6 Sinyal Halus Orang yang Tidak Bisa Dipercaya, Sering Muncul Saat Ngobrol Santai

3 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Sering dikatakan bahwa lingkungan pertemanan dapat memengaruhi banyak hal dalam hidup, mulai dari kebiasaan hingga perkembangan karier. Karena itu, memilih orang yang benar-benar Anda percaya untuk berada di lingkaran terdekat bukanlah keputusan sepele.

Tentu tidak ada yang ingin terluka karena mempercayai orang yang salah. Masalahnya, tidak selalu mudah mengetahui apakah seseorang benar-benar dapat dipercaya, terutama ketika baru mengenalnya.

Menariknya, beberapa tanda seseorang tidak dapat dipercaya justru bisa terlihat dari percakapan sehari-hari. Cara mereka berbicara, merespons kesalahan, atau memberikan komentar tentang kehidupan Anda terkadang bisa menunjukkan karakter mereka yang sebenarnya.

Berikut 6 sikap yang patut Anda perhatikan dalam percakapan santai.

1. Mengaku Ingin yang Terbaik untuk Anda, tetapi Justru Menjatuhkan

Seseorang bisa mengatakan bahwa mereka hanya ingin Anda bahagia, tetapi perilakunya justru menunjukkan hal yang berbeda.

Misalnya, seorang teman mengatakan mendukung impian Anda, tetapi setiap kali Anda membicarakannya, mereka selalu mengatakan bahwa tujuan tersebut tidak realistis.

Atau, seseorang mengaku peduli dengan kehidupan Anda, tetapi terus mengkritik setiap keputusan yang Anda ambil.

Tentu, kepedulian dan kritik sebenarnya bisa berjalan beriringan. Orang yang benar-benar peduli terkadang memang perlu menyampaikan kekhawatiran.

Namun, perhatikan bagaimana cara mereka melakukannya. Kritik yang sehat seharusnya membantu Anda melihat sesuatu dari sudut pandang lain, bukan membuat Anda merasa tidak mampu atau meragukan seluruh pilihan hidup Anda.

2. Tidak Mau Mengakui Kesalahan, tetapi Mudah Menyalahkan Anda

Orang yang sulit dipercaya biasanya juga tidak mudah mengakui kesalahannya sendiri.

Ketika terjadi masalah, mereka dengan cepat mencari pihak lain untuk disalahkan. Bahkan, kesalahan yang sebenarnya menjadi tanggung jawab mereka bisa saja dibuat seolah-olah merupakan akibat dari tindakan Anda.

Perilaku seperti ini dikenal sebagai blame-shifting atau mengalihkan kesalahan.

Kemampuan untuk mengakui kesalahan merupakan bagian penting dari kedewasaan dan karakter yang baik. Sebaliknya, terus-menerus melempar kesalahan kepada orang lain menunjukkan bahwa seseorang mungkin belum mampu bertanggung jawab atas tindakannya.

Jika pola tersebut muncul berulang kali dalam percakapan, Anda sebaiknya berhati-hati sebelum memberikan kepercayaan yang lebih besar kepadanya.

3. Menggunakan Lelucon untuk Menyembunyikan Sindiran

Anda mungkin pernah bertemu seseorang yang sering melontarkan lelucon, tetapi lama-kelamaan candaan mereka terasa semakin personal dan menyakitkan.

Mereka mungkin mengatakan sesuatu yang menyinggung penampilan, kemampuan, pilihan hidup, atau kelemahan Anda, lalu segera menutupinya dengan kalimat, "Bercanda saja."

Komentar seperti ini bisa menjadi bentuk perilaku pasif-agresif, termasuk pujian yang sebenarnya menyelipkan penghinaan.

Yang membuatnya lebih berbahaya, komentar tersebut sering menyentuh sesuatu yang memang menjadi kekhawatiran atau rasa tidak aman dalam diri Anda. Akibatnya, Anda bisa mulai meragukan diri sendiri.

Jika seseorang terus menggunakan candaan untuk merendahkan Anda, penting untuk menetapkan batasan yang jelas dan tidak membiarkan perkataannya memengaruhi cara Anda melihat diri sendiri.

4. Perkataan dan Tindakannya Tidak Pernah Sejalan

Pernah mendengar seseorang mengatakan satu hal, tetapi kemudian melakukan sesuatu yang benar-benar bertolak belakang?

Tidak semua orang yang melakukan hal ini sengaja berniat buruk. Manusia memang terkadang mengalami konflik antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dilakukan.

Namun, jika ketidaksesuaian antara perkataan dan tindakan terus berulang, Anda perlu lebih berhati-hati.

Misalnya, seseorang mengatakan bahwa mereka menghargai privasi, tetapi sering membicarakan rahasia orang lain. Atau, mereka mengatakan akan membantu Anda, tetapi selalu menghilang ketika benar-benar dibutuhkan.

Pada akhirnya, tindakan sering kali memberikan gambaran yang lebih jelas daripada kata-kata. Jika perkataan seseorang tidak pernah sesuai dengan perilakunya, jangan terburu-buru memberikan kepercayaan penuh.

5. Menanamkan Keraguan dengan Dalih Peduli

Ada orang yang seolah-olah memberikan nasihat, tetapi setelah berbicara dengan mereka, Anda justru merasa ragu terhadap diri sendiri.

Mereka mungkin mengatakan, "Saya cuma khawatir Anda akan kecewa," lalu mulai menunjukkan berbagai kemungkinan buruk tentang rencana yang sedang Anda jalankan.

Kekhawatiran sebenarnya bisa menjadi bentuk kepedulian. Namun, orang yang benar-benar peduli biasanya mampu menyampaikan kekhawatiran tanpa menghancurkan kepercayaan diri Anda.

Jika setiap kali menceritakan impian atau rencana kepada seseorang Anda justru merasa semakin tidak yakin, perhatikan pola tersebut.

Tidak semua orang harus mengetahui rencana terbesar dalam hidup Anda. Beberapa hal memang lebih baik dibagikan hanya kepada orang yang benar-benar mampu mendukung sekaligus memberikan masukan secara sehat.

6. Menyabotase Anda, lalu Selalu Mencari Alasan

Ini menjadi salah satu tanda yang paling serius.

Orang tersebut mungkin melakukan sesuatu yang merugikan Anda, tetapi ketika ketahuan, mereka selalu memiliki alasan untuk membenarkan tindakannya.

Jika Anda merasa seseorang berulang kali menghambat keberhasilan, merusak rencana, atau membuat Anda berada dalam situasi sulit, lalu mereka selalu mencari alasan setelahnya, jangan abaikan perasaan tersebut.

Terkadang, intuisi Anda menangkap pola yang belum sepenuhnya bisa Anda jelaskan.

Perilaku menyabotase orang lain dapat berkaitan dengan berbagai hal, seperti rasa tidak aman, rendahnya kepercayaan diri, ketakutan terhadap kedekatan emosional, atau keinginan untuk mempertahankan kendali.

Namun, apa pun alasannya, Anda tidak harus terus-menerus menjadi pihak yang dirugikan.

Tidak Semua Orang Harus Mendapat Kepercayaan yang Sama

Mempercayai orang lain memang penting dalam sebuah hubungan, tetapi kepercayaan tidak harus diberikan sekaligus.

Jika seseorang berulang kali menunjukkan bahwa perkataan dan tindakannya tidak sejalan, suka menyalahkan orang lain, atau membuat Anda meragukan diri sendiri, tidak ada salahnya menjaga jarak.

Anda juga tidak perlu merasa bersalah karena menetapkan batasan. Lingkaran terdekat seharusnya diisi oleh orang-orang yang membuat Anda merasa aman, dihargai, dan didukung, bukan terus-menerus membuat Anda mempertanyakan diri sendiri.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

Read Entire Article
Hasil Tangan | Tenaga Kerja | Perikanan | Berita Kumba|