Tanda Kamu Belum Siap Resign Meskipun Sudah Jenuh dengan Pekerjaan

16 hours ago 11
  • Bagaimana cara tahu apakah saya benar-benar harus resign?
  • Apakah wajar merasa jenuh tapi tetap bertahan di pekerjaan?
  • Berapa tabungan ideal sebelum resign?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Merasa jenuh atau lelah dengan pekerjaan merupakan hal yang sangat wajar. Rutinitas yang sama setiap hari, tekanan target, hingga lingkungan kerja yang kurang mendukung bisa membuat siapa pun ingin segera resign. Namun, keinginan berhenti kerja tidak selalu berarti kamu benar-benar siap untuk melangkah ke fase berikutnya. Kadang, keputusan resign justru dipicu oleh emosi sesaat, bukan pertimbangan matang.

Sebelum mengambil keputusan besar, penting untuk mengenali tanda-tanda apakah kamu memang siap resign atau hanya sedang mengalami burnout sementara. Dengan memahami sinyal ini, kamu bisa menghindari keputusan yang disesali di kemudian hari. Berikut sejumlah tanda yang menunjukkan kamu belum siap resign meskipun rasa jenuh sudah memuncak.

Jika beberapa poin ini masih kamu rasakan, mungkin yang kamu butuhkan bukan resign, melainkan strategi baru menghadapi pekerjaan. Putra (32), pekerja di sebuah perusahaan media nasional ternama yang sudah bekerja selama 7 tahun membagikan kisahnya kepada Liputan6.com.

1. Kamu Belum Punya Rencana Jelas Setelah Resign

Merasa ingin berhenti kerja tanpa tahu langkah berikutnya adalah tanda paling umum belum siap resign. Apakah kamu ingin pindah karier, istirahat, atau memulai bisnis? Jika jawabannya masih samar, keputusan resign bisa berisiko secara finansial dan mental. Rencana yang jelas membantu transisi menjadi lebih aman dan terarah.

“Dua tahun belakangan keinginan resign makin kuat, tapi kalau dipikir-pikir sejujurnya saya juga belum mikirin banget rencana setelah resign ini mau gimana. Jadi ya gini tidak kunjung resign juga akhirnya,” jelas alumnus sebuah kampus ternama di Jawa Tengah itu kepada Liputan6.com, Minggu (1/3/2026).

Tanpa rencana, masa setelah resign justru bisa terasa lebih stres karena ketidakpastian. Banyak orang akhirnya menyesal karena terburu-buru mengambil keputusan. Idealnya, kamu sudah memiliki gambaran realistis tentang langkah selanjutnya sebelum mengajukan resign. Dengan begitu, keputusan yang diambil bukan hanya karena emosi.

2. Kondisi Keuangan Belum Aman

Resign tanpa persiapan finansial dapat menambah tekanan baru dalam hidup. Tabungan darurat sebaiknya cukup untuk menutup kebutuhan setidaknya 3–6 bulan. Jika belum, rasa cemas justru bisa muncul setelah berhenti kerja. Hal ini membuat proses istirahat atau pencarian kerja baru tidak maksimal.

“Nah ini gongnya, ternyata saya sadar belum siap resign setelah dana darurat saya terkuras untuk perbaikan motor. Selama ini saya mikir dana darurat ya buat kebutuhan hidup dan kesehatan, tidak mikir motor rusak dan menghabiskan uang lumayan, yang itu dananya tidak saya siapkan,” imbuh bungsu dari tiga bersaudara itu.

Keamanan finansial memberi ruang untuk berpikir jernih setelah resign. Tanpa itu, kamu mungkin terpaksa menerima pekerjaan apa saja demi bertahan. Jika kondisi keuangan belum stabil, lebih baik menunda resign sambil memperkuat tabungan. Ini adalah langkah realistis agar keputusan tetap bijak.

3. Kamu Hanya Sedang Burnout, Bukan Benar-Benar Ingin Pindah

Burnout sering disalahartikan sebagai tanda harus resign. Padahal, kelelahan mental biasanya bisa diatasi dengan istirahat, cuti, atau perubahan ritme kerja. Jika rasa jenuh muncul terutama saat sedang sangat lelah, bisa jadi itu bukan sinyal untuk berhenti total. Mengenali perbedaan burnout dan keinginan pindah karier sangat penting.

Jika setelah istirahat perasaanmu membaik, berarti masalahnya bukan pada pekerjaan secara keseluruhan. Dalam kondisi ini, resign bukan solusi utama. Pulihkan energi dan tata ulang prioritas. Keputusan besar sebaiknya diambil saat kondisi mental stabil.

4. Kamu Masih Bergantung pada Fasilitas Kantor

Fasilitas seperti asuransi kesehatan, gaji tetap, atau lingkungan kerja yang suportif sering baru terasa penting ketika akan ditinggalkan. Jika kamu masih sangat bergantung pada hal-hal ini, resign bisa menjadi langkah yang terlalu cepat. Ketergantungan ini wajar, tetapi perlu disadari sebelum mengambil keputusan.

“Soal fasilitas kantor saya juga istilahnya masih tergantung ya. Ada asuransi kesehatan, terus jam kerja fleksibel, tidak perlu pakai seragam, itu hal-hal yang saya sukai. Saya belum kebayang kalau misalnya resign terus pindah ke kerjaan yang jamnya rigid, pakai seragam pula, bakal betah enggak ya,” papar Putra.

Mempertimbangkan nilai fasilitas adalah bagian dari evaluasi realistis. Banyak orang fokus pada rasa jenuh tanpa melihat manfaat yang masih didapat. Jika fasilitas tersebut masih sangat dibutuhkan, mungkin belum saatnya resign. Kamu bisa mulai mencari alternatif sebelum benar-benar keluar.

5. Kamu Belum Mencoba Mengubah Situasi Kerja

Terkadang rasa jenuh muncul karena kondisi tertentu yang sebenarnya masih bisa diperbaiki. Misalnya, beban kerja, komunikasi dengan atasan, atau manajemen waktu. Jika kamu belum mencoba mencari solusi, resign bisa menjadi keputusan yang terlalu cepat. Perubahan kecil kadang cukup untuk membuat pekerjaan terasa lebih ringan.

Coba evaluasi apa yang paling membuatmu tidak nyaman. Apakah bisa didiskusikan atau diubah? Jika iya, langkah ini layak dicoba sebelum memutuskan keluar. Resign sebaiknya menjadi opsi terakhir setelah berbagai upaya dilakukan.

6. Kamu Masih Takut Kehilangan Stabilitas

Rasa takut kehilangan rutinitas dan kepastian adalah sinyal bahwa kamu belum sepenuhnya siap. Stabilitas kerja memberi rasa aman yang sering tidak disadari. Jika bayangan hidup tanpa pekerjaan membuatmu cemas berlebihan, artinya kamu masih membutuhkan persiapan mental. Perasaan ini valid dan cukup umum.

Keputusan resign idealnya diambil dengan rasa yakin, bukan dominan rasa takut. Jika ketakutan lebih besar daripada rasa siap, sebaiknya beri waktu untuk mempersiapkan diri. Persiapan mental sama pentingnya dengan persiapan finansial. Ini membantu transisi berjalan lebih tenang.

7. Kamu Mengharapkan Resign akan Langsung Membuat Bahagia

Berhenti kerja sering dianggap solusi instan untuk semua masalah. Padahal, setiap fase hidup memiliki tantangannya sendiri. Jika kamu berharap resign otomatis membuat hidup lebih baik tanpa rencana, ekspektasi ini bisa berujung kecewa. Kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh status pekerjaan.

“Hahaha ini harapanku banget. Kayak yaudah yang penting lepas dulu dari kerjaan yang bikin jenuh ini, kayaknya bakal happy gitu. Meskipun habis gitu entar juga pusing lagi soal kerjaan lain,” tandas pria yang gemar memakai kemeja flanel tersebut.

Resign adalah perubahan, bukan jaminan kebahagiaan. Memahami hal ini membantu kamu melihat keputusan secara lebih realistis. Jika motivasi utamamu hanya ingin “kabur” dari tekanan, mungkin yang dibutuhkan adalah strategi coping yang lebih sehat. Dengan perspektif yang tepat, keputusan akan terasa lebih matang.

Pertanyaan seputar Tanda Kamu Belum Siap Resign 

1. Bagaimana cara tahu apakah saya benar-benar harus resign?

Periksa apakah kamu punya rencana jelas, kondisi finansial aman, dan alasan rasional selain emosi. Jika belum, sebaiknya tunda keputusan.

2. Apakah wajar merasa jenuh tapi tetap bertahan di pekerjaan?

Sangat wajar karena kejenuhan bisa muncul akibat tekanan atau rutinitas. Perasaan ini tidak selalu berarti kamu harus resign.

3. Berapa tabungan ideal sebelum resign?

Umumnya disarankan memiliki dana darurat minimal 3–6 bulan biaya hidup. Ini membantu transisi karier tanpa tekanan finansial besar.

4. Apa perbedaan burnout dan memang harus resign?

Burnout biasanya membaik setelah istirahat atau perubahan ritme kerja. Jika masalah tetap ada meski sudah mencoba berbagai cara, baru pertimbangkan resign.

5. Apa yang sebaiknya dilakukan sebelum memutuskan resign?

Evaluasi alasan, siapkan rencana karier, perkuat tabungan, dan coba perbaiki situasi kerja terlebih dahulu. Langkah ini membantu keputusan lebih matang.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|