Budidaya Udang Galah Skala Rumahan di Drum Bekas, Simak Tips Agar Hasilkan Panen Maksimal

9 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Budidaya udang galah skala rumahan di drum bekas menjadi salah satu alternatif usaha perikanan yang semakin diminati karena tidak membutuhkan lahan luas maupun modal besar. Dengan memanfaatkan drum bekas yang disulap menjadi wadah budidaya, siapa pun dapat memulai usaha ini dari halaman rumah. Selain praktis, metode ini juga cocok untuk masyarakat perkotaan maupun pedesaan yang ingin memperoleh tambahan penghasilan.

Udang galah dikenal memiliki nilai jual yang cukup tinggi di pasaran karena ukuran tubuhnya besar dan cita rasanya lezat. Permintaan pasar yang stabil membuat budidaya komoditas ini memiliki prospek menjanjikan. Menariknya, teknologi budidaya sederhana memungkinkan pemeliharaan udang galah dilakukan dalam wadah terbatas tanpa mengurangi peluang memperoleh hasil panen yang menguntungkan.

Keberhasilan budidaya udang galah dalam drum bekas tentu memerlukan perhatian pada beberapa aspek penting, seperti kualitas air, kepadatan tebar, pakan, serta perawatan harian. Dengan pengelolaan tepat, drum bekas dapat menjadi media budidaya yang efektif untuk menghasilkan udang galah berkualitas dan siap dipasarkan. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Rabu (10/06/2026).

1. Memilih Drum Bekas yang Aman dan Layak Digunakan

Langkah pertama dalam budidaya udang galah skala rumahan di drum bekas adalah memilih wadah yang aman. Drum bekas sebaiknya tidak pernah menyimpan bahan kimia berbahaya, oli, atau zat beracun yang dapat mencemari air dan membahayakan udang. Drum plastik berkapasitas 200 liter menjadi pilihan paling umum karena tahan lama dan mudah diperoleh. Sebelum digunakan, drum harus dicuci secara menyeluruh menggunakan air bersih dan sabun ringan.

Setelah itu, bilas beberapa kali hingga tidak ada sisa kotoran maupun bau yang tertinggal. Proses pembersihan ini penting untuk menjaga kualitas air selama masa pemeliharaan. Selain kebersihan, perhatikan juga kondisi fisik drum. Hindari menggunakan drum yang retak, bocor, atau memiliki bagian tajam. Drum yang baik akan membantu menjaga kestabilan lingkungan hidup udang dan meminimalkan risiko kerugian selama budidaya.

2. Menyiapkan Sistem Air yang Ideal

Kualitas air menjadi faktor utama dalam keberhasilan budidaya udang galah. Drum yang telah dibersihkan perlu diisi air bersih dengan ketinggian sekitar 70–80 persen dari kapasitas total. Air kemudian didiamkan selama beberapa hari agar lebih stabil sebelum benih ditebar. Untuk meningkatkan kualitas lingkungan budidaya, peternak dapat memasang aerator sederhana. Alat ini berfungsi menambah kadar oksigen terlarut dalam air sehingga udang dapat tumbuh lebih sehat.

Aerator juga membantu mencegah air menjadi terlalu keruh akibat sisa pakan dan kotoran. Penggantian air secara berkala perlu dilakukan agar kondisi tetap optimal. Umumnya, sekitar 20–30 persen volume air diganti setiap satu hingga dua minggu sekali. Langkah ini membantu mengurangi penumpukan amonia yang dapat mengganggu pertumbuhan udang.

3. Memilih Benih Udang Galah Berkualitas

Keberhasilan panen sangat dipengaruhi oleh kualitas benih yang digunakan. Pilih benih udang galah dari hatchery atau penyedia terpercaya yang memiliki reputasi baik. Benih berkualitas biasanya aktif bergerak, berukuran seragam, dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. Sebelum dimasukkan ke dalam drum, benih perlu menjalani proses adaptasi. Kantong berisi benih dapat diapungkan terlebih dahulu di atas permukaan air selama beberapa menit agar suhu air dalam kantong dan drum menjadi seimbang.

Cara ini membantu mengurangi tingkat stres pada udang. Kepadatan tebar juga harus diperhatikan. Untuk skala rumahan, jumlah benih disesuaikan dengan kapasitas drum agar pertumbuhan tidak terganggu. Kepadatan yang terlalu tinggi dapat memicu persaingan pakan dan menurunkan kualitas air lebih cepat.

4. Memberikan Pakan yang Tepat dan Teratur

Udang galah membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan. Pakan pelet khusus udang menjadi pilihan utama karena mengandung protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan selama masa pemeliharaan. Pemberian pakan biasanya dilakukan dua hingga tiga kali sehari dalam jumlah yang disesuaikan dengan ukuran dan jumlah udang.

Hindari memberi pakan berlebihan karena sisa pakan yang mengendap dapat menurunkan kualitas air dan memicu munculnya penyakit. Selain pakan komersial, peternak juga dapat memanfaatkan pakan tambahan seperti cacing, bekicot yang dihaluskan, atau limbah ikan segar. Variasi pakan dapat membantu meningkatkan pertumbuhan sekaligus menekan biaya produksi.

5. Menjaga Kesehatan dan Pertumbuhan Udang

Pemantauan kondisi udang perlu dilakukan secara rutin. Udang yang sehat biasanya aktif bergerak, memiliki warna cerah, dan menunjukkan nafsu makan baik. Perubahan perilaku dapat menjadi tanda awal adanya gangguan kesehatan. Kebersihan wadah budidaya juga harus dijaga. Endapan kotoran dan sisa pakan sebaiknya disedot atau dibersihkan secara berkala agar tidak menumpuk di dasar drum.

Lingkungan yang bersih akan mengurangi risiko serangan penyakit. Jika ditemukan udang yang lemah atau mati, segera pisahkan dari wadah budidaya. Tindakan cepat dapat mencegah penyebaran penyakit ke udang lainnya dan membantu mempertahankan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi.

6. Mengelola Lingkungan Budidaya Secara Efisien

Lokasi penempatan drum berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya. Sebaiknya drum ditempatkan di area yang tidak terkena sinar matahari langsung sepanjang hari. Suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan stres pada udang. Peternak juga dapat menambahkan tempat berlindung di dalam drum, seperti potongan pipa PVC atau anyaman bambu. Tempat persembunyian ini penting karena udang galah sering mengalami pergantian kulit dan membutuhkan area yang aman selama proses tersebut.

Pengelolaan lingkungan yang baik akan menciptakan kondisi budidaya yang stabil. Dengan suhu, kualitas air, dan oksigen terjaga, pertumbuhan udang dapat berlangsung lebih optimal hingga masa panen.

7. Teknik Panen dan Peluang Keuntungan

Udang galah umumnya dapat dipanen setelah mencapai ukuran konsumsi yang sesuai dengan permintaan pasar. Lama pemeliharaan bervariasi tergantung kualitas benih, pakan, dan manajemen budidaya yang diterapkan. Proses panen dilakukan dengan hati-hati agar udang tidak mengalami kerusakan fisik.

Air dalam drum dapat dikurangi secara bertahap sehingga udang lebih mudah ditangkap. Udang hasil panen kemudian disortir berdasarkan ukuran sebelum dipasarkan. Dengan perawatan  konsisten dan pemasaran yang tepat, usaha skala rumahan ini dapat menjadi sumber pendapatan tambahan yang menjanjikan bagi keluarga.

Pertanyaan Seputar Budidaya Udang Galah Skala Rumahan di Drum Bekas

1. Apakah budidaya udang galah di drum bekas cocok untuk pemula? Ya, metode ini cukup mudah diterapkan dan cocok bagi pemula yang ingin memulai usaha budidaya skala kecil.

2. Berapa ukuran drum yang ideal untuk budidaya udang galah? Drum berkapasitas sekitar 200 liter umumnya cukup ideal untuk budidaya rumahan.

3. Apakah udang galah memerlukan aerator dalam drum? Aerator sangat disarankan untuk menjaga kadar oksigen dalam air tetap optimal.

4. Berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga udang galah bisa dipanen? Udang galah biasanya dapat dipanen setelah beberapa bulan pemeliharaan tergantung perawatan dan kualitas benih.

5. Apa pakan yang cocok untuk udang galah di drum bekas? Pakan pelet khusus udang dapat digunakan sebagai sumber nutrisi utama.

6. Apakah air dalam drum perlu diganti secara berkala? Ya, sebagian air perlu diganti secara rutin untuk menjaga kualitas lingkungan budidaya.

7. Apakah budidaya udang galah di drum bekas menguntungkan? Jika dikelola dengan baik, budidaya ini berpotensi memberikan keuntungan yang cukup menjanjikan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|