Strategi Penjual Nasi Kuning di Jogja Pertahankan Harga Rp5.000 di Tengah Bahan Pokok Naik

2 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah lonjakan harga bahan pokok yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah pelaku usaha kuliner kecil tetap berupaya mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau bagi masyarakat. Salah satunya adalah penjual nasi kuning di Jogja yang masih menjual dagangannya dengan harga Rp5.000 per porsi.

Strategi bertahan ini bukan tanpa tantangan. Kenaikan harga bahan baku seperti bumbu dapur hingga kebutuhan pendukung seperti plastik kemasan turut menekan margin keuntungan. Namun, bagi sebagian pedagang, menjaga harga tetap murah justru menjadi kunci untuk mempertahankan pelanggan.

Hal ini dirasakan oleh Bu Santi (43), pedagang nasi kuning yang berjualan di kawasan Jalan Gondosuli, Baciro, Gondokusuman, Kota Jogja. Ia mengaku sudah lebih dari satu tahun menjual nasi kuning dengan harga Rp5.000 per porsi, dan sejak awal memulai usahanya, harga tersebut tidak pernah berubah.

"Sudah lebih dari satu tahun. Dari dulu awal jualan sudah Rp5.000," kata Bu Santi saat ditemui, seperti dikutip dari wawancara Liputan6.com, Rabu (6/5/2026).

Bertahan dengan Harga Rp5.000

Keputusan Bu Santi mempertahankan harga Rp5000 bukan tanpa alasan. Ia menyadari bahwa mayoritas pelanggannya sangat mempertimbangkan harga dalam membeli makanan, terutama untuk sarapan.

Meski harga jual tetap, biaya produksi justru terus meningkat. Bu Santi menyebut bumbu dapur menjadi komponen yang paling terasa kenaikannya. Tak hanya itu, kebutuhan pendukung seperti plastik kemasan dan sendok sekali pakai juga ikut menambah beban biaya.

"Ya paling bumbu-bumbu, sama harga plastik. Soalnya kan harus sedia kantong kresek dan sendok," ujarnya.

Kenaikan ini membuat margin keuntungan semakin tipis. Namun, bagi Bu Santi, menaikkan harga bukan pilihan yang mudah.

Sempat Ingin Naik Harga, Tapi Urung

Di tengah tekanan biaya, Bu Santi sempat mempertimbangkan untuk menaikkan harga jual nasi kuningnya. Namun, kekhawatiran kehilangan pelanggan membuatnya mengurungkan niat tersebut.

“Pernah, tapi ya enggak jadi, takut pembeli sama pelanggan berkurang,” ungkapnya.

Hal ini mencerminkan kondisi pasar makanan murah yang sangat sensitif terhadap perubahan harga. Kenaikan kecil sekalipun bisa berdampak pada jumlah pembeli.

Strategi Mempertahankan Harga Rp5.000

Sebagai solusi, Bu Santi memilih strategi lain agar tetap bisa bertahan, yakni dengan menyesuaikan porsi makanan. Ia mengurangi beberapa komponen lauk yang dinilai tidak terlalu memengaruhi kepuasan utama pelanggan.

“Dikurangi aja porsinya. Kayak abon itu dikurangi,” katanya.

Strategi ini dinilai lebih aman dibanding menaikkan harga, karena pelanggan masih bisa mendapatkan nasi kuning dengan harga yang sama, meski dengan porsi sedikit lebih kecil.

Jualan Singkat, Menu Variatif

Untuk menjaga efisiensi, Bu Santi berjualan dalam waktu yang relatif singkat, yakni pada pagi hari. Waktu jualan yang terbatas ini membantu mengurangi risiko makanan tidak habis sekaligus menjaga kualitas hidangan tetap segar.

"Dari jam 6 sampai jam 9 atau sehabisnya," ujarnya.

Selain nasi kuning, Bu Santi juga menawarkan berbagai menu lain dengan harga ramah di kantong. Mulai dari pecel seharga Rp4.000, pecel dengan nasi Rp6.000, tahu bacem Rp2.000, perkedel Rp2.000, hingga lauk ayam sebagai tambahan.

Keberagaman menu ini menjadi strategi tambahan untuk menarik lebih banyak pembeli dengan kebutuhan dan anggaran yang berbeda.

Makanan Murah Masih Jadi Andalan

Menurut Bu Santi, keberadaan makanan murah di Yogyakarta masih sangat penting. Harga yang terjangkau menjadi daya tarik utama bagi pelanggan. Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan ekonomi, makanan murah tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

“Ya untuk menarik pembeli aja,” tuturnya.

Kisah Bu Santi mencerminkan realitas yang dihadapi banyak pedagang kecil. Mereka harus terus beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu, tanpa kehilangan pelanggan. Berbagai strategi dilakukan, mulai dari efisiensi bahan, pengurangan porsi, hingga variasi menu. Namun, semua itu tetap memiliki batas.

Pertanyaan seputar bagaimana pedagang tetap untung tanpa menaikkan harga

Q: Kenapa pedagang tidak menaikkan harga nasi kuning?

A: Karena khawatir pelanggan berkurang, terutama pembeli yang sensitif terhadap harga.

Q: Bagaimana cara pedagang tetap untung?

A: Dengan mengurangi porsi lauk dan menekan biaya produksi tanpa menaikkan harga.

Q: Apa saja yang dijual selain nasi kuning?

A: Ada pecel, tahu bacem, perkedel, hingga lauk ayam dengan harga terjangkau.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|