Mencuci Pakaian Baru Sebelum Memakainya Apakah Perlu? Ternyata Ada Fakta di Baliknya

4 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Mencuci pakaian baru sebelum memakainya ternyata sering dilupakan banyak orang. Pemilik seolah senang, dan memilih mengenakannya terlebih dahulu sebelum mencucinya di kemudian hari. Selain itu, alasan malas juga kerap disampaikan para pemilik pakaian baru, sehingga proses pencucian di awal setelah membeli jadi absen.

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan terkait perlu kah mencuci pakaian setelah membeli sering muncul. Namun, rasa senang akhirnya melupakannya sehingga tidak mencuci outfit baru ini menjadi kebiasaan.

Lantas sebenarnya seberapa penting baju baru harus dicuci sebelum dikenakan? Kabarnya, ada fakta mengejutkan di baliknya yang mungkin membuat para penggunanya berpikir ulang untuk langsung mengenakan setelah dibeli. Untuk mengetahuinya, simak informasi selengkapnya berikut, dihadirkan Liputan6, Selasa (8/9).

1. Pakaian Baru Tidak Selalu Berarti Siap Dipakai

Pakaian baru memang belum pernah digunakan oleh pemiliknya, tetapi kondisi tersebut tidak berarti kain terbebas dari sisa kimia selama proses produksi. Kain dapat melewati proses pewarnaan dan pemberian bahan tertentu sebelum dipotong, dijahit, dikemas, lalu dikirim kepada pembeli.

Menurut penelitian di Journal of Toxicology and Environmental Health berjudul "The Effect of Clothing Care Activities on Textile Formaldehyde Content" menemukan bahwa sejumlah pakaian yang diuji mengandung formaldehida, sementara proses pencucian menurunkan kandungan tersebut.

Menurut temuan, formaldehida berpotensi memicu dermatitis kontak alergi pada individu yang sensitif. Efeknya, muncul peradangan kulit kemerahan dan rasa gatal yang hebat.

2. Ada Pewarna yang Bisa Berpindah ke Kulit dan Pakaian Lain

Pewarna menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membeli pakaian baru. Sebagian pewarna dapat terlepas dari kain, terutama ketika pakaian mengalami gesekan atau terkena keringat. Kondisi tersebut bisa membuat warna berpindah ke kulit atau pakaian lain.

Dalam situs DermNet yang merupakan situs referensi medis independen non-profit internasional dan berfokus pada informasi penyakit kulit, rambut, dan kuku (dermatologi) mencatat bahwa beberapa pewarna tekstil dapat menyebabkan reaksi pada kulit. Keluhan biasanya muncul pada bagian tubuh yang bersentuhan langsung dengan kain dan bisa menjadi lebih terasa ketika terjadi gesekan atau tubuh berkeringat.

Itulah alasan pakaian berwarna gelap atau pakaian yang mudah luntur sebaiknya dicuci sebelum digunakan. Selain mengurangi sisa pewarna, pencucian juga membantu mencegah warna dari pakaian baru berpindah ke pakaian lain ketika digunakan secara bersamaan.

3. Bahan dari Proses Produksi Bisa Menempel pada Kain

Selain pewarna, pakaian dapat mengandung bahan yang digunakan selama proses pengolahan kain. Salah satu yang banyak dibahas dalam penelitian adalah formaldehida yang dapat ditemukan pada bahan tertentu untuk pakaian.

Kembali ke penelitian Journal of Toxicology and Environmental Health, di sana telah menguji 20 pakaian dan menemukan bahwa sebagian besar tidak menunjukkan formaldehida yang terdeteksi, tetapi beberapa pakaian memiliki kadar yang lebih tinggi. Pencucian kemudian menurunkan kadar tersebut.

Temuan ini tidak berarti semua pakaian baru berbahaya ketika langsung dipakai. Namun, mencuci pakaian baru tetap menjadi langkah sederhana untuk mengurangi sisa bahan dari proses produksi sebelum kain bersentuhan dengan tubuh.

4. Pemilik Kulit Sensitif Perlu Hati-Hati

Tidak semua orang akan mengalami masalah setelah mengenakan pakaian yang belum dicuci. Sebagian orang mungkin tidak merasakan apa pun, sedangkan orang lain dapat mengalami reaksi pada kulit setelah bersentuhan dengan bahan tertentu.

Dari sini, orang dengan kulit sensitif memiliki risiko lebih besar mengalami dermatitis kontak akibat bahan pada tekstil. Keluhan dapat berupa gatal, kemerahan, atau perubahan pada permukaan kulit di area yang terkena kain.

Karena itu, mencuci pakaian sebelum dipakai menjadi kebiasaan yang lebih penting bagi orang yang pernah mengalami reaksi setelah mengenakan jenis kain tertentu. Jika keluhan terus muncul, pakaian yang menjadi penyebab sebaiknya dihentikan penggunaannya dan diperiksakan kepada tenaga kesehatan.

5. Apakah Pakaian Baru Mengandung Kuman?

Pakaian yang dijual di toko atau dikirim dari penjual memang melewati banyak tahapan sebelum sampai kepada pembeli. Namun, hal tersebut tidak berarti setiap pakaian baru pasti membawa kuman dalam jumlah yang bisa menyebabkan penyakit.

Yang lebih masuk akal adalah melihat pencucian sebagai bagian dari kebersihan sebelum pakaian digunakan. Pakaian dapat bersentuhan dengan permukaan penyimpanan, tangan orang lain, atau lingkungan selama proses distribusi.

Meski demikian, tidak perlu menganggap pakaian baru sebagai sumber penyakit. Fokus utamanya adalah mengurangi bahan yang tersisa pada kain dan menjaga kebersihan sebelum pakaian bersentuhan langsung dengan kulit. Jadi, mencuci pakaian baru merupakan langkah pencegahan sederhana, bukan alasan untuk merasa khawatir berlebihan.

6. Pakaian Apa Saja yang Sebaiknya Dicuci Lebih Dulu?

Pada dasarnya, semua pakaian yang akan bersentuhan langsung dengan kulit bisa dicuci sebelum digunakan. Contohnya pakaian dalam, kaus, celana, pakaian tidur, pakaian olahraga, serta pakaian anak yang dipakai dalam waktu lama.

Perhatian juga perlu diberikan pada pakaian dengan warna yang mudah luntur. DermNet menyarankan orang dengan alergi pewarna tekstil untuk mencuci pakaian baru sebelum digunakan guna mengurangi pewarna yang tidak melekat pada kain.

Cara mencucinya tidak perlu rumit. Ikuti petunjuk perawatan yang tertera pada label pakaian, gunakan deterjen sesuai kebutuhan, kemudian bilas dan keringkan sebelum digunakan. Langkah tersebut sudah cukup untuk menjadikan pencucian awal sebagai bagian dari kebiasaan merawat pakaian.

7. Jadi, Perlukah Mencuci Pakaian Baru Sebelum Memakainya?

Jawabannya, mencuci pakaian baru sebelum memakainya disarankan, terutama untuk pakaian yang langsung menyentuh kulit. Alasannya bukan karena setiap pakaian baru mengandung kuman atau bahan yang berbahaya, tetapi karena pencucian membantu mengurangi sisa pewarna dan bahan dari proses produksi.

Bagi orang yang tidak memiliki masalah kulit, keputusan untuk mencuci tetap menjadi pilihan yang berkaitan dengan kebersihan. Namun, bagi orang yang pernah mengalami reaksi kulit setelah memakai pakaian tertentu, langkah tersebut lebih layak diperhatikan.

Jadi, pakaian yang baru dibeli sebaiknya tidak langsung masuk ke tubuh hanya karena masih berada dalam kemasan. Luangkan satu kali proses pencucian sebelum digunakan. Kebiasaan sederhana ini bisa membantu mengurangi paparan sisa bahan pada kain sekaligus membuat penggunaan pakaian baru lebih nyaman.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Mencuci Pakaian Baru Sebelum Memakainya Apakah Perlu

1. Apakah baju baru harus dicuci sebelum dipakai?

Ya. Mencuci pakaian baru disarankan untuk mengurangi sisa pewarna, bahan dari proses produksi, debu, dan kotoran yang mungkin menempel pada kain.

2. Apa yang terjadi jika baju baru tidak dicuci?

Sebagian orang tidak mengalami masalah, tetapi orang dengan kulit sensitif bisa mengalami reaksi kulit akibat bahan atau pewarna tertentu pada tekstil.

3. Apakah baju baru mengandung formaldehida?

Sebagian pakaian dapat mengandung formaldehida dari proses pengolahan kain. Penelitian menemukan bahwa pencucian bisa menurunkan kadarnya pada pakaian yang diuji.

4. Apakah pakaian baru bisa menyebabkan gatal?

Bisa. Pewarna atau bahan tertentu pada tekstil dapat memicu dermatitis kontak pada orang yang sensitif terhadap bahan tersebut.

5. Berapa kali baju baru harus dicuci?

Untuk penggunaan sehari-hari, satu kali pencucian sebelum dipakai sudah menjadi langkah yang wajar. Orang dengan alergi pewarna tekstil mungkin memerlukan pencucian lebih lanjut sesuai saran tenaga kesehatan.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|