Liputan6.com, Jakarta Berpikir realistis adalah kemampuan menilai keadaan berdasarkan fakta, bukan sekadar harapan atau ketakutan. Inti dari cara berpikir realistis terletak pada keberanian melihat kenyataan apa adanya sebelum mengambil keputusan.
Pola pikir ini menempatkan Anda pada titik seimbang, tidak terlalu optimistis maupun pesimistis. Dengan begitu, cara berpikir realistis membantu Anda menyusun langkah yang lebih terukur dan masuk akal.
Dilansir dari Britannica, berpikir realistis berkaitan dengan cara seseorang mempertimbangkan kondisi dan kenyataan yang ada dalam membentuk pemikiran atau penilaiannya. Berikut ulasan selengkapnya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber pada Senin (31/8/2026).
Cara Berpikir Realistis dengan Menerima Kenyataan dan Menata Pikiran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5374785/original/072240900_1759904382-thoughtful-young-pretty-caucasian-woman-sitting-armchair-designed-living-room-looking-side-touching-chin.jpg)
Perbesar
Langkah paling awal dalam cara berpikir realistis adalah berdamai dengan situasi yang sedang terjadi. Menata pikiran menjadi fondasi utama karena emosi dan asumsi kerap mengaburkan penilaian kita terhadap fakta.
Mengacu pada Anxiety Canada, berpikir realistis berarti melihat seluruh aspek dari sebuah situasi, baik yang positif, negatif, maupun netral, sebelum menarik kesimpulan.
-
Terima fakta apa adanya: Beranikan diri melihat kondisi sebenarnya tanpa menutupinya dengan harapan kosong atau kecemasan berlebihan. Banyak orang justru gagal berkembang karena menolak mengakui kekurangan diri, keterbatasan sumber daya, atau tantangan yang sedang dihadapi.
-
Sadari isi pikiran Anda: Pikiran adalah hal-hal yang kita katakan pada diri sendiri tanpa diucapkan, dan kebiasaan mengamati isi kepala membuat Anda paham bagaimana pikiran memengaruhi perasaan serta tindakan. Perhatikan pula apakah ada pola tertentu yang sering muncul, terutama saat menghadapi pikiran yang berlebihan.
-
Kenali pikiran pemicu cemas: Tidak semua pikiran negatif perlu dilawan, tetapi kenali jebakan berpikir seperti melebih-lebihkan, berpikir hitam-putih, atau menyaring hanya sisi buruknya saja. Pikiran semacam ini biasanya membuat masalah kecil terasa jauh lebih besar dari kenyataan.
-
Tantang pikiran negatif: Uji keyakinan Anda dengan pertanyaan sederhana seperti, "Apa bukti nyatanya?" atau "Apakah saya keliru menganggap sebuah pikiran sebagai fakta?" Cara menantang pikiran negatif ini membantu Anda memisahkan cerita yang dikarang oleh kepala dari kejadian yang benar-benar terjadi.
-
Ganti dengan pikiran yang seimbang: Setelah pikiran negatif teruji, gantikan dengan sudut pandang yang lebih adil dan membumi, lengkap dengan pernyataan yang menguatkan diri. Menuliskan proses ini di atas kertas akan memudahkan Anda meninjau ulang dan menjaga pikiran tetap jernih.
Carl Jung, dalam bukunya Modern Man in Search of a Soul, menyatakan, "Kita tidak bisa mengubah apa pun sampai kita menerimanya, penghakiman tidak membebaskan, melainkan menindas."
Baca juga: 10 Cara Ampuh Mengatasi Overthinking agar Pikiran Lebih Tenang
Cara Berpikir Realistis Lewat Data, Fakta, dan Analisis Sebelum Bertindak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4779515/original/044507500_1710993660-portrait-happy-asian-woman-smiling-posing-confident-cross-arms-chest-standing-against-studio-background_1258-88983.jpg)
Perbesar
Cara berpikir realistis menuntut Anda bersandar pada data dan fakta, bukan sekadar firasat, sebelum melangkah. Semakin lengkap informasi yang dikumpulkan, semakin kecil ruang bagi kesalahan menilai situasi.
Merujuk laman Johns Hopkins Medicine, pribadi yang realistis cenderung belajar sambil melakukan dan berorientasi pada tugas nyata, sehingga mereka lebih nyaman bekerja dengan hal-hal yang konkret dan dapat diukur.
-
Kumpulkan informasi yang kredibel: Kumpulkan fakta selengkap mungkin, lalu nilai keakuratan dan keandalan sumbernya sebelum menyimpulkan. Ibarat menyusun potongan puzzle, informasi yang lengkap membantu Anda melihat gambaran besar dengan lebih jelas.
-
Akui bias dan asumsi pribadi: Setiap orang memandang dunia lewat kacamata pengalaman, keyakinan, dan latar belakangnya sendiri. Dengan menyadari bias tersebut, Anda bisa membedakan pengamatan yang jujur dari penilaian yang sudah tercampur prasangka.
-
Pisahkan fakta dari opini: Latih diri membedakan mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya interpretasi. Kebiasaan ini mencegah Anda memperlakukan tafsiran pribadi seolah-olah sebuah kebenaran mutlak.
-
Pertimbangkan berbagai sudut pandang: Cobalah menempatkan diri pada posisi orang lain dan mendengar pandangan yang berbeda, bahkan yang menantang keyakinan Anda. Kemampuan berpikir kritis dari banyak sisi akan memperkaya solusi yang Anda temukan.
-
Timbang skenario terbaik dan terburuk: Bayangkan hasil paling ideal sekaligus kemungkinan paling buruk, lalu tentukan hasil yang paling masuk akal di antara keduanya. Latihan ini bukan bentuk pesimisme, melainkan cara menyiapkan rencana cadangan dan mengurangi risiko kegagalan.
-
Buat keputusan dengan perhitungan: Setelah semua bahan terkumpul, ambil keputusan yang mempertimbangkan dampak jangka pendek maupun jangka panjang. Keputusan yang lahir dari perhitungan matang, bukan reaksi terburu-buru, jauh lebih mudah dipertanggungjawabkan, seperti halnya ketika kita belajar menghadapi masalah dengan tenang.
Daniel Kahneman, psikolog peraih Nobel, dikutip dari Inc, menyatakan, "Penghargaan yang tidak bias terhadap ketidakpastian adalah landasan dari rasionalitas."
Baca juga: Fungsi dan Tujuan Pengambilan Keputusan yang Perlu Dipahami
Cara Berpikir Realistis Sambil Menyeimbangkan Emosi dan Harapan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5176880/original/033197000_1743142037-Harapan.jpg)
Perbesar
Menjaga emosi tetap stabil sambil menakar harapan secara wajar adalah bagian penting dari cara berpikir realistis. Tanpa keseimbangan ini, penilaian kita mudah goyah oleh euforia berlebihan atau kekecewaan yang menumpuk.
Sebagaimana dilaporkan Harvard Business Review, sikap realistis mengarah pada pandangan situasi yang lebih pragmatis dan aktual, sehingga seseorang tidak mudah memaksakan kehendak dan lebih menerima keadaan yang sebenarnya.
-
Kelola ekspektasi secara wajar: Tetapkan target yang bisa dicapai dan sadari bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana. Fokuskan energi pada kemajuan dan pertumbuhan, bukan pada tuntutan kesempurnaan yang justru melahirkan tekanan.
-
Jangan terburu-buru: Sadari bahwa hampir semua pencapaian besar membutuhkan waktu, kesabaran, dan proses yang tidak instan. Membiarkan waktu berjalan disertai usaha yang konsisten adalah wujud sikap yang realistis terhadap sebuah tujuan.
-
Luapkan dan kelola emosi dengan sehat: Tidak ada salahnya menunjukkan rasa sedih, kecewa, atau gembira karena itu bagian dari menjadi manusia. Menahan emosi terus-menerus justru tidak baik untuk mental, maka penting menguasai cara mengendalikan emosi tanpa memendamnya.
-
Hindari toxic positivity: Berpikir realistis bukan berarti selalu memaksakan diri untuk positif, karena optimisme yang berlebihan dan menyangkal perasaan negatif juga tidak sehat. Melihat situasi dari sisi yang paling mungkin terjadi lebih menolong daripada sekadar mengulang afirmasi "semua pasti baik-baik saja"
-
Bersikap rendah hati dan mau meminta bantuan: Akui bahwa Anda tidak harus menyelesaikan segalanya sendirian dan jangan biarkan ego menghalangi. Kerendahan hati membuat Anda menempatkan diri pada perspektif yang tepat sekaligus terbuka menerima masukan orang lain.
-
Belajar dari kesalahan dan kegagalan: Mengakui kekeliruan adalah cara realistis untuk belajar dari pengalaman, bukan aib yang harus disembunyikan. Dengan jujur pada kesalahan, Anda tahu apa yang perlu diperbaiki dan lebih siap menghadapi tantangan berikutnya, ketimbang tenggelam dalam emosi yang meledak.
Sandra L. Schneider, Guru Besar Psikologi di University of South Florida, dikutip dari Goodreads, menyatakan, "Ketika harapan kita atas suatu hasil tidak sepenuhnya terpenuhi, optimisme realistis berarti menerima apa yang kini tidak bisa diubah, alih-alih menyesali atau terus meragukan diri."
Dalam praktiknya, menjaga berpikir positif tetap bisa berjalan seiring dengan realisme, selama Anda tidak mengabaikan kenyataan yang kurang menyenangkan. Sikap seperti inilah yang membuat seseorang menjadi optimistis realistis, yakni fokus pada hal positif tanpa menutup mata dari risiko.
Baca juga: 12 Cara Berpikir Positif Paling Efektif untuk Kebahagiaan
Manfaat Berpikir Realistis bagi Kesehatan Mental dan Kehidupan Sehari-hari
Melatih cara berpikir realistis bukan sekadar teori, sebab dampaknya terasa langsung pada ketenangan batin dan kualitas keputusan sehari-hari. Semakin terbiasa Anda menakar kenyataan, semakin stabil pula respons Anda terhadap berbagai situasi.
Mengutip WebMD, memiliki keyakinan yang realistis dapat menghadirkan kesejahteraan yang lebih baik karena seseorang terhindar dari ekspektasi berlebihan sekaligus kekecewaan yang menyertainya.
Menurut psikolog Martin Seligman, flexible optimism merupakan cara menyeimbangkan optimisme dengan realisme. Pendekatan ini memungkinkan seseorang tetap optimistis, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata sebelum menentukan sikap atau tindakan.
Martin Seligman, pendiri psikologi positif, dalam bukunya Learned Optimism, menuliskan, "Biasanya keyakinan negatifmu adalah distorsi; tantanglah keyakinan itu dan jangan biarkan ia mengendalikan hidup emosionalmu."
-
Pandangan lebih rasional dan objektif: Orang realistis cenderung menghindari harapan berlebihan sehingga memiliki cara pandang yang lebih jernih terhadap masalah. Mereka pun tidak mudah kecewa saat ekspektasi tidak sepenuhnya terpenuhi.
-
Meminimalkan kekecewaan: Karena penilaiannya berpijak pada kenyataan, mereka tidak terlalu terkejut ketika situasi berjalan tidak sesuai rencana. Hal ini membantu mereka mengelola stres dan ketidakpastian dengan lebih baik.
-
Kesejahteraan dan kebahagiaan yang lebih stabil: Menakar masa depan secara realistis dan mengambil keputusan berdasarkan bukti terbukti membawa rasa tenang. Anda tidak perlu memaksakan diri untuk selalu positif demi merasa hidup lebih bahagia.
-
Solusi yang lebih cepat dan efektif: Alih-alih terpaku pada penyelesaian yang rumit, orang realistis lebih terbuka mencari jalan keluar yang praktis. Fokus pada langkah yang bisa segera diterapkan membuat masalah lebih cepat teratasi.
-
Mudah beradaptasi dengan perubahan: Karena pandangannya berakar pada kenyataan, mereka tidak mudah panik ketika keadaan berubah. Fleksibilitas ini berguna baik di tempat kerja, dalam hubungan, maupun kehidupan sehari-hari.
-
Membangun kepercayaan orang lain: Orang realistis berbicara sesuai kenyataan dan tidak mengumbar janji muluk. Inilah salah satu ciri orang realistis yang membuat mereka dianggap dapat diandalkan.
-
Lebih tangguh menghadapi tekanan: Dengan menerima bahwa tantangan adalah bagian wajar dari hidup, mereka lebih siap bangkit ketika menemui hambatan. Ketangguhan ini tumbuh dari kebiasaan menyiapkan diri terhadap kemungkinan terburuk sejak awal.
Konsep ini juga berkaitan erat dengan arti realistis dalam psikologi, yaitu kemampuan membedakan dunia internal berupa pikiran dan perasaan dari dunia eksternal yang objektif. Pemahaman semacam ini banyak dijumpai pada tipe kepribadian realistis yang praktis dan berorientasi pada hasil nyata.
Pada akhirnya, cara berpikir realistis adalah keterampilan yang bisa dilatih, bukan bakat bawaan yang hanya dimiliki segelintir orang. Semakin sering Anda menimbang fakta, menata ekspektasi, dan mengambil keputusan secara bijaksana, semakin jernih pula arah hidup yang Anda tempuh.
Baca juga: 100 Kata-Kata Dewasa Bijak agar Tenang dalam Mengambil Keputusan
Byron Katie, dalam bukunya Loving What Is, menyatakan, "Ketika kamu berdebat dengan kenyataan, kamu kalah, tetapi hanya 100 persen dari waktu yang ada."
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Berpikir Realistis
Apa itu berpikir realistis?
Berpikir realistis adalah cara pandang yang menilai situasi berdasarkan fakta dan kemampuan yang benar-benar ada, bukan sekadar harapan atau ketakutan. Dengan pola pikir ini, seseorang menimbang sisi positif, negatif, dan netral sebelum menarik kesimpulan atau mengambil keputusan.
Apakah berpikir realistis sama dengan pesimis?
Tidak. Berpikir realistis berdiri di tengah antara optimisme dan pesimisme, yaitu melihat peluang sekaligus mengakui risiko secara seimbang. Sementara itu, sikap pesimis cenderung hanya memfokuskan perhatian pada kemungkinan buruk saja.
Bagaimana cara melatih berpikir realistis setiap hari?
Mulailah dengan menyadari isi pikiran Anda, memverifikasi fakta, menimbang skenario terbaik dan terburuk, lalu mengambil keputusan berdasarkan bukti. Kebiasaan mencatat pikiran serta mengelola ekspektasi secara wajar juga akan membantu pola pikir ini terbentuk secara bertahap.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

2 hours ago
3
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336191/original/048055400_1788145496-pexels-nerea-arance-205949445-11860562.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336176/original/026556300_1788144002-32234.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336173/original/079087100_1788143781-ChatGPT_Image_31_Agu_2026__09.29.37.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310320/original/033268000_1754903814-Depositphotos_243089644_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336150/original/025769500_1788141275-4887a07b-cbfa-4c27-87dd-a34a2ddf4af9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9324518/original/052866800_1786714403-persib_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382095/original/065022200_1760528961-nova_arianto.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5514998/original/036445000_1772144079-1000370155.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7591053/original/027682300_1780373467-Media_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336079/original/053558800_1788103689-manila.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336053/original/056191900_1788097041-1000973583.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335867/original/079933900_1788074163-persib.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489860/original/010940300_1769940543-large_dion_sut_44fab28fa7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336026/original/097282800_1788094531-1000131889.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334300/original/004557700_1787829271-1000131556.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4912942/original/090478700_1723120672-Latihan_Timnas_Indonesia_U-17_3.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260220/original/000470100_1781582229-kebun_dan_ternak2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335936/original/075492800_1788078371-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9311217/original/041764800_1785393105-9786d4da-2d1f-4662-8b41-195a03ad493a.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6202765/original/030351500_1779081726-Screenshot_2026-05-18_122019.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495753/original/010090000_1770427969-persib_vs_malut-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559170/original/057781900_1776523941-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406767/original/073611600_1762596719-runtukahu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5582864/original/078653400_1778130434-7ad81446-6c8d-439a-b9fd-a7f4c5bd1008.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5312034/original/057920500_1754902026-Persija_Jakarta_vs_Persita_Tangerang-36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5296281/original/085419800_1753547299-20250726AA_Persija_Jakarta_VSArema_FC-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5664204/original/074297000_1778334438-20260509_PSS_Sleman_vs_Garudayaksa-03.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5574133/original/061152700_1777963929-Gemini_Generated_Image_kegwc5kegwc5kegw.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515887/original/090122300_1772204204-ramos.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5573449/original/015141000_1777900111-WhatsApp_Image_2026-05-04_at_8.02.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5181346/original/081328800_1743937116-IMG-20250406-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5624085/original/037396800_1778215933-The_Jak-3.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4910114/original/076089300_1722873729-Semen_Padang_FC_-_Ilustrasi_Logo_Semen_Padang_FC_2024_copy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2975865/original/006972500_1574525709-11.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5357817/original/076544100_1758546357-Arema_FC_vs_Persib_Bandung-4.jpg)