Kisah Masa Lalu Ismed Sofyan, Dari Bulutangkis Hingga Jadi Striker dan Top Scorer Persiraja Banda Aceh

9 hours ago 5

Bola.com, Jakarta - Bahwa Ismed Sofyan adalah salah satu legenda terbaik yang dipunya Persija Jakarta, semua tahu ihwal itu. Selama memperkuat Persija, dari 2002 sampai 2022, Ismed Sofyan sosok penting di balik kedigdayaan Macan Kemayoran memenangkan sejumlah gelar, termasuk yang paling fenomenal kala menggondol gelar Liga 1 2018.

Bersama Persija, pemain asal Aceh sudah hadir dalam ratusan laga di semua ajang kompetisi. Posisinya sebagai bek sayap kanan nyaris tak tergantikan.

Tak hanya bintang di Persija, kelahiran Aceh Tamiang, 28 Agustus 1979 juga bagian yang tak terpisahkan dari skuad Timnas Indonesia selama satu dasawarsa, 2000–2010.

Kiprahnya selama mengenakan jersey kebesaran Tim Merah Putih berbuah manis, dua kali runner up Piala AFF: 2000 dan 2004.

Hanya saja, tak banyak yang tahu kalau di awal kariernya Ismed Sofyan justru berperan sebagai striker. Ia bahkan pernah menjadi pencetak gol terbanyak di timnya sebelum hijrah ke Persija, Persiraja Banda Aceh.

Kisah menarik lainnya, perjalanan karier Ismed Sofyan juga diwarnai perjuangan ekstra keras untuk meraih mimpi di tengah keterbatasan ekonomi orang tua.

Selain itu, latar belakang keluarga Ismed Sofyan juga tak kental dengan sepak bola. Orang tuanya justru menyukai bulu tangkis dan sempat mengajarkannya olahraga itu kepada Ismed Sofyan kecil.

Legenda Persija Jakarta, Ismed Sofyan, menjelaskan momen viral di media sosial saat dirinya membiarkan legenda futsal asal Brasil, Falcao, melakukan salto dalam laga X Series 2 di GOR UNJ, Rawamangun, Jakarta. Ismed menegaskan sikap tersebut bukan ...

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Berawal Bulutangkis

Lewat kanal YouTube Greg On A Talk besutan rekan lamanya, Greg Nwokolo, Ismed Sofyan berkisah tentang masa-masa perjuangannya, terlebih saat mengikuti seleksi di PPLP Diklat Medan, Sumatera Utara.

"Di masa kecil, saya dari keluarga yang bisa dikatakan tidak beruntung. Kenapa aku bilang tidak beruntung? Aku tidak lahir dan besar di keluarga yang punya duit banyak. Orang tua saya bukan orang tua yang banyak duit," kata Ismed Sofyan.

"Ya, kalau biasanya menengah ke bawah. Saya delapan bersaudara. Ada empat laki-laki, empat perempuan," imbuh Ismed Sofyan yang juga pernah memperkuat PSBL Langsa.

Menurut Ismed Sofyan, sebelum serius ke sepak bola, ia lebih dulu dikenalkan dengan olahraga bulutangkis oleh orang tuanya. Hanya saja, ia dan salah satu abangnya lebih tertarik dengan sepak bola.

"Saya punya satu abang, yang nomor dua, dia juga pemain sepak bola. Tapi mainnya di kota tempat saya lahir. Tidak sempat main di liga profesional. Sementara basic orang tua saya main bulu tangkis, tidak sepak bola," ujar Ismed Sofyan.

"Saya diajarkan dari kecil itu justru bermain bulu tangkis saat sekolah dasar (SD). Tetapi saya lebih suka sepak bola," ungkapnya. 

Masuk PPLP Diklat Medan

Perjalanan menggapai mimpi besar mulai terbuka saat Ismed Sofyan berhasil lolos seleksi yang diadakan PPLP Diklat Medan. Ia berhasil masuk, mengalahkan puluhan peserta.

"Perjalanan saya itu panjang banget. Saya itu dari SD sampai SMP di Aceh. Tamat SMP atau masuk SMA. itu namanya PPLP Diklat Medan. Jadi di PPLP Medan itu open seleksi. Ada 80 sampai 100 anak yang ikut seleksi. Yang diambil hanya 24 anak," tukas Ismed Sofyan.

"Kalau kita diterima, sekolah gratis, dikasih tempat tinggal, dikasih makan, dikasih uang saku. Di zaman itu uang sakunya Rp30 ribu per bulan," ujarnya. 

Kisah Jadi Striker di Persiraja

Meski tak mudah, mengingat persaingan yang sangat ketat dan berat, namun Ismed Sofyan tak patah semangat. Tekad dan nazarnya untuk bisa lolos begitu kuat. Ia ingat terus dengan kondisi ekonomi orang tuanya.

"Tapi saya harus bagaimana saya bisa masuk lolos seleksi di situ. Kenapa? Karena yang saya kejar adalah sekolah gratis. Karena saya dari keluarga yang menengah ke bawah. Kalau orang tua saya biaya sekolah lagi kan berat. Jadi saya harus kejar itu dan Alhamdulillah saya dapat," ujar Ismed Sofyan sembari menambahkan jika dirinya dulu dipercaya sebagai striker dan bahkan jadi pencetak gol terbanyak di Persiraja.

"Saya bersaing. Walau pun badan saya kecil, tapi posisi saya, maaf ya, bukan fullback kanan melainkan striker. Posisi striker itu juga saat aku di Persiraja Banda Aceh." 

"Selama di Persiraja saya top scorer lima gol sama almarhum Irwansyah. Maksudnya pencetak gol terbanyak di Persiraja, bukan di Liga Indonesia saat itu," kata Ismed Sofyan.

Yuk Lihat Peta Persaingan

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|