Negara yang Tidak Pernah Dijajah di Dunia, Jepang Paling Konsisten dalam Setiap Daftar

2 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta Kolonialisme Barat merupakan fenomena politik dan ekonomi di mana sejumlah negara Eropa saling berkompetisi untuk menguasai, menaklukkan dan mengeksploitasi negara-negara lain, hingga pada akhir abad ke-20, bangsa Eropa telah menjajah hampir 80 persen wilayah di dunia. Di tengah gelombang penjajahan yang masif tersebut, ternyata ada segelintir negara yang tidak pernah dijajah dan berhasil menjaga kedaulatannya hingga hari ini.

Segelintir negara tersebut menentang arus imperialisme dan berhasil mempertahankan kedaulatan mereka melalui kombinasi kecerdikan diplomasi, keunggulan geografis dan kekuatan militer. Keberhasilan mereka menjadikan daftar negara yang tidak pernah dijajah sebagai salah satu topik menarik dalam studi sejarah dunia.

Istilah "kolonisasi" memiliki makna berbeda bagi setiap orang, sehingga daftar negara yang tidak pernah dijajah sangat bervariasi dari satu sumber ke sumber lainnya. Dari seluruh negara di dunia, hanya satu yang secara konsisten muncul di setiap daftar negara tak terjajah, yakni Jepang.

Dilansir dari World Population Review, hampir sebagian besar negara pernah menjadi penjajah, wilayah jajahan, atau bahkan mengalami keduanya. Segelintir negara yang tidak pernah dijajah berhasil mempertahankannya berkat bentang alam, reformasi dan diplomasi yang kuat.

Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (26/6/2026).

Pengertian Kolonisasi dan Perbedaannya dengan Pendudukan Militer

Memahami makna kolonisasi secara mendalam menjadi kunci untuk menentukan negara mana saja yang benar-benar tidak pernah dijajah. Kolonialisme pada dasarnya merupakan proses penemuan, penaklukan, dan pendirian permukiman oleh satu entitas politik atas entitas lain. Praktik ini bukan hal baru dalam peradaban manusia, karena kekaisaran-kekaisaran kuno seperti Asyur, Persia, Yunani, dan Romawi sudah menerapkannya sejak zaman Perunggu dan Besi. Namun, gelombang kolonialisme Barat yang dimulai pada akhir abad ke-15 menjadi yang paling luas dan paling banyak dikaji oleh para sejarawan di seluruh dunia.

Banyak pakar menyatakan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara negara yang diduduki atau dikuasai dengan negara yang benar-benar dikolonisasi. Pendudukan militer biasanya bersifat sementara dan bertujuan strategis dalam konteks perang, sedangkan kolonisasi melibatkan pendirian pemerintahan permanen, eksploitasi ekonomi jangka panjang, dan sering kali upaya penghapusan budaya lokal. Upaya untuk tidak sekadar menduduki negara lain, tetapi mengasimilasi dan mengonversi populasinya, inilah yang membedakan pendudukan dari kolonisasi.

Dalam beberapa kasus seperti China atau Iran, negara-negara tersebut sudah memiliki identitas kebangsaan yang mapan sehingga lebih resisten terhadap dominasi asing dan sebagian di antaranya terampil mengadopsi teknologi Barat serta memainkan kekuatan-kekuatan kolonial satu sama lain secara diplomatis. Pada beberapa kasus lain, negara-negara tertentu beroperasi sebagai koloni de facto tidak resmi, di mana tanah dan rakyatnya dieksploitasi untuk keuntungan ekonomi tetapi kekuatan penjajah tidak mendirikan pemerintahannya di negara tersebut, seperti Inggris yang selama hampir sepanjang abad ke-20 menguasai hak atas hampir seluruh minyak di bawah tanah Iran. Fenomena inilah yang membuat batas antara "dijajah" dan "tidak dijajah" sering kali menjadi abu-abu dalam kajian imperialisme dan kolonialisme.

Daftar Lengkap Negara yang Tidak Pernah Dijajah di Dunia

Berikut daftar negara yang tidak pernah dijajah secara formal oleh kekuatan asing, meskipun sebagian di antaranya pernah menghadapi tekanan militer, ekonomi, maupun politik yang signifikan. 

  1. Jepang — Jepang merupakan contoh paling terkenal dari negara yang menolak kolonialisme, dan tidak pernah dijajah oleh kekuatan Eropa, sebagian besar berkat kekuatan militernya dan adopsi modernisasi sejak dini. Restorasi Meiji tahun 1868 mentransformasi Jepang menjadi kekuatan industri dan militer yang mampu bersaing setara dengan bangsa-bangsa Barat.
  2. Thailand (Siam) — Thailand, yang dahulu dikenal sebagai Siam, merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh kekaisaran Eropa. Raja-raja Siam, terutama Raja Mongkut dan Raja Chulalongkorn, memainkan strategi cerdas dengan memposisikan Thailand sebagai negara penyangga yang meyakinkan Inggris dan Prancis bahwa Thailand merdeka lebih bermanfaat untuk mencegah perang di antara keduanya.
  3. Ethiopia — Ethiopia merupakan satu-satunya negara Afrika yang berhasil melawan kolonisasi selama Perebutan Afrika (Scramble for Africa), dengan mengalahkan Italia di Pertempuran Adwa pada 1896, kemenangan yang menjadikannya simbol perlawanan Afrika.
  4. Liberia — Liberia didirikan pada 1822 oleh budak-budak Afrika-Amerika yang dibebaskan di bawah naungan American Colonization Society, menyatakan kemerdekaan pada 1847, dan tidak pernah dijajah oleh kekuatan Eropa.
  5. Nepal — Nepal mempertahankan kemerdekaannya sepanjang era kolonial meskipun terletak di antara dua kekaisaran besar, yaitu India Britania di selatan dan Tibet China di utara, dan setelah Perang Anglo-Nepal (1814–1816) Perjanjian Sugauli ditandatangani yang mengharuskan Nepal menyerahkan sebagian wilayahnya namun tetap mempertahankan kemerdekaan.
  6. Bhutan — Terletak jauh di Pegunungan Himalaya, Bhutan berhasil tetap merdeka dengan menggabungkan kebijakan isolasionisme dan diplomasi cerdas, di mana lanskap pegunungannya menjadi penghalang alami terhadap invasi, serta para penguasanya mengadopsi pendekatan hati-hati terhadap hubungan luar negeri.
  7. Iran (Persia) — Iran, yang dahulu dikenal sebagai Persia, merupakan negara lain yang berhasil menghindari kolonisasi langsung, meskipun Inggris dan Rusia memberikan pengaruh besar terutama dalam konsesi ekonomi dan kehadiran militer, karena geografinya yang terdiri dari medan pegunungan, gurun sentral, dan ketiadaan sungai yang dapat dilayari.
  8. China — China menghadirkan kasus paling kompleks karena tidak pernah dijajah secara formal sebagai satu kesatuan, tetapi mengalami "Abad Penghinaan" (Century of Humiliation) dari 1839 hingga 1949 yang menempatkannya dalam status semi-kolonial.
  9. Korea — Korea tidak pernah dijajah oleh bangsa Eropa, tetapi dijajah oleh Jepang pada 1910, dan kolonisasi Jepang selama 35 tahun atas Korea termasuk salah satu yang paling singkat karena merupakan salah satu negara terakhir yang dijajah di dunia.
  10. Afghanistan — Beberapa negara asing telah berupaya menjajah Afghanistan, tetapi medan yang kasar dan budaya kesukuan yang kuat telah menggagalkan upaya-upaya tersebut.
  11. Turki — Turki berhasil menghindari penjajahan setelah runtuhnya Kekaisaran Ottoman dengan menegaskan dirinya sebagai republik merdeka di bawah Mustafa Kemal Atatürk dan mengalahkan pasukan pendudukan Sekutu selama Perang Kemerdekaan Turki.
  12. Tonga — Tonga tidak pernah dijajah oleh negara asing mana pun, meskipun negara ini memiliki Perjanjian Persahabatan dengan Kerajaan Inggris yang berakhir pada 1970, di mana Inggris mengelola urusan internasional Tonga tanpa pernah mengganggu status kedaulatannya.

Baca juga: 5 Negara Asia yang Tidak Pernah Dijajah, Apa Alasannya?

Faktor Utama yang Membuat Suatu Negara Tidak Pernah Dijajah

Sejumlah faktor yang saling terkait membentuk tameng pelindung bagi negara-negara yang berhasil lolos dari cengkeraman kolonialisme. Sebagaimana dikutip dari The Bight, negara-negara yang tidak terjajah bukan sekadar beruntung, melainkan mereka memanfaatkan keunggulan geografis, terlibat dalam diplomasi taktis, dan dalam beberapa kasus mengadopsi modernisasi untuk menampilkan diri sebagai negara berdaulat dan mumpuni.

  1. Keunggulan Geografis — Medan yang sulit dijangkau menjadi penghalang utama bagi kekuatan kolonial. Nepal dan Bhutan dilindungi oleh Pegunungan Himalaya yang membuat invasi menjadi sangat sulit dilakukan. Isolasi Bhutan, geografinya yang bergunung, dan ketidaksignifikansinya secara strategis dibandingkan tetangga-tetangganya membantunya menghindari nasib banyak negara Asia lainnya. Afghanistan dengan medannya yang kasar juga menjadi contoh bagaimana geografi memengaruhi keberhasilan mempertahankan kedaulatan.
  2. Diplomasi Cerdas — Negara-negara seperti Thailand dan Nepal secara terampil menjalin hubungan diplomatik, sering kali dengan bertindak sebagai negara penyangga di antara kekuatan-kekuatan kolonial yang bersaing. Raja Chulalongkorn dari Siam merupakan contoh pemimpin yang berhasil memanfaatkan rivalitas Inggris-Prancis demi keuntungan negaranya.
  3. Kekuatan Militer — Keberhasilan militer Ethiopia melawan Italia dan kemenangan Jepang atas Rusia dalam Perang Rusia-Jepang (1904–1905) menunjukkan kemampuan mereka mengusir kekuatan imperial. Pasukan Gurkha Nepal juga diakui kehebatannya hingga direkrut Inggris sebagai tentara bayaran.
  4. Modernisasi Strategis — Bangsa-bangsa seperti Jepang dan Thailand memodernisasi militer, ekonomi, dan sistem politik mereka untuk menyejajarkan diri dengan kekuatan Barat, sehingga mengurangi kemungkinan terjadi kolonisasi.
  5. Identitas Kebangsaan yang Kuat — Negara-negara seperti China dan Iran sudah memiliki identitas kebangsaan yang mapan, sehingga lebih resisten terhadap dominasi asing. Populasi China yang sangat besar dan identitas budayanya yang kuat membantunya pada akhirnya bertahan dan merebut kembali sebagian besar wilayahnya.
  6. Posisi sebagai Negara Penyangga (Buffer State) — Thailand berhasil meyakinkan Inggris dan Prancis bahwa Thailand yang merdeka lebih bermanfaat sebagai negara penyangga yang akan mencegah kedua negara dari potensi perang. Posisi strategis ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Thailand dibanding tetangganya di kawasan.

Baca juga: Kolonialisme Adalah Penjajahan, Pahami Definisi dan Dampaknya

Negara Asia yang Berhasil Terhindar dari Kolonialisme Barat

Benua Asia menjadi salah satu kawasan yang paling banyak menjadi sasaran kolonialisme bangsa Eropa. India dijajah Inggris, Indonesia dijajah Belanda, dan Filipina dijajah Spanyol. Namun, beberapa negara Asia berhasil mempertahankan kemerdekaan mereka melalui strategi yang unik. Keberhasilan Jepang lolos dari kolonisasi berakar pada kepemimpinan visioner dan modernisasi yang pesat, di mana selama abad ke-19 ketika banyak bangsa Asia jatuh ke bawah kendali asing, Jepang justru menempuh jalur berbeda melalui Restorasi Meiji 1868 yang mentransformasikannya menjadi kekuatan industri dan militer.

Kebijakan Sakoku atau isolasi nasional yang diterapkan Jepang sejak abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 menjadi fondasi awal ketahanan negara ini. Keberhasilan Jepang mengalahkan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang 1904–1905 mengukuhkan statusnya sebagai kekuatan setara dengan kekaisaran-kekaisaran Eropa, bukan sebagai subjek yang dikuasai. Pencapaian ini menjadikan Jepang sebagai satu-satunya negara yang tidak pernah dijajah secara konsisten di setiap daftar yang disusun oleh para sejarawan. 

Sementara itu, para pemimpin Thailand, khususnya Raja Rama IV dan Raja Rama V, menunjukkan kecakapan diplomatik luar biasa dengan menegosiasikan perjanjian-perjanjian yang menyeimbangkan kepentingan Inggris dan Prancis, dua kekuatan kolonial rival yang mengepung Thailand pada saat itu, sehingga dengan mengadopsi modernisasi selektif dan menjaga fleksibilitas dalam hubungan luar negeri, Thailand mempertahankan kemerdekaannya sementara sebagian besar kawasan takluk di bawah pemerintahan kolonial. Thailand bahkan rela menyerahkan sebagian wilayah perbatasannya kepada Inggris dan Prancis sebagai konsesi politik untuk mempertahankan kemerdekaan. Meskipun Thailand sempat diduduki oleh Jepang selama Perang Dunia II, yang oleh banyak sejarawan diklasifikasikan sebagai kolonisasi ketimbang pendudukan biasa.

Nepal dan Bhutan memanfaatkan keunggulan geografis Himalaya yang membuat pasukan kolonial Inggris kewalahan. Perjanjian Sugauli (1816) membangun hubungan diplomatik Nepal dengan Inggris sambil mempertahankan kedaulatan Nepal, di mana kekuatan militer dan perjanjian strategis negara itu menjaganya bebas dari dominasi asing. Adapun Bhutan, seperti Nepal, bertahan sebagai kerajaan Himalaya yang terlalu terpencil dan terlalu sulit ditaklukkan untuk imbalan yang ditawarkannya, bahkan negara ini merupakan salah satu negara paling terisolasi di muka bumi tanpa jalan raya, bandara, dan kontak minimal dengan dunia luar hingga era 1960-an.

Baca juga: Memahami Penderitaan yang Dialami Rakyat Akibat Penjajahan Belanda

Negara di Afrika dan Timur Tengah yang Lolos dari Penjajahan

Pada 1913, Eropa telah menjajah lebih dari 90 persen wilayah Afrika. Di tengah perebutan yang hampir menyeluruh itu, Ethiopia berdiri tegak sebagai simbol perlawanan benua. Italia sempat menduduki Ethiopia secara singkat pada era 1930-an di bawah Mussolini, tetapi hal itu tidak pernah menjadi kolonisasi dalam pengertian jangka panjang seperti yang dialami sebagian besar benua lainnya, karena Ethiopia memiliki sistem monarki kuno yang tersentralisasi, warisan Kristen yang membuatnya memperoleh penghormatan tertentu di kalangan kekuatan Eropa, dan geografi dataran tinggi yang membuat pendudukan menjadi sulit. Kemenangan bersejarah di Pertempuran Adwa pada 1896 menjadi momen yang mendunia.

Secara teknis, Liberia juga tidak pernah dijajah dan berdiri sebagai kasus langka negara merdeka di Afrika selama perebutan kolonial, yang didirikan pada awal 1800-an oleh campuran unik antara kaum Quaker abolisionis, pemilik budak dari selatan, dan orang-orang Afrika-Amerika yang baru dibebaskan, lalu secara resmi mendeklarasikan diri sebagai negara berdaulat pada 1847. 

Di kawasan Timur Tengah, Iran dan Arab Saudi memiliki jalur unik menuju keberlangsungan kedaulatan. Iran, dengan peradaban yang sudah ada sejak 678 SM, memanfaatkan geografinya yang bergunung-gunung dan gurun sentral sebagai benteng alam. Meskipun Inggris dan Rusia saling berebut pengaruh, Iran tidak pernah menjadi koloni negara mana pun, meskipun sempat diduduki oleh Rusia dan Inggris selama Perang Dunia II, dan negara ini telah menjadi bangsa berdaulat sejak 1501. 

Turki menghindari penjajahan setelah runtuhnya Kekaisaran Ottoman dengan menegaskan dirinya sebagai republik merdeka di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Atatürk dan mengalahkan pasukan pendudukan Sekutu selama Perang Kemerdekaan Turki. Sekutu kemudian mengundang pemerintah Ankara untuk diskusi yang menghasilkan Perjanjian Lausanne pada 24 Juli 1923, yang menetapkan perbatasan Eropa Turki di Sungai Maritsa di Thrace timur, dan pada 29 Oktober Republik Turki secara resmi diproklamasikan. Keberhasilan Atatürk mempertahankan integritas wilayah Turki menjadikan negara ini contoh inspiratif dari perjuangan melawan dominasi asing di era modern.

Baca juga: 5 Negara Asia yang Tidak Pernah Dijajah

Pertanyaan dan Jawaban seputar Negara yang Tidak Pernah Dijajah

Negara mana saja di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah?

Thailand merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh kekuatan Barat. Keberhasilan Thailand mempertahankan kedaulatannya dicapai melalui strategi diplomasi yang cerdik di bawah kepemimpinan Raja Mongkut (Rama IV) dan Raja Chulalongkorn (Rama V), yang berhasil memposisikan negaranya sebagai zona penyangga di antara wilayah koloni Inggris dan Prancis.

Apakah benar Jepang satu-satunya negara yang tidak pernah dijajah sama sekali?

Dari seluruh negara di dunia, hanya Jepang yang secara konsisten muncul di setiap daftar negara yang tidak pernah dijajah, sementara beberapa negara lain juga muncul di berbagai daftar, tetapi semuanya memiliki peristiwa dalam sejarah mereka yang secara argumen bisa menjadikannya koloni menurut satu definisi atau lainnya. Modernisasi pesat melalui Restorasi Meiji dan kekuatan militer menjadi faktor utama ketahanan Jepang.

Mengapa sebagian besar negara Afrika dijajah kecuali Ethiopia dan Liberia?

Pada era Scramble for Africa akhir abad ke-19, hampir seluruh benua Afrika jatuh ke tangan kekuatan Eropa. Ethiopia berhasil lolos berkat kemenangan militernya melawan Italia dan sistem monarki yang kuat, sementara Liberia dihindari oleh kekuatan Eropa karena statusnya yang unik terkait Amerika Serikat. Negara-negara yang berhasil menghindari kolonisasi juga terhindar dari beberapa dampak terburuk sistem kolonial, termasuk hilangnya budaya, eksploitasi ekonomi, dan ketimpangan sosial yang dipupuk oleh sistem ekonomi dan sosial-politik Eropa.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|