Liputan6.com, Jakarta - Bayangkan panen 27 kilogram anggur Brazil dari satu pohon di pot! Angka yang terdengar mustahil, tapi itulah yang dicapai Vitra Dani Fernada di kebunnya, Tabulampot Allea Fruit Plant di Sleman, Yogyakarta.
"Saya bukan sarjana pertanian, bukan dari hobi. Cuma iseng-iseng 11 tahun lalu," ujar Vitra dengan santai kepada reporter Liputan6.com pada Minggu (1/2/2026). Dari iseng menyemai biji anggur Brazil yang didapat dari teman, kini kebunnya menjadi destinasi belajar bagi ratusan pecinta tabulampot.
Yang membuatnya istimewa, semua dimulai dari filosofi sederhana, yakni tanaman buah dalam pot (tabulampot) bukan sekadar alternatif, tapi solusi cerdas untuk menghadirkan kebun produktif di lahan terbatas. Perjalanan Vitra membuktikan bahwa dengan ketekunan dan metode yang tepat, siapa pun bisa meraih kesuksesan serupa, bahkan tanpa latar belakang pendidikan pertanian formal.
Mengapa Tabulampot Jadi Pilihan Tepat?
Sebelum masuk ke teknik budidaya, mari pahami mengapa tabulampot layak dicoba. "Kalau halaman rumah cuma sempit, tanam langsung akan menghabiskan tempat. Akar juga bisa merusak pondasi rumah," jelas Vitra tentang alasan utama memilih tabulampot.
Fleksibilitas adalah keunggulan lain yang tidak bisa diabaikan. Butuh ruang untuk acara keluarga? Tinggal geser pot ke area lain. Mau pindah rumah? Bawa saja tanaman kesayangan Anda tanpa perlu meninggalkannya. Berbeda dengan tanaman yang ditanam langsung di tanah, tabulampot memberikan mobilitas penuh kepada pemiliknya.
Mitos bahwa tanaman dalam pot tidak bisa berbuah lebat sudah saatnya dikubur. Dengan perawatan tepat, hasil panen justru bisa sangat memuaskan. Vitra membuktikan sendiri dengan pohon anggur Brazil-nya yang menghasilkan 27 kilogram dalam satu masa panen.
Perawatan tabulampot juga tidak serumit yang dibayangkan banyak orang. Selama kebutuhan dasar terpenuhi, tanaman akan tumbuh optimal dan memberikan hasil yang memuaskan. Kuncinya ada pada konsistensi dan pemahaman tentang kebutuhan spesifik setiap tanaman.
Media Tanam yang Tepat
Ini fondasi terpenting yang menentukan 50% kesuksesan tabulampot Anda. Media tanam yang baik akan mendukung pertumbuhan akar yang sehat, yang pada gilirannya menentukan produktivitas tanaman secara keseluruhan.
Vitra membuat media tanam sendiri dengan filosofi "polos dulu, pupuk kemudian." Pendekatan ini lahir dari pengalaman panjang dan kesalahan-kesalahan yang pernah dialaminya di masa awal. "Tidak semua jenis tanaman bisa menerima pupuk dari awal. Ada yang enggak bisa pakai pupuk, ada yang bisa," ungkap Vitra. "Mending bikin media tanam polosnya aja dulu."
Akar bibit yang masih lemah belum siap menerima nutrisi dalam konsentrasi tinggi. Pemberian pupuk terlalu dini justru bisa menyebabkan kematian bibit karena "kejutan" nutrisi berlebih yang dikenal dengan istilah pupuk gosong. Media tanam polos memberikan waktu adaptasi yang cukup bagi sistem perakaran untuk tumbuh kuat sebelum menerima beban nutrisi tambahan.
"Setelah tanaman berusia 2-3 bulan, baru kita kasih pupuk," kata Vitra. Ini waktu ideal ketika akar sudah cukup kuat menerima nutrisi tambahan. Pada usia ini, sistem perakaran sudah berkembang dengan baik dan tanaman mulai membutuhkan nutrisi ekstra untuk pertumbuhan optimal.
Jenis pupuk yang direkomendasikan Vitra adalah pupuk organik seperti kotoran kambing yang sudah difermentasi, kotoran ayam yang sudah matang, ampas kopi sebagai pupuk organik, dan pupuk kompos buatan sendiri. "Untuk dikonsumsi sendiri, kita pakai pupuk organik semua. Jarang pakai kimia, wong dikonsumsi sendiri kan," tegas Vitra soal komitmennya pada pertanian organik.
Sistem Drainase yang Sempurna
Banyak pemula gagal dalam budidaya tabulampot bukan karena kurang pupuk atau kurang cahaya, melainkan karena masalah drainase yang terabaikan. Air tergenang di pot adalah bencana bagi tanaman yang efeknya bisa mematikan dalam hitungan hari.
"Kalau genangan tidak bisa turun, itu membahayakan. Akar serabut bisa membusuk. Kalau busuk, repot sekali penanganannya," peringatan keras dari Vitra tentang pentingnya drainase.
Akar yang membusuk akibat genangan air akan kehilangan kemampuannya menyerap nutrisi. Ironisnya, gejala yang muncul mirip dengan kekurangan air, yakni tanaman layu dan daun menguning. Banyak pemula yang kemudian malah menambah intensitas penyiraman, yang justru memperparah kondisi dan mempercepat kematian tanaman.
Sistem drainase yang baik dimulai dari pemilihan pot berlubang. Pastikan ada lubang drainase di bagian bawah pot dengan diameter minimal 1 cm. Jika pot Anda tidak memiliki lubang, buatlah sendiri menggunakan bor atau paku yang dipanaskan. Langkah berikutnya adalah menaruh kerikil atau pecahan genting setebal 3-5 cm di dasar pot sebagai lapisan drainase dasar.
Di atas lapisan kerikil, tambahkan ijuk atau sabut kelapa sebagai filter agar tanah tidak ikut turun bersama air. Baru setelah itu, masukkan campuran media tanam yang sudah disiapkan. Setelah pot terisi penuh, lakukan test drainase dengan menyiram hingga penuh. Air harus keluar dari lubang drainase dalam waktu maksimal 1 menit.
"Ini saya siram habis cepet. Dari penuh langsung habis enggak ada 1 menit. Karena drainase yang di bawah sudah jadi, jadi enggak membahayakan," kata Vitra menunjukkan potnya yang memiliki sistem drainase sempurna. Kecepatan air keluar ini menjadi indikator bahwa sistem drainase berfungsi optimal dan tanaman aman dari risiko pembusukan akar.
Pemilihan Ukuran Pot yang Strategis
Salah satu pertanyaan paling sering ditanyakan pemula adalah, "Apakah pot besar pasti lebih baik?" Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Ukuran pot memang penting, tapi bukan satu-satunya faktor penentu produktivitas.
"Kemarin saya bikin semi bonsai durian, batangnya sudah segini (sekitar 5 cm diameter), potnya cuma kecil. Tanahnya kalau dihitung-hitung cuma semangkok mie ayam," ungkap Vitra dengan bangga. Yang terpenting bukan seberapa besar pot Anda, melainkan konsistensi penyiraman, kecukupan nutrisi, paparan sinar matahari langsung, dan perawatan rutin yang tidak terputus.
Pemilihan ukuran pot yang tepat harus disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman. Strategi bertahap terbukti lebih efektif dibandingkan langsung menggunakan pot besar dari awal. Pada fase pembibitan (0-6 bulan), mulailah dari polybag kecil atau pot diameter 15-20 cm dengan fokus pada pertumbuhan akar yang kuat dan kokoh.
Saat memasuki fase pertumbuhan (6-12 bulan), barulah pindahkan ke pot diameter 30-40 cm ketika batang mulai membesar dan menguat. Untuk fase produktif (12 bulan ke atas), pot diameter 40-60 cm sudah cukup untuk sebagian besar jenis tanaman dan bisa bertahan bertahun-tahun tanpa perlu ganti pot.
"Kalau dari kecil langsung dipindah ke pot besar, kasihan. Pertumbuhannya enggak gendut, malah meninggi. Karena akarnya merambat jauh ke kiri kanan dulu baru bisa melingkar," jelas Vitra tentang kesalahan umum yang sering dilakukan pemula. Tanaman yang tumbuh terlalu tinggi dan kurus akibat pot yang terlalu besar justru akan sulit berbuah karena energinya habis untuk pertumbuhan vegetatif ke atas.
Apakah Tanaman Dewasa Perlu Ganti Pot?
Pertanyaan ini sering membuat bingung para pecinta tabulampot, terutama yang sudah memiliki tanaman berusia beberapa tahun. "Kalau mau dibesarkan, enggak apa-apa bisa dibesarkan. Kalau enggak, ya kayak gini enggak apa-apa. Cuma modal pupuk kambing taruh di atasnya aja," kata Vitra.
Keputusan untuk ganti pot atau tidak sebenarnya tergantung pada tujuan Anda. Ganti pot diperlukan ketika Anda ingin tanaman lebih besar, akar sudah sangat penuh hingga keluar dari lubang drainase, atau ketika ingin meremajakan media tanam yang sudah terlalu padat. Sebaliknya, ganti pot tidak diperlukan jika tanaman sudah masuk fase produktif berbuah, perawatan nutrisi dan air sudah optimal, atau ukuran tanaman sudah sesuai keinginan Anda.
"Ini akar serabut sudah penuh banget di bawah. Tanahnya cuma tinggal segini (sekitar 30%). Yang penting air jangan sampai terlambat kalau sudah seperti ini," ungkap Vitra.
Ini menunjukkan bahwa dengan perawatan yang tepat, batasan ukuran pot bukanlah halangan untuk mendapatkan hasil panen optimal. Yang lebih penting adalah memastikan kebutuhan dasar tanaman terpenuhi dengan konsisten.
Penyiraman yang Konsisten
Air adalah nyawa tanaman, terutama untuk tabulampot yang media tanamnya terbatas dan tidak bisa mengakses air dari lapisan tanah yang lebih dalam seperti tanaman di tanah langsung. Meski demikian, Vitra mengakui kalau tidak ada patokan baku apakah harus sehari sekali atau dua hari sekali dalam penyiraman tabulampot. Yang penting adalah konsistensi dan kemampuan observasi terhadap kondisi tanaman. Indikator tanaman membutuhkan air antara lain permukaan tanah yang sudah kering kecoklatan, daun mulai sedikit layu di siang hari, dan pot terasa ringan saat diangkat.
Timing penyiraman menjadi sangat krusial pada masa-masa tertentu. Saat masa pembungaan, Vitra memberikan peringatan keras, "Jangan sampai air terlambat. Kalau terlambat, bunga pada rontok, ujungnya zonk."
Frekuensi penyiraman harus disesuaikan dengan musim. Saat musim kemarau, tanaman bisa membutuhkan penyiraman dua kali sehari, pagi dan sore. Sedangkan saat musim hujan, frekuensi bisa dikurangi menjadi 1-2 hari sekali tergantung intensitas hujan.
Sinar Matahari Langsung
Tanpa sinar matahari cukup, jangan harap tanaman berbuah lebat. Ini adalah hukum alam yang tidak bisa ditawar-tawar dalam budidaya tanaman buah. Untuk tanaman buah, kebutuhan minimal adalah 6-8 jam paparan sinar matahari langsung per hari.
"Panas matahari kalau bisa langsung, itu bagus sekali," tegas Vitra. Angka ini bukan sembarang angka, melainkan kebutuhan minimum agar proses fotosintesis berjalan optimal dan tanaman bisa menghasilkan energi yang cukup untuk pembentukan bunga dan buah.
Kekurangan sinar matahari menimbulkan berbagai masalah serius. Tanaman akan tumbuh tinggi dan kurus dalam fenomena yang disebut etiolasi, jarang berbunga atau bahkan tidak berbuah sama sekali, daun menjadi pucat kehijauan karena kekurangan klorofil, dan rentan terhadap penyakit jamur karena kelembaban tinggi.
Untuk lahan yang teduh, pilihlah tanaman buah yang toleran naungan seperti jambu air, belimbing, atau miracle fruit. Namun tetap usahakan tanaman mendapat sinar matahari minimal 4-5 jam per hari. Jika memungkinkan, pindahkan pot secara berkala mengikuti arah sinar matahari untuk memaksimalkan paparan cahaya.
Pengendalian Hama Alami
Hama adalah tantangan yang tak terelakkan, terutama saat kebun Anda berada di area terbuka yang berbatasan langsung dengan sawah atau lahan pertanian lain.
"Untuk hama kan dari mana-mana ada sumbernya. Nanti hama di sana dikendalikan, enggak bisa. Dia mau kabur ke tempat kita," ujar Vitra realistis soal tantangan ini. Pendekatan yang digunakan adalah dua lapis, pengendalian alami sebagai prioritas utama, dan pengendalian kimia hanya jika sangat mendesak dan tidak ada pilihan lain.
Resep pertama yang sering digunakan Vitra adalah larutan bawang putih. Caranya sederhana, parut 5-7 siung bawang putih, campurkan dengan 1 liter air, diamkan 12 jam, kemudian saring dan tambahkan 1 sendok makan sampo atau sabun cuci piring.
"Bawang diparut, dikasih air, pakai sampo disemprotin. Bisa. Pakai sunlight juga bisa," kata Vitra berbagi resep andalannya.
Untuk tanaman durian yang rentan terhadap penggerek batang, penanganan memerlukan pendekatan khusus. Tanda-tanda serangan meliputi adanya lubang di batang, keluar cairan dari batang, dan daun menguning tanpa sebab yang jelas. Cara penanganannya dimulai dengan menemukan lubang masuk hama, biasanya ditandai dengan bekas gerekan seperti serbuk kayu di sekitar lubang.
"Kita pakai selang, kita semprot, kita bersihkan," kata Vitra. Langkah berikutnya adalah memjebol lubang hingga batang utama untuk memastikan hama benar-benar keluar, kemudian tutup dengan lilin atau getah untuk mencegah masuknya hama baru.
"Setiap tanaman itu beda-beda penanganannya. Untuk durian, kita harus jebol sampai batang utama," jelas Vitra tentang penanganan khusus yang memerlukan keberanian untuk "melukai" tanaman demi kesembuhannya. Metode ini memang terlihat drastis, tapi terbukti efektif menyelamatkan tanaman dari serangan penggerek batang yang bisa mematikan.
Teknik sederhana namun sangat efektif adalah menggunakan alas pot atau tatakan. Fungsinya tidak hanya untuk menampung air yang keluar, tapi juga mencegah cacing masuk dari bawah, menghalangi rayap masuk ke media tanam, menjaga kebersihan area sekitar pot, dan mencegah tumbuhnya rumput liar di sekitar pot.
"Fungsinya cacing enggak masuk, kedua hama dari bawah enggak masuk. Rumput juga enggak tumbuh," kata Vitra menjelaskan multifungsi alas pot yang sering dianggap sepele. Alas pot juga membantu menjaga kelembaban media tanam lebih stabil, terutama saat musim kemarau.
Pemupukan Berkala untuk Produktivitas
Tanaman yang sudah produktif tetap membutuhkan nutrisi, meski tidak sesering dan sesering fase pertumbuhan. Pemupukan yang tepat akan memastikan tanaman tetap sehat dan produktif dalam jangka panjang. Pada fase pertumbuhan (0-12 bulan), berikan pupuk organik setiap 2-3 bulan dengan fokus pada nitrogen untuk pertumbuhan daun dan batang yang kuat. Nitrogen adalah unsur yang paling dibutuhkan saat tanaman masih muda dan fokus pada pertumbuhan vegetatif.
Saat memasuki fase produktif atau berbuah (12 bulan ke atas), frekuensi pemupukan bisa dikurangi menjadi setiap 3-4 bulan dengan fokus pada fosfor dan kalium untuk pembentukan bunga dan buah. Berikan tambahan pupuk saat menjelang musim berbuah untuk memastikan tanaman memiliki energi cukup menghasilkan buah berkualitas.
"Cuma modal pupuk kambing, taruh di atasnya aja enggak apa-apa," kata Vitra tentang cara praktis pemupukan tanaman dewasa. Taburkan pupuk kandang matang di permukaan media tanam setebal sekitar 2-3 cm, siram hingga pupuk menyatu dengan tanah, dan ulangi setiap 3-4 bulan
FAQ Seputar Budidaya Tabulampot
Q: Berapa lama tanaman tabulampot mulai berbuah?
A: Waktu berbuah tergantung jenis bibit. Bibit sambung atau okulasi sudah berbuah dalam 1-2 tahun, bibit cangkok butuh 1,5-2 tahun, sementara bibit dari biji memerlukan 3-7 tahun.
Q: Apakah semua jenis buah bisa ditanam dalam pot?
A: Ya, hampir semua jenis buah bisa ditabulampot dengan varietas yang tepat. Yang mudah untuk pemula antara lain jambu air, jambu biji, jeruk (kipkit, purut, nipis, lemon), belimbing, anggur Brazil, dan miracle fruit. Yang butuh perhatian ekstra, antara lain durian musang king, alpukat, mangga mini, dan rambutan.
Q: Bagaimana cara mempercepat tanaman berbuah?
A: Beberapa teknik efektif: stres air terkontrol (kurangi penyiraman 2-3 minggu), pemangkasan rutin tunas air, pemupukan tinggi fosfor dan kalium, serta memilih bibit vegetatif yang lebih cepat berbuah. "Yang berpengaruh dari media tanam, pupuk, panas matahari langsung, dan jangan sampai air terlambat. Itu kuncinya," tegas Vitra.
Q: Apakah pot plastik atau pot tanah liat lebih baik?
A: Pot plastik lebih ringan, ekonomis, dan menyimpan air lebih lama—cocok untuk pemula dan lokasi yang sering dipindah. Pot tanah liat punya sirkulasi udara dan drainase lebih baik dengan estetika natural—cocok untuk tanaman yang butuh drainase cepat. "Yang penting drainasenya bagus. Pot plastik atau tanah liat sama saja kalau drainase dijaga," kata Vitra.
Q: Kenapa bunga rontok sebelum jadi buah?
A: Penyebab utama: kekurangan air saat berbunga ("Kalau air terlambat, bunga pada rontok," peringatan Vitra), kurang sinar matahari, kekurangan nutrisi fosfor dan kalium, serangan hama thrips atau kutu daun, dan penyerbukan gagal yang bisa diatasi dengan bantuan kuas halus.
A: Bagaimana merawat tanaman saat musim hujan?
Kurangi frekuensi penyiraman sesuai curah hujan, pindahkan ke area beratap jika memungkinkan, pastikan drainase lancar dan tidak tersumbat, semprotkan fungisida alami (bawang putih atau daun sirih), dan pangkas daun rimbun agar sirkulasi udara baik.
Q: Tanaman saya sudah bertahun-tahun tapi tidak berbuah, kenapa?
Periksa faktor lingkungan: sinar matahari kurang dari 6 jam/hari, terlalu banyak nitrogen, atau penyiraman tidak konsisten. Faktor teknis: bibit dari biji butuh waktu lama, varietas memang lambat berbuah, atau tanaman belum dewasa fisiologis. "Tekun aja. Perawatan konsisten pasti berbuah. Saya aja dari iseng-iseng, sekarang alhamdulillah sukses," motivasi Vitra.
Q: Berapa biaya modal awal untuk memulai tabulampot?
A: Budget minimal (5 tanaman): bibit Rp 250.000-500.000, pot Rp 150.000-300.000, media tanam Rp 50.000, pupuk Rp 30.000. Total: Rp 480.000-880.000. Budget menengah (10 tanaman): total Rp 1.000.000-1.800.000. "Saya dulu mulai punya uang sedikit, beli pupuk, beli pot, beli polybag. Semai, semai, semai. Lama-lama jadi banyak," kenang Vitra.
Q: Apakah bisa dijadikan bisnis?
A: Sangat bisa! Vitra awalnya tidak berniat jualan, tapi saat ada pembeli menawar jeruk seharga Rp 100.000, langsung laku. Potensi bisnis: penjualan bibit Rp 50.000-500.000/pot, tanaman berbuah Rp 200.000-2.000.000/pot, reseller dengan margin 10-30%, dan workshop Rp 100.000-300.000/peserta.
Q: Bagaimana cara membibitkan sendiri?
A: Ada tiga metode: generatif dari biji (paling murah tapi lama berbuah 3-7 tahun), vegetatif sambung/okulasi (cepat berbuah 1-2 tahun, butuh keahlian), dan cangkok (cocok pemula, tingkat keberhasilan tinggi). "Kita praktek terus, praktek terus, praktek sendiri. Ternyata alhamdulillah sukses, bisa menguasai sedikit-sedikit," kata Vitra tentang proses belajarnya.

3 hours ago
2
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466916/original/062221000_1767857858-Larutan_Cuka_Putih_Pendidih.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493251/original/036717400_1770199227-Model_Taman_Rumah_Ideal_dan_Sehat_untuk_Keluarga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493240/original/049841100_1770198401-Ternak_lele_di_kolam_ember__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493227/original/051087100_1770197972-unnamed__4_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493199/original/063002300_1770197405-Organizer_Belakang_Pintu__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493182/original/068502600_1770196863-talenan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474791/original/048943900_1768535636-manggot.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453898/original/032871800_1766538714-divaldo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493061/original/028344600_1770193255-noda_make_up.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5493308/original/046099400_1770201303-ilustrasi_bantal_guling_dijemur.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492879/original/014441300_1770188607-Untitled_design__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492799/original/020996900_1770186155-1000105844.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5493332/original/096632600_1770203259-20260204AA_Semifinal_Pial_Asia_Futsal-06.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5478377/original/050434200_1768899431-unnamed__18_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492852/original/082515500_1770187801-jenis_sayuran_berdaun_ungu_untuk_hiasi_teras.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489582/original/096754000_1769909127-Perawatan_Harian_untuk_Pertumbuhan_Optimal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5493226/original/092195700_1770197829-20260204AA_Semifinal_Pial_Asia_Futsal-09.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492899/original/054066100_1770189025-Bunga_jam_9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5492840/original/043115600_1770187373-meja_dapur_2a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485994/original/043269200_1769571960-unnamed-6.jpg)










:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5375917/original/060600500_1759986432-Gemini_Generated_Image_leln9hleln9hleln.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407806/original/029507600_1762755207-model_gamis_abaya_warna_pastel_anti_gerah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407835/original/000490000_1762756179-rumah_mungil_ala_villa_dengan_mezzanine_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407928/original/066044200_1762757831-Gemini_Generated_Image_6aq8ve6aq8ve6aq8.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407831/original/043493200_1762756167-atasan_brokat_bawah_batik_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5399792/original/021697400_1762005267-InShot_20251101_204835762.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407853/original/063538400_1762756283-desain_rumah__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5319153/original/007607300_1755506626-bansos.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5382923/original/000118700_1760607895-warung_jajan_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407860/original/065539800_1762756285-unnamed_-_2025-11-10T121554.931.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453294/original/050897400_1766474273-3b763600-b9ea-4b9e-bedd-17ed90a573e4.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453102/original/079572900_1766468512-dapur_cantik_minimalis_terbaru_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5407718/original/020057100_1762751958-Zamenis_longissimus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453091/original/043931500_1766468139-Model_Dress_A_Line_untuk_Perayaan_Libur_Akhir_Tahun_yang_Elegan_dan_Stylish_Detail_Wrap.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453276/original/089690800_1766473880-desain_teras_samping_memanjang__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453266/original/028409900_1766473688-Gemini_Generated_Image_3hozdt3hozdt3hoz_2.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5419331/original/064204700_1763689880-unnamed__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5453126/original/093428100_1766470604-unnamed_-_2025-12-23T131456.592.jpg)