5 Cara Budidaya Ikan Molly untuk Pemula, Mudah dan Simpel Dipraktikkan

13 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Budidaya ikan hias kini semakin diminati, terutama jenis molly yang dinilai mudah dipelihara dan memiliki pasar luas. Dalam sebuah wawancara bersama pembudidaya ikan hias asal Kalurahan Ambarketawan, Kapanewon Gamping, Sleman, Hastoro (60), terungkap bahwa molly termasuk ikan hias paling sederhana untuk diternakkan, bahkan oleh pemula sekalipun. Selain perawatannya yang tidak rumit, ikan ini juga cepat berkembang biak sehingga cocok sebagai peluang usaha rumahan.

Tren molly sendiri terus berkembang, terutama dengan munculnya berbagai varian hybrid dari luar negeri seperti Thailand, Vietnam, hingga Filipina. Variasi warna dan bentuk sirip membuat molly bukan lagi sekadar ikan “mainan anak-anak”, melainkan sudah naik kelas menjadi ikan kontes. Namun, menurut Hastoro, tantangan terbesar bukan sekadar bisa beternak, melainkan bagaimana menciptakan pasar dan menjaga kualitas.

“Kalau cara berternaknya itu ya sangat sederhana karena molly termasuk ikan paling mudah. Tinggal dipasangkan saja, bisa pakai botol mineral, akuarium, kolam, bahkan kolam renang pun bisa. Yang sulit itu bukan beranaknya, karena sekali angkatan bisa banyak sekali. Tantangannya justru di kualitasnya, apakah anak-anak itu sesuai standar pasar atau tidak, dan bagaimana kita membangun permintaan supaya ikan itu terserap pasar,” jelas Hastoro saat ditemui Liputan6.com di rumahnya pada Minggu (22/2). 

Berikut selengkapnya:

1. Memilih Indukan Berkualitas Sesuai Tren Pasar

Langkah pertama dalam budidaya ikan molly adalah memilih indukan yang tepat. Berdasarkan wawancara, pembudidaya umumnya membeli sepasang induk jantan dan betina, bukan sekadar membeli anakan. Indukan dipilih berdasarkan jenis yang sedang tren, seperti zebra, zebra karamel, albino, hingga varian high fin dengan sirip atas menjulang tinggi.

Hastoro menekankan bahwa harga ikan sangat ditentukan oleh kesempurnaan bentuk dan variasi warna. Perbandingan tubuh yang proporsional, sirip mekar sempurna, serta motif yang unik akan menaikkan nilai jual. Bahkan untuk indukan berkualitas bagus, harganya bisa di atas Rp100.000 per pasang.

“Yang menentukan harga itu kesempurnaannya, mulai dari variasi warna sampai bentuk tubuhnya. Misalnya tipe balon itu idealnya perbandingan atas dan sampingnya satu banding satu, jadi kelihatan proporsional seperti kotak. Kalau sempurna dan motifnya bagus, harganya bisa di atas Rp10.000 per ekor untuk ukuran jual, bahkan induk bagus bisa lebih dari Rp100.000,” terang Hastoro.

2. Teknik Pemijahan yang Sederhana dan Fleksibel

Molly termasuk ikan livebearer, artinya melahirkan anak secara langsung, bukan bertelur. Untuk pemula, teknik pemijahannya tergolong sangat mudah. Induk jantan dan betina cukup disatukan dalam satu wadah, baik itu akuarium, kolam kecil, hingga wadah sederhana seperti botol mineral.

Agar anak tidak dimakan induknya, diperlukan pemisah alami seperti ganggang, karang kecil, atau wadah khusus semacam karamba. Beberapa pembudidaya yang ingin menjaga kualitas biasanya memisahkan satu pasang induk dalam satu tempat agar silsilah persilangan lebih terkontrol.

“Pasangan saja dijadikan satu, sangat mudah. Bisa pakai botol mineral, kolam, apa saja. Supaya anaknya tidak dimakan induknya, biasanya dikasih ganggang atau pembatas seperti dudung saji. Kalau mau jaga kualitas, satu pasang satu tempat, jadi tahu hasil silangan ini dengan ini seperti apa, lalu bisa di-cross lagi sampai menemukan hasil terbaik,” jelasnya.

3. Pemberian Pakan untuk Pertumbuhan Optimal

Meski mudah dipelihara, kualitas pakan sangat menentukan hasil akhir ikan molly. Banyak pemula hanya mengandalkan pelet biasa, padahal pembudidaya profesional biasanya mengombinasikan pelet berkadar protein tinggi dengan pakan alami seperti cacing sutra, cacing darah, hingga bentik nyamuk.

Untuk meningkatkan warna, terutama warna merah, pakan bisa dicampur dengan olahan udang berbentuk pasta atau frozen feed. Menurut Hastoro, perhatian pada asupan nutrisi sejak awal akan berpengaruh pada struktur tubuh dan kualitas sirip, terutama pada jenis high fin yang siripnya harus bisa mekar sempurna.

“Kalau mau bagus ya harus khusus, pakannya juga diperhatikan. Pelet pun yang protein di atas 50 persen, dikombinasi cacing sutra atau bubuk air. Untuk warna merah bisa ditambah udang yang dibikin pasta seperti burger ikan. Karena kalau asal kasih pelet saja, hasilnya ya biasa. Ikan itu sama seperti atlet, kalau mau bagus harus dijaga makanannya,” ungkapnya.

4. Seleksi dan Pembesaran untuk Kualitas Pasar

Dalam usia sekitar tiga minggu, anakan molly sudah mulai bisa diseleksi. Pada fase ini, pembudidaya bisa melihat mana ikan yang berpotensi bagus dari segi warna dan bentuk. Ikan yang berkualitas dipelihara secara khusus di akuarium terpisah dengan pengelolaan air dan pakan lebih optimal.

Sementara itu, ikan yang kurang memenuhi standar biasanya dijual murah sebagai ikan pakan atau dialihkan untuk kebutuhan lain. Strategi ini penting agar biaya pakan dan ruang pemeliharaan tidak terbuang sia-sia, mengingat sekali panen bisa menghasilkan ribuan ekor.

“Dari ribuan anakan itu paling banter 20 persen yang benar-benar masuk kualifikasi bagus. Yang bagus dipelihara khusus, yang kurang ya harus ada strategi, bisa dijual murah atau dijadikan ikan pakan. Kalau semua dipelihara sampai besar, biaya pakannya enggak imbang. Jadi seleksi itu penting supaya kita fokus membesarkan yang prospek,” tegas Hastoro.

5. Strategi Pemasaran dan Menghadapi Tantangan Penyakit

Menurut Hastoro, budidaya molly tidak hanya soal teknis pemeliharaan, tetapi juga strategi pasar. Ia menilai ikan hias termasuk kebutuhan tersier, sehingga permintaan sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan gaya hidup. Tantangan saat ini bahkan bukan hanya sesama pedagang ikan, melainkan perubahan minat generasi muda yang lebih memilih paket internet dibanding membeli ikan hias.

Di sisi lain, pembudidaya juga harus waspada terhadap penyakit seperti kutu jangkar, white spot, dan bakteri aeromonas. Pencegahan dilakukan dengan menjaga kualitas air dan berhati-hati dalam penggunaan pakan alami yang bisa membawa parasit.

“Ikan hias itu sebenarnya kita jual hiburannya, bukan cuma fisik ikannya. Jadi harus bisa membangun pasar, merawat langganan kios, supaya ada pembelian terus-menerus. Soal penyakit, yang sering itu kutu jangkar, nempel dan harus dicabut. White spot jarang kalau suhu stabil. Jadi selain bisa ternak, kita juga harus bisa jual. Kalau bisa ternak tapi enggak bisa jual, ya sama saja,” pungkasnya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik (People Also Ask Google)

1. Apakah ikan molly cocok untuk pemula yang ingin mulai usaha ikan hias?

Ya, ikan molly sangat cocok untuk pemula karena termasuk jenis livebearer yang mudah berkembang biak dan tidak membutuhkan teknik pemijahan rumit. Indukan cukup dipasangkan dalam satu wadah seperti akuarium, kolam kecil, bahkan wadah sederhana. Selain itu, perawatannya relatif mudah dan tingkat kelangsungan hidupnya cukup tinggi jika kualitas air dan pakan dijaga dengan baik.

2. Berapa banyak anakan yang bisa dihasilkan ikan molly dalam sekali melahirkan?

Dalam sekali masa kelahiran, induk molly bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan anakan, tergantung ukuran dan kondisi induknya. Bahkan dalam satu siklus pembesaran, pembudidaya bisa mendapatkan ribuan anakan dari beberapa pasang induk. Namun, tidak semua anakan akan memiliki kualitas sesuai standar pasar, sehingga seleksi tetap diperlukan.

3. Bagaimana cara memilih indukan molly yang berkualitas?

Indukan berkualitas dipilih berdasarkan tren pasar, variasi warna, bentuk tubuh, dan kesempurnaan sirip. Tubuh harus proporsional, sirip mekar sempurna, serta memiliki motif warna yang jelas dan unik. Indukan yang bagus biasanya memiliki harga lebih tinggi karena berpotensi menghasilkan anakan dengan nilai jual lebih baik.

4. Pakan apa yang bagus untuk meningkatkan kualitas dan warna ikan molly?

Untuk hasil optimal, molly sebaiknya diberi pelet dengan kadar protein tinggi (di atas 50 persen) yang dikombinasikan dengan pakan alami seperti cacing sutra atau cacing darah. Untuk memperkuat warna, terutama merah, bisa ditambahkan olahan udang berbentuk pasta atau frozen feed. Nutrisi yang tepat sangat berpengaruh pada pertumbuhan, bentuk tubuh, dan kualitas sirip.

5. Apa tantangan terbesar dalam budidaya ikan molly?

Tantangan terbesar bukan pada proses berkembang biaknya, melainkan pada menjaga kualitas hasil dan membangun pasar. Dari ribuan anakan, hanya sebagian kecil yang memenuhi standar kontes atau pasar premium. Selain itu, pembudidaya juga harus mampu mengatasi risiko penyakit seperti kutu jangkar dan white spot, serta memiliki strategi pemasaran agar ikan terserap pasar secara berkelanjutan.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|