5 Cara Memulai Budidaya Belut Bagi Pemula Pakai Barang Bekas, Hemat Modal

8 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Cara memulai budidaya belut kini menjadi salah satu peluang usaha rumahan yang cukup diminati karena bisa dijalankan di lahan sempit, modalnya relatif kecil, dan perawatannya tidak terlalu rumit jika dilakukan dengan benar sejak awal. Menariknya, pemula tidak harus membangun kolam permanen dari semen, sebab banyak barang bekas di sekitar rumah yang bisa dimanfaatkan sebagai media budidaya belut, mulai dari drum plastik, ember besar, box styrofoam, hingga bak mandi lama yang sudah tidak terpakai.

Dengan memanfaatkan barang bekas, biaya awal bisa ditekan tanpa mengurangi peluang hasil panen yang optimal, asalkan teknik persiapan, pemilihan benih, pemberian pakan, dan perawatan dilakukan secara konsisten. Simak  lima cara memulai budidaya belut bagi pemula dengan memanfaatkan barang bekas, mulai dari menyiapkan wadah hingga perawatan rutin agar belut tumbuh sehat dan siap dipanen.

1. Menyiapkan Wadah dari Barang Bekas

Langkah paling awal dalam budidaya belut adalah menyiapkan wadah sebagai tempat hidupnya, dan bagi pemula, penggunaan barang bekas menjadi solusi hemat yang tetap efektif jika dipilih dengan tepat. Wadah yang bisa digunakan antara lain drum plastik bekas, tong air, box styrofoam ikan, ember besar, atau bak mandi lama, dengan catatan tidak bocor, tidak beracun, dan cukup kuat menahan media lumpur serta air dalam waktu lama. Sebelum dipakai, wadah harus dicuci bersih dan direndam air selama satu hingga dua hari agar sisa bahan kimia atau bau tidak mengganggu kesehatan belut.

Ukuran wadah juga perlu disesuaikan dengan rencana jumlah benih, karena kepadatan yang terlalu tinggi bisa membuat belut stres dan pertumbuhannya lambat. Untuk pemula, drum ukuran 200 liter sudah cukup ideal untuk menampung puluhan hingga seratus ekor belut, sehingga ruang geraknya masih nyaman dan sirkulasi media lebih mudah dikontrol. Penempatan wadah sebaiknya di area teduh, tidak terkena panas matahari langsung sepanjang hari, serta aman dari gangguan hewan lain seperti kucing atau ayam.

Selain itu, bagian dasar wadah perlu dipastikan rata agar media lumpur bisa menyebar merata dan tidak menumpuk di satu sisi saja. Jika menggunakan drum bekas, sebaiknya bagian atas dipotong rapi agar mudah saat memberi pakan dan melakukan pengecekan. Dengan wadah yang siap dan aman sejak awal, pemula sudah memiliki pondasi penting untuk memulai budidaya belut dengan risiko kegagalan yang lebih kecil.

2. Membuat Media Lumpur Sederhana

Media lumpur merupakan elemen utama dalam budidaya belut karena menjadi tempat bersembunyi, bergerak, dan mencari pakan secara alami. Media ini bisa dibuat sendiri dari bahan murah seperti tanah sawah, jerami busuk, sekam padi, dedak halus, dan sedikit kotoran ternak yang sudah matang, lalu dicampur air hingga teksturnya menyerupai lumpur lembek. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam wadah dengan ketebalan sekitar 20–30 cm agar belut memiliki ruang cukup untuk masuk dan beradaptasi.

Setelah media dimasukkan, wadah sebaiknya tidak langsung diisi belut, melainkan didiamkan selama lima sampai tujuh hari agar proses fermentasi berjalan dengan baik. Proses ini penting untuk menurunkan panas, mengurangi bau menyengat, serta menumbuhkan mikroorganisme alami yang membantu menjaga keseimbangan media. Media yang sudah matang biasanya berwarna lebih gelap, tidak berbau tajam, dan terasa lebih stabil ketika disentuh.

Di atas media lumpur, tambahkan air bersih setinggi 5–10 cm agar belut tetap bisa bernapas dan bergerak di permukaan ketika aktif. Air tidak perlu terlalu dalam karena belut lebih banyak hidup di dalam lumpur. Dengan media yang tepat dan matang, belut akan lebih cepat beradaptasi, tidak mudah stres, serta memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi sejak awal pemeliharaan.

3. Memilih dan Menebar Benih Belut

Keberhasilan budidaya belut sangat dipengaruhi oleh kualitas benih yang digunakan, sehingga pemula tidak boleh asal memilih meskipun tergiur harga murah. Benih belut yang baik biasanya bergerak lincah, tubuhnya utuh tanpa luka, tidak pucat, dan responsif ketika disentuh. Sebaiknya benih dibeli dari peternak atau pengepul terpercaya agar asal-usulnya jelas dan tidak membawa penyakit yang bisa menyebar ke seluruh wadah.

Sebelum ditebar, benih perlu melalui proses adaptasi agar tidak kaget dengan kondisi media baru. Caranya, masukkan kantong atau wadah benih ke dalam kolam selama 15–30 menit supaya suhu air menyesuaikan, lalu lepaskan belut secara perlahan. Penebaran paling baik dilakukan pada sore hari karena suhu lebih stabil dan belut lebih mudah beradaptasi dibandingkan saat siang terik.

Untuk kepadatan, pemula disarankan tidak terlalu penuh, misalnya sekitar 50–100 ekor per drum 200 liter, agar belut tidak saling berebut ruang dan pakan. Kepadatan yang wajar membantu pertumbuhan lebih merata serta mengurangi risiko kanibalisme. Dengan benih yang sehat dan penebaran yang benar, proses budidaya akan berjalan lebih lancar sejak tahap awal.

4. Memberi Pakan dari Bahan Sisa

Salah satu kelebihan budidaya belut adalah jenis pakannya cukup fleksibel dan bisa memanfaatkan bahan sisa yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Belut menyukai pakan alami seperti cacing tanah, keong sawah, bekicot cincang, ikan rucah, ampas tahu, hingga sisa potongan ikan dapur yang masih segar. Penggunaan pakan ini bisa menekan biaya produksi sekaligus tetap memenuhi kebutuhan nutrisi belut untuk tumbuh.

Pemberian pakan sebaiknya dilakukan satu sampai dua kali sehari, terutama pada sore atau malam hari karena belut lebih aktif mencari makan pada waktu tersebut. Pakan diberikan secukupnya dan tidak berlebihan agar tidak menumpuk di media lumpur, sebab sisa pakan yang membusuk dapat menurunkan kualitas air serta memicu penyakit. Pemula perlu memperhatikan respons belut, apakah pakan habis atau masih tersisa, sebagai acuan takaran berikutnya.

Selain itu, variasi pakan juga penting agar pertumbuhan belut lebih optimal dan tidak bergantung pada satu jenis saja. Sesekali pakan bisa dicacah halus agar mudah dimakan belut kecil. Dengan pola pemberian pakan yang teratur dan bersih, belut akan tumbuh lebih cepat, sehat, dan siap masuk fase pembesaran hingga panen.

5. Perawatan dan Pengontrolan Rutin

Perawatan rutin menjadi kunci keberhasilan budidaya belut meskipun sudah menggunakan wadah dan media yang baik sejak awal. Pemula perlu mengecek kondisi air dan media minimal seminggu sekali, mulai dari bau, warna air, hingga keberadaan jamur atau kotoran yang berlebihan. Jika air terlihat terlalu keruh atau berbau, cukup ganti sebagian air saja agar belut tidak stres akibat perubahan mendadak.

Selain itu, pertumbuhan belut juga perlu diperhatikan, terutama jika ada perbedaan ukuran yang terlalu jauh. Belut yang lebih besar bisa memangsa yang kecil, sehingga pemisahan ukuran atau penjarangan perlu dilakukan secara berkala. Cara ini membantu menekan angka kematian sekaligus membuat pertumbuhan lebih merata di dalam wadah.

Dengan perawatan yang konsisten, belut biasanya sudah bisa dipanen dalam waktu sekitar tiga sampai empat bulan, tergantung ukuran yang diinginkan pasar. Pemula yang telaten melakukan kontrol rutin akan lebih mudah mendapatkan hasil optimal meskipun hanya memanfaatkan barang bekas sebagai media budidaya.

Pertanyaan dan Jawaban

Q: Apakah budidaya belut bisa dilakukan di halaman rumah?

A: Bisa, karena belut tidak membutuhkan lahan luas dan cukup memakai drum atau ember besar.

Q: Berapa lama belut bisa dipanen?

A: Umumnya sekitar 3–4 bulan tergantung perawatan dan ukuran target panen.

Q: Apakah belut harus pakai kolam semen?

A: Tidak, pemula bisa memakai barang bekas seperti drum atau box styrofoam.

Q: Pakan belut apa yang paling mudah didapat?

A: Cacing tanah, keong sawah, ikan rucah, dan sisa potongan ikan dapur.

Q: Apakah belut perlu aerator?

A: Tidak wajib, karena belut hidup di lumpur, asalkan air tidak terlalu kotor dan rutin dikontrol.

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|