Jadwal 1 Syawal Muhammadiyah Lengkap dengan Penjelasan Metodenya

15 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Hari Raya Idulfitri atau 1 Syawal merupakan momen yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, menandai berakhirnya ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan. Momen ini menjadi simbol kemenangan setelah menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan puasa, serta memperbanyak ibadah dan amal kebaikan. Penetapan awal bulan Hijriah, termasuk 1 Syawal, sangat krusial karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah penting seperti puasa Ramadan, Idulfitri, dan Idul Adha.

Di Indonesia, Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang paling awal menetapkan tanggal Lebaran. Penetapan ini menjadi acuan penting bagi jutaan warga Muhammadiyah di seluruh penjuru tanah air dalam mempersiapkan ibadah salat Id dan rangkaian perayaan hari kemenangan. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memegang peran vital dalam memberikan kepastian penanggalan bagi jutaan warga dan simpatisannya, memastikan umat Islam memiliki persiapan yang matang dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.

Untuk tahun 2026, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah. Penetapan ini didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang telah lama menjadi pedoman organisasi, kini diperkuat dengan adopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Metode ini mengandalkan perhitungan astronomis yang sangat akurat untuk menentukan posisi bulan secara matematis, tanpa memerlukan pengamatan langsung. Lantas kapan jadwal 1 Syawal Muhammadiyah di Indonesia lengkap dengan penjelasan metodenya? Melansir dari berbagai sumber, Kamis (19/3), simak ulasan informasinya berikut ini.

Pentingnya Idulfitri dan Peran Muhammadiyah dalam Penetapan Awal Bulan Hijriah

Idulfitri adalah puncak dari ibadah puasa Ramadan, sebuah perayaan yang melambangkan kemenangan spiritual umat Islam setelah sebulan penuh berjuang menahan hawa nafsu dan meningkatkan ketakwaan. Hari raya ini bukan hanya sekadar perayaan, melainkan juga refleksi atas kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan dalam menjalankan perintah agama.

Penentuan awal bulan Hijriah memiliki urgensi tinggi karena secara langsung memengaruhi jadwal pelaksanaan berbagai ibadah, termasuk awal puasa Ramadan, Hari Raya Idulfitri, dan Hari Raya Idul Adha. Ketepatan dalam penentuan tanggal menjadi kunci agar seluruh umat dapat melaksanakan ibadah secara serentak dan sesuai dengan syariat.

Muhammadiyah telah lama menjadi pelopor dalam penetapan awal Lebaran di Indonesia, memberikan kepastian penanggalan bagi jutaan warganya. Melalui maklumat resmi, PP Muhammadiyah memastikan bahwa seluruh anggota dan simpatisannya memiliki pedoman yang jelas untuk mempersiapkan dan merayakan hari kemenangan.

Metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal: Fondasi Penanggalan Muhammadiyah

Dalam menentukan awal bulan Hijriah, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Metode ini secara sederhana didasarkan pada dua prinsip utama: ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam (ijtimak qoblal qurub), dan bulan terbenam setelah matahari terbenam. Apabila kedua syarat ini terpenuhi, maka pada petang hari itu dinyatakan sebagai awal bulan Hijriah, tanpa mempertimbangkan berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam.

Muhammadiyah telah berperan aktif dan kreatif dalam mengembangkan ilmu hisab di Indonesia, bahkan dapat dikatakan sebagai pelopor penggunaan hisab untuk penentuan bulan kamariah yang terkait dengan ibadah. Ide hisab hakiki wujudul hilal ini dicetuskan oleh pakar falak Muhammadiyah, Wardan Diponingrat, sebagai respons terhadap ketidakpuasan terhadap model penentuan awal bulan kamariah konvensional.

Metode ini mengacu pada gerak faktual Bulan di langit, sehingga bermula dan berakhirnya bulan kamariah berdasarkan pada kedudukan atau perjalanan Bulan sebagai benda langit tersebut, inilah yang dinamakan dengan hisab hakiki. Sistem wujudul hilal ini masih tetap dipertahankan dan dikukuhkan kembali dalam Munas Tarjih ke-26 di Padang pada tahun 2003/1424 Hijriah.

Sebagai gerakan tajdid (pembaharuan), Muhammadiyah terus melakukan penyempurnaan terhadap sistem penentuan awal bulan Hijriah melalui berbagai kajian, diskusi, seminar, dan penelitian. Hal ini menunjukkan komitmen organisasi dalam memberikan kepastian dan akurasi dalam penanggalan Islam.

Kriteria Wujudul Hilal dan Inovasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

Menurut kriteria wujudul hilal, bulan kamariah baru dimulai apabila pada hari ke-29 di bulan Hijriah yang sedang berjalan, pada saat matahari terbenam terpenuhi tiga syarat secara kumulatif. Ketiga syarat tersebut adalah: 

(1) telah terjadi ijtimak, 

(2) ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, dan 

(3) pada saat matahari terbenam Bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk. 

Apabila salah satu dari kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka bulan berjalan digenapkan tiga puluh hari dan bulan baru dimulai lusa hari. Keunggulan metode wujudul hilal adalah kemampuannya memberikan kepastian yang tinggi karena dapat ditentukan jauh hari sebelumnya, serta tidak terpengaruh oleh faktor cuaca atau kondisi geografis. Ini memungkinkan perencanaan ibadah dan kegiatan sosial dapat dilakukan dengan lebih teratur.

Muhammadiyah kini menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) untuk menentukan awal bulan Hijriah. KHGT merupakan sistem kalender Islam yang dirancang dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia, bertujuan agar kalender Islam dapat disusun secara sistematis dan lebih mudah diprediksi. Majelis Tarjih dan Tajdid pada Musyawarah Nasional tanggal 13 s.d. 15 Syakban 1445 H atau 23 s.d. 25 Februari 2024 M di Pekalongan telah menyepakati dan memutuskan penerimaan serta penggunaan KHGT.

Melalui sistem KHGT, Muhammadiyah menetapkan kriteria global yang mewujudkan penyatuan awal bulan Hijriah di seluruh dunia berdasarkan parameter astronomis yang terpenuhi di kawasan mana pun. Prinsip utama KHGT adalah satu hari satu tanggal di seluruh dunia, artinya ketika awal bulan sudah ditetapkan di satu wilayah berdasarkan kriteria tertentu, maka seluruh dunia mengikuti tanggal yang sama tanpa pembagian zona waktu. Bulan baru dimulai apabila di suatu tempat di dunia sebelum pukul 24.00 UTC telah terpenuhi kriteria elongasi 8 derajat dan tinggi hilal 5 derajat saat matahari terbenam.

Proses dan Maklumat Resmi Penetapan 1 Syawal Muhammadiyah 1447 H

Penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah oleh Muhammadiyah didasarkan pada hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Para ahli falak dalam organisasi tersebut bekerja keras melakukan perhitungan matematis yang sangat teliti untuk memastikan akurasi penanggalan. Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah juga membeberkan proses penetapan awal bulan Syawal merujuk pada Keputusan Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah tentang Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Keputusan penetapan 1 Syawal oleh Muhammadiyah secara resmi tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Maklumat ini disampaikan agar menjadi panduan yang jelas bagi warga Muhammadiyah dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Dengan dirilisnya maklumat ini, warga Muhammadiyah di seluruh dunia memiliki pedoman yang pasti untuk melaksanakan ibadah.

Salah satu keunggulan metode hisab yang digunakan Muhammadiyah adalah kemampuannya untuk menetapkan Lebaran jauh lebih awal. Seluruh proses perhitungannya dilakukan secara matematis dan astronomis tanpa harus menunggu hasil pengamatan hilal. Hal ini memberikan ketenangan bagi warga yang ingin mengatur jadwal cuti atau memesan tiket transportasi umum lebih awal, karena jadwal ibadah dan hari raya sudah dapat diketahui jauh sebelum Ramadan berlangsung.

Jadwal Resmi 1 Syawal Muhammadiyah 1447 H/2026 M

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah secara resmi menetapkan bahwa Hari Raya Idulfitri atau 1 Syawal 1447 Hijriah akan jatuh pada hari Jumat Legi, 20 Maret 2026 Masehi. Keputusan penting ini tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.

Penetapan ini didukung oleh data astronomis yang cermat. Ijtimak (konjungsi) jelang Syawal 1447 H terjadi pada hari Kamis Kliwon, 30 Ramadan 1447 H, bertepatan dengan 19 Maret 2026 M, pukul 01:23:28 UTC. Pada saat matahari terbenam di hari ijtimak tersebut, sebelum pukul 24.00 UTC, terdapat wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi bulan lebih dari 8 derajat.

Lokasi pertama yang memenuhi parameter tersebut berada di koordinat 64° 59' 57.47" LU, 42° 3' 3.47" BT, di mana matahari terbenam lokal pukul 18:12:15 (UTC+3) atau 15:24:03 UTC dengan ketinggian bulan mencapai 6,49 derajat dan elongasi 8 derajat. Parameter KHGT juga terpenuhi di wilayah Makkah, Arab Saudi, dengan tinggi bulan tercatat +06° 09' 09" dan elongasi 08° 05' 24" saat matahari terbenam. Berdasarkan data hisab untuk tahun 2026, pada hari Kamis, 19 Maret 2026, ketiga kriteria wujudul hilal telah terpenuhi di seluruh wilayah Indonesia.

Potensi Perbedaan dan Sikap Toleransi Muhammadiyah

Penetapan tanggal 1 Syawal di Indonesia seringkali berpotensi berbeda antara pemerintah dan organisasi Islam seperti Muhammadiyah. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menggunakan metode kombinasi antara hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung hilal atau bulan sabit muda) dalam menentukan awal bulan Hijriah. Pemerintah kini konsisten menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) biasanya mengikuti keputusan pemerintah yang ditetapkan melalui sidang isbat, karena NU menggunakan metode rukyatul hilal yang dipadukan dengan hisab sebagai alat bantu perhitungan. Perbedaan ini terjadi karena metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah tidak selalu sama.

Pada tahun 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Idulfitri kemungkinan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Hal ini disebabkan posisi hilal pada saat matahari terbenam 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria MABIMS. Pemerintah melalui sidang isbat yang akan digelar pada 19 Maret 2026, kemungkinan besar akan menetapkan 1 Syawal pada 21 Maret 2026 jika hilal belum memenuhi kriteria visibilitas.

Potensi perbedaan awal Syawal akan tetap ada selama kedua pendekatan (hisab Muhammadiyah dan rukyatul hilal pemerintah/NU) dipertahankan sebagai prinsip dasar, terutama ketika posisi hilal berada di area "kritis" (dekat ufuk). Menyadari adanya potensi perbedaan dengan penetapan pemerintah, PP Muhammadiyah senantiasa menekankan pentingnya sikap toleransi dan ihsan.

Muhammadiyah menegaskan bahwa perbedaan penentuan hari raya adalah persoalan ijtihad (penafsiran hukum) yang lumrah dalam khazanah Islam. Warga Muhammadiyah diajak untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan tidak menjadikan perbedaan tanggal sebagai penghalang silaturahmi dengan saudara sesama muslim. Para ulama menekankan bahwa perbedaan tersebut sebaiknya disikapi dengan sikap saling menghormati, karena bagi Muhammadiyah, perbedaan ini adalah persoalan teknis, bukan perbedaan prinsip keimanan.

Muhammadiyah melihat langkah penggunaan KHGT sebagai bagian dari ikhtiar menuntaskan kebutuhan peradaban Islam yang telah lama belum terwujud, yakni hadirnya kalender Hijriah yang benar-benar unifikatif. Penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal merupakan langkah penting untuk mewujudkan penyatuan kalender Islam di seluruh dunia, sebagai komitmen umat Islam untuk memiliki sistem penanggalan yang seragam.

Pertanyaan & Jawaban Seputar Jadwal 1 Syawal Muhammadiyah di Indonesia

1. Apa metode penentuan 1 Syawal oleh Muhammadiyah?

Jawaban: Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yang berdasarkan pada ijtimak (konjungsi) sebelum matahari terbenam dan bulan terbenam setelah matahari terbenam. Metode ini kini diperkuat dengan adopsi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

2. Kapan 1 Syawal 1447 H ditetapkan oleh Muhammadiyah?

Jawaban: Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa Hari Raya Idulfitri atau 1 Syawal 1447 H akan jatuh pada hari Jumat Legi, 20 Maret 2026 Masehi.

3. Apa itu Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan Muhammadiyah?

Jawaban: KHGT adalah sistem kalender Islam yang dirancang dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia, agar kalender Islam dapat disusun secara sistematis dan lebih mudah diprediksi berdasarkan parameter astronomis global.

4. Apakah ada potensi perbedaan penetapan 1 Syawal antara Muhammadiyah dan pemerintah?

Jawaban: Ya, ada potensi perbedaan karena Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wujudul hilal dan KHGT, sementara pemerintah menggunakan kombinasi hisab dan rukyat dengan kriteria MABIMS.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|