Liputan6.com, Jakarta Hindu dan Budha merupakan dua aliran kepercayaan besar yang membentuk wajah peradaban Nusantara selama berabad-abad. Meskipun sama-sama berasal dari anak benua India, perbedaan kerajaan Hindu dan Budha ternyata cukup mencolok jika ditelisik lebih dalam.
Dari cara memandang Tuhan, sistem sosial masyarakat, hingga bentuk peninggalan arsitekturnya, kedua corak kerajaan ini menapak jalan yang berbeda. Memahami perbedaan kerajaan Hindu dan Budha menjadi kunci penting untuk membaca perjalanan sejarah bangsa Indonesia secara utuh.
Asia Tenggara berada dalam lingkup pengaruh budaya India sejak sekitar abad ke-3 SM hingga abad ke-15 Masehi, ketika unsur-unsur Hindu dan Buddha diadaptasi ke dalam sistem politik serta budaya lokal. Proses ini dikenal sebagai Indianisasi, yang turut mendorong berkembangnya kerajaan-kerajaan bercorak mandala di berbagai wilayah Asia Tenggara.
Pengertian Kerajaan Hindu dan Kerajaan Budha
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715549/original/018324700_1782809032-Screenshot_2026-06-30_153352.jpg)
Perbesar
Sebelum membahas perbedaan secara rinci, penting untuk memahami pengertian dasar dari masing-masing corak kerajaan ini. Kerajaan bercorak Hindu adalah kerajaan yang menganut ajaran agama Hindu sebagai dasar spiritual dan sistem pemerintahannya. Umat Hindu meyakini adanya satu Tuhan sekaligus banyak dewa secara saling terkait, di mana Brahman sebagai tuhan impersonal diwujudkan melalui dewa Brahma, Siwa, dan Wisnu, serta meyakini adanya dewa-dewa lain sebagai manifestasi dari tiga dewa utama tersebut.
Sementara itu, kerajaan bercorak Budha didasarkan pada ajaran Siddharta Gautama yang telah mencapai pencerahan. Berbeda dengan Hinduisme, Buddhisme tradisional tidak berfokus pada pemujaan terhadap Tuhan dan pada dasarnya bersifat non-teistik, di mana Sang Buddha dihormati sebagai guru dan bukan sebagai dewa. Di Nusantara, kerajaan bercorak Hindu tertua adalah Kerajaan Kutai yang berdiri pada abad ke-4 Masehi, sementara pengaruh Budha muncul kemudian melalui kerajaan seperti Sriwijaya.
Perbedaan Sistem Kepercayaan dan Konsep Ketuhanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715550/original/026627800_1782809032-Screenshot_2026-06-30_153420.jpg)
Perbesar
Perbedaan paling mendasar antara kerajaan Hindu dan Budha terletak pada pandangan tentang Tuhan dan jiwa. Mengacu pada artikel Bhakti Marga, berikut rinciannya.
- Konsep Tuhan - Kerajaan Hindu memiliki beragam dewa utama dan dewa pendamping dalam panteon mereka. Sedangkan Buddhisme meyakini tidak ada Tuhan pencipta dan secara tegas menolak konsep dewa pencipta.
- Konsep Jiwa (Atman vs Anatman) - Hinduisme meyakini keberadaan jiwa abadi atau atman, baik sebagai jiwa individu maupun jiwa universal yang disebut Brahman, dan jiwa ini dianggap permanen serta bereinkarnasi berulang kali dalam wujud berbeda. Sebaliknya dalam Buddhisme, tidak ada kepercayaan pada konsep jiwa, dan Sang Buddha menolak konsep jiwa atau atman.
- Tujuan Akhir Kehidupan - Buddhisme mengejar Nirwana sebagai tujuan akhir, yaitu berakhirnya penderitaan, sementara Hinduisme mengejar Moksha, yakni pembebasan dari siklus kelahiran kembali melalui realisasi diri dan pengabdian.
- Kitab Suci - Kitab suci Hindu mencakup Weda, Upanishad, Bhagawad Gita, dan Ramayana, sementara penganut Budha mengikuti Tripitaka atau Kanon Pali yang memuat ajaran-ajaran Sang Buddha.
- Praktik Keagamaan - Hinduisme melibatkan banyak ritual, upacara, dan festival yang bervariasi di setiap daerah, sedangkan Buddhisme terutama aliran Theravada memiliki orientasi monastik dengan penekanan pada meditasi dan pendarasan.
- Jalan Moral - Umat Hindu mengikuti dharma atau jalan kebenaran, sementara umat Budha menjalankan Jalan Berunsur Delapan.
Baca juga: Akulturasi Kebudayaan Hindu-Buddha dan Kepercayaan Asli Indonesia
Perbedaan Sistem Kasta dan Struktur Sosial Masyarakat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715551/original/033683800_1782809032-Screenshot_2026-06-30_153446.jpg)
Perbesar
Salah satu perbedaan kerajaan Hindu dan Budha yang paling nyata dalam kehidupan bermasyarakat adalah soal sistem kasta. Topik ini menjadi salah satu pemicu lahirnya ajaran Sang Buddha Gautama itu sendiri.
Hinduisme mempertahankan sistem kasta, sementara Buddhisme menolak hierarki sosial semacam itu. Dalam kerajaan-kerajaan Hindu di Nusantara, masyarakat terbagi ke dalam empat golongan utama: Brahmana (pendeta), Ksatria (bangsawan dan prajurit), Waisya (pedagang), dan Sudra (rakyat biasa). Sistem ini menentukan banyak aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, pernikahan, hingga hak-hak keagamaan seseorang.
Di kerajaan-kerajaan Budha, konsep kesetaraan lebih ditekankan. Setiap individu, tanpa memandang latar belakang sosialnya, diyakini memiliki potensi yang sama untuk mencapai pencerahan. Dalam konteks Nusantara, Kerajaan Sriwijaya yang bercorak Budha misalnya, lebih terbuka terhadap interaksi lintas golongan melalui aktivitas perdagangan maritim yang melibatkan berbagai kalangan masyarakat.
Perbedaan Sistem Pemerintahan dan Politik Kerajaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001713/original/061741900_1731384206-kerajaan-tertua-bercorak-hindu-di-indonesia-adalah.jpg)
Perbesar
Aspek politik menjadi arena di mana perbedaan kerajaan Hindu dan Budha turut terlihat jelas. Kedua corak kerajaan menggunakan legitimasi agama untuk memperkuat kekuasaan, namun dengan cara yang berbeda.
Dalam kerajaan-kerajaan Hindu, agama negara adalah Hinduisme yang dipengaruhi kultus Devaraja, sehingga raja-raja dianggap memiliki kualitas ilahi sebagai dewa yang hidup di bumi sebagai inkarnasi Wisnu atau Siwa, dan dalam politik, status ini dipandang sebagai pembenaran ilahi atas kekuasaan raja. Konsep ini memberi raja otoritas spiritual yang sangat besar.
Sebagaimana diungkapkan The Diplomat, daya tarik Hinduisme dan Buddhisme di Asia Tenggara bersifat politis sekaligus spiritual, di mana Buddhisme memiliki peran politik dalam memberikan legitimasi kepada para penguasa. Namun pendekatan legitimasi di kerajaan Budha agak berbeda. Raja dalam kerajaan Budha lebih sering memosisikan diri sebagai pelindung dharma dan pendukung utama sangha (komunitas biksu), bukan sebagai titisan dewa. Para penguasa menggunakan patronase keagamaan dan arsitektur monumental untuk melegitimasi kekuasaan mereka.
Contoh nyata di Nusantara, Kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu menganut konsep raja sebagai titisan dewa, sementara monarki Budha Sriwijaya berada di puncak kekuasaannya antara abad ke-9 dan ke-11 dengan raja yang berperan sebagai pelindung agama Budha dan pusat pembelajaran.
Perbedaan Arsitektur Candi dan Peninggalan Seni
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4046666/original/080599800_1654684610-candi_borobudur.jpg)
Perbesar
Peninggalan arsitektur menjadi bukti fisik yang paling mudah diamati untuk membedakan kedua corak kerajaan ini. Mengutip berbagai sumber, berikut perbedaan arsitektur candi Hindu dan Budha yang perlu diketahui.
- Bentuk Puncak Candi - Candi Hindu memiliki puncak meruncing yang disebut Ratna atau Amalaka, sementara candi Budha memiliki puncak berbentuk stupa yang menyerupai kubah.
- Bentuk Bangunan - Candi Hindu umumnya memiliki struktur yang ramping dan menjulang tinggi seperti Candi Prambanan, sementara candi Budha cenderung lebih lebar dan masif seperti Candi Borobudur.
- Fungsi Utama - Banyak candi di Indonesia berfungsi sebagai makam atau tempat penghormatan bagi raja-raja yang telah wafat, terutama pada candi-candi Hindu di mana raja yang telah meninggal dianggap telah bersatu dengan dewa pelindungnya. Sementara candi Budha lebih difungsikan sebagai tempat peribadatan dan meditasi.
- Relief dan Ornamen - Candi Hindu menampilkan relief kisah Ramayana dan Mahabharata, sementara candi Budha menggambarkan kisah kehidupan Sang Buddha seperti Jataka dan Lalitavistara.
- Arca - Di candi Hindu terdapat arca Trimurti (Siwa, Wisnu, Brahma) serta Ganesha dan Durga. Candi Budha memuat arca Dhyani Buddha, Buddha Manusi, dan Dhyani Bodhisatwa.
- Tata Letak - Bangunan utama candi Hindu biasanya terletak di bagian belakang pada dataran tertinggi, sementara bangunan utama candi Budha terletak di tengah kompleks yang dikelilingi candi-candi kecil secara simetris.
- Letak Pintu Utama - Candi Hindu memiliki pintu utama di sisi barat, sementara candi Budha memiliki pintu utama di sisi timur.
- Pembagian Struktur - Candi Hindu terbagi menjadi Bhurloka, Bhurvaloka, dan Svarloka, sedangkan candi Budha terbagi menjadi Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu.
Kuil-kuil Budha di Nepal misalnya, menampilkan monumen berbentuk kubah yang disebut stupa, yang secara simbolis merepresentasikan Sang Buddha duduk dalam posisi meditasi di atas singgasana.
Baca juga: Fungsi Bangunan Candi Peninggalan Bersejarah
Perbedaan Penyebaran Geografis dan Contoh Kerajaan di Nusantara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7269302/original/007678900_1780055117-6.jpg)
Perbesar
Penyebaran geografis kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara menunjukkan pola yang menarik. Kedua pengaruh ini masuk melalui jalur perdagangan dan diplomasi dengan India, namun menyebar ke wilayah yang berbeda-beda.
Kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia memiliki persebaran yang luas. Kerajaan bercorak Hindu tertua di Indonesia adalah Kerajaan Kutai Martadipura yang diperkirakan berdiri pada abad ke-4 hingga abad ke-5 Masehi di Kalimantan Timur. Selain Kutai, terdapat pula Tarumanegara di Jawa Barat, Mataram Hindu di Jawa Tengah, Kerajaan Singasari, serta Kerajaan Majapahit yang menjadi kerajaan Hindu-Budha terbesar di Nusantara.
Sementara itu, kerajaan bercorak Budha lebih dominan di jalur perdagangan maritim. Kerajaan Sriwijaya, dengan kekuatan maritimnya, berhasil menguasai Selat Malaka dan menjadi pusat perdagangan serta penyebaran agama Buddha. Di tingkat regional, dari abad ke-9 hingga ke-13, Kekaisaran Khmer yang menganut Mahayana Budha dan Hindu mendominasi sebagian besar semenanjung Asia Tenggara, dan di bawah kekuasaan Khmer lebih dari 900 kuil dibangun di Kamboja dan Thailand.
Penguasa terbesar Angkor, Jayavarman VII, memeluk Buddhisme Mahayana dalam kelas penguasa yang sebelumnya teguh menganut Hindu. Perpindahan ini menunjukkan bahwa perbedaan kerajaan Hindu dan Budha juga bisa terjadi secara dinamis di dalam satu wilayah kekuasaan. Bahkan di Nusantara, beberapa kerajaan menganut sinkretisme Hindu-Budha sekaligus.
Baca juga: 7 Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit
Sebagaimana dikutip dari Encyclopedia.com, kerajaan-kerajaan Theravada di Asia Selatan dan Asia Tenggara menunjukkan hubungan yang erat antara Buddhisme dan otoritas politik. Di Indonesia, pengaruh tradisi Hindu dan Buddha masih dapat ditelusuri melalui berbagai peninggalan arkeologis yang tersebar dari Sumatera hingga Jawa Timur. Dari era Hindu-Buddha hingga berkembangnya Islam, kerajaan-kerajaan di Nusantara meninggalkan warisan budaya, politik, dan arsitektur yang memperkaya identitas bangsa, tercermin pada candi, prasasti, dan naskah kuno yang masih bertahan hingga kini.Baca juga: Peninggalan Kerajaan Islam di Bidang Seni dan Budaya
Kedua corak kerajaan ini - baik Hindu maupun Budha - pada akhirnya saling memengaruhi dan melengkapi dalam membentuk peradaban Nusantara. Permadani kaya spiritualitas India terjalin dari tradisi Hindu dan Budha yang berbagi sejarah panjang dan kompleks, di mana kedua agama ini meskipun berbeda dalam kepercayaan dan praktik, telah saling mempengaruhi secara signifikan selama berabad-abad. Warisan mereka masih hidup hingga hari ini dalam bentuk keunggulan budaya bangsa Indonesia yang tak ternilai.
Baca juga: 19 Kerajaan Bercorak Islam di Indonesia
Baca juga: Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit Lengkap dengan Sejarahnya
Baca juga: Indahnya Perbedaan dalam Persahabatan Beda Agama
Baca juga: 14 Kerajaan Islam di Indonesia dan Peninggalannya
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Perbedaan Kerajaan Hindu dan Budha
Apa perbedaan utama antara kerajaan Hindu dan kerajaan Budha?
Perbedaan utama terletak pada konsep ketuhanan, sistem kasta, dan arsitektur peninggalannya. Kerajaan Hindu menganut politeisme dengan panteon dewa Trimurti dan menerapkan sistem kasta, sementara kerajaan Budha bersifat non-teistik yang memuliakan Sang Buddha sebagai guru dan menolak hierarki kasta. Peninggalan arsitektur keduanya juga berbeda, dari bentuk puncak candi hingga relief yang diukirkan.
Mengapa kerajaan Hindu menerapkan sistem kasta sedangkan kerajaan Budha tidak?
Sistem kasta dalam kerajaan Hindu merupakan bagian dari konsep dharma yang mengatur tugas dan kewajiban setiap golongan masyarakat. Penolakan terhadap sistem kasta justru menjadi salah satu pemicu lahirnya ajaran Sang Buddha Gautama. Beliau mengajarkan bahwa semua manusia memiliki nilai yang setara dan setiap individu memiliki potensi yang sama untuk mencapai pencerahan tanpa memandang latar belakang sosial.
Apa contoh kerajaan Hindu dan Budha yang pernah berdiri di Indonesia?
Kerajaan Hindu di Indonesia antara lain Kutai, Tarumanegara, Mataram Hindu, Kediri, Singasari, dan Majapahit. Sementara kerajaan bercorak Budha yang terkenal adalah Sriwijaya di Sumatera. Beberapa kerajaan bahkan menganut sinkretisme Hindu-Budha secara bersamaan, seperti yang tercermin pada peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang membangun baik Candi Prambanan (Hindu) maupun Candi Borobudur (Budha).
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

5 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672249/original/042824900_1782711701-DucwXhIJZpr5ELC3mid6QTBmtDON9gfbwgRSDZ6a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8732857/original/001046300_1782818720-1000915868.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8712383/original/058554300_1782793878-de08tChUs9RvOAWNBmd0Ec8IDwapuykiVxLaMPgU.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8715506/original/061583400_1782807348-9499525709146631286.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5140633/original/003419400_1740226146-Persita_Tangerang_vs_Borneo_FC-33.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672251/original/054980200_1782711703-cX1fZbC2d5Re4urGZ4bjTomR3ZuFxGqkNwqIB5a8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8712381/original/063707800_1782793876-k5wvLKMC2Hzk2Cb8GUdyxTO0Sor7hRhlkxrCMdXp.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672316/original/020132300_1782711769-3BoTsBLJowdrNEsfIA6A4CRrvj4LS1XbxQEfzKrE.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3898069/original/074060200_1641628434-home01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8712412/original/099539700_1782793897-ll3OEvgQIDy8vNPoZl0lgiCnXxT6zHvVwPdhzJyv.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572425/original/094103300_1777882347-SaveGram.App_685980283_18581733757056586_5658961698331080440_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672246/original/070693200_1782711698-91Ul8JC4OFNxLdRlRd0GR4PdbNtE6uvID1vLtPmr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8712403/original/025753100_1782793891-5mM8GtsuXx1vFloiuOXy8dI8o3q0Od5rJrEpMKUy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8712416/original/051989400_1782793900-TCXqQThVqoNS9jNvkborK1stQ4I4e4hC1BvmT0sC.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8715524/original/090592600_1782807954-Gemini_Generated_Image_i2n9hoi2n9hoi2n9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8712418/original/082078100_1782793901-QFeo4yZlq5jIpvzOkKFiqyWtulzghubggvpZfWip.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8709844/original/038813500_1782789456-4075603707415568857.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5103692/original/046233100_1737469060-WhatsApp_Image_2025-01-21_at_19.55.38.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5281916/original/060578700_1752451029-20250713BL__Final_Piala_Presiden_2025_31.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8700501/original/082243100_1782771751-IMG-20260629-WA0079.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4415431/original/078901700_1683198942-20230504AA_SEA_Games_2023_Timnas_Indonesia_Vs_Myanmar-21.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4174719/original/068939000_1664411162-42.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527338/original/066171500_1773200879-__________________________________1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5525042/original/051351000_1773029160-cropped-2a244f90-7934-47c9-a587-b33c1a79edbd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5146073/original/099969400_1740749107-20250228-Mantau_Hilal-MER_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496194/original/006665600_1770489949-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5529412/original/016644800_1773333017-20260312BL_Launching_Jersey_Baru_Timnas_Indonesia_Kelme_5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527360/original/037343400_1773200966-Ilustrasi_Cokelat_Valentine__Photo_by_valeria_aksakova_on_Freepik___3_.jpg)