Liputan6.com, Jakarta - Hari Konstitusi Republik Indonesia adalah salah satu hari penting nasional yang diperingati setiap tahun pada tanggal 18 Agustus. Tanggal ini dipilih karena merujuk langsung pada momentum pengesahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), tepat sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus. Peringatan ini menjadi tonggak sejarah yang sangat krusial bagi perjalanan sistem ketatanegaraan di tanah air.
Meskipun memegang peranan vital sebagai landasan hukum dan konstitusi tertinggi negara, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2008, Hari Konstitusi RI dinyatakan tidak termasuk ke dalam hari libur nasional. Kendati demikian, hari penting ini tetap diperingati secara luas oleh masyarakat, lembaga pendidikan, hingga instansi pemerintah melalui berbagai kegiatan reflektif seperti upacara, diskusi publik, serta sosialisasi. Hal tersebut dilakukan agar substansi hukum dasar negara senantiasa hidup di tengah masyarakat.
Melalui pemahaman yang mendalam mengenai Hari Konstitusi RI, seluruh elemen bangsa diharapkan mampu meningkatkan kesadaran berkonstitusi demi menjaga keutuhan serta arah demokrasi bangsa. Artikel ini akan mengupas secara lengkap mulai dari sejarah pengesahan UUD 1945, latar belakang penetapannya sebagai hari konstitusi resmi, hingga makna mendalam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan bernegara. Simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (18/8/2026).
Sejarah Pengesahan UUD 1945 sebagai Konstitusi Pertama Republik Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1250435/original/004757000_1464690459-hitam_BPUPKI_2.jpg)
Perbesar
Proses penyusunan konstitusi pertama negara Indonesia berawal dari sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dilangsungkan sejak tanggal 29 Mei hingga 16 Juli 1945. Di dalam sidang tersebut, dasar negara Pancasila pertama kali diperdengarkan oleh Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Rangkaian perundingan yang melibatkan para founding fathers ini kemudian dilanjutkan oleh Panitia Sembilan yang merancang Piagam Jakarta, di mana bagian pembukaannya kemudian disahkan menjadi teks pembukaan UUD 1945 setelah penyesuaian frasa tertentu.
Puncak dari rangkaian sejarah tersebut terjadi pada tanggal 18 Agustus 1945, di mana Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) secara resmi mengesahkan UUD 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Pengesahan konstitusi ini kemudian dikonfirmasi kembali oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang diselenggarakan pada tanggal 29 Agustus 1945 untuk menjalankan amanat aturan peralihan. Sejak saat itulah UUD 1945 resmi menjadi landasan moral dan hukum tertinggi yang mengatur jalannya pemerintahan Republik Indonesia yang merdeka.
Namun, perjalanan konstitusi Indonesia tidak selalu berjalan mulus dan sempat mengalami beberapa kali perubahan bentuk, seperti berlakunya Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1949 serta Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950. Menyadari bahwa sistem tersebut tidak sejalan dengan semangat Pancasila, Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai konstitusi tunggal. Selanjutnya, pasca era reformasi tahun 1999 hingga 2002, UUD 1945 mengalami empat kali amandemen strategis guna memperkuat sistem demokrasi, pembagian kekuasaan, serta perlindungan hak asasi manusia.
Latar Belakang dan Penetapan Hari Konstitusi Republik Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5143793/original/048379300_1740553792-WAWANCARA_PRESIDEN_KE-6_SBY_ANG__30_.jpg)
Perbesar
Gagasan untuk memperingati Hari Konstitusi RI secara khusus tidak lepas dari inisiatif lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bersama berbagai komponen masyarakat dan Lembaga Kajian Konstitusi. Mengingat tanggal 18 Agustus menyimpan catatan sejarah yang sangat fundamental berupa pengesahan konstitusi tertulis pertama, dirasa perlu ada momentum khusus untuk merawat kesadaran bernegara. Hal ini melandasi pentingnya pengakuan negara terhadap hari bersejarah tersebut agar tidak terlupakan oleh generasi penerus bangsa.
Sebagai tindak lanjut dari usulan tersebut, pada tanggal 10 September 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara resmi menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 18 Tahun 2008 tentang Hari Konstitusi Republik Indonesia. Penetapan Keppres ini ditandatangani bersama oleh unsur pimpinan MPR, DPD, serta lembaga negara terkait. Keputusan ini memberikan payung hukum yang sah bagi peringatan hari besar nasional tersebut agar diperingati secara konsisten setiap tahunnya di berbagai lini kehidupan bernegara.
Meskipun telah ditetapkan secara resmi lewat instrumen hukum kepresidenan, pemerintah memutuskan bahwa Hari Konstitusi RI bukanlah hari libur nasional. Peringatan ini difokuskan sebagai wadah edukasi, refleksi moral, serta peningkatan wawasan kebangsaan bagi masyarakat luas. Lembaga-lembaga pendidikan, kampus, hingga instansi pemerintahan rutin memperingatinya melalui seminar, upacara, dan sosialisasi nilai-nilai konstitusi demi memperkokoh pilar demokrasi Indonesia.
Makna dan Signifikansi Hari Konstitusi RI dalam Kehidupan Bernegara
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/2827786/original/043886600_1560420251-20190613-Kondisi-Gedung-MK-Jelang-Sidang-Perselisihan-Hasil-Pilpres-2019-TEBE-1.jpg)
Perbesar
Makna utama dari Hari Konstitusi RI adalah sebagai pengingat bahwa Indonesia merupakan negara hukum yang mendasarkan segala penyelenggaraan pemerintahan pada aturan yang sah, bukan atas dasar kekuasaan belaka. Konstitusi berfungsi sebagai kontrak sosial yang mengikat seluruh komponen bangsa, memberikan legitimasi kekuasaan, sekaligus menjamin hak-hak dasar serta kebebasan setiap warga negara agar terhindar dari tirani maupun penyalahgunaan wewenang.
Selain sebagai teks hukum tertulis, implementasi Hari Konstitusi RI menuntut adanya budaya politik dan kesadaran konstitusional (constitutional awareness) dari seluruh pihak, baik oleh penyelenggara negara maupun masyarakat. Penegakan hukum yang adil, independen, serta perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) melalui lembaga seperti Komnas HAM dan Mahkamah Konstitusi merupakan wujud nyata dari upaya merawat amanat UUD 1945. Dengan demikian, nilai-nilai luhur di dalam konstitusi dapat benar-benar dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Peringatan Hari Konstitusi RI juga menjadi momentum introspeksi sejarah untuk mengevaluasi berbagai tantangan masa lalu, termasuk penyimpangan yang pernah terjadi pada masa Orde Lama maupun Orde Baru. Melalui pemahaman sejarah amandemen dan dinamika perubahan zaman, bangsa Indonesia dapat terus memperkuat fondasi demokrasi yang adaptif. Menjunjung tinggi konstitusi berarti menjaga keutuhan NKRI agar tetap berjalan menuju cita-mata nasional yang adil, makmur, dan bermartabat.
Pertanyaan Seputar Hari Konstitusi RI
Q: Kapan Hari Konstitusi Republik Indonesia diperingati setiap tahunnya?
A: Hari Konstitusi Republik Indonesia diperingati setiap tanggal 18 Agustus, yaitu tepat sehari setelah peringatan Hari Kemerdekaan RI.
Q: Apa dasar hukum penetapan Hari Konstitusi RI?
A: Penetapan Hari Konstitusi RI didasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 18 Tahun 2008 yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 10 September 2008.
Q: Apakah tanggal 18 Agustus yang diperingati sebagai Hari Konstitusi merupakan hari libur nasional?
A: Tidak. Berdasarkan Keppres Nomor 18 Tahun 2008, Hari Konstitusi ditetapkan sebagai hari penting nasional namun bukan merupakan hari libur nasional.
Q: Peristiwa penting apa yang melatarbelakangi lahirnya Hari Konstitusi RI?
A: Momentum tersebut merujuk pada disahkannya Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

8 hours ago
8
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326770/original/023594800_1787035876-Gemini_Generated_Image_s20mrts20mrts20m__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326804/original/044500600_1787037046-Gemini_Generated_Image_e71dgse71dgse71d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326693/original/011795000_1787033789-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418012/original/013015200_1763559690-kereta_api.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326681/original/076213100_1787033165-HL_daun_salam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321792/original/068579500_1786504400-1280px-Sri_Lelawangsa_101212-10265_mes.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9326715/original/057979500_1787034206-ChatGPT_Image_Aug_18__2026__01_18_50_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4429102/original/015122700_1684203980-blambangan_ekspres.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3558580/original/014125500_1630551817-29cccc00ef6aae3e8e27a0e76869f777.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124885/original/086799300_1738907998-sick-woman-with-cough-throat-infection-bed-covering-his-face-while-coughing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326550/original/005447200_1787026676-cov222.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326566/original/053619300_1787027899-Dapur_Minimalis_3x2_Tetap_Lega_dengan_Meja_Makan_Mini.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321015/original/052454100_1786423967-Kedung_Sepur_SMT.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4148528/original/053782100_1662454939-dev-benjamin-pwr2uTPpz68-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326482/original/004893700_1787025916-050f67f1-8045-4b14-8c2e-6b5b02eed585.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479154/original/064883200_1768969910-Ayam_Kampung_Bertelur_di_Kandang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326465/original/083959200_1787024538-bb02bae2-d99d-4994-bdc7-87c34f6ad484.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326439/original/033046400_1787023443-orangutan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326428/original/061757100_1787022788-Kerajinan_barang_bekas_jadi_wadah_serbaguna.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2289805/original/047958100_1532422236-20180724-Daging-Ayam-Naik-5.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4863025/original/074446600_1718303638-3_083A3037.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6202765/original/030351500_1779081726-Screenshot_2026-05-18_122019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5557733/original/014515900_1776389960-20260416IQ_Timnas_Indonesia_U-17_vs_Malaysia_U-17-16.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5438385/original/064675900_1765286327-Sumardji.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5560818/original/099181300_1776690154-hengga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5391428/original/082726400_1761316877-bali_united.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546976/original/084951300_1775398348-psj.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486106/original/098172500_1769575214-unnamed__17_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559170/original/057781900_1776523941-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5563444/original/076459000_1776870755-rakha.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5563296/original/009087500_1776854384-IMG_4680.JPG.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5009544/original/058055600_1731846512-Ilustrasi_-_Kevin_Diks_quotes_Timnas_Indonesia_copy.jpg)