Liputan6.com, Jakarta - Air alkali makin sering dijual berdampingan dengan air mineral biasa di rak minimarket, lengkap dengan klaim menyeimbangkan pH tubuh hingga menetralkan asam lambung. Harganya pun biasanya lebih mahal ketimbang air mineral kemasan standar, meski secara kasat mata warna dan rasanya nyaris tidak berbeda dari air minum kemasan pada umumnya yang biasa kita konsumsi.
Tapi apa sebenarnya yang membedakan air alkali dari air mineral, selain label dan harga jual di rak toko itu sendiri? Artikel ini membedah perbedaan pH keduanya berdasarkan data resmi BPOM, lalu mengecek klaim manfaatnya lewat riset ilmiah terbaru dan pendapat langsung dari ahli gizi klinik yang kompeten di bidang ini.
Tabel Perbandingan Air Alkali vs Air Mineral
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336177/original/066694000_1788144002-11244__2_.jpg)
Perbesar
| Definisi BPOM | Air yang mengandung mineral dalam jumlah tertentu secara alami, tanpa penambahan zat lain | AMDK yang mengandung mineral tertentu, dengan atau tanpa penambahan mineral/oksigen, dan memiliki pH tinggi |
| Kisaran pH | 6,0 – 8,5 (normal) | 8,5 – 9,97 (basa) |
| Proses produksi | Diambil dari sumber alami, minim pengolahan | Elektrolisis atau ionisasi untuk menaikkan pH |
| Status SNI/BPOM | SNI 3553:2015, wajib izin edar BPOM | Termasuk 5 kategori AMDK resmi BPOM, wajib SNI & izin edar |
| Klaim manfaat di pasaran | Hidrasi harian, sumber mineral alami | Menyeimbangkan asam tubuh, anti-penuaan, redakan asam lambung |
| Dukungan bukti ilmiah | Mapan sebagai air minum harian | Terbatas, sebagian besar klaim belum didukung riset klinis kuat |
Air Alkali Itu Apa?
Air alkali adalah air minum dalam kemasan yang diproses lewat elektrolisis atau ionisasi supaya nilai pH-nya naik ke rentang basa. Prosesnya memisahkan air menjadi bagian yang lebih asam dan lebih basa, lalu bagian basa itulah yang dikemas dan dijual sebagai "air alkali" atau sering juga disebut air pH tinggi.
Secara regulasi, BPOM lewat Pengumuman Registrasi Air Minum pH Tinggi mendefinisikan Air Minum pH Tinggi sebagai "AMDK yang mengandung mineral dalam jumlah tertentu dengan atau tanpa penambahan mineral, dengan atau tanpa penambahan oksigen (O2) dan memiliki pH tinggi, serta aman dikonsumsi". Kategori ini kini masuk golongan pangan olahan berisiko menengah-tinggi, sehingga produsennya wajib melengkapi dokumentasi formula, proses produksi, hingga hasil uji laboratorium sebelum produk boleh beredar.
Air alkali berbeda dari air mineral biasa maupun air demineral. Air mineral mengandung mineral alami dari sumber airnya tanpa tambahan zat lain, sedangkan air demineral justru melalui proses yang membuang hampir seluruh kandungan mineralnya, sehingga pH-nya cenderung asam.
pH Air Alkali Berapa?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336178/original/085070500_1788144002-33665__1_.jpg)
Perbesar
Berdasarkan data BPOM Kategori Pangan 2016 tentang Standar Nasional Indonesia (SNI) Air Minum, air alkali punya kisaran pH 8,5 sampai 9,97. Air mineral biasa berada di kisaran pH normal, yaitu 6,0 sampai 8,5, sementara air demineral cenderung asam di kisaran 5,0 sampai 7,5 karena kandungan mineralnya sudah dibuang.
Sebagai pembanding, Guidelines for Drinking-water Quality milik World Health Organization (WHO) menempatkan pH air minum di kisaran 6,5 hingga 8,5 sebagai rentang yang lazim untuk air baku maupun air minum. WHO memperlakukan pH terutama sebagai parameter penerimaan (acceptability) yang memengaruhi rasa dan potensi korosi pipa, bukan sebagai parameter yang punya nilai panduan berbasis kesehatan tersendiri. Artinya, air dengan pH di luar rentang itu tidak otomatis berbahaya, tapi juga tidak serta-merta lebih menyehatkan hanya karena pH-nya lebih tinggi.
Air Alkali untuk Asam Lambung: Amankah?
Klaim paling populer soal air alkali adalah kemampuannya meredakan asam lambung atau GERD. Klaim ini punya sedikit dasar ilmiah, tapi tidak sekuat yang sering digambarkan di kemasan atau iklan.
Sebuah tinjauan naratif yang terbit di jurnal Frontiers in Medicine menemukan bahwa manfaat air alkali paling konsisten justru berkaitan dengan sistem pencernaan, khususnya kemampuannya menonaktifkan enzim pepsin dan berpotensi memperbaiki gejala yang terkait refluks asam lambung. Namun, tinjauan yang sama menegaskan bahwa klaim alkalinisasi sistemik, penguatan imun, anti-penuaan, dan pencegahan penyakit kronis belum didukung bukti klinis yang kuat, sehingga air alkali tidak disarankan untuk direkomendasikan secara rutin dalam layanan kesehatan primer.
Tubuh manusia sebenarnya sudah punya mekanisme alami untuk menjaga keseimbangan pH darah di kisaran 7,35-7,45 lewat kerja ginjal dan paru-paru, sehingga tanpa air alkali sekalipun tubuh tetap mampu menetralkan makanan dan minuman yang masuk. Karena itu, ia menyebut belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan air alkali secara signifikan lebih sehat dibanding air mineral biasa, apalagi untuk klaim menyembuhkan penyakit kronis seperti kanker.
Apa Kata Riset: Manfaat vs Risiko Air Alkali
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336179/original/002184300_1788144003-167193.jpg)
Perbesar
Di luar isu asam lambung, riset soal air alkali umumnya sepakat pada satu hal: buktinya masih terbatas dan konteksnya sempit. Tinjauan di Frontiers in Medicine menyimpulkan bahwa efek air alkali kemungkinan lebih dipengaruhi oleh kandungan mineralnya ketimbang nilai pH itu sendiri, dan masih dibutuhkan studi jangka panjang yang lebih matang sebelum rekomendasi definitif bisa dibuat.
Di sisi risiko, konsumsi air alkali secara berlebihan dan dalam jangka panjang berpotensi memicu alkalosis metabolik, yaitu kondisi ketika kadar basa dalam darah menjadi terlalu tinggi. Gejalanya bisa berupa mual, muntah, tremor, sampai kesemutan. Kondisi ini lebih berisiko dialami kelompok tertentu, misalnya orang dengan gangguan fungsi ginjal, karena ginjal berperan besar dalam membuang kelebihan basa lewat urine.
Kesimpulannya, air alkali bukan air yang berbahaya untuk dikonsumsi sesekali, tapi juga belum layak diposisikan sebagai "air ajaib" pengganti air mineral biasa untuk konsumsi harian. Air mineral tetap jadi pilihan paling aman dan teruji sebagai kebutuhan hidrasi rutin.
Pertanyaan Seputar Air Alkali dan Air Mineral
Apakah air alkali aman diminum setiap hari? Secara umum aman untuk orang sehat, karena tubuh tetap bisa menyesuaikan pH lewat produksi asam lambung. Tapi untuk konsumsi harian dalam jangka panjang, air mineral biasa tetap jadi pilihan yang lebih teruji dan minim risiko dibanding air alkali.
Apa efek samping air alkali jika dikonsumsi berlebihan? Konsumsi berlebihan dan jangka panjang berpotensi memicu alkalosis metabolik, kondisi kadar basa darah terlalu tinggi, dengan gejala mual, muntah, tremor, hingga kesemutan. Risiko ini lebih besar pada orang dengan gangguan fungsi ginjal.
Air alkali lebih sehat dari air mineral, benarkah? Belum ada bukti klinis kuat yang menunjukkan air alkali secara signifikan lebih sehat dibanding air mineral biasa untuk populasi umum. Manfaat air alkali paling konsisten justru terbatas pada konteks pencernaan tertentu, bukan klaim menyeluruh seperti anti-penuaan atau pencegahan kanker.
Berapa pH air alkali yang ideal untuk dikonsumsi? Berdasarkan data BPOM, air alkali (air minum pH tinggi) yang beredar resmi berada di kisaran pH 8,5-9,97. Selama produk terdaftar BPOM dan ber-SNI, kisaran ini dianggap aman untuk dikonsumsi wajar, bukan berlebihan.
Apakah air alkali bisa menggantikan air mineral sebagai air minum harian? Sebaiknya tidak sepenuhnya. Air alkali lebih tepat diposisikan sebagai pelengkap sesekali, bukan pengganti air mineral untuk hidrasi rutin, karena air mineral tetap jadi standar paling aman dan mapan sebagai air minum harian.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

2 hours ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336191/original/048055400_1788145496-pexels-nerea-arance-205949445-11860562.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336173/original/079087100_1788143781-ChatGPT_Image_31_Agu_2026__09.29.37.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326746/original/030156400_1787034677-OBLyjnzKd3SuCeLi0NQYa8CJGcTVVfFKF5whdN8X.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310320/original/033268000_1754903814-Depositphotos_243089644_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336150/original/025769500_1788141275-4887a07b-cbfa-4c27-87dd-a34a2ddf4af9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324518/original/052866800_1786714403-persib_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382095/original/065022200_1760528961-nova_arianto.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5514998/original/036445000_1772144079-1000370155.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7591053/original/027682300_1780373467-Media_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336079/original/053558800_1788103689-manila.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336053/original/056191900_1788097041-1000973583.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335867/original/079933900_1788074163-persib.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489860/original/010940300_1769940543-large_dion_sut_44fab28fa7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336026/original/097282800_1788094531-1000131889.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334300/original/004557700_1787829271-1000131556.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4912942/original/090478700_1723120672-Latihan_Timnas_Indonesia_U-17_3.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260220/original/000470100_1781582229-kebun_dan_ternak2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335936/original/075492800_1788078371-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9311217/original/041764800_1785393105-9786d4da-2d1f-4662-8b41-195a03ad493a.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6202765/original/030351500_1779081726-Screenshot_2026-05-18_122019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559170/original/057781900_1776523941-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406767/original/073611600_1762596719-runtukahu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5582864/original/078653400_1778130434-7ad81446-6c8d-439a-b9fd-a7f4c5bd1008.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5312034/original/057920500_1754902026-Persija_Jakarta_vs_Persita_Tangerang-36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5296281/original/085419800_1753547299-20250726AA_Persija_Jakarta_VSArema_FC-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5664204/original/074297000_1778334438-20260509_PSS_Sleman_vs_Garudayaksa-03.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5574133/original/061152700_1777963929-Gemini_Generated_Image_kegwc5kegwc5kegw.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515887/original/090122300_1772204204-ramos.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5573449/original/015141000_1777900111-WhatsApp_Image_2026-05-04_at_8.02.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5181346/original/081328800_1743937116-IMG-20250406-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5624085/original/037396800_1778215933-The_Jak-3.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4910114/original/076089300_1722873729-Semen_Padang_FC_-_Ilustrasi_Logo_Semen_Padang_FC_2024_copy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2975865/original/006972500_1574525709-11.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5357817/original/076544100_1758546357-Arema_FC_vs_Persib_Bandung-4.jpg)