Cara Cek Beras Fortifikasi Asli atau Palsu, Kenali Ciri-Cirinya Sebelum Mengonsumsi

4 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Cara cek beras fortifikasi asli atau palsu menjadi perhatian banyak masyarakat, terutama karena semakin banyak produk beras yang beredar di pasaran dengan berbagai klaim manfaat.  Ya, sebagaimana diketahui. beras menjadi makanan pokok utama bagi mayoritas masyarakat Indonesia, menyediakan karbohidrat sebagai sumber energi harian. Namun, beras putih konvensional umumnya memiliki keterbatasan dalam kandungan vitamin dan mineral penting. Padahal, tubuh membutuhkan zat gizi mikro seperti zat besi, zinc, vitamin A, dan asam folat untuk menjaga kesehatan optimal. 

Untuk mengatasi defisiensi gizi pada beras, para ahli pangan telah mengembangkan inovasi beras fortifikasi dan beras biofortikasi, sebagaimana dilansir dari laman Pemerintah Provinsi Bali Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan.  Beras fortifikasi adalah beras biasa yang ditambahkan zat gizi mikro secara sengaja melalui proses teknologi pangan setelah padi digiling menjadi beras. Sementara itu, beras biofortifikasi diperkaya gizinya sejak tanaman masih berada di sawah, artinya peningkatan kandungan vitamin dan mineral dilakukan melalui pemuliaan tanaman atau rekayasa genetik.  Kedua jenis beras ini memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan nilai gizi.

Mengingat perannya dalam pemenuhan gizi, kemampuan untuk membedakan beras fortifikasi yang sesuai standar dari produk yang tidak asli atau bahkan oplosan menjadi krusial.  Berikut penjelasan selengkapnya tentangc ara cek beras fortifikasi asli atau palsu sebagaimana dilansir Liputan6.com dari ebrbagai sumber, Kamis (6/8/2026).

Mengenali Beras Fortifikasi Asli dan Standarnya

Seperti yang disinggung di awal, beras fortifikasi adalah beras biasa yang telah diperkaya dengan tambahan berbagai vitamin dan mineral esensial. Nutrisi yang biasanya ditambahkan ke dalam beras ini meliputi zat besi, asam folat, zinc, vitamin A, vitamin B1, B3, B6, dan B12. Proses fortifikasi ini umumnya dilakukan dengan teknologi ekstrusi panas, di mana debu beras dicampur dengan vitamin dan mineral, lalu dicetak kembali menyerupai butiran beras asli yang disebut kernel. Kernel nutrisi ini kemudian dicampurkan dengan beras biasa dalam rasio tertentu, biasanya 1:100.

Secara fisik, warna, bau, dan rasa beras fortifikasi saat dimasak sama sekali tidak berbeda dengan beras putih biasa, menurut Halodoc. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, beras fortifikasi mungkin memiliki beberapa butiran kernel yang warnanya sedikit lebih putih, opak, atau agak kekuningan dibandingkan butiran beras lainnya.

Kualitas beras fortifikasi diatur dalam dua Standar Nasional Indonesia (SNI), yaitu SNI 9314:2024 untuk kernel beras fortifikan dan SNI 9372:2025 untuk beras fortifikasi. Dalam setiap 100 gram produk, beras fortifikasi wajib mengandung vitamin B1 minimal 0,25 miligram, asam folat 0,25-0,38 miligram, vitamin B12 1,0-1,5 mikrogram, zat besi 3,50-5,25 miligram, dan seng 3,0-4,5 miligram. Rasio pencampuran kernel fortifikan terhadap beras sosoh minimal 1% juga menjadi persyaratan.

Cara Cek Beras Fortifikasi Asli atau Palsu

Meskipun beras fortifikasi asli sulit dibedakan secara visual dari beras biasa, ada beberapa cara cek beras fortifikasi asli atau palsu yang merujuk pada beras oplosan atau palsu yang terbuat dari bahan non-beras, seperti plastik. Konsumen dapat melakukan beberapa uji sederhana untuk mendeteksi beras jenis ini.

  • Rendam beberapa butir ke dalam air bening

Untuk menguji keaslian beras, coba rendam beberapa butir dalam air bening. Beras asli akan tenggelam. Bila sebagian beras mengambang, bisa jadi mengandung plastik atau bahan sintetis ringan.

  • Membakar beberapa butir beras dengan api kecil

Uji lain dapat dilakukan dengan membakar beberapa butir beras menggunakan api kecil. Beras asli akan terbakar dan mengeluarkan bau seperti bahan organik yang hangus. Sebaliknya, jika berbau plastik menyengat dan meleleh seperti resin, patut dicurigai beras oplosan.

  • Memanaskan butir beras ke minyak 

Panaskan minyak goreng, lalu masukkan beberapa butir beras. Beras plastik cenderung meleleh atau mengambang di permukaan minyak. Sementara beras asli akan tetap keras dan tidak berubah bentuk, bahkan setelah terkena panas langsung. 

  • Simpan sebagian nasi yang sudah masak di suhu ruang

Setelah beras dimasak, simpan sebagian nasi di suhu ruang selama 2-3 hari dalam wadah tertutup. Nasi asli biasanya akan tumbuh jamur atau mulai membusuk karena reaksi enzim alami. Jika tetap bersih dan kering tanpa jamur, dapat dicurigai adanya zat sintetis dalam komposisinya.

  • Membedakan dari ciri fisik

Dari segi bentuk fisik, beras asli memiliki butiran yang berbentuk gemuk dan terlihat ada guratan alami di permukaannya. Berbeda dengan beras palsu yang tampak lebih ramping dan permukaannya licin tanpa guratan. 

  • Membedakan dari aroma

Selain itu, beras palsu akan beraroma sangit saat dimasak dan berbau bahan kimia, menurut CeriaPedia. Nasi dari beras palsu juga cenderung keras setelah dimasak dan akan semakin kering, berbeda dengan beras asli yang mengeluarkan bau harum dan terasa manis.

Memeriksa Kemasan Produk

Sebagai informasi tambahan, beberapa waktu terakhir, Badan Pangan Nasional (bapanas) sebagaimana dilansir dari laman resminya, menemukan sejumlah merek beras fortifikasi yang kandungan gizinya tidak sesuai dengan label kemasan setelah diuji laboratorium. Bahkan ditemukan produk yang mencantumkan klaim kandungan zat besi jauh lebih tinggi di izin edar dibanding yang tertulis pada kemasan yang dijual ke konsumen. Ketidaksesuaian semacam ini membuat konsumen sebaiknya tidak hanya melihat klaim besar di bagian depan kemasan, tetapi juga membandingkan rincian angka gizi pada tabel informasi nilai gizi di baliknya.

"Ada mafia beras, kita berantas, dan itu perintah Bapak Presiden Prabowo. (Sekarang ini) harga beras fortifikasi dijual ada yang sampai lebih Rp 42.000 per kilogram. Setelah kita periksa, tidak memenuhi syarat sebagai beras fortifikasi. Ini merugikan konsumen, mendzolimi rakyat," ucap Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dikutip di Jakarta pada Rabu (5/8/2026).

Maka dari itu, untuk memastikan Anda mendapatkan beras fortifikasi yang asli dan sesuai standar, penting untuk selalu memeriksa kemasan produk. Beras fortifikasi yang sah akan mencantumkan informasi gizi tambahan serta memiliki label atau sertifikasi dari lembaga terkait. Adanya temuan beras fortifikasi yang tidak memenuhi standar di pasaran menunjukkan pentingnya pengawasan dan sistem pelacakan rantai pasok yang kuat.

Konsumen umumnya tidak memiliki kemampuan untuk memeriksa kualitas beras secara detail, sehingga informasi ini seringkali hanya dimiliki oleh produsen atau penggilingan. Oleh karena itu, salah satu cara cek beras fortifikasi asli atau palsu yang paling efektif adalah dengan membeli produk dari produsen atau distributor yang terpercaya. Langkah ini krusial untuk menjamin manfaat gizi yang diharapkan dari beras fortifikasi.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Cek Beras Fortifikasi Asli atau Palsu

1. Apa itu beras fortifikasi?

Beras fortifikasi adalah beras biasa yang diperkaya dengan vitamin dan mineral esensial seperti zat besi, asam folat, zinc, dan vitamin A melalui proses teknologi pangan.

2. Bagaimana tampilan fisik beras fortifikasi yang asli?

Secara umum, beras fortifikasi terlihat sama dengan beras biasa, namun jika diperhatikan lebih teliti, mungkin terdapat butiran kernel (beras khusus yang diperkaya) yang warnanya sedikit lebih putih, opak, atau kekuningan.

3. Apakah beras fortifikasi mengubah rasa atau tekstur nasi?

Tidak, beras fortifikasi dirancang agar tidak mengubah rasa, aroma, warna, maupun tekstur nasi saat dimasak.

4. Bagaimana cara membedakan beras asli dengan beras palsu (oplosan) yang terbuat dari plastik?

Beras palsu dapat dideteksi melalui uji air (mengambang), uji api (meleleh dan berbau plastik), uji minyak panas (meleleh), uji jamur (tidak membusuk), serta memiliki tekstur mulus dan ramping tanpa guratan alami.

5. Mengapa penting untuk mengetahui cara cek beras fortifikasi asli atau palsu?

Penting untuk memastikan manfaat gizi yang diharapkan dari beras fortifikasi tercapai dan untuk menghindari konsumsi beras oplosan yang berpotensi berbahaya bagi kesehatan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|