Liputan6.com, Jakarta - Tradisi Tionghoa Bakcang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Tionghoa yang terus dijalankan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Perayaan ini populer melalui sajian bakcang yang berkaitan erat dengan sejarah, penghormatan kepada tokoh patriot, hingga berbagai ritual yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Pelaksanaan budaya ini berlangsung setiap tahun pada Hari Bakcang atau Peh Cun yang jatuh pada hari kelima bulan kelima dalam penanggalan Lunar.
Perjalanan sejarah bakcang memperlihatkan bahwa makanan berbentuk segitiga yang dibungkus daun di luar sebagai hidangan biasa. Di balik proses pembuatannya terdapat kisah tentang pengorbanan, penghormatan, serta harapan agar masyarakat terhindar dari berbagai bahaya. Nilai tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi melalui berbagai kegiatan budaya yang tetap berlangsung hingga kini.
Di Indonesia, Tradisi Tionghoa Bakcang berkembang dengan menyesuaikan budaya setempat tanpa menghilangkan makna utamanya. Festival budaya, lomba perahu naga, hingga ragam isi bakcang menjadi bukti bahwa tradisi ini terus hidup di tengah masyarakat. Lalu, bagaimana asal-usulnya, apa makna spiritualnya, serta mengapa tradisi ini tetap bertahan hingga sekarang? Untuk mengetahuinya, simak informasi selengkapnya, dirangkum Liputan6, Jumat (19/6).
Apa Itu Bakcang dan Asal-Usul Tradisi Ini?
Merujuk situs Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, bakcang merupakan makanan dari beras ketan yang dibungkus daun bambu atau daun pandan kemudian dikukus hingga matang. Bentuknya umumnya segitiga atau limas dengan isi yang berbeda sesuai daerah. Di beberapa tempat, isinya berupa daging, kacang, jamur, atau bahan lain yang disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat. Dalam Tradisi Tionghoa Bakcang, makanan ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari peringatan Hari Bakcang atau Peh Cun.
Asal-usul tradisi tersebut berasal dari China dan berkaitan dengan kisah Qu Yuan, seorang pejabat sekaligus penyair yang dikenal karena kesetiaannya kepada negara. Ketika negaranya mengalami krisis, Qu Yuan memilih mengakhiri hidup dengan terjun ke sungai sebagai bentuk pengorbanan. Peristiwa itu kemudian dikenang oleh masyarakat setiap tahun melalui berbagai kegiatan yang masih berlangsung hingga sekarang.
Menurut cerita yang diwariskan, masyarakat melemparkan bakcang ke sungai agar ikan tidak memakan jasad Qu Yuan. Mereka juga mendayung perahu untuk mencari keberadaannya. Dari kisah tersebut lahirlah berbagai tradisi yang kini dikenal sebagai Hari Bakcang atau Peh Cun. Hingga kini, Tradisi Tionghoa Bakcang tetap menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Makna Spiritual dan Sejarah Hari Bakcang
Hari Bakcang diperingati setiap tanggal lima bulan lima dalam penanggalan Lunar. Tanggal tersebut dipercaya memiliki makna tersendiri sehingga masyarakat menjalankan berbagai kegiatan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya. Selain mengenang Qu Yuan, perayaan ini juga menjadi waktu untuk mempererat hubungan keluarga dan menjaga nilai yang telah diwariskan sejak lama.
Dalam Tradisi Tionghoa Bakcang, terdapat makna spiritual yang berkaitan dengan penghormatan kepada tokoh yang membela negara. Selain itu, masyarakat juga mengenal kepercayaan tentang perlindungan dari bahaya sungai dan harapan agar kehidupan berjalan dengan baik. Berbagai ritual dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai yang terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian masyarakat juga mengenal ritual toan atau doa bersama yang dilakukan pada Hari Bakcang. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tradisi keluarga maupun komunitas. Melalui peringatan ini, Tradisi Tionghoa Bakcang tidak hanya mempertahankan kisah sejarah, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Tradisi dan Ritual yang Dilakukan pada Hari Bakcang
Perayaan Hari Bakcang diisi dengan berbagai kegiatan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Masyarakat biasanya menikmati bakcang bersama keluarga sebagai bagian dari peringatan tersebut. Di sejumlah daerah juga digelar lomba perahu naga yang menjadi salah satu kegiatan paling dikenal dalam perayaan Hari Bakcang.
Selain makan bakcang dan lomba perahu naga, sebagian masyarakat melakukan mandi air bunga sebagai bagian dari tradisi. Ada pula kebiasaan menjemur pakaian, buku, atau perlengkapan rumah saat siang hari. Beberapa keluarga menggantung daun sudamala atau deringo di depan rumah sebagai bagian dari kepercayaan yang diwariskan dalam Tradisi Tionghoa Bakcang.
Ritual lain yang masih dikenal adalah mencoba menegakkan telur tepat pada pukul 12.00 siang. Sebagian orang percaya waktu tersebut menjadi momen yang tepat untuk melakukan tradisi tersebut. Walaupun tidak semua masyarakat menjalankannya, ritual itu tetap menjadi bagian dari cerita yang sering muncul setiap perayaan Hari Bakcang dan terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Tradisi Bakcang di Indonesia
Di Indonesia, Tradisi Tionghoa Bakcang berkembang di berbagai daerah yang memiliki komunitas Tionghoa, seperti Pontianak, Jakarta, Semarang, Surabaya, dan beberapa kota lainnya. Perayaan tersebut menjadi bagian dari kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat tanpa membedakan latar belakang. Festival budaya juga mulai menjadi agenda yang menarik perhatian pengunjung.
Pontianak menjadi salah satu daerah yang dikenal rutin mengadakan Festival Bakcang. Kegiatan tersebut menghadirkan lomba, pertunjukan budaya, hingga sajian kuliner yang dapat dinikmati masyarakat. Festival ini juga menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah Hari Bakcang kepada generasi muda sekaligus memperkenalkan budaya kepada wisatawan.
Isi bakcang di Indonesia juga mengalami penyesuaian dengan bahan yang mudah ditemukan. Selain menggunakan daging, terdapat bakcang berisi telur, jamur, ayam, kacang, hingga telur ikan. Penyesuaian tersebut menunjukkan bahwa Tradisi Tionghoa Bakcang dapat berkembang tanpa meninggalkan makna yang menjadi dasar perayaannya sejak dahulu.
Mengapa Tradisi Bakcang Masih Terus Lestari?
Keberadaan Tradisi Tionghoa Bakcang hingga sekarang menunjukkan bahwa warisan budaya dapat terus dijaga melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin. Perayaan ini tidak hanya menjadi bagian dari komunitas Tionghoa, tetapi juga mulai dikenal oleh masyarakat luas melalui festival, kegiatan budaya, dan berbagai acara yang terbuka untuk umum.
Perkembangan sektor pariwisata turut mendorong Hari Bakcang menjadi atraksi budaya yang menarik perhatian pengunjung. Festival yang digelar di berbagai daerah menghadirkan lomba perahu naga, pameran kuliner, hingga pertunjukan budaya. Kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal sejarah bakcang secara lebih dekat.
Selain menjadi bagian dari budaya, Hari Bakcang juga berperan sebagai sarana edukasi bagi generasi muda. Melalui kegiatan keluarga, sekolah, komunitas, hingga festival publik, sejarah Qu Yuan dan makna di balik bakcang terus diperkenalkan. Saat ini, banyak festival Hari Bakcang berkembang menjadi atraksi publik yang bersifat inklusif sehingga dapat diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang dan membantu menjaga kelestarian Tradisi Tionghoa Bakcang di masa mendatang.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik
1. Apa itu Tradisi Tionghoa Bakcang?
Tradisi Tionghoa Bakcang adalah perayaan Hari Bakcang atau Peh Cun yang ditandai dengan menyantap bakcang, mengenang Qu Yuan, dan menjalankan berbagai ritual budaya pada hari kelima bulan kelima penanggalan Lunar.
2. Mengapa Hari Bakcang diperingati setiap tanggal 5 bulan 5 Lunar?
Tanggal tersebut merupakan hari yang secara turun-temurun digunakan untuk mengenang Qu Yuan sekaligus menjadi waktu pelaksanaan berbagai tradisi dalam budaya Tionghoa.
3. Apa makna bakcang dalam budaya Tionghoa?
Bakcang melambangkan penghormatan kepada Qu Yuan, menjadi bagian dari peringatan sejarah, serta berkaitan dengan tradisi yang dipercaya membawa perlindungan dan harapan.
4. Apa saja tradisi yang dilakukan saat Hari Bakcang?
Tradisinya meliputi makan bakcang, lomba perahu naga, mandi air bunga, menjemur pakaian dan buku, menggantung daun sudamala atau deringo, serta mencoba menegakkan telur pada pukul 12.00 siang.
5. Di mana Tradisi Tionghoa Bakcang dirayakan di Indonesia?
Tradisi ini dirayakan di berbagai daerah seperti Pontianak, Jakarta, Semarang, Surabaya, dan kota lain yang memiliki komunitas Tionghoa serta mengadakan festival budaya Hari Bakcang.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6

7 hours ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262780/original/012668500_1781847585-1703345885812368220.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8083510/original/075601500_1780929846-4545C94F-DBA3-4E9C-920D-227B0E2A806E.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5464154/original/022157500_1767680956-0906211623197802859399710.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262702/original/088453400_1781843559-batu_alam_gelas_buram_4a.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262666/original/072810600_1781841446-ban_bertingkat.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262660/original/052188300_1781841230-delima_COVVV.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5462232/original/013223100_1767517916-UI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262613/original/078509500_1781839968-Ide_Usaha_untuk_Ibu_Rumah_Tangga.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262516/original/070654600_1781832600-5935185046628922304.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262596/original/076924000_1781838751-dapur_4.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262555/original/081505000_1781836864-Screenshot_2026-06-19_092646.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262559/original/072936300_1781837008-Tanaman_Buah_yang_Bisa_Berbuah_Lebat_di_Drum_Bekas_dan_Mudah_Dirawat_Pemula.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486364/original/089438600_1769583991-model_teras_ada_kolam_ikan4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262243/original/084495300_1781776481-HL_sayur.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7336618/original/055797600_1780120424-20260530_105918.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4572146/original/084941000_1694499511-Ilustrasi_anjing_dan_kucing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5138911/original/094180600_1740046297-IMG-20250219-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262168/original/042313500_1781773795-18430178727068253082.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8262204/original/033146900_1781774708-Desain_Gazebo_Minimalis_Modern_untuk_Lahan_Sempit_Ukuran_2x2_Meter.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7242484/original/061895400_1780027925-ikan_cupang_222222_cov.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5001271/original/045738300_1731378312-page.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4860548/original/008900400_1718119829-11_WhatsApp_Image_2024-06-11_at_20.29.54.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526511/original/001005500_1773124578-Gemini_Generated_Image_hoaciqhoaciqhoac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3954503/original/001981300_1646633420-20220307-Panen_Sayuran_Hidroponik_di_Depan_Rumah-6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500495/original/078901900_1770867904-photo-collage.png__15_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5531279/original/042155400_1773556323-000_JO9EV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5244828/original/086195900_1749256325-20250606BL_Topshots_Timnas_Indonesia_Vs_China_8.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4813325/original/021386600_1714086538-GMCOq2zXQAAUCGw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5311585/original/019819800_1754888475-SnapInsta.to_529962176_18519690463037072_163690177429814441_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5401010/original/034236800_1762154457-Bocoran_warna_iPhone_18_Pro_01.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4415431/original/078901700_1683198942-20230504AA_SEA_Games_2023_Timnas_Indonesia_Vs_Myanmar-21.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514118/original/045495100_1772081240-kandang_Ayam_Rooftop.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529373/original/019567300_1773329437-Persis_vs_Bali_United.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465586/original/014027200_1767771314-Bebek_Petelur.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4261962/original/044473000_1671083484-harga_telur_ayam_di_tingkat_peternak_mencapai_29_ribu-ARBAS_6.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4174719/original/068939000_1664411162-42.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527338/original/066171500_1773200879-__________________________________1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513604/original/091062600_1772031776-What_a_goal_from_Gali_Freitas______Persebaya__PersebayaUntukSemua.jpg)