5 Ide Makanan Olahan Antimainstream di Jogja, Mulai dari Otak-Otak Lele hingga Puding Cake

14 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Jogja menjadi salah satu daerah yang subur bagi pertumbuhan UMKM kuliner berbasis kreativitas dan ketekunan. Di tengah maraknya makanan viral, sejumlah pelaku usaha justru memilih jalur berbeda dengan mengolah bahan lokal menjadi produk yang tidak lazim, tetapi memiliki nilai jual tinggi. Dari ikan lele, ikan kapas, hingga olahan dessert rumahan, semuanya dikembangkan melalui proses panjang dan bertahap.

Hasil wawancara dengan beberapa pelaku UMKM di Bantul dan Yogyakarta menunjukkan bahwa keberhasilan usaha tidak datang secara instan. Banyak dari mereka memulai dari skala sangat kecil, mengandalkan pengalaman, komunitas, serta keberanian untuk terus berinovasi. Lima ide makanan berikut menjadi contoh bagaimana produk antimainstream justru mampu bertahan dan berkembang.

“Kalau orang mau terjun di dunia bisnis itu, kita jangan pernah puas dengan relasi yang kita miliki saat ini. Kita harus ikut komunitas, karena di situ kita belajar, dapat semangat, dan dapat akses informasi,” ungkap Rifqi Rozanah (37), pelaku UMKM kuliner dan konveksi asal Pelemsewu, Panggungharjo, Sewon, Bantul saat ditemui Liputan6.com pada Kamis (22/1).

1. Otak-Otak Lele Kering, Inovasi dari Bahan Lokal

Otak-otak lele kering menjadi salah satu contoh inovasi kuliner yang lahir dari keberanian menabrak kebiasaan pasar. Jika selama ini otak-otak identik dengan ikan tenggiri dan tekstur basah, produk ini justru hadir dalam bentuk kering dan renyah. Bahan bakunya berasal dari lele segar yang difillet, diambil dagingnya, lalu diolah dengan bumbu dan tepung hingga menjadi camilan gurih.

Produk ini diposisikan bukan hanya sebagai camilan, tetapi juga sebagai alternatif lauk praktis. Pendekatan tersebut membuat konsumen penasaran karena menawarkan pengalaman baru dalam mengonsumsi olahan ikan. Inovasi ini juga sekaligus menjawab persoalan melimpahnya bahan baku lele di lingkungan sekitar.

“Saya sengaja bikin otak-otak lele kenapa, karena orang itu biasanya mikirnya otak-otak lele yang basah. Ini kok otak-otak lele tapi garing. Orang jadi penasaran, rasanya kayak gimana. Saya memang ingin orang tertarik dulu, lalu mencoba,” Suprihatin, pelaku UMKM olahan perikanan dan pengurus Asosiasi Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (ASPPIN), Sleman, saat ditemui Liputan6.com pada Senin (9/2).

2. Keripik Ikan Kapas, Camilan Sekaligus Lauk Praktis

Keripik ikan kapas bermula dari kepekaan melihat bahan baku unik di pasar tradisional. Ikan kapas yang biasanya hanya dijual kering kemudian dikembangkan menjadi produk keripik yang renyah dan tahan lama. Proses produksinya dilakukan secara bertahap di rumah, dimulai dari uji coba kecil hingga akhirnya diproduksi rutin.

Produk ini kemudian dipasarkan sebagai camilan sekaligus lauk makan praktis. Konsep tersebut menyasar konsumen yang ingin menikmati ikan tanpa harus repot mengolahnya. Dengan branding yang tepat, keripik ikan kapas mampu masuk ke berbagai toko oleh-oleh hingga ritel modern.

“Kami mem-branding keripik ikan ini sebagai camilan dan lauk makan praktis. Jadi orang itu kan kalau makan ikan agak repot untuk memasak. Dengan produk ini, tinggal makan saja, praktis,” kata Rifqi Rozanah.

3. Abon Ayam Inovatif untuk Kebutuhan MBG

Abon ayam menjadi salah satu produk yang dikembangkan dengan pendekatan inovasi bahan dan harga. Persaingan abon ayam yang ketat mendorong pelaku usaha untuk mencari formulasi baru agar produk tetap bergizi namun terjangkau. Salah satunya dengan mengombinasikan ikan tuna dengan bahan lain tanpa menghilangkan nilai gizi.

Produk abon ini diproduksi dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan berbagai daerah dan program MBG. Tantangan terbesarnya adalah menjaga kualitas rasa sekaligus menekan biaya produksi agar usaha tetap berkelanjutan.

“Abon ikan itu sebenarnya mahal. Makanya saya bikin inovasi yaitu abon ayam biar harganya terjangkau. Kita juga campurkan kacang hijau supaya tetap bergizi. Intinya kita harus berinovasi terus,” ungkap Suprihatin.

4. Puding Madona Cake, Andalan Visual dan Rasa

Puding Madona Cake menjadi salah satu produk dessert rumahan yang berkembang karena kekuatan visual dan tekstur. Kue berlapis antara cake dan puding cokelat ini menarik perhatian karena tampilannya mengilap dan terlihat mewah. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian tinggi agar lapisan cake tetap lembut dan menyatu dengan puding.

Dengan bahan yang relatif sederhana dan peralatan dapur rumahan, produk ini memiliki nilai jual cukup tinggi. Pemasarannya dilakukan melalui media sosial dengan sistem pre-order untuk menjaga kualitas dan menghindari kelebihan stok.

“Prosesnya lumayan menantang karena harus jaga keseimbangan antara cake dan puding. Tapi waktu saya coba dan dibagikan ke keluarga, responnya positif. Rasanya enak, lembut, dan manisnya pas,” kata Angel Florentien (25), pelaku usaha rumahan Madona Puding Cake, Yogyakarta, saat ditemui Liputan6.com pada Jumat (6/2).

5. Piscok dan Roti Bakar, Usaha Sederhana yang Konsisten

Piscok dan roti bakar menjadi contoh usaha kuliner sederhana yang dijalankan dengan konsistensi. Meski berbahan dasar mudah ditemukan, kualitas rasa dan kerapian produk menjadi kunci utama. Piscok dibuat dari pisang kepok yang dipilih agar tidak mudah hancur, sementara roti bakar difokuskan pada tekstur lembut dan aroma harum.

Produk-produk ini dijual di lingkungan sekitar, sekolah, hingga warung kecil. Dengan modal terbatas, pelaku usaha tetap mampu memutar keuntungan secara perlahan dan berkelanjutan.

“Piscok itu sebenarnya sederhana. Tapi kalau dibuat rapi dan enak, banyak yang suka. Yang penting bahan bagus, ukuran seragam, dan jangan goreng terlalu banyak supaya tetap fresh,” terang Angel Florentien.

Pertanyaan dan Jawaban seputar Topik

1. Apa yang dimaksud makanan olahan antimainstream di Jogja?

Makanan olahan antimainstream di Jogja adalah produk kuliner yang tidak mengikuti tren viral, melainkan mengandalkan inovasi bahan lokal, proses unik, dan diferensiasi rasa. Contohnya seperti otak-otak lele kering atau keripik ikan kapas yang jarang ditemui di pasaran umum.

2. Mengapa otak-otak lele kering bisa menjadi peluang usaha?

Otak-otak lele kering memiliki daya tarik karena berbeda dari otak-otak pada umumnya. Selain memanfaatkan bahan baku lele yang melimpah, produk ini juga praktis, tahan lama, dan memancing rasa penasaran konsumen sehingga berpotensi laku di pasar oleh-oleh.

3. Apakah usaha kuliner antimainstream harus bermodal besar?

Tidak. Berdasarkan pengalaman pelaku UMKM, usaha kuliner antimainstream bisa dimulai dari skala kecil dengan modal terbatas. Kuncinya adalah produksi bertahap, konsisten menjaga kualitas, dan memanfaatkan jaringan komunitas untuk pemasaran serta pendampingan.

4. Mengapa visual produk penting dalam usaha kuliner seperti Puding Madona Cake?

Visual menjadi faktor penting karena konsumen sering tertarik pertama kali dari tampilan. Puding Madona Cake memiliki lapisan cake dan puding cokelat yang mengilap sehingga terlihat mewah dan meningkatkan minat beli, terutama saat dipasarkan melalui media sosial.

5. Apa kunci agar usaha kuliner rumahan bisa bertahan lama?

Kunci utama adalah mengetahui passion, terus berinovasi, menjaga kualitas rasa, dan tidak cepat puas. Pelaku usaha juga perlu mendengarkan feedback konsumen serta menyesuaikan produk dengan pangsa pasar yang dituju.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|