Budidaya Ikan Hias Molly dan Manfish, Mana yang Lebih Mudah?

12 hours ago 10
  • Apakah ikan molly cocok untuk pemula?
  • Berapa lama manfish menetas hingga bisa berenang?
  • Penyakit apa yang sering menyerang molly?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Budidaya ikan hias masih menjadi pilihan banyak pehobi maupun pelaku usaha rumahan karena modalnya relatif fleksibel dan pasarnya terus bergerak mengikuti tren, namun di antara sekian banyak jenis yang beredar, molly dan manfish kerap dibandingkan karena sama-sama populer, mudah ditemukan, dan memiliki karakter berbeda dalam pola perawatan maupun pembiakannya.

Di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Sleman, Yogyakarta, pelaku budidaya ikan hias Hastoro (60) membagikan pengalamannya merawat sekaligus mengembangbiakkan kedua jenis ikan tersebut, mulai dari teknik dasar pemeliharaan, strategi seleksi kualitas, hingga membaca peluang pasar yang dinamis dan sarat persaingan gaya hidup.

“Kalau sekarang itu molly sih lagi ngetren, apalagi banyak hybrid baru dari Thailand, Vietnam, sampai Filipina, jadi bentuk dan warnanya makin variatif dan naik kelas, tapi sebenarnya baik molly maupun manfish itu relatif mudah kalau kita paham cara merawat air, pola makannya, dan strategi pasarnya, karena percuma bisa ternak kalau enggak bisa jual,” ujar Hastoro saat ditemui Liputan6.com di kediamannya pada Minggu (22/2).

1. Molly Disebut Sedang Tren Berkat Hybrid Baru dari Luar Negeri

Menurut Hastoro, molly saat ini kembali naik daun karena munculnya varian-varian hasil persilangan baru yang memperkaya warna, bentuk sirip, serta karakter tubuhnya sehingga tidak lagi dipandang sekadar ikan hias anak-anak melainkan mulai masuk kelas kontes dan koleksi. Ia menjelaskan bahwa tren ini dipengaruhi pengembangan dari negara seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina yang aktif melakukan inovasi genetika sehingga pasar global ikut terdorong.

Varian seperti zebra, zebra karamel, albino, hingga tipe highfin dengan sirip atas panjang menjadi incaran karena dianggap memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding jenis standar seperti golden, hitam, atau putih yang harganya lebih stabil di kelas umum. Namun ia mengingatkan bahwa tren bisa berubah seiring waktu sehingga pembudidaya harus jeli membaca arah pasar dan tidak hanya terpaku pada satu jenis tanpa strategi lanjutan.

“Dulu molly itu ya cuma golden, black molly, platinum, sekarang karena mereka kreatif bikin silang-silang baru, jadilah produk baru dalam marketing, jadi ikan yang dulu dianggap biasa sekarang bisa jadi ikan kontes, itu karena inovasi dan tren,” jelasnya panjang lebar.

2. Cara Ternak Molly Dinilai Paling Sederhana untuk Pemula

Hastoro menilai molly termasuk ikan paling mudah dibudidayakan karena bersifat livebearer atau melahirkan anak secara langsung sehingga pembudidaya tidak perlu repot mengurus telur seperti pada ikan bertelur. Ia menyebutkan bahwa cukup dengan memasangkan induk jantan dan betina dalam satu wadah, baik akuarium, kolam, bahkan wadah sederhana sekalipun, molly sudah bisa berkembang biak dengan cepat.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya pemisahan anak dari induk menggunakan ganggang, sekat, atau wadah khusus agar anakan tidak dimakan oleh induknya, serta menyarankan metode satu pasang satu tempat untuk menjaga kemurnian garis keturunan dan memudahkan pencatatan hasil persilangan.

“Cara ternaknya sangat mudah, pasangan saja dijadikan satu, bisa pakai botol mineral, kolam, apa saja, tapi kalau mau jaga kualitas biasanya satu pasang satu tempat supaya tahu hasil silangannya apa dan bisa dikembangkan lagi sampai ketemu yang terbaik,” tuturnya.

3. Seleksi Kualitas Molly Menentukan Harga Jual

Dalam praktiknya, tidak semua anakan molly layak jual karena standar pasar menilai kesempurnaan bentuk tubuh, keseimbangan proporsi, hingga ketegakan sirip sebagai faktor utama penentu harga. Hastoro menjelaskan bahwa perbandingan tubuh yang ideal, warna merata, serta sirip highfin yang mekar sempurna menjadi indikator kualitas yang bisa mendongkrak harga jauh di atas rata-rata.

Ia biasa melakukan seleksi saat usia tiga minggu ketika ukuran sudah cukup terlihat untuk membedakan mana yang prospektif dan mana yang sebaiknya dialihkan menjadi ikan pakan predator guna menekan biaya produksi. Strategi ini menurutnya penting agar biaya pakan tidak terbuang untuk ikan yang tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Kalau mau bagus memang harus diseleksi, usia tiga minggu sudah kelihatan mana yang potensial, karena kalau dipelihara semua tanpa seleksi nanti biaya pakan enggak imbang sama harga jualnya,” katanya.

4. Penyakit Jadi Tantangan Utama Budidaya Molly

Walaupun mudah berkembang biak, molly tetap memiliki risiko penyakit seperti kutu jangkar, white spot, hingga infeksi bakteri aeromonas yang kerap muncul akibat kualitas air atau pakan alami dari alam. Hastoro mengungkapkan bahwa kutu jangkar menjadi kasus paling sering ia temui karena parasit tersebut bisa terbawa dari cacing sutra atau pakan alami lain.

Ia menyarankan pencabutan manual pada kasus tertentu serta menjaga stabilitas suhu dan kebersihan air untuk mencegah white spot yang biasanya muncul akibat perubahan suhu ekstrem. Perawatan air yang konsisten menurutnya jauh lebih penting dibanding sekadar mengandalkan obat kimia.

“Yang sering itu kutu jangkar, dia nancap di kulit ikan, kalau enggak dicabut ya lama sembuhnya, makanya pakan dari alam harus hati-hati dan air jangan sampai ekstrem dingin atau panas,” ujarnya.

5. Manfish Dinilai Stabil dan Cocok untuk Pasar Jangka Panjang

Berbeda dengan molly yang fluktuatif mengikuti tren, Hastoro menyebut manfish sebagai ikan “abadi” karena peminatnya relatif stabil dan hampir selalu ada di setiap toko ikan hias sebagai pelengkap akuarium. Ia menjelaskan bahwa manfish sering dipadukan dengan ikan lain seperti koki atau molly karena sifatnya tidak terlalu agresif dan tampilannya elegan.

Varian manfish pun beragam mulai dari black angel, blue pine, three color, hingga kelas premium seperti red devil, orinoco, manakapuru, dan isabel yang sebagian merupakan tangkapan alam atau hasil pengembangan luar negeri. Harga bervariasi dari ribuan rupiah untuk ukuran kecil hingga ratusan ribu rupiah untuk induk berkualitas.

“Manfish itu ikan wajib, pasarnya landai tapi stabil, orang rasanya belum lengkap kalau enggak ada manfish atau koki di akuariumnya,” ungkapnya.

6. Proses Breeding Manfish Lebih Detail Dibanding Molly

Hastoro menjelaskan bahwa manfish berkembang biak dengan cara bertelur sehingga membutuhkan perhatian lebih pada fase penetasan dibanding molly yang langsung melahirkan. Induk jantan dan betina biasanya dipasangkan khusus, kemudian telur bisa diasuh langsung oleh induk jika kualitasnya baik atau dipisahkan untuk diinkubasi agar tidak dimakan.

Ia memaparkan bahwa proses dari bertelur hingga anak berenang memakan waktu sekitar 10 hari, dengan tahap telur menempel, mulai bergerak pada hari keempat, menetas sekitar hari ketujuh, dan berenang bebas sekitar hari kesepuluh sebelum diberi pakan seperti artemia.

“Kalau manfish itu bertelur, jadi harus sabar nunggu prosesnya, sekitar sepuluh hari dari telur sampai renang, dan kadang ada induk yang bagus bisa ngasuh sendiri, tapi kalau enggak ya harus dipisah supaya aman,” jelasnya.

7. Perawatan Air Jadi Kunci Utama Kedua Jenis Ikan

Baik molly maupun manfish, Hastoro menekankan bahwa kunci utama keberhasilan budidaya ada pada manajemen air yang meliputi pH, suhu, dan kesadahan, serta konsistensi dalam penggantian air agar ikan tidak mengalami stres atau “shock air.” Ia menilai banyak kegagalan terjadi karena pengurasan ekstrem atau perubahan lingkungan mendadak yang membuat ikan rentan penyakit.

Ia juga memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai pembersih alami sisa pakan dan lumut agar kualitas air lebih terjaga, sekaligus mengurangi beban filtrasi mekanis yang biayanya lebih tinggi jika menggunakan sistem modern. Pendekatan sederhana namun konsisten menurutnya lebih efektif dibanding teknologi mahal tanpa pemahaman dasar.

“Menyiara ikan itu yang penting merawat air, pH, suhu, dan kesadahan dijaga, jangan dikuras ekstrem, karena kalau air stabil ikan nyaman, kalau ikan nyaman pertumbuhan dan reproduksinya juga bagus,” tegasnya.

Mana yang Lebih Mudah?

Dari sisi teknis pembiakan, molly lebih mudah karena melahirkan langsung dan cepat berkembang biak, namun dari sisi stabilitas pasar, manfish dinilai lebih konsisten dan tidak terlalu terpengaruh tren sesaat sehingga cocok untuk perputaran jangka panjang.

Hastoro menilai pilihan terbaik tergantung tujuan pembudidaya, apakah ingin bermain di volume cepat dengan seleksi ketat seperti molly atau mengincar kestabilan pasar dengan perawatan sedikit lebih detail seperti manfish.

“Semua sebenarnya mudah kalau ilmunya dicari dan pasarnya dibangun, yang susah itu bukan ternaknya tapi menjaga pasar supaya ikan kita terus terserap,” pungkasnya.

5 Pertanyaan Seputar Budidaya Molly dan Manfish

1. Apakah ikan molly cocok untuk pemula?

Ya, karena mudah berkembang biak dan toleran terhadap berbagai kondisi air selama tetap dijaga stabil.

2. Berapa lama manfish menetas hingga bisa berenang?

Sekitar 10 hari dari telur hingga anak mulai berenang bebas.

3. Penyakit apa yang sering menyerang molly?

Kutu jangkar, white spot, dan infeksi bakteri aeromonas.

4. Apakah manfish bisa dicampur dengan ikan lain?

Bisa, selama ukuran tidak terlalu kecil dan kondisi air sesuai.

5. Mana yang lebih cepat menghasilkan keuntungan?

Molly lebih cepat berkembang biak, tetapi manfish cenderung lebih stabil pasarnya.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|