara mulai belajar bahasa isyarat?

Mulailah dari kosakata dasar melalui sumber pembelajaran yang terpercaya. Untuk BISINDO, masyarakat dapat mencari kelas atau materi yang melibatkan pengajar dan komunitas Tuli. Selain belajar gerakan, penting pula memahami etika komunikasi, ekspresi, kontak visual, serta variasi bahasa isyarat yang digunakan oleh komunitas setempat.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|