Liputan6.com, Jakarta - Harga telur ayam organik bisa dua hingga tiga kali lipat lebih mahal dari telur biasa di pasaran. Bagi banyak orang, angka itu terasa tidak masuk akal, apalagi kalau belum tahu apa yang ada di baliknya. Tapi justru di sinilah letak menariknya, harga tinggi itu bukan karena gimmick, melainkan cerminan dari proses panjang yang benar-benar berbeda.
Peternakan organik sedang naik daun. Makin banyak orang yang mulai sadar soal apa yang mereka makan, dari mana asalnya, dan bagaimana hewan yang mereka konsumsi dibesarkan. Tren ini membuka peluang bisnis yang nyata, dan masih sangat terbuka untuk siapa saja yang mau masuk lebih awal.
Muji Purwanto, seorang arsitek asal Yogyakarta, membuktikan itu. Lewat Kandang Gadri di Kalasan, Sleman, ia memulai peternakan organik dari keresahan soal sampah. Harapannya, dengan memelihara ayam, dia bisa mengatasi masalah sampah, terutama sampah organik. Tapi kini, produknya banyak dicari orang, tanpa pernah beriklan sekalipun. Artikel ini merangkum enam alasan kenapa produk peternakan organik lebih mahal, plus kenapa itu justru menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
1. Produksi Lebih Rendah
Ini salah satu alasan paling mendasar. Ayam di peternakan organik tidak dipaksa untuk berproduksi maksimal seperti ayam petelur pabrikan. Mereka diberi kebebasan bergerak, pakan alami, dan waktu untuk berkembang secara natural. Artinya, jumlah telur yang dihasilkan pun lebih sedikit.
Perbedaannya cukup mencolok. Ayam petelur konvensional mampu menghasilkan 250 hingga 300 butir telur per ekor dalam setahun. Sementara ayam KUB di peternakan organik seperti Kandang Gadri hanya menghasilkan sekitar 180 hingga 200 butir, dan ayam Elba bisa mencapai sekitar 300 butir, tapi dengan kualitas pakan yang jauh berbeda. Adapun ayam kampung asli hanya menghasilkan 60 hingga 120 butir per tahun, dan itu sudah batas maksimalnya.
Dengan jumlah produksi yang lebih rendah, wajar jika harga per butir ikut menyesuaikan. Tapi di sinilah peluang bisnis muncul, konsumen yang paham kualitas justru tidak keberatan membayar lebih mahal selama mereka tahu apa yang mereka dapatkan.
"Bagi kami paling utama itu bukan jenis breed-nya, tapi lebih ke arah pakan apa yang diberikan. Karena itu yang mempengaruhi kualitas telur paling utama," kata Muji kepada reporter Liputan6.com pada Senin (27/4/2026).
2. Waktu Produksi Lebih Panjang
Ayam broiler konvensional bisa dipanen dalam 40–60 hari. Meski dari sisi produksi lebih cepat, efisien, dan murah, tapi dengan konsekuensi pertumbuhan yang dipercepat menggunakan hormon dan pakan pabrikan. Berbeda dengan peternakan organik, di mana ayam dibiarkan tumbuh sesuai siklus alaminya.
Di Kandang Gadri, ayam jenis KUB (Kampung Unggulan Balitbang) dan Elba baru mulai bertelur di usia 5–6 bulan. Waktu yang jauh lebih panjang ini berarti biaya perawatan lebih besar, tapi juga berarti daging dan telur yang dihasilkan jauh lebih berkualitas.
Muji juga menemukan manfaat lain dari siklus panjang ini, yakni ayam yang sudah tidak produktif bertelur (afkir) tetap bisa dijual sebagai ayam potong dengan harga yang tinggi. Artinya, satu ekor ayam bisa menghasilkan dua sumber pendapatan, yakni telur selama masa produktif, dan daging setelah itu.
3. Pakan Alami & Fermentasi
Salah satu miskonsepsi terbesar tentang peternakan organik adalah bahwa biaya pakannya pasti mahal. Kenyataannya, Muji membangun sistem pakan Kandang Gadri hampir sepenuhnya dari limbah, yang bisa didapat gratis atau sangat murah.
Pakan Kandang Gadri dibuat dari campuran daun pepaya Jepang, talas, nasi aking, ampas kelapa, sisa buah, dan bahkan roti atau jagung dari limbah minimarket. Bahan-bahan ini difermentasi secara alami selama 24 jam tanpa tambahan ragi kimia, menghasilkan pakan yang kaya nutrisi dan mudah dicerna ayam.
"Saya juga bekerja sama dengan orang-orang sekitar kayak Pak Lek saya yang dagang bubur ayam. Limbah dari situ saya olah juga menjadi pakan," ungkap Muji.
Yang membuat sistem ini unggul secara bisnis adalah peternak organik tidak bergantung pada fluktuasi harga pakan pabrikan. Saat harga pabrik naik, biaya produksi mereka nyaris tidak terpengaruh, dan itu menjadi keunggulan kompetitif yang sangat signifikan dalam jangka panjang.
4. Sistem Kandang Cage Free
Peternakan organik tidak mengurung ayam dalam kandang sempit. Sistem yang digunakan Kandang Gadri adalah cage free, di mana ayam bebas bergerak di dalam kandang yang luas, lengkap dengan triplek sebagai isolator suhu dan tirai untuk menjaga kenyamanan. Tentu ini membutuhkan lahan lebih besar dan biaya awal lebih tinggi.
Tapi ada manfaat yang sering tidak diperhitungkan, yakni kandang yang bersih dan minim bau. Muji bercerita bahwa banyak tamunya yang terkejut karena kandang ayamnya hampir tidak berbau. Ini adalah hal yang sangat jarang ditemukan di peternakan konvensional. Ini dimungkinkan karena sistem layering kotoran yang dikelola dengan baik sebagai kompos.
"Berapa kali teman saya ke sini pun juga bilang, 'Oh, kok enggak bau ya?' Ya karena saya setiap ada kotoran saya layer. Jadi kami bisa menciptakan kandang yang bau-nya hampir tidak terasa," jelasnya.
Kandang yang tidak bau dan bersih ini punya nilai tambah bisnis yang besar sebagai sarana edukasi dan agrowisata. Banyak keluarga, sekolah, atau komunitas yang ingin melihat langsung bagaimana ayam dibesarkan secara organik. Kandang Gadri bahkan sudah terbuka untuk kunjungan belajar.
5. Target Pasar Premium
Produk dari peternakan organik tidak bersaing di pasar telur biasa. Pembelinya adalah segmen yang berbeda, yakni mereka yang sadar kesehatan, pasca operasi, lansia, ibu menyusui, hingga orang tua yang peduli tumbuh kembang anak. Mereka rela membayar lebih asal produknya benar-benar alami dan terpercaya.
Muji menceritakan bahwa konsumen pertama Kandang Gadri adalah seorang istri dosen yang habis kecelakaan dan disarankan dokter mencari ayam kampung dengan pakan non-pabrikan. Dari satu konsumen itu, jaringan terus meluas melalui mulut ke mulut, tanpa iklan, tanpa biaya promosi.
"Segmen yang paling banyak mencari produk kami itu orang yang pasca operasi, lansia, dan balita," kata Muji.
Konsumen premium juga cenderung sangat loyal. Begitu mereka merasakan manfaatnya, mereka tidak akan berpindah ke produk lain dengan mudah. Ini menciptakan basis pelanggan yang stabil.
6. Kualitas Produk yang Berbicara Sendiri
Pada akhirnya, alasan terkuat mengapa produk peternakan organik lebih mahal dan mengapa bisnis ini begitu menjanjikan adalah kualitas produk itu sendiri. Perbedaannya bisa terlihat, terasa, dan dirasakan langsung oleh konsumen.
Perbedaannya terlihat jelas bahkan dengan mata telanjang. Putih telur dari ayam organik Kandang Gadri jauh lebih padat dan tidak mudah pecah saat dipecahkan, sedangkan telur ayam pabrikan cenderung encer. Kuning telurnya pun berbeda, oranye pekat dan kaya nutrisi, bukan kuning pucat seperti umumnya telur konvensional.
Dari sisi daging, teksturnya lebih padat dan rasanya lebih gurih. Satu hal lagi yang kerap menjadi perhatian, banyak konsumen yang memiliki riwayat alergi terhadap ayam pabrikan justru aman mengonsumsi produk dari peternakan organik, meski belum ada penelitian klinis resmi yang menjelaskan mekanismenya secara pasti.
"Ada yang makan ayam petelur dan ujung-ujungnya gatal di jari, katanya alergi. Dari situ mereka mencoba daging dari kandang kami. Habis itu malah tidak alergi. Saya bingung sendiri, tapi yang pasti yang paling banyak mencari itu malah orang-orang yang punya riwayat alergi," ungkap Muji.
Di Kandang Gadri, bahkan kemasan telurnya pun menjadi cerita tersendiri. Muji menggunakan pelepah pisang kering sebagai bungkus telur. Sebuah ide yang ramah lingkungan, unik, dan menjadi pembeda yang kuat di mata konsumen.
FAQ
Q: Apakah peternakan organik cocok untuk pemula dengan modal kecil?
A: Sangat cocok. Kandang Gadri sendiri memulai dengan hanya 30 ekor ayam, tanpa target bisnis sama sekali. Kuncinya adalah memanfaatkan limbah dapur dan lingkungan sekitar sebagai pakan, sehingga biaya operasional bisa sangat rendah di awal. Bisnis ayam organik justru bisa tumbuh secara organik juga: perlahan tapi stabil, didorong oleh kepercayaan konsumen.
Q: Berapa lama ayam organik mulai bertelur?
A: Untuk jenis KUB dan Elba yang digunakan Kandang Gadri, ayam mulai bertelur di usia sekitar 5–6 bulan. Memang lebih lama dibanding ayam petelur pabrikan, tapi daya tahan tubuh ayam kampung jauh lebih baik, biaya perawatan lebih rendah, dan kualitas telur yang dihasilkan tidak bisa dibandingkan.
Q: Apakah telur organik benar-benar tidak menyebabkan alergi?
A: Berdasarkan pengalaman konsumen Kandang Gadri, beberapa penderita alergi yang sebelumnya tidak tahan terhadap produk ayam pabrikan justru aman mengonsumsi telur dan daging dari peternakan organik mereka. Meski belum ada penelitian klinis yang membuktikan secara langsung, fenomena ini terus berulang dan menjadi salah satu alasan terkuat konsumen kembali membeli.
Q: Bagaimana cara memasarkan produk peternakan organik?
A: Mulai dari lingkaran terdekat, keluarga, teman, dan kolega. Ceritakan proses produksinya secara jujur di media sosial, seperti saat membuat pakan fermentasi, kandang bersih, ayam yang bebas bergerak. Kandang Gadri bahkan tidak pernah beriklan secara berbayar; semua pertumbuhan didorong oleh cerita nyata dan testimoni konsumen yang puas. Autentisitas adalah strategi pemasaran paling kuat.
Q: Apakah untungnya sebanding dengan keribetannya?
A: Menurut Muji Purwanto, tidak selalu soal untung besar di awal. Proses merawat peternakan organik memang lebih melelahkan, tapi ada kepuasan tersendiri dalam menyediakan pangan sehat untuk keluarga dan lingkungan sekitar. Secara bisnis, produk organik bisa dijual 2–3 kali lipat harga ayam biasa, dengan konsumen yang cenderung loyal dan tidak sensitif terhadap harga.
Q: Jenis ayam apa yang paling direkomendasikan untuk peternakan organik pemula?
A: Muji merekomendasikan KUB (Kampung Unggulan Balitbang) untuk pemula yang ingin fokus pada daging sekaligus telur, karena KUB merupakan ayam endemik Indonesia yang kuat, tahan penyakit, dan adaptif terhadap sistem umbaran. Untuk produksi telur yang lebih tinggi, Elba bisa menjadi pilihan tambahan dengan produktivitas sekitar 300 butir per tahun.

4 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448629/original/045278600_1766035052-Gelang_Rantai_Tipis_Klasik__Pilihan_Abadi_yang_Elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572282/original/048760100_1777785640-ide_ternak_hewan_kecil_tanpa_bau_untuk_ibu-ibu_komplek_perumahan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572269/original/053408000_1777785138-model_rumah_kayu_modal_Rp_50_juta_dengan_halaman_mini_di_desa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5570185/original/054087800_1777517651-Kebun_Kolektif.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3075657/original/090629400_1584082568-shutterstock_613032584.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406767/original/073611600_1762596719-runtukahu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572250/original/049928300_1777783823-Gemini_Generated_Image_kvrvj3kvrvj3kvrv.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515887/original/090122300_1772204204-ramos.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572234/original/027431600_1777782675-MILOMIR.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572196/original/098823600_1777779559-contoh_rumah_kecil_ukuran_5x6_meter_bisa_2_kamar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572235/original/027948300_1777782766-Gemini_Generated_Image_lpuc88lpuc88lpuc.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572219/original/088549200_1777780920-Gemini_Generated_Image_a1qg6ma1qg6ma1qg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2975865/original/006972500_1574525709-11.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528328/original/003485100_1773279504-greenhouse_buah_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5312034/original/057920500_1754902026-Persija_Jakarta_vs_Persita_Tangerang-36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572137/original/083129900_1777775671-cara_menanam_blewah_di_pot_halaman_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5352287/original/006591800_1758095186-Gemini_Generated_Image_ve36bove36bove36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5570460/original/093958800_1777526886-1000115261.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3374310/original/020543000_1613020441-WhatsApp_Image_2021-02-11_at_08.17.06__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5570100/original/077432700_1777514010-Gemini_Generated_Image_tl1xiytl1xiytl1x.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4897279/original/047157000_1721544216-IMG_20240721_131658.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5482943/original/058250300_1769302357-54cb0e1a-9b5f-43ac-b9d3-4f7a7bd14f4c.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500419/original/020749000_1770864866-Model_Ruang_Tamu_Open_Space.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469055/original/011269000_1768048972-cesar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5482519/original/004242000_1769226806-pelaku_usaha_UMKM_Bantul_Rifqi_Rozanah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454293/original/050430700_1766556442-1000101929.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486588/original/012358000_1769591525-Tips_Mengatasi_Kucing_Garuk_Sofa_Terus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5462350/original/069630300_1767550955-20260104_222549.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461719/original/099491300_1767433319-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_15.59.48__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383986/original/067984300_1760708009-Saddil-Ramdani.jpg)