Liputan6.com, Jakarta Kehidupan bermasyarakat tidak pernah lepas dari gesekan dan pertentangan antarindividu maupun kelompok. Memahami berbagai contoh konflik sosial menjadi langkah penting agar kita mampu mencegah eskalasi dan membangun lingkungan yang lebih harmonis.
Konflik sosial dapat terjadi dalam skala kecil seperti perselisihan antartetangga, hingga skala besar seperti kerusuhan massal yang melibatkan ribuan orang. Setiap contoh konflik sosial memiliki akar permasalahan berbeda, mulai dari kesenjangan ekonomi, perbedaan budaya, hingga perebutan kekuasaan.
Dilansir dari Encyclopedia MDPI, konflik sosial merujuk pada ketegangan, perselisihan, atau antagonisme antara individu atau kelompok dalam suatu masyarakat yang muncul akibat pertentangan kepentingan, nilai, atau tindakan. Konflik sosial merupakan aspek yang meluas dalam masyarakat manusia dan memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk.
Fenomena ini bersifat universal dan dapat ditemukan di mana saja, baik dalam masyarakat tradisional maupun modern. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang dinamika konflik sosial menjadi bekal berharga bagi setiap individu dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Pengertian Konflik Sosial Menurut Para Ahli
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516959/original/096079300_1782442566-Konflik_Sosial_Antar_Pelajar.jpeg)
Perbesar
Sebelum mendalami berbagai contoh konflik sosial, penting untuk memahami terlebih dahulu definisi konflik sosial dari perspektif keilmuan. Secara umum, konflik sosial muncul ketika dua pihak atau lebih secara sadar saling bertentangan untuk mencapai tujuan yang tidak kompatibel, baik menyangkut sumber daya, status, kekuasaan, maupun kesempatan. Berikut adalah pengertian konflik sosial menurut sejumlah ahli sosiologi:
- Lewis A. Coser — Mengacu pada definisi Coser, konflik merupakan perjuangan atas nilai-nilai atau tuntutan status, kekuasaan, dan sumber daya yang langka, di mana tujuan pihak-pihak yang berkonflik bukan hanya memperoleh hal yang diinginkan, tetapi juga menetralisir atau mengeliminasi lawan.
- Dean G. Pruitt dan Jeffrey Z. Rubin — Pruitt dan Rubin, dikutip dari Beyond Intractability, menyatakan, "Konflik adalah perbedaan kepentingan yang dipersepsikan, atau keyakinan bahwa aspirasi pihak-pihak saat ini tidak dapat tercapai secara bersamaan."
- Karl Marx — Berdasarkan teori konflik sosial Marx, individu dan kelompok dalam masyarakat berinteraksi atas dasar konflik, bukan konsensus. Melalui berbagai bentuk konflik, kelompok yang lebih kuat cenderung menggunakan kekuasaannya untuk mempertahankan dominasi dan mengeksploitasi kelompok yang lebih lemah.
- Max Weber — Weber mencatat bahwa selain stratifikasi ekonomi ala Marx, masyarakat juga terbagi berdasarkan akses terhadap pendidikan, jenis kelamin, dan ras.
- Ralf Dahrendorf — Dahrendorf merupakan sosiolog Jerman yang berargumen bahwa konflik dapat terjadi di antara kelompok mana pun yang memiliki kepentingan berbeda. Ia mengembangkan teori "konflik pluralistik" yang memandang konflik sebagai bagian normal dan sehat dari masyarakat.
- Soerjono Soekanto — Menurut Soekanto, konflik adalah proses sosial di mana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai ancaman atau kekerasan.
Baca juga: Macam-Macam Konflik Lengkap Beserta Penjelasan dan Contohnya
Jenis-Jenis Konflik Sosial dalam Masyarakat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8516960/original/086848100_1782442567-Konflik_Sosial_Antar_Etnis.jpeg)
Perbesar
Mengkaji berbagai tipe konflik sosial memberikan wawasan tentang beragam level dan dimensi di mana pertentangan dapat muncul. Pada tingkat mikro, konflik interpersonal melibatkan perselisihan atau ketegangan antar-individu. Berikut ini klasifikasi jenis konflik sosial yang umum dikenali:
- Konflik Horizontal — Konflik horizontal adalah bentuk konflik yang terjadi di masyarakat baik antarindividu maupun kelompok yang memiliki kedudukan relatif sama atau setara. Contohnya adalah tawuran antarpelajar atau pertikaian antarorganisasi masyarakat. Jenis konflik horizontal ini cukup sering terjadi di Indonesia.
- Konflik Vertikal — Konflik yang melibatkan pihak-pihak dengan kedudukan tidak setara, misalnya antara pemerintah dan rakyat, atau antara atasan dan bawahan. Ketika sistem hukum dan politik dipandang berpihak pada kelompok elit, hal ini dapat memicu kemarahan dan perlawanan dari kelas bawah. Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan oleh elit politik sering menjadi sumber konflik semacam ini.
- Konflik Antarkelas Sosial — Konflik antarkelas sosial didefinisikan sebagai pertentangan antara dua atau lebih kelompok masyarakat dengan status sosial dan ekonomi berbeda, umumnya dipicu oleh ketimpangan akses terhadap sumber daya atau ketidakadilan dalam distribusi kekuasaan. Fenomena ini dapat ditelusuri lebih lanjut pada pembahasan mengenai konflik antarkelas sosial.
- Konflik Antaretnis — Pertentangan yang terjadi antara kelompok-kelompok etnis berbeda, sering kali dipicu oleh stereotip negatif, prasangka, dan persaingan ekonomi antarkelompok.
- Konflik Keagamaan — Konflik agama terjadi antara kelompok-kelompok yang memiliki agama dan keyakinan berbeda. Sebagian besar masyarakat menganggap agama sebagai tuntunan hidup yang harus diikuti secara mutlak, sehingga hal yang berbeda dari agamanya dapat dianggap masalah dan memicu konflik.
- Konflik Subjektif dan Objektif — Sebagaimana dipaparkan Psychology Town, konflik subjektif melibatkan upaya membangun kekhasan kelompok yang bernilai positif, yaitu kompetisi harga diri di tingkat kelompok. Komponen subjektif dari suatu konflik bahkan dapat bertahan lama setelah penyebab struktural aslinya telah terselesaikan.
Contoh Konflik Sosial di Indonesia dan Dunia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4883205/original/070425100_1720092365-nuclear-bomb-apocalyptic-explosion.jpg)
Perbesar
Indonesia sebagai negara multikultural dengan ratusan suku bangsa, bahasa, dan agama, menyimpan potensi konflik yang beragam. Namun, contoh konflik sosial tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga di berbagai belahan dunia. Berikut adalah sejumlah contoh konflik sosial yang signifikan:
Sebagaimana dikutip dari Fiveable, pada abad ke-19 konflik sosial muncul sebagai akibat dari industrialisasi dan urbanisasi yang mendorong meningkatnya tuntutan terhadap hak-hak buruh dan kondisi kerja yang lebih baik. Pola serupa juga terjadi di Indonesia seiring dengan dinamika pembangunan.
- Konflik Sampit (2001) — Konflik Sampit di Kalimantan Tengah melibatkan pertentangan antara etnis Dayak dan Madura. Konflik ini dipicu oleh serangkaian insiden kekerasan yang berkembang menjadi konflik etnis berskala besar. Ribuan orang tewas dan puluhan ribu lainnya mengungsi. Penyebabnya kompleks, melibatkan faktor persaingan ekonomi, perbedaan budaya, dan ketegangan historis antara penduduk asli dan pendatang.
- Konflik Ambon (1999–2002) — Konflik Ambon merupakan salah satu konflik sosial terbesar pasca reformasi Indonesia, melibatkan kelompok masyarakat yang berbeda agama, yaitu Islam dan Kristen. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama.
- Konflik Aceh — Konflik di Aceh merupakan contoh konflik separatis yang berlangsung cukup lama di Indonesia. Penyelesaiannya dicapai melalui perjanjian Helsinki pada tahun 2005 yang membawa perdamaian.
- Konflik di Papua — Konflik di Papua melibatkan aspek politik, ekonomi, dan hak asasi manusia. Akar konflik ini meliputi eksploitasi sumber daya alam, marginalisasi masyarakat adat, dan pelanggaran HAM.
- Gerakan Hak-Hak Sipil Amerika (1960-an) — Gerakan Hak-Hak Sipil pada dekade 1960-an merupakan contoh utama konflik sosial di mana kelompok terpinggirkan menentang rasisme sistemik dan diskriminasi demi mencapai kesetaraan.
- Gerakan Occupy Wall Street — Gerakan Occupy Wall Street memprotes kesenjangan kekayaan yang masif, di mana sebagian besar uang dan kekuasaan dikuasai oleh satu persen populasi.
- Konflik Buruh dan Pengusaha — Praktik ketenagakerjaan yang tidak adil seperti upah rendah, kondisi kerja buruk, atau PHK sepihak kerap memicu konflik antara kelas pekerja dan pemilik modal. Hal ini sering terlihat dalam bentuk demonstrasi buruh atau pemogokan.
- Konflik Agraria — Sengketa lahan antara petani kecil dengan perusahaan besar atau pemerintah merupakan contoh klasik konflik sosial yang berbasis ekonomi.
Berbagai contoh konflik di masyarakat ini menunjukkan bahwa pertentangan sosial dapat muncul dari beragam akar permasalahan. Setiap konflik meninggalkan pelajaran berharga tentang pentingnya dialog dan toleransi, serta risiko disintegrasi bangsa apabila konflik tidak ditangani dengan tepat.
Penyebab Utama Terjadinya Konflik Sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5161725/original/014152500_1741847479-1741841356040_penyebab-kesenjangan-ekonomi.jpg)
Perbesar
Konflik sosial tidak muncul secara tiba-tiba. Ada sejumlah faktor struktural dan situasional yang menjadi pemicunya. Sebagaimana disampaikan ADR Times, beberapa penyebab paling umum konflik sosial meliputi kesenjangan ekonomi, perbedaan budaya, dan dinamika kekuasaan. Kesenjangan ekonomi merupakan salah satu penyebab utama.
Lewis A. Coser, dikutip dari Sage Reference, menyatakan bahwa konflik sering kali mendorong perubahan sosial dan dapat merangsang inovasi.
- Kesenjangan Ekonomi — Ketimpangan ekonomi, terutama kesenjangan kekayaan, pendapatan, dan akses terhadap sumber daya, merupakan pendorong utama konflik sosial. Ketimpangan ini menciptakan jurang antarkelas sosial dan memperparah ketegangan di kalangan kelompok terpinggirkan. Fenomena ini menjadi salah satu penyebab terjadinya konflik sosial yang paling sering ditemui.
- Perbedaan Budaya dan Nilai — Perbedaan budaya dan nilai-nilai sering memicu konflik, terutama dalam masyarakat multikultural yang memiliki latar belakang beragam. Sikap etnosentrisme, yaitu memandang budaya sendiri lebih unggul, dapat memperkeruh situasi dan menimbulkan perpecahan.
- Perbedaan Kepentingan — Setiap individu atau kelompok memiliki tujuan, kebutuhan, dan prioritas masing-masing yang terkadang bertentangan dengan pihak lain. Ketika kepentingan-kepentingan ini berbenturan tanpa upaya mencari solusi saling menguntungkan, konflik pun tak terhindarkan. Memahami latar belakang penyebab konflik menjadi kunci penanganannya.
- Dinamika Kekuasaan — Dalam kerangka teori konflik, pertanyaan sentralnya selalu tentang siapa yang mendapatkan apa. Teori ini menyoroti bagaimana kelompok dominan mempertahankan kekuasaan dan hak istimewa dengan mengendalikan institusi ekonomi, politik, dan budaya.
- Perubahan Sosial yang Cepat — Perubahan sosial yang berlangsung cepat atau mendadak dapat memicu terjadinya konflik sosial karena ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapinya. Modernisasi, migrasi, dan faktor penyebab konflik lainnya turut berkontribusi.
- Penyebaran Informasi yang Provokatif — Penyebaran informasi yang tidak akurat melalui media sosial dan platform digital dapat memperparah konflik sosial yang ada. Fenomena echo chamber dan polarisasi opini berkontribusi pada meningkatnya ketegangan antarkelompok.
- Penyebab Struktural dan Pemicu Langsung — Merujuk Urban Studies Institute, penyebab proksimal adalah faktor-faktor menengah yang membawa konflik laten ke permukaan. Ini dapat mencakup lonjakan pengangguran, mobilisasi kelompok etnis atau agama oleh aktor politik, atau persaingan atas sumber daya tertentu.
Baca juga: Penyebab Konflik dalam Masyarakat Beragam
Strategi Efektif Menyelesaikan Konflik Sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3378218/original/018770700_1613464512-pexels-rfstudio-3810760.jpg)
Perbesar
Konflik sosial memiliki biaya sekaligus manfaat. Fungsi positif dari konflik antara lain mendorong perubahan sosial, merekonsiliasi kepentingan masyarakat, dan pada akhirnya memperkuat persatuan kelompok. Namun, ketika strategi konfrontatif menyebabkan eskalasi, konflik dapat menjadi destruktif. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan penyelesaian yang tepat.
Seperti yang diberitakan Ture Nelson, dengan mengadopsi beragam strategi seperti mediasi, negosiasi, keadilan restoratif, dan dialog inklusif, komunitas dapat mengubah konflik menjadi peluang untuk pertumbuhan dan persatuan. Berikut beberapa strategi penyelesaian konflik sosial yang efektif:
- Negosiasi — Pihak-pihak yang berkonflik berkomunikasi langsung untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima bersama. Proses ini membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik, empati, dan kesediaan untuk berkompromi, dengan tujuan menemukan solusi yang memuaskan semua pihak.
- Mediasi — Melibatkan pihak ketiga sebagai fasilitator komunikasi antara pihak-pihak yang bertikai. Mediator bersifat netral dan tidak memiliki wewenang memutuskan, melainkan membantu kedua belah pihak menemukan titik temu.
- Penetapan Tujuan Bersama (Superordinate Goals) — Ketika dua pihak ditempatkan dalam situasi yang mengharuskan kerja sama, rasa permusuhan secara bertahap dapat berkurang. Eksperimen klasik Sherif menunjukkan bahwa kelompok yang semula berseteru mulai membangun saling pengertian setelah ditempatkan dalam konteks yang menuntut kerja sama.
- Keadilan Restoratif — Pendekatan ini melibatkan pertemuan antara pihak yang dirugikan dan pihak yang bertanggung jawab, memfasilitasi dialog, serta menyusun rencana restitusi dan rehabilitasi.
- Pendidikan Multikultural — Pendidikan multikultural, promosi toleransi, dan keadilan sosial menjadi bagian dari upaya pencegahan konflik. Memahami tujuan toleransi membantu masyarakat mengelola perbedaan secara konstruktif.
- Intervensi Struktural — Pengurangan ketimpangan struktural dapat mengubah kondisi sosial yang memicu respons kekerasan. Adopsi metode nir-kekerasan dan pola interaksi sosiopolitik yang kolaboratif diperlukan agar nilai-nilai yang berbeda dapat hidup berdampingan. Upaya resolusi diarahkan untuk mengatasi akar penyebab konflik, bukan sekadar perubahan sikap.
- Pemberdayaan Ekonomi — Pemberdayaan ekonomi lintas komunitas terbukti efektif. Salah satu contoh keberhasilan dapat dilihat dari program kerja sama ekonomi antarkomunitas Muslim dan Kristen di Maluku pascakonflik, yang berkontribusi pada pemulihan hubungan sosial.
Riset dalam psikologi sosial secara konsisten menunjukkan bahwa pengurangan konflik antarkelompok membutuhkan intervensi struktural dan upaya mengubah persepsi, seperti mengurangi bias, meningkatkan pengetahuan tentang kelompok lain, serta membangun kemampuan memahami sudut pandang pihak lain. Masyarakat yang menghargai keragaman budaya memiliki fondasi lebih kuat untuk mencegah konflik.
Baca juga: Faktor Penyebab Konflik Sosial dan Akibatnya bagi Masyarakat
Pertanyaan Seputar Contoh Konflik Sosial
Apa saja contoh konflik sosial yang sering terjadi di Indonesia?
Contoh konflik sosial yang pernah terjadi di Indonesia antara lain Konflik Sampit antara etnis Dayak dan Madura, Konflik Ambon yang melibatkan kelompok beragama berbeda, serta Konflik Aceh yang merupakan konflik separatis. Selain itu, konflik berbasis perbedaan budaya dan agama juga kerap muncul di berbagai daerah, termasuk demonstrasi buruh dan sengketa agraria yang mencerminkan ketimpangan sosial ekonomi.
Apa penyebab utama konflik sosial dalam masyarakat?
Penyebab utama konflik sosial meliputi kesenjangan ekonomi, perbedaan budaya dan nilai, perbedaan kepentingan antarindividu atau kelompok, serta dinamika kekuasaan yang tidak seimbang. Perubahan sosial yang berlangsung terlalu cepat dan penyebaran informasi provokatif di media sosial juga turut memperparah potensi konflik dalam masyarakat modern.
Bagaimana cara menyelesaikan konflik sosial secara efektif?
Konflik sosial dapat diselesaikan melalui berbagai pendekatan, mulai dari negosiasi langsung antarpihak, mediasi oleh pihak ketiga yang netral, hingga dialog inklusif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Pendidikan multikultural, pemberdayaan ekonomi, dan intervensi struktural untuk mengurangi ketimpangan juga menjadi strategi jangka panjang yang efektif dalam mencegah terulangnya konflik.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

4 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8518926/original/093478700_1782445561-b5d26a3b-3b6c-4513-95b2-8d1576e2931c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474359/original/016855500_1782384069-lANKo2zd0QWYcQtfx3ff2nkLu526SwT5ZSUo9Bnb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3399809/original/087470500_1615541216-20210312-Penjual_Piringan_Hitam__CD_dan_Kaset_Pita_Bertahan_di_Era_Digital_dan_Pandemi-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8396179/original/075553500_1782277238-UnHrUKYufpztHLzWzvnEQ3cgredXKGGx63Qtrzl7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8472948/original/045750900_1782381642-EwnYjUniEmuRxQSJ0RkKfLOyxdiKXDrLbywCyFAz.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516263/original/008062300_1782441709-xphhsTs2xR3mROTvzeAhH6cr6hnDZZC4iMzHkzDN.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516176/original/091697900_1782441641-QpRferzuxI9Jr9Wky825lFcvLMEU4l5OKgOSKAF3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474340/original/030142600_1782384055-40lO2Zvz5ise0HAdmqFmuGvyk2wjtHrrJVZaBMhx.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263018/original/062015000_1781856638-dSY6HkzvbNwvdN1ITfQym1eBCHK19empj6SsZOBf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474343/original/050618800_1782384056-BUq9vCu4MiTga8Jtqhmy6uWerpOhGPW2JuEsbE0y.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474328/original/090650000_1782384044-hePXNt7KCRTCKaUHFcFDo4In7dsiTUBlGC2m2vqu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3255027/original/046915200_1601539420-photo-1574607383363-5b5f1747b37b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3510191/original/080776800_1626239245-thought-catalog-IjpqsMP6RzY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474330/original/013538800_1782384046-HtopnNcjMCgs6LvyMwBEEq62it8m4Dm1Z060rgNY.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8396228/original/005383800_1782277281-wxQ5FNrIFysJbgusgS6L4p50XMccTWo921gePn3t.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8396218/original/059992400_1782277260-rqN9Ufhj9MRWf37AHEkfgY8ICHFV1k2NMVzHWUa2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474355/original/046084700_1782384061-BhDNYw7rvpJoamxfP3aqnk8OmNTcFsWo5w0vQORV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5056854/original/023892900_1734564685-KIM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474318/original/030628400_1782384034-arBqcXAl4S06GV2iP1BncAeqifHEkt2QLfz1C2K5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8474326/original/045696200_1782384042-yvoZUgKcG0BtkE8Rwykbw192j8P6MJaLgtIZ4Uz9.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4415431/original/078901700_1683198942-20230504AA_SEA_Games_2023_Timnas_Indonesia_Vs_Myanmar-21.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514118/original/045495100_1772081240-kandang_Ayam_Rooftop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465586/original/014027200_1767771314-Bebek_Petelur.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4174719/original/068939000_1664411162-42.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527338/original/066171500_1773200879-__________________________________1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525042/original/051351000_1773029160-cropped-2a244f90-7934-47c9-a587-b33c1a79edbd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5146073/original/099969400_1740749107-20250228-Mantau_Hilal-MER_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5315665/original/049375700_1755165938-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__2_of_75_.jpg)