:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/994625/original/005148900_1442691401-Penurunan_Bendera_Hotel_Yamato.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta Dalam catatan sejarah bangsa, negara yang paling lama menjajah Indonesia adalah Belanda, dengan rentang waktu penguasaan yang membentang dari awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20. Kolonialis Belanda telah menjajah Indonesia selama sekitar 3,5 abad atau 350 tahun hingga kemerdekaan pada 1945.
Perjalanan panjang penjajahan di Nusantara tidak hanya melibatkan satu bangsa asing saja. Indonesia, sebuah kepulauan luas dengan warisan budaya yang kaya, telah menanggung berabad-abad dominasi asing sebelum akhirnya meraih kemerdekaan pada 1945, di mana lima kekuatan kolonial utama meninggalkan jejak pada bangsa ini.
Memahami bahwa negara yang paling lama menjajah Indonesia adalah Belanda menjadi penting bagi generasi masa kini untuk menghargai perjuangan para pahlawan. Berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia menandai puncak dari berabad-abad perlawanan, perjuangan dan pengorbanan oleh rakyat Indonesia, serta mengakhiri salah satu periode kolonial terpanjang dalam sejarah.
Dilansir dari Britannica, antara tahun 1870 dan 1910, Belanda secara efektif menyelesaikan proses mengubah Hindia Timur menjadi sebuah ketergantungan kolonial yang bersatu, bahkan meletakkan fondasi bagi republik Indonesia di masa depan. Proses penjajahan yang bertahap ini menjadikan Belanda sebagai kekuatan asing paling dominan dan paling lama bercokol di Nusantara.
Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber.
Pengertian Kolonialisme dan Awal Mula Penjajahan di Nusantara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2992769/original/044494600_1576039407-japans_army_arsip_nasional.jpg)
Perbesar
Kolonialisme merupakan suatu sistem di mana sebuah negara menguasai wilayah dan sumber daya negara lain dengan tujuan utama eksploitasi ekonomi. Kolonisasi, sebuah praktik historis dalam membangun kendali atas wilayah asing, didorong utamanya oleh motivasi ekonomi dan politik, di mana koloni dipandang sebagai gudang harta karun sumber daya alam, mulai dari emas, perak, rempah-rempah, kayu, hingga kemudian karet dan minyak. Koloni juga menyediakan pasar terikat bagi barang manufaktur dan menawarkan sumber tenaga kerja murah yang sering dieksploitasi untuk perkebunan dan pertambangan.
Mengacu pada Britannica, "imperialisme baru" pada akhir abad ke-19 merupakan bagian dari gerakan global di mana negara-negara industri Eropa Barat membagi di antara mereka wilayah-wilayah dunia yang belum berkembang, termasuk di Afrika, Pasifik Selatan, Burma, Indochina, Malaya, serta Indonesia. Dalam konteks Nusantara, bangsa Eropa seperti Portugis tiba di Indonesia sejak abad ke-16 dengan tujuan memonopoli rempah-rempah seperti pala, cengkeh, dan lada di Maluku.
Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia dilatarbelakangi oleh semboyan Gold, Glory, Gospel. Mereka mengincar kekayaan dari perdagangan rempah-rempah, mencari kejayaan melalui penguasaan wilayah jajahan, serta menyebarkan agama Kristen. Praktik kolonialisme Belanda di Nusantara akhirnya dimulai ketika Cornelis de Houtman menjadi pelopor dan tonggak berdirinya permukiman Belanda di kepulauan ini.
Baca juga: Tujuan Kedatangan Bangsa Eropa ke Indonesia: Eksplorasi Sejarah dan Dampaknya
Negara yang Paling Lama Menjajah Indonesia Adalah Belanda: Kronologi Lengkapnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4690014/original/093682500_1702883882-27518502_7330697.jpg)
Perbesar
Belanda memiliki sejumlah bentuk pengaruh terhadap Indonesia sejak 1602 hingga 1949. Penguasaan yang berlangsung selama sekitar 347 tahun ini menjadikan Belanda sebagai negara yang paling lama menjajah Indonesia. Berikut kronologi lengkap penjajahan Belanda di Nusantara yang tercatat dalam sejarah:
-
Kedatangan Pertama dan Pendirian VOC (1596–1602) — Ekspedisi Belanda pertama ke Indonesia terjadi pada 1595 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Pada 1598, sebanyak 22 kapal dari 5 perusahaan besar Belanda berlayar ke Nusantara, dan armada yang dipimpin Jacob van Neck tiba di Kepulauan Maluku pada Maret 1599. Kapal-kapal tersebut kembali ke Belanda membawa banyak rempah-rempah dengan keuntungan mencapai lebih dari 400 persen.
-
Era VOC (1602–1799) — Pada 1602, parlemen Belanda memberikan VOC monopoli atas perdagangan dan aktivitas kolonial di kawasan ini, dan pada 1619 VOC menaklukkan kota Jayakarta di Jawa Barat lalu mendirikan kota Batavia. Belanda mengikuti aspirasi Portugis tetapi membawa organisasi, persenjataan, kapal, dan dukungan finansial yang lebih baik, sehingga berhasil membangun pijakan permanen di Jawa yang tumbuh menjadi salah satu imperium kolonial terkaya di dunia.
-
Peralihan ke Pemerintah Belanda (1800–1830) — Selama lebih dari tiga ratus tahun, Belanda menjalankan pengaruh kolonial atas Indonesia; pemerintah Belanda secara resmi menyerap kepemilikan dan klaim territorial VOC pada tahun 1800, menerapkan kendali kolonial penuh.
-
Sistem Tanam Paksa (1830–1870) — Pada 1830, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch ditunjuk untuk membuat Hindia Belanda membayar jalan mereka melalui eksploitasi sumber daya, dengan menerapkan kebijakan pertanian paksa yang dikendalikan pemerintah.
-
Zaman Liberal dan Ekspansi (1870–1910) — Meskipun Belanda telah membangun kontrol efektif atas Jawa sejak pertengahan abad ke-18 dan secara bertahap memperluas wilayah asli mereka di Sumatra, kendali atas sisa Nusantara masih tidak merata dan tidak lengkap, dilaksanakan melalui perjanjian dengan penguasa lokal.
-
Politik Etis hingga Berakhirnya Penjajahan (1901–1942) — Baru pada awal abad ke-20, tiga abad setelah pos perdagangan Belanda pertama, seluruh wilayah kolonial secara penuh ditetapkan dan pemerintahan kolonial langsung dijalankan di seluruh perbatasan negara Indonesia modern. Penjajahan Belanda baru berakhir ketika Jepang menduduki Indonesia pada Maret 1942.
Baca juga: Tujuan Belanda Datang ke Indonesia: Sejarah, Motif, dan Dampaknya
Daftar Lengkap Negara yang Pernah Menjajah Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/994140/original/013790200_1442617728-Hotel_Yamato_Surabaya.jpg)
Perbesar
Selain Belanda sebagai negara yang paling lama menjajah Indonesia, terdapat beberapa bangsa asing lain yang juga berupaya menguasai wilayah Nusantara. Bagian-bagian dari kepulauan Indonesia dijajah oleh Portugis, Belanda, Jerman, dan Inggris. Berikut daftar lengkap negara-negara penjajah beserta periode penguasaannya:
-
Portugis (1509–1595) — Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kaki di Nusantara. Bangsa Eropa seperti Portugis tiba di Indonesia sejak abad ke-16 dengan tujuan memonopoli rempah-rempah seperti pala, cengkeh, dan lada di Maluku. Kekuasaan mereka berakhir setelah perlawanan Sultan Baabullah dari Ternate.
-
Spanyol (1521–1529) — Mengikuti jejak Portugis, Spanyol tiba di Maluku untuk mencari rempah-rempah berharga yang sama; persaingan mereka dengan Portugis kerap memicu konflik, dan pengaruh kolonial Spanyol di Indonesia secara umum dikalahkan oleh Portugis dan kekuatan-kekuatan berikutnya. Persaingan ini berakhir melalui Perjanjian Saragosa pada 1529.
-
Belanda (1602–1942) — Di bawah naungan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC), Belanda secara bertahap menjadi kekuatan Eropa dominan di Indonesia; VOC yang didirikan pada 1602 adalah perusahaan dagang kuat yang akhirnya bertransformasi menjadi imperium kolonial, menaklukkan wilayah-wilayah kunci termasuk Jawa, Sumatra, dan Maluku, dengan periode kolonial yang berlangsung lebih dari tiga abad.
-
Prancis (1806–1811) — Hindia Timur diperlakukan sebagai koloni proksi Prancis pada 1806, kemudian kendali beralih ke Inggris pada 1811. Peninggalan penting masa ini adalah pembangunan Jalan Raya Pos (Grote Postweg) dari Anyer ke Panarukan oleh Gubernur Jenderal Daendels.
-
Inggris (1811–1816) — Pada 1811, pasukan Inggris menduduki beberapa pelabuhan Hindia Belanda dan Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Letnan Gubernur; setelah kekalahan Napoleon di Waterloo pada 1815, kendali Belanda dipulihkan kembali pada 1816. Raffles dikenal karena memperkenalkan sistem sewa tanah dan menemukan kembali Candi Borobudur.
-
Jepang (1942–1945) — Selama penguasaan singkat Jepang atas Indonesia, ratusan ribu pria Indonesia dipaksa bekerja dan dikirim ke berbagai penjuru kekaisaran Jepang; perempuan dan gadis muda dipaksa menjadi budak seks oleh tentara pendudukan; sementara diperkirakan empat juta orang Indonesia meninggal di bawah kekuasaan Jepang.
Baca juga: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Adalah Hasil Perjuangan Bangsa Indonesia
Dampak Penjajahan Belanda terhadap Kehidupan Bangsa Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4125814/original/005311600_1660641668-Pertunjukan_Sosiodrama_____Reenactor_Bangor___-FANANI_6.jpg)
Perbesar
Sebagai negara yang paling lama menjajah Indonesia, Belanda meninggalkan jejak mendalam di berbagai aspek kehidupan bangsa. Untuk lebih baik atau lebih buruk, batas-batas modern Indonesia merupakan hasil dari pemerintahan Belanda, dan luka-luka kolonialisme bergema di seluruh kepulauan, termasuk dalam kodifikasi hukum Indonesia. Sistem ekonomi kolonial dibangun di atas fondasi eksploitasi yang sangat merugikan rakyat pribumi.
Salah satu kebijakan paling menyengsarakan adalah sistem tanam paksa (Cultuurstelsel) yang diterapkan sejak 1830. Di bawah kebijakan ini, petani Indonesia dipaksa menyerahkan sebagian tanah dan tenaga kerja mereka untuk menanam tanaman komoditas ekspor seperti kopi, gula, dan nila secara eksklusif bagi ekspor Belanda; secara teori mereka dijanjikan upah kecil, tetapi dalam praktiknya mereka hampir tidak menerima apa-apa, sehingga mengakibatkan kemiskinan meluas dan kelaparan. Perang-perang kolonial di Hindia Belanda menimbulkan korban besar pada populasi Indonesia, dengan perkiraan berkisar dari ratusan ribu hingga 4 juta jiwa meninggal, termasuk korban perang langsung dan korban tidak langsung akibat kelaparan serta penyakit.
Namun, di sisi lain, Conrad Theodor van Deventer, dikutip dari Britannica, berargumen bahwa Belanda telah menguras kekayaan dari Hindia Timur dan karenanya menanggung sebuah "Hutang Kehormatan" (Een Eereschuld) melalui publikasinya di majalah De Gids pada 1899 menjadi landasan moral lahirnya Politik Etis. Kebijakan ini secara resmi diumumkan oleh Ratu Wilhelmina pada pidato parlemen 1901 melalui program Trias Van Deventer. Eksploitasi sumber daya, pemaksaan budaya asing, dan penekanan otoritas lokal berdampak signifikan terhadap perkembangan bangsa, namun perjuangan melawan kolonialisme juga menumbuhkan rasa kuat akan identitas nasional dan persatuan yang akhirnya melahirkan Republik Indonesia.
Baca juga: 4 Tujuan Tanam Paksa dan Dampaknya bagi Indonesia
Mitos 350 Tahun Penjajahan Belanda dan Fakta Sejarahnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4416879/original/023622900_1683290325-Permulaan1_zoom.jpg)
Perbesar
Salah satu narasi yang paling melekat dalam kesadaran bangsa Indonesia adalah anggapan bahwa Belanda menjajah seluruh wilayah Indonesia selama 350 tahun. Namun, fakta sejarah menunjukkan realitas yang lebih kompleks. Kehadiran Belanda di Indonesia dimulai sekitar tahun 1600 dan berlangsung lebih dari 300 tahun, tetapi penjajahan ini tidak seragam dan tidak berlangsung terus-menerus seperti yang dibayangkan kebanyakan orang, di mana beberapa wilayah seperti Ambon berada di bawah kendali Belanda selama 337 tahun.
Berdasarkan penelitian sejarawan G.J. Resink dalam karyanya Indonesia's History Between the Myths (1968) yang dilansir Liputan6.com, tidak ada satu pun wilayah di Indonesia yang benar-benar berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda selama 350 tahun; jika dihitung dari penaklukan terakhir di Klungkung pada 1908 hingga proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945, masa penjajahan Belanda secara efektif hanya berlangsung sekitar 37 tahun. Kekuasaan kolonial Belanda di berbagai wilayah Nusantara memiliki intensitas yang berbeda-beda, dengan beberapa wilayah mengalami penjajahan langsung sementara wilayah lain hanya terikat perjanjian dengan berbagai tingkat otonomi.
Semenanjung Kepala Burung (Papua Barat) baru berada di bawah administrasi Belanda pada 1920, dan rentang wilayah terakhir inilah yang kemudian membentuk teritori Republik Indonesia. Maka narasi "350 tahun penjajahan" lebih mencerminkan kebutuhan politik nasionalisme untuk mempersatukan bangsa yang sangat beragam melawan musuh bersama, ketimbang gambaran kronologis yang akurat atas pengalaman seluruh wilayah Nusantara.
Meskipun demikian, mitos ini tetap memiliki fungsi penting dalam sejarah bangsa. Perjuangan kemerdekaan Indonesia berlangsung selama beberapa tahun yang ditandai perang gerilya dan negosiasi diplomatik, di mana tekanan internasional, khususnya dari Amerika Serikat, dan kesadaran bahwa merebut kembali kendali akan terlalu mahal dan sulit, akhirnya memaksa Belanda mengalah. Pada Desember 1949, Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia, mengakhiri era kolonialisme terpanjang di Nusantara. Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 tetap menjadi tonggak utama lahirnya bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Baca juga: Sultan Agung, Raja Mataram Terbesar: Pahlawan Nasional dan Penentang VOC
Pertanyaan Seputar Negara yang Paling Lama Menjajah Indonesia
Negara apa yang paling lama menjajah Indonesia?
Negara yang paling lama menjajah Indonesia adalah Belanda, dengan periode penguasaan sejak pendirian VOC pada 1602 hingga masuknya Jepang pada 1942. Secara formal, Belanda baru mengakui kedaulatan Indonesia pada Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar. Meskipun durasi pastinya masih diperdebatkan para sejarawan, tidak dapat dipungkiri bahwa Belanda merupakan kekuatan kolonial paling dominan dan paling lama di Nusantara.
Berapa lama Indonesia dijajah oleh bangsa asing?
Jika dihitung sejak kedatangan Portugis di Maluku pada 1511 hingga proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengalami penjajahan selama sekitar 434 tahun oleh berbagai bangsa secara bergantian. Keenam negara penjajah tersebut adalah Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris, dan Jepang, dengan Belanda sebagai yang paling lama dan paling berpengaruh.
Mengapa Belanda begitu lama menjajah Indonesia?
Belanda bertahan lama di Indonesia karena kombinasi beberapa faktor, yakni kekayaan sumber daya alam Nusantara yang sangat menguntungkan, strategi devide et impera (politik adu domba) yang efektif memecah belah kerajaan-kerajaan lokal, serta superioritas militer dan organisasi yang lebih baik. Keuntungan besar dari perdagangan rempah-rempah dan sistem tanam paksa menjadi insentif utama Belanda untuk mempertahankan koloninya selama berabad-abad.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

3 hours ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4624967/original/025145000_1698310947-simon-berger-tXXIo3aQASg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4024432/original/020051500_1652764690-josh-hild-KRBrb8vRdKs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516321/original/014431000_1782441750-Hv154c1eKJqZXp4aSMu81jM1Ccu9JdNpyhQqEN5V.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516280/original/030213000_1782441717-WTKDqOtvfEcLfIb3w9pxE9YJhWOZCOXECaaPv4YB.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516230/original/028282800_1782441681-km3rvtixXfXUdCKof8CgrjeNpW8BDiLkiWPLGJe9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8472960/original/011760200_1782381658-9vqBwqX4a59MigvNEC3nV5MF9Hg3Ndj2VWjPYyHx.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516309/original/019103200_1782441743-kTHQNW30wLdLj36CHRlyfcON9h0qzf1ETl0rC3Pf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8396245/original/097674000_1782277287-ocpLPtRKdNPdmlTlEkrifEZHQpgs7RPl74pz3PA4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516277/original/000800800_1782441716-YwElV78wISg99L3gMHLVEKbJoQEjT31wHsQYrmmJ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516253/original/066713300_1782441699-ziuMFG5nkPuUXSqBvqzyVr1jL0OLfpTGtVt0su4l.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516184/original/017434700_1782441646-V4pep2Oi2c7SFo1mkN7wxiW6vq0f8fNkxLpd5ywn.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516254/original/089030500_1782441700-JDLTczfsFxI2JY2rCbLkaRmMpXnm9vHXdjLbiy9n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516216/original/077409600_1782441661-klFenKaf8zla9WW64rGV3wvjg8UoEfHv5HdI9f1q.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3141646/original/018952800_1591080964-animals-avian-beaks-birdhouse-1156507.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3523373/original/068734600_1627444692-asean-4692563_1280_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516271/original/024616500_1782441713-3W3JsXJgkEaC7Bq3hB6macYz3i86t44FpS763RLk.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8522911/original/065307300_1782451627-de109ca4-11b8-472b-8baf-0cb049b14ab5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516210/original/059996400_1782441657-zRzhPw0w2Ar4eoTEwq7w4dPHhDLa8ATHyV13HwMD.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8472952/original/083002300_1782381647-DAXMbjPMa9gaMriKVpehjA3dykOuLZFy9vVCcB3q.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4415431/original/078901700_1683198942-20230504AA_SEA_Games_2023_Timnas_Indonesia_Vs_Myanmar-21.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527338/original/066171500_1773200879-__________________________________1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4174719/original/068939000_1664411162-42.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525042/original/051351000_1773029160-cropped-2a244f90-7934-47c9-a587-b33c1a79edbd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5146073/original/099969400_1740749107-20250228-Mantau_Hilal-MER_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5315665/original/049375700_1755165938-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__2_of_75_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496194/original/006665600_1770489949-1.jpg)