:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317191/original/094504400_1786005113-Untitled4.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Predikat desa paling bahagia di dunia biasanya diberikan pada tempat yang mengutamakan kebersamaan warga, kedekatan alam, dan gaya hidup sederhana. Ritme tenang, minim polusi, serta hubungan sosial erat membuat penduduknya jauh dari tekanan hidup modern.
Kebahagiaan sebuah desa tak melulu soal kekayaan materi. Rasa saling percaya, gotong royong, akses pangan sehat, dan waktu bersama keluarga justru jadi penentu utama kepuasan hidup warga dibanding desa lain di sekitarnya, menurut berbagai survei sosial.
Konsep kesederhanaan, kedekatan sosial, dan keseimbangan alam dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis masyarakat secara berkelanjutan. Berikut beberapa desa paling bahagia di dunia, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (6/8/2026).
1. Doolin – Irlandia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710772/original/005453500_1782791056-Doolin_Ireland.jpg)
Perbesar
Doolin adalah desa nelayan kecil di pesisir barat Irlandia yang dikenal sebagai pusat musik tradisional Irlandia. Warganya hidup dengan ritme santai, dikelilingi tebing Cliffs of Moher yang megah dan suara ombak Atlantik. Setiap malam, pub-pub kecil di desa ini dipenuhi musik live yang dimainkan spontan oleh penduduk lokal, menciptakan rasa kebersamaan yang hangat.
Kehidupan sederhana, komunitas yang saling kenal, serta kedekatan dengan alam liar Irlandia membuat Doolin terasa jauh dari tekanan hidup modern. Desa ini membuktikan bahwa kebahagiaan bisa lahir dari tradisi, musik, dan koneksi sosial yang kuat antarwarga.
2. Getaria – Spanyol
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317192/original/008602600_1786005115-pexels-toulouse-12144529.jpg)
Perbesar
Terletak di Basque Country, Getaria adalah desa pelabuhan kecil yang terkenal dengan kuliner ikan bakarnya dan sebagai kampung halaman perancang busana Cristóbal Balenciaga. Warganya menjalani hidup dengan bangga akan identitas budaya lokal, mulai dari bahasa Basque hingga tradisi kuliner yang diwariskan turun-temurun.
Suasana desa yang intim, pelabuhan yang tenang, dan restoran-restoran keluarga menciptakan rasa kekeluargaan yang erat. Kedekatan dengan laut memberi warga sumber penghidupan sekaligus ruang relaksasi. Getaria menunjukkan bagaimana kebanggaan budaya dan kesederhanaan hidup pesisir dapat menghasilkan kualitas hidup yang tinggi bagi penduduknya.
3. Hunza Valley – Pakistan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317193/original/026336300_1786005116-pexels-wasifmehmood997-15916728.jpg)
Perbesar
Terletak di lereng Pegunungan Karakoram, Hunza Valley terkenal dengan penduduknya yang panjang umur dan jarang mengalami stres. Pola makan alami, udara bersih, serta gaya hidup aktif menjadi kunci kesejahteraan fisik dan mental warganya. Struktur sosial di sini sangat erat; keluarga besar dan tetangga saling membantu dalam keseharian, mulai dari bertani hingga merawat anak.
Minimnya tekanan ekonomi modern serta pemandangan alam yang menakjubkan turut menciptakan rasa syukur yang tinggi. Hunza sering dijadikan contoh bagaimana lingkungan alami dan kohesi sosial mampu mendorong kebahagiaan kolektif secara berkelanjutan.
4. Nagi, Tokushima – Jepang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4051611/original/023893700_1655125093-pexels-belle-co-402028.jpg)
Perbesar
Desa kecil ini menjadi simbol keberhasilan revitalisasi pedesaan Jepang. Alih-alih menyerah pada penurunan populasi, warga Nagi membangun komunitas ramah keluarga muda dengan fasilitas publik gratis dan dukungan sosial kuat. Pemerintah desa menyediakan bantuan biaya persalinan, pendidikan, hingga perumahan terjangkau.
Hasilnya, banyak keluarga muda memilih menetap dan angka kelahiran meningkat signifikan dibanding desa sekitarnya. Suasana gotong royong dan rasa aman menjadi fondasi kebahagiaan warga. Nagi membuktikan bahwa kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan sosial bisa menghidupkan kembali semangat komunitas pedesaan.
5. Tamera – Portugal
Tamera bukan desa biasa, melainkan komunitas intensional (ecovillage) di pedalaman Portugal yang dibangun dengan visi perdamaian dan keberlanjutan. Penghuninya hidup secara kolektif, berbagi sumber daya, dan menerapkan sistem pertanian regeneratif serta pengelolaan air mandiri. Fokus utama komunitas ini adalah membangun hubungan sosial yang jujur dan mendalam, jauh dari kompetisi dan individualisme masyarakat modern.
Kehidupan di Tamera menekankan kesadaran diri, kerja sama, dan keselarasan dengan alam. Model desa ini sering dijadikan contoh eksperimen sosial tentang bagaimana kebahagiaan kolektif bisa dibangun lewat nilai bersama, bukan sekadar kepemilikan pribadi.
6. Aitutaki – Kepulauan Cook
Aitutaki adalah atol kecil di Pasifik Selatan dengan laguna biru jernih yang kerap disebut salah satu terindah di dunia. Warganya menjalani hidup dengan filosofi "island time", di mana waktu berjalan lambat dan tekanan hidup modern nyaris tak terasa. Komunitas yang kecil membuat hampir semua warga saling mengenal dan membantu satu sama lain.
Tradisi budaya Polinesia, musik, tarian, serta rasa syukur atas kekayaan alam menjadi bagian penting keseharian mereka. Minimnya keramaian dan kedekatan dengan laut memberi ketenangan batin yang mendalam, menjadikan Aitutaki contoh nyata kebahagiaan yang lahir dari kesederhanaan hidup kepulauan.
7. Itacaré – Brasil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290629/original/052200500_1783487789-bacb1c05-d2be-49ae-8dc9-11a3593f4654.jpg)
Perbesar
Itacaré adalah desa pesisir di Bahia yang dikelilingi hutan hujan Atlantik dan pantai-pantai tersembunyi. Dulunya kampung nelayan sepi, kini berkembang menjadi komunitas yang memadukan kehidupan tradisional dengan semangat petualangan alam. Warganya dikenal ramah dan santai, hidup selaras dengan ritme laut dan hutan di sekitarnya.
Budaya capoeira, musik, serta kuliner khas Bahia turut memperkuat identitas sosial desa ini. Kombinasi antara alam yang masih asli, komunitas yang hangat, dan gaya hidup santai menjadikan Itacaré simbol kebahagiaan yang tumbuh dari harmoni antara manusia dan lingkungan pesisir tropis.
8. Svaneke, Pulau Bornholm – Denmark
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3600604/original/085187100_1634088654-nick-karvounis-3_ZGrsirryY-unsplash.jpg)
Perbesar
Svaneke adalah desa kecil di Pulau Bornholm, Denmark, yang dalam berbagai survei internasional kerap disebut sebagai salah satu tempat paling bahagia di dunia. Denmark sendiri secara konsisten masuk jajaran negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi, dan Bornholm menjadi contoh nyatanya lewat konsep "hygge", gaya hidup yang mengutamakan kenyamanan, kesederhanaan, dan kehangatan sosial.
Warga Svaneke saling mengenal satu sama lain, hidup dengan ritme tenang, serta menikmati alam pesisir Baltik yang asri. Rasa saling percaya antarwarga sangat tinggi, ditunjukkan lewat kebiasaan tidak mengunci pintu rumah maupun sepeda. Kombinasi keamanan sosial, kesetaraan, dan kedekatan komunitas menjadikan Svaneke simbol nyata kebahagiaan kolektif ala Skandinavia.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Desa Paling Bahagia
Apa yang membuat sebuah desa disebut "desa paling bahagia"?
Faktor utamanya adalah kebersamaan sosial, kedekatan dengan alam, rasa aman, serta gaya hidup yang sederhana dan minim tekanan, bukan sekadar kekayaan materi.
Apakah kekayaan menjadi faktor utama kebahagiaan sebuah desa?
Tidak. Studi menunjukkan gotong royong, kepercayaan antarwarga, dan akses pangan sehat lebih berpengaruh dibanding tingkat pendapatan semata.
Negara mana saja yang punya desa dengan predikat paling bahagia?
Beberapa contohnya adalah Doolin di Irlandia, Hunza Valley di Pakistan, dan Desa Nagi di Jepang, yang masing-masing punya pendekatan unik terhadap kesejahteraan warga.
Bisakah konsep desa bahagia diterapkan di wilayah lain?
Bisa. Banyak negara kini mengadaptasi pola kesederhanaan, kedekatan sosial, dan keseimbangan alam dari desa-desa ini untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis masyarakatnya.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

3 hours ago
2
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317267/original/039256200_1786008072-x.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9290939/original/034907500_1783499616-67bc0ed1-70f1-4da1-aa09-73d6deec6aae.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317351/original/061002200_1786009408-4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317064/original/087056100_1786002362-a28e53b1-58db-40f3-949c-76c794c72076.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4993155/original/049221700_1730890673-5ff04e5f-0993-4353-b764-9eec04510d10.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9303189/original/090798100_1784621188-lomba_pindah_air.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317326/original/025094100_1786008702-Tempat_Cuci_Outdoor_Tropis_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317117/original/064789100_1786003401-d8295d47-5262-4b3e-8596-0fd8dd145149.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317159/original/097615600_1786004402-Screenshot_2026-08-06_151631.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317304/original/027441900_1786008397-ba300546-2421-4b22-ae18-346caaaceae4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309817/original/041372500_1785287074-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317033/original/011647300_1786001059-kloset.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9316985/original/022420500_1785999030-5e5a3b68-bfcf-42da-af85-4c3ba39afb1c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9316948/original/078151200_1785997740-Photo_Booth_17_Agustus_dari_Barang_Bekas.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9316629/original/063945300_1785980020-b40f2cd6-a12e-41d4-aa24-eb572db30fee.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317185/original/057067500_1786004799-191e76ce-c67f-4b84-8987-3df9488184dd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5123774/original/054831300_1738828840-close-up-woman-applying-deodorant-arm_329181-2389.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309241/original/025113800_1785221451-IjX4VwGkAmwQdayZD99MHarMSZDjxkCEaKpl6kvy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324335/original/003354200_1755847297-pexels-cottonbro-6069539.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317075/original/009491800_1786002552-ATK_PIALA_PRESIDEN_2026_MATCH__3_.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557096/original/065659700_1776318001-Gambar_Rumah_Sederhana_6x9_di_Kampung_Dekat_Sawah_yang_Jadi_Tren_Desain_2026.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5390115/original/042078200_1761229243-20251023AA_Official_Training_Persija_Jakarta-04.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4863025/original/074446600_1718303638-3_083A3037.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559133/original/096420800_1776519532-WhatsApp_Image_2026-04-18_at_13.03.23.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517047/original/078921900_1772384976-SaveGram.App_640266969_18393344611150856_335126654579775669_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550378/original/025461700_1775666256-WhatsApp_Image_2026-04-08_at_23.05.47.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559467/original/050185700_1776576647-WhatsApp_Image_2026-04-19_at_12.29.37__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5361596/original/000746300_1758788384-eliano.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5557654/original/051408300_1776350845-20260416IQ_Timnas_Indonesia_U-17_vs_Malaysia_U-17-01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5556615/original/026624600_1776261517-Indonesia_v_Malaysia_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5557496/original/099902200_1776332068-1000397949.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3904777/original/070543400_1642301129-pexels-tim-douglas-6205626.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531939/original/016980900_1773637517-asian-child-girl-play-painting-with-happiness-joyful.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5496109/original/090089100_1770471696-20260207BL_Timnas_Futsal_Indonesia_Vs_Iran_Final_AFC_Futsal_Asian_Cup_2026-02.jpg)