Buktikan Bertani Lebih Cuan dari Kerja Kantoran, Ini Kisah Para Petani Muda dari Yogyakarta

5 hours ago 7

Liputan6.com, Yogyakarta - Noni Suci Aristyani dulu berjanji tidak akan pernah mau menginjakkan kaki ke sawah setelah menikah. Sebagai lulusan sarjana pendidikan, ia memiliki cita-cita untuk menjadi guru atau dosen yang dipandang lebih "bergengsi". Namun, takdir berkata lain ketika suaminya mengajak bertani.

Kini, janji tinggal janji. Noni justru asyik menikmati manisnya bisnis pertanian dengan memanen kemangi hingga 20 kilogram per hari. Bahkan di musim hujan, ia sukses menjual kemangi segar dengan harga melonjak hingga Rp25.000 per kilogram tanpa perlu takut harganya anjlok di tangan pengepul.

Itu bukan satu-satunya kisah sukses pemuda yang telah membuktikan bahwa bisnis pertanian masih menjadi bidang yang menjanjikan untuk meraup cuan. Selain Noni, masih ada lulusan arsitektur dan seorang engineer memutuskan jadi petani. Kisah para pemuda asal Sleman, Yogyakarta ini mematahkan stigma kuno bahwa bertani adalah pekerjaan terpaksa dan tidak menguntungkan. Bagi mereka, dunia agraria adalah ladang bisnis yang sangat menguntungkan, jika dilakukan secara terencana dengan matang.

Bukan Kisah Petani Tradisional

Ini jelas bukan cerita tentang petani tradisional yang sekedar menanam, merawat, dan menunggu masa panen. Mereka ini adalah petani yang melek teknologi sehingga dapat meningkatkan hasil panen serta membentuk pasar sendiri tanpa perlu mengandalkan pengepul. Ahmad Asrori & Noni Suci dari ASR Farm, Muji Purwanto dari Kandang Gadri, serta Dimas Christy Kusumaputra dari Rejo Farm, semuanya telah membuktikan bahwa bidang pertanian dan peternakan masih menjadi peluang bisnis yang menguntungkan untuk anak muda.

Berbekal latar belakang yang mengejutkan, mulai dari ilmu otomotif, arsitektur, hingga teknik, mereka bersepakat bahwa generasi muda harus menjadi aktor utama di sektor pangan nasional. Mereka menerapkan kombinasi kebun dan ternak ramah lingkungan yang tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga menjaga kelestarian alam sekitar.

Dari Pabrik ke Kebun Kemangi

Ahmad Asrori sempat menghabiskan waktu 10 tahun sebagai buruh tetap di pabrik GKBI dengan posisi yang sudah mapan. Namun, kejenuhan terhadap aturan pabrik membuatnya nekat resign dan beralih ke sawah. Bersama Noni, istrinya yang mantan guru, mereka kemudian mendirikan ASR Farm.

Awalnya mereka hanya iseng menanam kemangi di satu bedeng kecil sepanjang 8 meter atas saran tetangga yang berjualan pecel lele. Siapa sangka, kini bisnis tersebut sampai kewalahan memenuhi pesanan pasar. Melalui optimasi digital marketing, kemangi ASR Farm dicari karena jaminan kualitasnya, karena dipanen langsung ketika baru ada pesanan, bahkan jika dipesan mendadak jam 8 malam.

"Selama manusia masih butuh makan, pertanian dan peternakan itu aman. Cobalah bertani. Kalau belum mencoba, enggak akan tahu enaknya," ungkap Noni optimis, ketika berbicara pada reporter Liputan6.com pada Selasa (14/4/2026).

Ternak Ayam dengan Memanfaatkan Limbah

Beralih ke Kandang Gadri, Muji Purwanto membagikan kisah yang tak kalah unik. Lulusan arsitektur sekaligus aktivis lingkungan ini sempat mengalami depresi berat pada tahun 2023. Di tengah kegelisahannya melihat darurat sampah di Yogyakarta, ia menjadikan aktivitas beternak ayam sebagai media pemulihan mentalnya.

Muji sukses memproduksi telur ayam kampung organik berkualitas tinggi tanpa pakan pabrikan. Ia memanfaatkan limbah roti dari Indomaret, sisa bubur ayam, hingga jeroan lele rebus sebagai sumber pakan. Tak hanya itu, Muji menciptakan inovasi viral berupa kemasan telur dari pelepah pisang kering untuk melindungi telur agar tidak pecah saat melewati jalanan rusak.

"Intinya saya bukan mau branding. Saya cuma ingin telurnya tidak pecah," kata Muji pada Senin (27/4/2026), mengenai inovasi ramah lingkungannya yang kini banyak ditiru peternak lain.

Melon Premium yang Belum Ada

Jika mencari visi yang lebih makro, Dimas Christy Kusuma Putra dari Rejo Farm adalah sosoknya. Berangkat dari latar belakang engineering, Dimas melihat waktu senggang di sela-sela proyek sebagai peluang untuk membangun bisnis yang berkelanjutan. Kini, Rejo Farm mengelola sistem integrated farming zero waste yang telah menyerap sekitar 300 tenaga kerja di 5 lokasi berbeda, di mana 70% di antaranya adalah Gen Z.

Tanpa ragu-ragu, Dimas bahkan mengkritik cara berpikir sebagian besar orang yang masih kotak-kotak (fakultatif). Baginya, pertanian modern harus mengadopsi teknologi dan kolaborasi lintas disiplin ilmu, mulai dari teknik utilitas, biologi bakteri, hingga analisis kimia pupuk. Salah satu peluang besar yang tengah dibidiknya adalah pemenuhan pasar melon premium kualitas ekspor yang kontinuitasnya belum mampu dipenuhi produsen lokal.

"Kita ini kaya sejak dalam kandungan. Tapi kita tidak tahu cara mengelola kekayaan itu. Jangan sampai kita hanya jadi penonton di negeri sendiri, padahal kita punya tanah, manusia, dan pasar yang besar," tegas Dimas ketika diwawancarai pada Senin (11/5/2026).

Pertanian modern bukan lagi soal mencangkul di bawah terik matahari dengan pakaian lusuh. Di tangan generasi baru, pertanian adalah industri masa depan yang penuh inovasi, teknologi, dan perputaran ekonomi yang luar biasa. Maka pertanyaannya bukan lagi "apakah bertani masih menjanjikan?", melainkan: sudahkah Anda berani mulai melangkah, atau akan terus nyaman menjadi penonton?

Pertanyaan Seputar Peluang Usaha Pertanian

Q: Mengapa bertani bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi anak muda?

A: Pertanian adalah bisnis yang tidak akan pernah mati karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan. Dengan sentuhan teknologi, inovasi produk, dan strategi digital marketing, anak muda dapat memotong rantai pasok tengkulak dan menentukan harga pasar sendiri yang jauh lebih menguntungkan.

Q: Bagaimana cara memulai bisnis pertanian dari nol tanpa modal besar?

A: Anda bisa memulainya dari skala rumahan melalui konsep urban farming atau memanfaatkan lahan pekarangan mini. Contohlah ASR Farm yang memulai kesuksesannya hanya dari satu bedeng tanaman kemangi, atau Kandang Gadri yang memanfaatkan limbah rumah tangga sekitar untuk menekan biaya pakan ternak.

Q: Apa keuntungan menerapkan sistem kombinasi kebun dan ternak ramah lingkungan?

A: Sistem kombinasi kebun dan ternak ramah lingkungan (integrated farming) menciptakan sirkulasi tanpa limbah (zero waste). Limbah peternakan dapat diolah menjadi pupuk organik untuk kebun, sementara hasil kebun atau limbah organik sekitar bisa diolah kembali menjadi pakan ternak berkualitas tinggi. Hal ini terbukti menekan biaya produksi secara signifikan.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|